Saturday, November 5, 2022

CONTOH LAPORAN KASUS DIARE

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Gastroenteritis merupakan keluhan yang cukup mudah di temui pada anak- anak maupun dewasa di seluruh dunia. Gastroenteritis adalah suatu keadaan dimana feses hasil dari buang air besar (defekasi) yang berkonsistensi cair ataupun setengah cair, dan kandungan air lebih banyak dari feses pada umumnya. Selain dari konsistensinya, bisa disertai dengan mual muntah dan frekuensi dari buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari. Gastroentritis akut adalah diare yang berlangsung dalam waktu kurang dari 14 hari yang mana ditandai dengan peningkatan volume, frekuensi, dan kandungan air pada feses yang paling sering menjadi penyebabnya adalah infeksi yaitu berupa virus, bakteri dan parasite.

Gastroenteritis akut masih menjadi salah satu penyumbang morbiditas tertinggi hingga saat ini di berbagai negara di dunia dan khususnya di negara berkembang dengan tingkat sanitasi yang masih tergolong kurang seperti Indonesia. Menurut data dari World Health Organization (WHO ) tahun 2003, terdapat 1,87 juta orang meninggal akibat gastroenteritis di seluruh dunia.

Penanganan dini yang cepat, tepat dan adekuat harus dilakukan dalam mengatasi gastroenteritis akut agar pasien tidak jatuh ke kondisi yang lebih parah. Mulai dari diagnosis, pemberian terapi sampai nutrisi bagi penderita harus diberikan dengan tepat. Dalam penegakan diagnosis gastroenteritis akut bisa dilihat langsung dari anamnesis, pemeriksaan fisik, penampakan klinis dan penentuan diagnosis definitif bisa menggunakan pemeriksaan laboratorium.

Dalam pemberian terapi sangat penting dalam penanganan gastroenteritis akut disamping pemberian obat spesifik terhadap agen penyebab yang bisa diketahui dari manifestasi klinis hasil laboratorium.

Dari besarnya insiden gastroenteritis akut di negara – negara berkembang seperti di Indonesia, penulis tertarik untuk mengangkat topik gastroenteritis akut dalam upaya ketepatan penegakan diagnosis hingga pemberian terapi yang adekuat sehingga dapat dilakukan pencegahan dari komplikasi yang dapat ditimbulkan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.1         Definisi

Gastroenteritis adalah suatu keadaan dimana terdapat inflamasi pada bagian mukosa dari saluran gastrointestinal ditandai dengan diare dan muntah. Diare adalah buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi feses yang lebih lembek atau cair (kandungan air pada feses lebih banyak dari biasanya yaitu lebih dari 200-gram atau 200ml/24jam). Gastroenteritis akut adalah diare dengan onset mendadak dengan frekuensi lebih dari 3 kali dalam sehari disertai dengan muntah dan berlangsung kurang dari 14 hari.

 

2.2         Epidemiologi

Gastroenteritis akut merupakan masalah yang banyak terjadi pada Negara berkembang dibanding dengan negara maju yang tingkat higenitas dan sanitasi lebih baik. Menurut data dari World Health Organization (WHO) dan UNICEF, terdapat 1,87 juta orang meninggal akibat kasus gastroenteritis setiap tahunnya di seluruh dunia. Secara global, diperkirakan terdapat 179.000.000 insiden gastroenteritis akut pada orang dewasa tiap tahunnya dengan angka pasien yang dirawat inap sebanyak 500.000 dan lebih dari 5000 pasien mengalami kematian. Di amerika serikat setidaknya 8.000.000 dari pasien gastroenteritis akut yang berobat ke dokter dan lebih dari 250.000 pasien dirawat di rumah sakit menurut data dari The American Journal of Gastroenterology.

Sedangkan menurut hasil survey di Indonesia, insiden dari gastroenteritis akut akibat infeksi mencapai 96.278 insiden dan masih menjadi peringkat pertama sebagai penyakit rawat inap di Indonesia, sedangkan angka kematian pada gastroenteritis akut (Case Fatality Rate) sebesar 1,92%.

2.3         Etiologi

Gastroenteritis akut bisa disebabkan oleh berbagai faktor, menurut dari World Gastroenterology Organisation, ada beberapa agen yang bisa menyebabkan terjadinya gastroenteritis akut yaitu agen infeksi dan non-infeksi. Lebih dari 90 % diare akut disebabkan karena infeksi, sedangkan sekitar 10 % karena sebab lain yaitu:

2.3.1        Faktor Infeksi

1.                 Virus

Di negara berkembang dan industrial penyebab tersering dari gastroenteritis akut adalah virus, beberapa virus penyebabnya antara lain:

a.         Rotavirus

Merupakan salah satu terbanyak penyebab dari kasus rawat inap di rumah sakit dan mengakibatkan 500.000 kematian di dunia tiap tahunnya, biasanya diare akibat rotavirus derat keparahannya diatas rerata diare pada umumnya dan menyebabkan dehidrasi. Pada anak-anak sering tidak terdapat gejala dan umur 3 – 5 tahun adalah umur tersering dari infeksi virus ini.

b.        Human Caliciviruses (HuCVs)

Termasuk famili Calciviridae, dua bentuk umumnya yaitu Norwalk-like viruses (NLVs) dan Sapporo-like viruses (SLVs) yang sekarang disebut Norovirus dan sapovirus. Norovirus merupakan penyebab utama terbanyak diare pada pasien dewasa dan menyebabkan 21 juta kasus per tahun. Norovirius merupakan penyebab tersering gastroenteritis pada orang dewasa dan sering menimbulkan wabah dan menginfeksi semua umur. Sapoviruses umumnya menginfeksi anak – anak dan merupakan infeksi virus tersering kedua selain Rotavirus.

c.         Adenovirus

Umumnya menyerang anak – anak dan menyebabkan penyakit pada sistem respiratori. adenovirus merupakan family dari Adenoviridae dan merupakan virus DNA tanpa kapsul, diameter 70 nm, dan bentuk icosahedral simetris. Ada 4 genus yaitu Mastadenovirus, Aviadenovirus, Atadenovirus, dan Siadenovirus.

2.                 Bakteri

Infeksi bakteri juga menjadi penyebab dari kasus gastroenteritis akut bakteri yang sering menjadi penyebabnya adalah Diarrheagenic Escherichia coli, Shigella species, Vibrio cholera, Salmonella. Beberapa bakteri yang dapat menyebabkan gastroenteritis akut adalah:

a.         Diarrheagenic Escherichia- coli

Penyebarannya berbeda beda di setiap negara dan paling sering terdapat di negara yang masih berkembang. Umumnya bakteri jenis ini tidak menimbulkan bahaya jenis dari bakterinya adalah:

-                         Enterotoxigenic E. coli (ETEC)

-                         Enteropathogenic E. coli (EPEC)

-                         Enteroinvasive E. coli (EIEC)

-                         Enterohemorrhagic E. coli (EHEC)

b.        Campylobacter

Bakteri jenis ini umumnya banyak pada orang yang sering berhubungan dengan perternakan selain itu bisa menginfeksi akibat masakan yang tidak matang dan dapat menimbulkan gejala diare yang sangat cair dan menimbulkan disentri.

c.         Shigella Species

Gejala dari infeksi bakteri Shigella dapat berupa hipoglikemia dan tingkat kematiannya sangatlah tinggi. Beberapa tipenya adalah:

-                    S. sonnei

-                    S. flexneri

-                    S. dysenteriae

d.        Vibrio cholera

Memiliki lebih dari 2000 serotipe dan semuanya bisa menjadi pathogen pada manusia. Hanya serogrup cholera O1 dan O139 yang dapat menyebabkan wabah besar dan epidemic. Gejalanya yang paling sering adalah muntah tidak dengan panas dan feses yang konsistensinya sangat berair. Bila pasien tidak terhidrasi dengan baik bisa menyebabkan syok hipovolemik dalam 12 – 18 jam dari timbulnya gejala awal.

e.         Salmonella

Salmonella menyebabkan diare melalui beberapa mekanisme. Beberapa toksin telah diidentifikasi dan prostaglandin yang menstimulasi sekresi aktif cairan dan elektrolit mungkin dihasilkan. Pada onset akut gejalanya dapat berupa mual, muntah dan diare berair dan terkadang disentri pada beberapa kasus.

3.                 Parasitic Agents

Cryptosporidium  parvum, Giardia L, Entamoeba histolytica, and Cyclospora cayetanensis infeksi beberapa jenis protozoa tersebut sangatlah jarang terjadi namun sering dihubungkan dengan traveler dan gejalanya sering tak tampak. Dalam beberapa kasus juga dinyatakan infeksi dari cacing seperti Stongiloide stecoralis, Angiostrongylus C., Schisotoma Mansoni, S. Japonicum juga bisa menyebabkan gastroenteritis akut.

2.3.2        Non –Infeksi

1.        Malabsorpsi/ maldigesti

Kurangnya penyerapan seperti:

a.         Karbohidrat    : Monosakrida (glukosa), disakarida (sakarosa)

b.        Lemak             : Rantai panjang trigliserida

c.         Asam amino

d.        Protein

e.         Vitamin dan mineral

f.          Imunodefisiensi

Kondisi seseorang dengan imunodefisiensi yaitu hipogamaglobulinemia, panhipogamaglobulinemia (Bruton), penyakit granulomatose kronik, defisiensi IgA dan imunodefisiensi IgA heavycombination.

2.        Terapi Obat

Orang yang mengonsumsi obat- obatan antibiotic, antasida dan masih kemoterapi juga bisa menyebabkan gastroenteritis akut.

3.        Lain-lain

Tindakan gastrektomi, terapi radiasi dosis tinggi, sindrom Zollinger-Ellison, neuropati diabetes sampai kondisi psikis juga dapat menimbulkan gastroenteritis akut.

 

2.4         Patogenesis

Pada umumnya gastroenteritis akut 90% disebabkan oleh agen infeksi yang berperan dalam terjadinya gastroenteritis akut terutama adalah faktor agent dan faktor host. Faktor agent yaitu daya penetrasi yang dapat merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan usus halus serta daya lekat kuman. Faktor host adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap organisme yang dapat menimbulkan diare akut, terdiri dari faktor-faktor daya tangkis atau lingkungan internal saluran cerna antara lain: keasaman lambung, motilitas usus, imunitas, dan lingkungan mikroflora usus3,7. Patogenesis diare karena infeksi bakteri/parasit terdiri atas:

2.4.1   Diare Karena Bakteri Non-Invasif (Enterotoksigenik)

Diare jenis ini biasanya disebut juga sebagai diare tipe sekretorik dengan konsistensi berair dengan volume yang banyak. Bakteri yang memproduksi enterotoksin ini tidak merusak mukosa seperti V. cholerae Eltor, Eterotoxicgenic E. coli (ETEC) dan C. Perfringens. V.cholerae Eltor mengeluarkan toksin yang terkait pada mukosa usus halus 15-30 menit sesudah diproduksi vibrio. Enterotoksin ini menyebabkan kegiatan berlebihan nikotinamid adenin di nukleotid pada dinding sel usus, sehingga meningkatkan kadar adenosin 3’-5’-siklik monofosfat (siklik AMP) dalam sel yang menyebabkan sekresi aktif anion klorida ke dalam lumen usus yang diikuti oleh air, ion bikarbonat, kation, natrium dan kalium.

2.4.2   Diare Karena Bakteri/Parasite Invasive (Enterovasif)

Diare yang diakibatkan bakteri enterovasif disebut sebagai diare Inflammatory. Bakteri yang merusak (invasif) antara lain Enteroinvasive E. coli (EIEC), Salmonella, Shigella, Yersinia, C. perfringens tipe C. diare disebabkan oleh kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi. Sifat diarenya sekretorik eksudatif. Cairan diare dapat tercampur lendir dan darah. Kuman salmonella yang sering menyebabkan diare yaitu S. paratyphi B, Styphimurium, S enterriditis, S choleraesuis. Penyebab parasite yang sering yaitu E. histolitika dan G. lamblia.

Diare inflammatory ditandai dengan kerusakan dan kematian enterosit, dengan peradangan minimal sampai berat, disertai gangguan absorbsi dan sekresi. Setelah kolonisasi awal, kemudian terjadi perlekatan bakteri ke sel epitel dan selanjutnya terjadi invasi bakteri kedalam sel epitel, atau pada IBD mulai terjadinya inflamasi. Tahap berikutnya terjadi pelepasan sitokin antara lain interleukin 1 (IL-l), TNF-α, dan kemokin seperti interleukin 8 (IL-8) dari epitel dan subepitel miofibroblas. IL- 8 adalah molekul kemostatik yang akan mengaktifkan sistim fagositosis setempat dan merangsang sel-sel fagositosis lainnya ke lamina propia. Apabila substansi kemotaktik (IL-8) dilepas oleh sel epitel, atau oleh mikroorganisme lumen usus (kemotaktik peptida) dalam konsentrasi yang cukup kedalam lumen usus, maka neutrofil akan bergerak menembus epitel dan membentuk abses kripta, dan melepaskan berbagai mediator seperti prostaglandin, leukotrin, platelet actifating factor, dan hidrogen peroksida dari sel fagosit akan merangsang sekresi usus oleh enterosit, dan aktifitas saraf usus.

Terdapat 3 mekanisme diare inflamatori, kebanyakan disertai kerusakan brush border dan beberapa kematian sel enterosit disertai ulserasi. Invasi mikroorganisme atau parasit ke lumen usus secara langsung akan merusak atau membunuh sel-sel enterosit. Infeksi cacing akan mengakibatkan enteritis inflamatori yang ringan yang disertai pelepasan antibodi IgE dan IgG untuk melawan cacing. Selama terjadinya infeksi atau reinfeksi, maka akibat reaksi silang reseptor antibodi IgE atau IgG di sel mast, terjadi pelepasan mediator inflamasi yang hebat seperti histamin, adenosin, prostaglandin, dan lekotrin.

Mekanisme imunologi akibat pelepasan produk dari sel lekosit polimorfonuklear, makrophage epithelial, limfosit-T akan mengakibatkan kerusakan dan kematian sel-sel enterosit. Pada keadaan-keadaan di atas sel epitel, makrofag, dan subepitel miofibroblas akan melepas kandungan (matriks) metaloprotein dan akan menyerang membrane basalis dan kandungan molekul interstitial, dengan akibat akan terjadi pengelupasan sel-sel epitel dan selanjutnya terjadi remodeling matriks (isi sel epitel) yang mengakibatkan vili-vili menjadi atropi, hiperplasi kripta-kripta di usus halus dan regenerasi hiperplasia yang tidak teratur di usus besar (kolon).

Pada akhirnya terjadi kerusakan atau sel-sel imatur yang rudimenter dimana vili-vili yang tak berkembang pada usus halus dan kolon. Sel sel imatur ini akan mengalami gangguan dalam fungsi absorbsi dan hanya mengandung sedikit (defisiensi) disakaridase, hidrolase peptida, berkurangnya tidak terdapat mekanisme Na-coupled sugar atau mekanisme transport asam amino, dan berkurangnya atau tak terjadi sama sekali transport absorbsi NaCl. Sebaliknya sel- sel kripta dan sel-sel baru vili yang imatur atau sel-sel permukaan mempertahankan kemampuannya untuk mensekresi Cl- (mungkin HCO3-). Pada saat yang sama dengan dilepaskannya mediator inflamasi dari sel-sel inflamatori di lamina propia akan merangsang sekresi kripta hiperplasi dan vili-vili atau sel-sel permukaan yang imatur. Kerusakan immune mediated vascular mungkin menyebabkan kebocoran protein dari kapiler. Apabila terjadi ulserasi yang berat, maka eksudasi dari kapiler dan limfatik dapat berperan terhadap terjadinya diare.

2.5         Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis dari gastroenteritis akut biasanya bervariasi. dari salah satu hasil penelitian yang dilakukan pada orang dewasa, mual (93%), muntah (81%) atau diare (89%), dan nyeri abdomen (76%) umumnya merupakan gejala yang paling sering dilaporkan oleh kebanyakan pasien. Selain itu terdapat tanda-tanda dehidrasi sedang sampai berat, seperti membran mukosa yang kering, penurunan turgor kulit, atau perubahan status mental, terdapat pada <10 % pada hasil pemeriksaan. Gejala pernafasan, yang mencakup radang tenggorokan, batuk, dan rinorea, dilaporkan sekitar 10%.

Sedangkan gatroenteritis akut karena infeksi bakteri yang mengandung atau memproduksi toksin akan menyebabkan diare sekretorik (watery diarhhea) dengan gejala-gejala mual, muntah, dengan atau tanpa demam yang umumnya ringan, disertai atau tanpa nyeri/kejang perut, dengan feses lembek atau cair. Umumnya gejala diare sekretorik timbul dalam beberapa jam setelah makan atau minurnan yang terkontaminasi.

Diare sekretorik (watery diarhea) yang berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medis yang adekuat dapat menyebabkan kematian karena kekurangan cairan yang mengakibatkan renjatan hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang lanjut. Karena kehilangan cairan seseorang akan merasa haus, berat badan berkurang, mata menjadi cekung, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menumn serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan deplesi air yang isotonik.

Sedangkan kehilangan bikarbonas dan asam karbonas berkurang yang mengakibatkan penurunan pH darah. Penurunan ini akan merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi nafas lebih cepat dan lebih dalam (pernafasan Kussmaul). Reaksi ini adalah usaha badan untuk mengeluarkan asam karbonas agar pH darah dapat kembali normal. Gangguan kardiovaskular pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi yang cepat, tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah muka pucat ujung-ujung ektremitas dingin dan kadang sianosis karena kehilangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.

 

2.6         Diagnosis

Diagnosis gastroenteritis  akut dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

2.6.1   Anamnesis

Onset, durasi, tingkat keparahan, dan frekuensi diare harus dicatat, dengan perhatian khusus pada karakteristik feses (misalnya, berair, berdarah, berlendir, purulen). Pasien harus dievaluasi untuk tanda-tanda mengetahui dehidrasi, termasuk kencing berkurang, rasa haus, pusing, dan perubahan status mental. Muntah lebih sugestif penyakit virus atau penyakit yang disebabkan oleh ingesti racun bakteri. Gejala lebih menunjukkan invasif bakteri (inflamasi) diare adalah demam, tenesmus, dan feses berdarah.

Makanan dan riwayat perjalanan sangat membantu untuk mengevaluasi potensi paparan agent. Anak-anak di tempat penitipan, penghuni panti jompo, penyicip makanan, dan pasien yang baru dirawat di rumah sakit berada pada risiko tinggi penyakit diare menular. Wanita hamil memiliki 12 kali lipat peningkatan risiko listeriosis, terutama yang mengkonsumsi olahan daging beku, keju lunak, dan susu mentah. Riwayat sakit terdahulu dan penggunaan antibiotik dan obat lain harus dicatat pada pasien dengan diare akut.

2.6.2   Pemeriksaan Fisik

Tujuan utama dari pemeriksaan fisik adalah untuk menilai tingkat dehidrasi pasien. Umumnya penampilan sakit, membran mukosa kering, waktu pengisian kapiler yang tertunda, peningkatan denyut jantung dan tanda-tanda vital lain yang abnormal seperti penurunan tekanan darah dan peningkatan laju nafas dapat membantu dalam mengidentifikasi dehidrasi. Demam lebih mengarah pada diare dengan adanya proses inflamasi. Pemeriksaan perut penting untuk menilai nyeri dan proses perut akut. Pemeriksaan rektal dapat membantu dalam menilai adanya darah, nyeri dubur, dan konsistensi feses.

Dehidrasi Ringan (hilang cairan 2-5% BB) gambaran klinisnya turgor kurang, suara serak, pasien belum jatuh dalam presyok. Dehidrasi Sedang (hilang cairan 5-8% BB) turgor buruk, suara serak, pasien jatuh dalam presyok atau syok, nadi cepat, napas cepat dan dalam.

Dehidrasi Berat (hilang cairan 8-10 BB) tanda dehidrasi sedang ditambah kesadaran menurun (apatis sampai koma), otot otot kaku, sianosis.

2.6.3   Pemeriksaan Penunjang

Darah:

-                   Darah perifer lengkap

-                   Serum elektrolit: Na+, K+, Cl-

-                   Analisa gas darah apabila didapatkan tanda-tanda gangguan keseimbangan asam basa (pernafasan Kusmaull)

-                   Immunoassay: toksin bakteri (C. difficile), antigen virus (rotavirus), antigen protozoa (Giardia, E. histolytica).

Feses:

-                   Feses lengkap (mikroskopis: peningkatan jumiah lekosit di feses pada inflamatory diarrhea; parasit: amoeba bentuk tropozoit, hypha pada jamur)

-                   Biakan dan resistensi feses (colok dubur)

Pemeriksaan penunjang diperlukan dalam penatalaksanaan diare akut karena infeksi, karena dengan tata cara pemeriksaan yang terarah akan sampai pada terapi definitif.

 

2.7         Penatalaksanaan

Penatalaksanaan diare akut karena infeksi pada orang dewasa terdiri atas: rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan, memberikan terapi simptomatik, dan memberikan terapi definitif.

2.7.1   Terapi Rehidrasi

Langkah pertama dalam menterapi diare adalah dengan rehidrasi, dimana lebih disarankan dengan rehidrasi oral. Akumulasi kehilangan cairan (dengan penghitungan secara kasar dengan perhitungan berat badan normal pasien dan berat badan saat pasien diare) harus ditangani pertama. Selanjutnya, tangani kehilangan cairan dan cairan untuk pemeliharaan. Hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat, yaitu:

1.             Jenis Cairan

Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup banyak di pasaran, meskipun jumlah kaliumnya lebih rendah bila dibandingkan dengan kadar Kalium cairan tinja. Apabila tidak tersedia cairan ini, boleh diberikan cairan NaCl isotonik. Sebaiknya ditambahkan satu ampul Na bikarbonat 7,5% 50 ml pada setiap satu liter infus NaCl isotonik. Asidosis akan dapat diatasi dalam 1-4 jam. Pada keadaan diare akut awal yang ringan, tersedia di pasaran cairan/bubuk oralit, yang dapat diminum sebagai usaha awal agar tidak terjadi dehidrasi dengan berbagai akibatnya. Rehidrasi oral (oralit) harus mengandung garam dan glukosa yang dikombinasikan dengan air.


 

2.             Jumlah Cairan

Pada prinsipnya jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan memakai Metode Daldiyono berdasarkan keadaan klinis dengan skor. Rehidrasi cairan dapat diberikan dalam 1-2 jam untuk mencapai kondisi rehidrasi.

Tabel 1. Skor Daldiyono

 

Rasa haus/muntah

1

Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg

1

Tekanan darah sistolik < 60 mmHg

2

Frekuensi nadi > 120 x/menit

1

Kesadaran apatis

1

Kesadaran somnolen, sopor, atau koma

2

Frekuensi napas > 30 x/menit

1

Facies cholerica

2

Vox cholerica

2

Turgor kulit menurun

1

Washer’s woman’s hand

1

Sianosis

2

Umur 50-60 tahun

-1

Umur > 60 tahun

-2

 

 Kebutuhan Cairan = 

 

3.             Jalur Pemberian Cairan

Rute pemberian cairan pada orang dewasa terbatas pada oral dan intravena. Untuk pemberian per oral diberikan larutan oralit yang komposisinya berkisar antara 29g glukosa, 3,5g NaCl, 2,5g Na bikarbonat dan 1,5g KCI setiap liternya. Cairan per oral juga digunakan untuk memperlahankan hidrasi setelah rehidrasi inisial.

2.7.2   Terapi Simtomatik

Pemberian terapi simtomatik haruslah berhati-hati dan setelah benar-benar dipertimbangkan karena lebih banyak kerugian daripada keuntungannya. Hal yang harus sangat diperhatikan pada pemberian antiemetik, karena Metoklopropamid misalnya dapat memberikan kejang pada anak dan remaja akibat rangsangan ekstrapiramidal. Pada diare akut yang ringan kecuali rehidrasi peroral, bila tak ada kontraindikasi dapat dipertimbangkan pemberian Bismuth subsalisilat maupun loperamid dalam waktu singkat. Pada diare yang berat obat-obat tersebut dapat dipertimbang dalam waktu pemberian yang singkat dikombinasi dengan pemberian obat antimikrobial.

2.7.3   Terapi Antibiotik

Pemberian antibiotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi, karena 40% kasus diare sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian antibiotik.

Antibiotik diindikasikan pada pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi, seperti demam, feses berdarah, leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong dan pasien immunocompromised. Pemberian antibiotic dapat secara empiris, tetapi antibiotic spesifik diberikan berdasarkan kultur dan resistensi kuman.

Tabel 2. Terapi Antibiotik Empiris

 

Organisme

Antibiotik Pilihan

Pertama

Antibiotik Pilihan Kedua

Campylobacter

Ciprofloxacin 500mg 2 kali sehari, 3-5 hari

Azithromycin 500mg oral 2 kali sehari

Erytromycin 500mg oral 2 kali sehari, 5 hari

Shigella atau Salmonela spp.

Ciprofloxacin 500mg 2 kali sehari, 3-5 hari

Ceftriaxone 1gram IM/IV sehari

TMP-SMX DS oral 2 kali sehari, 3 hari

Vibrio Cholera

Tetracycline 500mg oral 4 kali sehari, 3 hari Doxycycline 300mg oral, dosis tunggai

Resisten tetracycline Ciprofloxacin 1gram oral 1 kali

Erythromycin 250mg oral

4 kali sehari, 3 hari

Traveler’s diarrhea

Ciprofloxacin 500mg 2 kali

sehari

TMP-SMX DS oral 2 kali

sehari, 3 hari

Clostridium difficile

Metronidazole 250-500mg 4

kali sehari, 7-14 hari, oral atau IV

Vancomycin 125mg 4 kali sehari, 7-14 hari

 

Tabel 3. Pemberian Antibiotik pada Diare Akut

Indikasi Pemberian

Antibiotik

Pilihan Antibiotik

Demam (suhu oral > 38,5oC), feses disertai darah, leukosit, laktoferin, hemoccult,

sindrom disentri

Quinolone 3-5 hari, cotrimoksazole 3-5 hari

Traveler’s diarrhea

Quinolone 1-5 hari

Diare persisten (kemungkinan

Giardiasis)

Metronidazole 3 x 500 mg selama 7 hari

Shigellosis

Cotrimoksazole selama 3 hari

Quinolone selama 3 hari

Intestinal Salmonellosis

Chloramphenicol/cotrimoksazole/quinolone selama 7 hari

Campylobacteriosis

Erythromycin selama 5 hari

EPEC

Terapi sebagai febrile disentry

ETEC

Terapi sebagai traveler’s diarrhea

EIEC

Terapi sebagai shigellosis

EHEC

Peranan antibiotik belum jelas

Vibrio non-kolera

Terapi sebagai febrile disentry

Aeromonas diarrhea

Terapi sebagai febrile disentry

Yersiniosis

Umumnya dapat diterapi sebagai febrile disentry.

Pada kasus berat: Ceftriaxone IV 1 gram/6 jam selama 5 hari.

Intestinal Amebiasis

Metronidazole 3 x 750 mg 5-10 hari + pengobatan kista untuk mencegah relaps. Diiodohydroxyquin 3 x 650 mg 10 hari atau paromomycin 3 x 500 mg 10 hari atau diloxanide furoate 3 x 500 mg 10 hari

Cryptosporidiosis

Untuk kasus berat atau immunocompromised:

Paromomycin 3 x 500 mg selama 7 hari

Isosporisosis

Cotrimoksazole 2 x 160/800 selama 7 hari

 

2.8         Komplikasi

Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama, terutama pada lanjut usia dan anak-anak. Pada diare akut karena kolera, kehilangan cairan terjadi secara mendadak sehingga cepat terjadi syok hipovolemik. Kehilangan elektrolit melalui feses dapat mengarah terjadinya hipokalemia dan asidosis metabolic.

Pada kasus-kasus yang terlambat mendapat pertolongan medis, syok hipovolemik sudah tidak dapat diatasi lagi, dapat timbul nekrosis tubular akut ginjal dan selanjutnya terjadi gagal multi organ. Komplikasi ini dapat juga terjadi bila penanganan pemberian cairan tidak adekuat, sehingga rehidrasi optimal tidak tercapai.

Haemolityc Uremic Syndrome (HUS) adalah komplikasi terutama oleh EHEC. Pasien HUS menderita gagal ginjal, anemia hemolisis, dan trombositopeni 12-14 hari setelah diare. Risiko HUS meningkat setelah infeksi EHEC dengan penggunaan obat anti-diare, tetapi hubungannya dengan penggunaan antibiotik masih kontroversial.

Sindrom Guillain – Barre, suatu polineuropati demielinisasi akut, merupakan komplikasi potensial lain, khususnya setelah infeksi C. jejuni; 20-40% pasien Guillain – Barre menderita infeksi C. jejuni beberapa minggu sebelumnya. Pasien menderita kelemahan motorik dan mungkin memerlukan ventilasi mekanis. Mekanisme penyebab sindrom Guillain – Barre belum diketahui.2 Artritis pasca- infeksi dapat terjadi beberapa minggu setelah penyakit diare karena Campylobacter, Shigella, Salmonella, atau Yersinia spp.

 

2.9         Prognosis

Dengan penggantian cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan terapi antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare infeksius sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas minimal. Seperti kebanyakan penyakit, morbiditas dan mortalitas terutama pada anak-anak dan pada lanjut usia. Di Amerika Serikat, mortalitas berhubungan dengan diare infeksius < 1,0%. Pengecualiannya pada infeksi EHEC dengan mortalitas 1,2% yang berhubungan dengan sindrom uremik hemolitik.


BAB III LAPORAN KASUS

 

3.1         Identitas Pasien

Nama Pasien                 :    HNM

Jenis Kelamin               :    Perempuan

Umur                             :    60 tahun

Agama                          :    Islam

Alamat                          :    Bunut Baok Praya

Suku Bangsa                 :    Sasak

Status Perkawinan        :    Menikah

Tanggal Masuk IGD    :    29 September 2022

Tanggal Pemeriksaan   :    29 September 2022

 

3.2         Anamnesis

Keluhan utama : Diare

Riwayat penyakit sekarang :

Pasien datang sadar dengan keluhan utama diare. Diare dikeluhkan muncul pertama kali sejak 6 jam Masuk IGD (29 September 2022). Diare dikatakan sudah lebih dari 10 kali sejak 6 jam Masuk IGD. Diare dikatakan dengan tinja konsistensi cair, warna kekuningan, dengan sedikit ampas makanan, tanpa disertai darah dan lendir, dan bau seperti tinja biasanya. Setiap kali berak, tinja yang keluar sebanyak ± 1 gelas aqua (± 240 cc). Diare muncul secara mendadak, pasien hanya minum 1 tablet obat anti diare serta minum larutan air gula dan garam untuk meringankan diare yang dialami pasien. Keluhan diare juga disertai mual dan muntah, nyeri perut, dan demam.

Mual dan muntah dirasakan sejak 6 jam masuk IGD (29 September 2022), mual bersifat hilang timbul. Muntah dikatakan terjadi sebanyak kurang lebih 5 kali dengan volume ± ½ gelas aqua (±120 cc), isi muntahan berupa campuran air liur dan makanan yang telah dimakan sebelumnya, dan tidak mengandung darah.

Pasien juga mengeluh nyeri perut sejak 1 hari MASUK IGD. Nyeri dirasakan pada perut kanan dan kiri bagian bawah terasa seperti melilit (dipelintir). Nyeri dirasakan setiap kali pasien merasa ingin buang air besar.

Pasien juga mengeluh demam. Demam dirasakan sejak sore hari MASUK IGD. Demam dikatakan mulai muncul setelah pasien mengalami diare dan muncul secara mendadak tinggi. Demam dikatakan tidak sempat diukur menggunakan termometer. Pasien mengaku tidak sempat mengkonsumsi obat penurun panas untuk menghilangkan keluhan demamnya.

Pasien juga mengeluhkan Batuk. Batuk dikatakan dialami sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Batuk dikatakan disertai dahak yang berwarna putih kekuningan. Batuk dikatakan tidak memberat pada malam hari dan tidak disertai dengan penurunan berat badan.

Pasien mengaku bibir dan lidahnya terasa kering setelah mengalami diare. Keluhan mata terlihat cowong disangkal dan pasien mengaku merasa lemas di seluruh badan. Pasien juga mengaku merasa kehausan sehingga pasien lebih sering minum. Pasien mengaku telah menghabiskan air mineral sebanyak 1 botol sedang (± 600 cc) dan 1 gelas air garam dan gula (± 240 cc) sejak malam hari MASUK IGD sampai saat pemeriksaan dilakukan. Nafsu makan pasien dikatakan menurun karena pasien sering merasakan mual dan muntah setiap makan. Aktivitas BAK diakui pasien buang air kecil dikatakan normal dengan frekuensi BAK 4-5x /hari.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan diare yang sama seperti yang dikeluhkan saat sakit pada saat itu. Riwayat diare lama juga disangkal oleh pasien. Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal dan batuk lama disangkal oleh pasien.

Riwayat Pengobatan

Pasien sempat mengkonsumsi 1 tablet obat anti diare, namun pasien lupa nama obatnya. Pasien juga meminum 1 gelas larutan air gula dan garam, namun keluhan diare yang dialami pasien tidak dapat membaik.

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami keluhan diare yang sama seperti pasien. Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal disangkal oleh pasien.

Riwayat pribadi dan sosial

Pasien sehari-harinya tidak bekerja dan hanya membantu membersihkan rumah saja. Pasien tinggal bersama anak, menantu, dan 3 orang cucunya. Pasien sehari-hari mengkonsumsi makanan yang dimasak sendiri, namun kadang pasien juga mengkonsumsi makanan yang dibelinya di pasar. Kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol disangkal oleh pasien.

Riwayat Medis

Keluhan utama: Diare

Keluhan penyerta:

-                       Pusing-pusing                         : Tidak ada

-                       Nyeri kepala                           : Tidak ada

-                       Kesadaran menurun               : Tidak ada

-                       Selera makan berubah            : Berkurang

-                       Berat badan                            : Berubah

-                       Demam                                   : Ada

-                       Sulit tidur                               : Tidak ada

-                       Mudah marah / tersinggung   : Tidak ada

-                       Sakit tenggorokan                  : Tidak ada

-                       Gangguan pendengaran         : Tidak Ada

-                       Gangguan penglihatan           : Ada

-                       Batuk / pilek / influenza         : Ada

-                       Batuk-batuk lama                   : Tidak ada

-                       Sesak nafas                             : Tidak Ada

-                       Sakit gigi / lidah / gusi           : Tidak ada

-                       Mual                                       : Ada

-                       Mencret / diare                       : Ada

-                       BAB berdarah                        : Tidak ada

-                       Mengompol                            : Ada

-                       Jatuh                                       : Tidak ada

-                       Sakit tulang sendi                   : Tidak ada

-                       Lainnya                                  : Tidak ada

Riwayat penyakit sekarang: Diare, Mual dan Muntah, Demam, Lemas, Batuk

Riwayat penyakit dahulu

-                       Gang. pemb. darah otak / stroke    : Tidak ada

-                       Katarak                                   : Tidak ada

-                       Nyeri jantung (Angina)          : Tidak ada

-                       Serangan jantung IMA (MCI)  : Tidak ada

-                       Paru-paru (TBC/PPOK/Asma) : Tidak ada

-                       Kolesterol tinggi                    : Tidak ada

-                       Trigliserida tinggi                  : Tidak ada

-                       Kegemukan (obesitas)            : Tidak ada

-                       Kencing manis / diabetes melitus   : Tidak ada

-                       Tekanan darah tinggi             : Tidak da

-                       Batu saluran kencing              : Tidak ada

-                       Prostat                                    : Tidak ada

-                       Sakit ginjal (ISK/CRF)          : Tidak ada

-                       Tulang keropos / Osteoporosis : Tidak ada

-                       Rematik / Osteoatritis            : Tidak ada

-                       P. Gout Pirai                           : Tidak ada

-                       Kurang darah / anemia           : Tidak ada

-                       Kanker                                    : Tidak ada

-                       Gangguan lambung                : Tidak ada

-                       Sakit liver                               : Tidak ada

-                       Batu empedu                          : Tidak ada

-                       Lainnya                                  : Tidak ada

1.                  Riwayat pembedahan     : Tidak ada

2.                  Riwayat rawat inap         : Tidak ada

3.                  Riwayat kesehatan lain   : Tidak ada

4.                  Riwayat alergi                 : Tidak ada

5.                  Obat obatan saat ini

-                   Dengan Resep Dokter                         : Tidak ada

-                   Tanpa Resep Dokter                           : Tidak ada

6.                  Riwayat sosial-kemasyarakatan-keagamaan

-                   Rekreasi                                                   : Sangat jarang

-                   Kegiatan keagamaan                                : Sering

-                   Silahturahmi dengan keluarga                 : Sering

-                   Silahturahmi dengan sesama lansia         : Sangat jarang

-                   Olahraga                                                  : Sangat jarang

7.                  Analisa Finansial

-                   Pekerjaan utama sebelum usia 55 tahun : Ibu Rumah Tangga

-                   Menerima pensiun                                   : Tidak

-                   Pekerjaan saat ini                                     : Tidak ada

-                   Penghasilan rata-rata perbulan                : -

-                   Menerima bantuan dalam bentuk uang   : Tidak ada

-                   Menerima bantuan selain uang                : Tidak ada

-                   Masih menanggung orang lain                : Tidak

-                   Penghasilan cukup untuk pengeluaran    : Cukup

3.3         Anamnesis Sistem

Keadaan umum  : Lemah

1.                      Sistem kardio vascular

-                   Nyeri / rasa berat di dada                              : Tidak Ada

-                   Sesak nafas pada waktu kerja                        : Tidak Ada

-                   Terbangun tengah malam karena sesak

-                   Sesak saat berbaring tanpa bantal

-                   Bengkak pada kaki / tungkai

2.                      Pulmo

-                   Sesak Napas                                                   : Tidak ada

-                   Demam                                                          : Ada

-                   Batuk berdahak / kering                                : Ada

3.                      Saluran cerna

-                   Nafsu makan menurun/meningkat                 : Ada

-                   Berak hitam                                                   : Tidak Ada

-                   Sakit perut                                                     : Ada

-                   Mencret                                                          : Ada

-                   Perut terasa kembung                                    : Tidak Ada

-                   BAB berdarah                                                : Tida ada

4.                      Saluran Kencing

-                   Gangguan BAK                                             : Tidak ada

-                   Nyeri BAK                                                    : Tidak ada

-                   Pancaran air seni kurang                               : Tidak ada

-                   Menetes                                                         : Tidak ada

-                   Bangun malam karena BAK                         : Tidak ada

5.                      Hematologi           

-                   Mudah timbul lebam kulit                             : Tidak ada

-                   Bila luka, perdarahan lambat berhenti           : Tidak ada

-                   Benjolan                                                         : Tidak ada

6.                      Rematologi

-                   Kekakuan sendi                                             : Tidak ada

-                   Bengkak sendi                                               : Tidak ada

-                   Nyeri otot                                                      : Tidak ada

7.                      Endokrin

-                   Benjolan di leher depan samping                  : Tidak ada

-                   Gemetaran                                                     : Tidak ada

8.                      Endokrin

-                   Lebih suka udara dingin                                : Tidak ada

-                   Banyak keringat                                             : Tidak ada

-                   Lekas lelah / lemas                                        : Tidak ada

-                   Rasa haus bertambah                                     : Tidak ada

-                   Mudah mengantuk                                         : Tidak ada

-                   Lesu, lelah, letih, lemah                                 : Tidak ada

-                   Tidak tahan dingin                                         : Tidak ada

9.                      Neurologi

-                   Pusing/ Sakit kepala                                      : Tidak ada

-                   Kesulitan mengingat sesuatu                         : Tidak ada

-                   Pingsan sesaat                                                : Tidak ada

-                   Gangguan penglihatan                                   : Ada

-                   Gangguan pendengaran                                 : Tidak ada

-                   Rasa baal / kesemutan anggota badan           : Tidak ada

-                   Kesulitan tidur                                               : Tidak ada

-                   Kelemahan anggota tubuh                             : Tidak ada

-                   Lumpuh                                                         : Tidak ada

-                   Kejang-kejang                                                : Tidak ada

10.               Jiwa

-                   Sering lupa                                                     : Tidak ada

-                   Kelakuan aneh                                               : Tidak ada

-                   Mengembara                                                  : Tidak ada

-                   Murung                                                          : Tidak ada

-                   Sering menangis                                            : Tidak ada

-                   Mudah tersinggung                                        : Tidak ada

3.4         Pemeriksaan Fisik - (02/11/2017)

Status Present:

Kondisi Umum                       : Sakit Ringan

Kesadaran                              : E4V5M6 /Compos mentis

Tekanan darah                        : 110/80 mmHg

Nadi                                       : 92 x/mnt

Respirasi                                 : 24 x/mnt

Suhu aksila                             : 36,6 °C

Berat badan                            : 50 kg

Tinggi badan                          : 150 cm

BMI                                        : 22.2 kg/m2

Status general:

Mata                                      : Anemis +/+, ikterus -/-, reflek pupil +/+ isokor, edema palpebra -/-, cowong -/-

THT

Telinga                                    : sekret -/-

Hidung                                   : sekret (-), mukosa nasalis intak/intak

Bibir                                       : stomatitis angularis (-), ulkus (-), mukosa kering (+)

Lidah                                      : mukosa lidah kering (+)

Tenggorokan                          : tonsil T1/T1, faring hiperemis (-)

 

Leher                                     : JVP + 0 cmH2O, kelenjar tiroid normal, pembesaran kelenjar getah bening (-)

Thorax                                   : Simetris saat statis dan dinamis Cor

Inspeksi                                  : Tidak tampak pulsasi iktus kordis

Palpas                                     : Iktus kordis tidak teraba

Perkusi                                    : Batas kanan PSL kanan Batas kiri MCL kiri

Auskultasi                              : S1S2 tunggal, regular, murmur (-) Pulmo

Inspeksi                                  : simetris

Palpasi                                    : Vocal fremitus normal

Perkusi                                    : Sonor/Sonor

                                           +   +                   -    -                         -    -

Asuskultasi   : Vesikuler    +   +     Rhonki   -    -      Wheezing   -    -

                                           +   +                   -    -                         -    -

Abdomen:

Inspeksi                                  : Distensi (-), ascites (-)

Auskultasi                              : Bising usus (+) meningkat

Palpasi                                    : Hepar tidak teraba, lien tidak teraba, nyeri tekan (-)

hangat +edema -Perkusi                                    : Timpani

Ekstremitas                             : Hangat            edema              

3.5         Terapi

1.                 IUFD RL20TPL

2.                 Injeksi OMZ 2x1

3.                 PO Antasida 3x1

4.                 PO Ranitidin 2x1

5.                 PO Metronidazol 3x1

6.                 PO Vit B C 1x1

 


 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1         Kesimpulan

Dengan penggantian cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan terapi antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare infeksius sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas minimal. Seperti kebanyakan penyakit, morbiditas dan mortalitas terutama pada anak-anak dan pada lanjut usia. Di Amerika Serikat, mortalitas berhubungan dengan diare infeksius < 1,0%. Pengecualiannya pada infeksi EHEC dengan mortalitas 1,2% yang berhubungan dengan sindrom uremik hemolitik.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Riddle, M., DuPont, H. and Connor, B. (2016). ACG Clinical Guideline: Diagnosis, Treatment, and Prevention of Acute Diarrheal Infections in Adults. The American Journal of Gastroenterology, 111(5), pp.602-622.

 

Barr, w. and smith, a. (2017). [online] Available at: http://Acute Diarrhea in Adults WENDY BARR, MD, MPH, MSCE, and ANDREW SMITH, MD Lawrence Family Medicine Residency, Lawrence, Massachusetts

 

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II eidsi V. Jakarta: Interna Publishing; 2009

 

Al-Thani, A., Baris, M., Al-Lawati, N. and Al-Dhahry, S. (2013). Characterising the aetiology of severe acute gastroenteritis among patients visiting a hospital in Qatar using real-time polymerase chain reaction. BMC Infectious Diseases, 13(1).

 

Depkes RI., 2012. Angka Kejadian Gastroenteritis Masih Tinggi. http://www.depkes.go.id/index.php

 

Anon, (2017). [online] Available at: (http://www.who.int/child-adolescent- health/Emergencies/Diarrhoea_guidelines.pdf) A manual for physicians and other senior health workers.

 

How, C. (2010). Acute gastroenteritis: from guidelines to real life. Clinical and Experimental Gastroenterology, p.97.

 

Dennis L., Anthony S., Stephen H., Dan L., Larry J., Joseph L. 2016. Harrison's Gastroenterology and Hepatology. 3rd Edition. Philadelphia: McGraw Hill.

 

Worldgastroenterology.org. (2017). English | World Gastroenterology Organisation. [online] Available at: http://www.worldgastroenterology.org /guidelines/global-guidelines/acute-diarrhea/acute-diarrhea-english


Download file disini

0 comments:

Post a Comment