Penyakit ginjal kronis (CKD) merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia
publik. Hal ini diakui sebagai kondisi umum yang berhubungan dengan peningkatan
risiko penyakit kardiovaskular dan gagal ginjal kronis (CRF). Di Amerika
Serikat, ada meningkatnya insiden dan prevalensi gagal ginjal, dengan hasil
yang buruk dan biaya tinggi (lihat Epidemiologi).
Penyakit Ginjal
Kualitas Hasil Initiative (K / DOQI) dari National Kidney Foundation (NKF)
mendefinisikan penyakit ginjal kronis baik sebagai kerusakan ginjal atau
tingkat filtrasi glomerulus menurun (GFR) kurang dari 60 mL/min/1.73 m 2
untuk 3 atau bulan lagi. Apapun etiologi yang mendasarinya, penghancuran massa
ginjal dengan sclerosis ireversibel dan hilangnya nefron menyebabkan penurunan
progresif GFR. Pada tahun 2002, K / DOQI diterbitkan klasifikasinya dari tahap
penyakit ginjal kronis, sebagai berikut:
·
Tahap 1: Kerusakan ginjal dengan GFR normal atau meningkat (>
90 mL/min/1.73 m 2)
·
Tahap 2: penurunan ringan pada GFR (60-89 mL/min/1.73
m 2)
·
Tahap 3: penurunan moderat GFR (30-59
mL/min/1.73 m 2)
·
Tahap 4: Penurunan berat pada GFR (15-29
mL/min/1.73 m 2)
·
Tahap 5: Kegagalan ginjal (GFR <15 mL/min/1.73 m 2 atau
dialisis)
Pasien dengan
stadium penyakit ginjal kronis 1-3 umumnya asimtomatik; klinis manifestasi
biasanya muncul dalam tahap 4-5. Diagnosis dini dan pengobatan dan penyebab /
atau lembaga tindakan pencegahan sekunder sangat penting pada pasien dengan
penyakit ginjal kronis. Ini mungkin menunda, atau mungkin menghentikan,
kemajuan. Perawatan medis pasien dengan penyakit ginjal kronis (lihat
Pengobatan) harus fokus pada hal berikut:
·
Menunda atau menghentikan perkembangan penyakit kronis kidney
·
Mengobati manifestasi patologis penyakit ginjal kronis
·
Tepat waktu perencanaan jangka panjang terapi pengganti
ginjal
BAB II
A.
Anatomi Dan Fisiologi Ginjal
Ginjal merupakan organ pada tubuh manusia yang menjalankan banyak fungsi
untuk homeostasis, yang terutama adalah sebagai organ ekskresi dan pengatur keseimbangan
cairan dan asam basa dalam tubuh. Terdapat sepasang ginjal pada manusia,
masing-masing di sisi kiri dan kanan (lateral) tulang vertebra dan terletak
retroperitoneal (di belakang peritoneum). Selain itu sepasang ginjal tersebut
dilengkapi juga dengan sepasang ureter, sebuah vesika urinaria
(buli-buli/kandung kemih) dan uretra yang membawa urine ke lingkungan luar
tubuh.
Ginjal
Ginjal terletak dibagian belakang abdomen atas, dibelakang
peritonium (retroperitoneal), didepan dua kosta terakhir dan tiga otot-otot
besar (transversus abdominis, kuadratus lumborum dan psoas mayor) di bawah hati
dan limpa. Di bagian atas (superior) ginjal terdapat kelenjar adrenal (juga disebut kelenjar
suprarenal). Kedua
ginjal terletak di sekitar vertebra T12 hingga L3. Ginjal pada orang dewasa
berukuran panjang 11-12 cm, lebar 5-7 cm, tebal 2,3-3 cm, kira-kira
sebesar kepalan tangan manusia dewasa. Berat kedua ginjal kurang dari 1% berat
seluruh tubuh atau kurang lebih beratnya antara 120-150 gram.

Bentuknya seperti biji
kacang, dengan lekukan yang menghadap ke dalam. Jumlahnya ada 2 buah
yaitu kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada
umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari pada ginjal wanita. Ginjal kanan
biasanya terletak sedikit ke bawah dibandingkan ginjal kiri untuk memberi
tempat lobus hepatis dextra yang besar. Ginjal dipertahankan dalam
posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Kedua ginjal dibungkus oleh dua
lapisan lemak (lemak perirenal dan lemak pararenal) yang membantu meredam
guncangan.

Setiap ginjal terbungkus
oleh selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdapat cortex renalis di
bagian luar, yang berwarna coklat gelap, dan medulla renalis di bagian dalam
yang berwarna coklat lebih terang dibandingkan cortex. Bagian medulla berbentuk
kerucut yang disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks
yang terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis.
Hilum adalah pinggir medial
ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya pembuluh darah, pembuluh limfe,
ureter dan nervus. Pelvis renalis berbentuk corong yang menerima urin
yang diproduksi ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga kaliks renalis majores
yang masing-masing akan bercabang menjadi dua atau tiga kaliks renalis minores.
Medulla terbagi menjadi bagian segitiga yang disebut piramid. Piramid-piramid
tersebut dikelilingi oleh bagian korteks dan tersusun dari segmen-segmen
tubulus dan duktus pengumpul nefron. Papila atau apeks dari tiap piramid
membentuk duktus papilaris bellini yang terbentuk dari kesatuan bagian terminal
dari banyak duktus pengumpul.
Mikroskopis
Ginjal
Ginjal
terbentuk oleh unit yang disebut nephron yang berjumlah 1-1,2 juta buah pada
tiap ginjal. Nefron adalah unit fungsional ginjal. Setiap nefron terdiri dari
kapsula bowman, tumbai kapiler glomerulus, tubulus kontortus proksimal,
lengkung henle dan tubulus kontortus distal, yang mengosongkan diri keduktus
pengumpul.
Unit nephron
dimulai dari pembuluh darah halus / kapiler, bersifat sebagai saringan disebut
Glomerulus, darah melewati glomerulus/ kapiler tersebut dan disaring sehingga
terbentuk filtrat (urin yang masih encer) yang berjumlah kira-kira 170 liter
per hari, kemudian dialirkan melalui pipa/saluran yang disebut Tubulus. Urin
ini dialirkan keluar ke saluran Ureter, kandung kencing, kemudian
ke luar melalui Uretra. Nefron berfungsi sebagai regulator air dan zat terlarut
(terutama elektrolit) dalam tubuh dengan cara menyaring darah, kemudian
mereabsorpsi cairan dan molekul yang masih diperlukan tubuh. Molekul dan sisa
cairan lainnya akan dibuang. Reabsorpsi dan pembuangan dilakukan menggunakan
mekanisme pertukaran lawan arus dan kotranspor. Hasil akhir yang kemudian
diekskresikan disebut urin.
Vaskularisasi
Ginjal
Arteri
renalis dicabangkan dari aorta abdominalis kira-kira setinggi vertebra lumbalis
II. Vena renalis menyalurkan darah kedalam vena kavainferior yang terletak
disebelah kanan garis tengah. Saat arteri renalis masuk kedalam hilus, arteri
tersebut bercabang menjadi arteri interlobaris yang berjalan diantara piramid
selanjutnya membentuk arteri arkuata kemudian membentuk arteriola
interlobularis yang tersusun paralel dalam korteks. Arteri interlobularis ini
kemudian membentuk arteriola aferen pada glomerulus.
Glomeruli
bersatu membentuk arteriola aferen yang kemudian bercabang membentuk sistem
portal kapiler yang mengelilingi tubulus dan disebut kapiler peritubular. Darah
yang mengalir melalui sistem portal ini akan dialirkan kedalam jalinan vena
selanjutnya menuju vena interlobularis, vena arkuarta, vena interlobaris, dan
vena renalis untuk akhirnya mencapai vena cava inferior. Ginjal dilalui oleh
sekitar 1200 ml darah permenit suatu volume yang sama dengan 20-25% curah
jantung (5000 ml/menit) lebih dari 90% darah yang masuk keginjal berada pada
korteks sedangkan sisanya dialirkan ke medulla. Sifat khusus aliran darah
ginjal adalah otoregulasi aliran darah melalui ginjal arteiol afferen mempunyai
kapasitas intrinsik yang dapat merubah resistensinya sebagai respon terhadap
perubahan tekanan darah arteri dengan demikian mempertahankan aliran darah
ginjal dan filtrasi glomerulus tetap konstan.
Persarafan
Pada Ginjal
Menurut Price (1995) “Ginjal mendapat persarafan dari
nervus renalis (vasomotor), saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang
masuk kedalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang
masuk ke ginjal”.
Fungsi ginjal yaitu :
1.
Mempertahankan keseimbangan H2O di dalam tubuh
2.
Mempertahankan osmolaritas cairan
tubuh
3.
Mengatur kuantitas dan konsentrasi
sebagian besar ion ECF seperti sodium, klorida, potasium, ion hidrogen,
bikarbonat, dll
4.
Mempertahankan volume plasma
5.
Membantu mempertahankan
keseimbangan asam basa di dalam tubuh
6.
Membuang produk akhir metabolisme
tubuh
7.
Membuang zat asing seperti
obat-obatan, pestisida, dan material non-nutritive
lain yang masuk ke dalam tubuh
8.
Memproduksi eritropoietin
9.
Memproduksi renin
10.
Mengubah vitamin D ke bentuk aktif
Unit fungsional dasar dari ginjal adalah nefron
yang dapat berjumlah lebih dari satu juta buah dalam satu ginjal normal manusia
dewasa. Nefron berfungsi sebagai regulator air dan zat terlarut (terutama elektrolit) dalam tubuh
dengan cara menyaring darah, kemudian mereabsorpsi cairan dan molekul yang
masih diperlukan tubuh. Molekul dan sisa cairan lainnya akan dibuang. Reabsorpsi
dan pembuangan dilakukan menggunakan mekanisme pertukaran
lawan arus dan ko-transpor. Hasil akhir yang diekskresikan disebut urin. Aliran darah ke
ginjal adalah 1,2 liter/menit atau 1.700 liter/hari, darah tersebut disaring
menjadi cairan filtrat sebanyak 120 ml/menit (170 liter/hari) ke tubulus.
Cairan filtrat ini diproses dalam tubulus sehingga akhirnya keluar dari kedua
ginjal dan menjadi urin sebanyak 1-2 liter/hari.
Sebuah nefron terdiri dari sebuah komponen penyaring
yang disebut korpuskula
(atau badan
Malphigi) yang dilanjutkan oleh saluran-saluran (tubulus). Setiap
korpuskula mengandung gulungan kapiler darah yang disebut glomerulus
yang berada dalam kapsula
Bowman. Setiap glomerulus mendapat aliran darah dari arteri aferen.
Dinding kapiler dari glomerulus memiliki pori-pori untuk filtrasi atau
penyaringan. Darah dapat disaring melalui dinding epitelium tipis yang berpori
dari glomerulus dan kapsula Bowman. Filtrat yang dihasilkan akan masuk ke dalan
tubulus ginjal. Darah yang telah tersaring akan meninggalkan ginjal lewat
arteri eferen.
Tubulus ginjal merupakan lanjutan dari kapsula Bowman.
Bagian yang mengalirkan filtrat glomerular dari kapsula Bowman disebut tubulus
konvulasi proksimal. Bagian selanjutnya adalah lengkung/ansa
Henle yang bermuara pada tubulus
konvulasi distal. Lengkung Henle berfungsi untuk menjaga gradien osmotik
pada medula ginjal yang berperan penting pada kemampuan ginjal untuk
memproduksi urin dalam konsentrasi yang bervariasi.
Tempat lengkung Henle bersinggungan dengan arteri
aferen disebut aparatus juxtaglomerular,
mengandung makula densa
dan sel juxtaglomerular.
Sel juxtaglomerular adalah tempat terjadinya sintesis dan sekresi renin.
Pada sisi luar dari aparatus juxtaglorular, tubulus sekali lagi berhubungan
(gulungan) erat untuk membentuk tubulus konvulasi distal yang berakhir pada
tubulus kolektikus. Setiap tubulus kolektikus akan mengalirkan cairan menuju
delapan nefron yang berbeda. Sel yang melapisi tubulus memiliki banyak mitokondria yang
menghasilkan ATP dan
memungkinkan terjadinya transpor
aktif untuk menyerap kembali glukosa, asam amino, dan berbagai ion mineral.
Sebagian besar air (97.7%) dalam filtrat masuk ke dalam tubulus (proksimal dan
distal) dan tubulus kolektikus melalui proses osmosis.
Filtrasi
glomerulus
Kapiler glomerulus secara relatif bersifat impermeable
terhadap protein plasma yang lebih besar dan cukup permeable terhadap air dan
larutan yang lebih kecil seperti elektrolit, asam amino, glukosa dan sisa
nitrogen. Kapiler glomerulus mengalami kenaikan tekanan
darah (90 mmHg vs 10-30 mmHg). Kenaikan
ini terjadi karena arteriol aferen yang menuju ke kapiler glomerulus mempunyai
diameter yang lebih besar dan memberikan sedikit tahanan daripada kapiler yang
lain. Secara proporsional
arteriol aferen lebih besar diameternya dari arteriol eferen. Berliter-liter darah didorong menuju
ke ruang yang lebih kecil, mendorong air dan partikel kecil yang larut dari
plasma masuk ke dalam kapsula Bowman. Tekanan
darah terhadap dinding pembuluh ini disebut tekanan hidrostatik (TH). Gerakan masuk kedalam kapsula Bowman
disebut filtrasi glomerulus dan
materi yang masuk kedalam kapsula Bowman disebut filtrat. Tiga
faktor lain yang ikut serta dalam filtrasi: TH dan tekanan osmotik (TO) dari
filtrat dalam kapsula Bowman dan TO plasma. Tekanan
osmotik adalah tekanan yang dikeluarkan oleh air pada membran semipermeable
sebagai usaha untuk menembus membran kedalam area yang mengandung lebih banyak molekul
yang tidak dapat melewati membran semipermeable.

Faktor-faktor
yang memengaruhi laju filtrasi glomerulus
1.
Tekanan arteri
Bila tekanan arteri meningkat, maka tekanan di dalam glomerulus
meningkat. Tetapi, peningkatan filtrasi tidak sebesar yang diperkirakan, karena
arteriol secara otomatis diatur oleh suatu mekanisme yang disebut
“autoregulasi” untuk menjaga tekanan glomerulus dari peningkatan yang terjadi
pada organ lain.
2.
Efek konstriksi arteriol aferen pada laju filtrasi
glomerulus
Konstriksi arteriol aferen menurunkan kecepatan aliran darah dalam
glomerulus dan menurunkan tekanan glomerulus. Akibatnya, ada penurunan filtrasi
yang berhubungan dengan glomerulus
3.
Efek konstriksi arteriol eferen
Konstriksi arteriol eferen meningkatkan tahanan terhadap aliran keluar
dari glomerulus.
4.
Efek aliran darah glomerulus
Jika arteriol aferen dan eferen berkonstriksi, maka jumlah darah yang
mengalir ke glomerulus tiap menitnya akan menurun.
Lebih tepatnya, GFR adalah tingkat aliran
cairan antara kapiler glomerulus dan kapsula Bowman:
Dimana:
adalah GFR.
·
disebut filtrasi
konstan dan didefinisikan sebagai produk dari konduktivitas hidrolik dan daerah permukaan
kapiler glomerulus.
·
adalah tekanan hidrostatik dalam
kapiler glomerulus.
·
adalah tekanan hidrostatik
dalam kapsul Bowman.
·
adalah tekanan osmotik koloid dalam
kapiler glomerular.
·
dan
adalah tekanan osmotik
koloid dalam kapsula Bowman.
Metode penentuan GFR tercatat di bagian
atas dan di bawah dan jelas dari persamaan kami bahwa
dapat ditemukan dengan
membagi GFR eksperimental oleh tekanan filtrasi bersih:
![]()

Tahap Pembentukan Urine :
1.
Filtrasi Glomerular
Pembentukan
kemih dimulai dengan
filtrasi plasma pada glomerulus, seperti kapiler tubuh lainnya, kapiler glumerulus
secara relatif bersifat impermiabel terhadap protein plasma yang besar dan
cukup permabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil seperti elektrolit,
asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen. Aliran darah ginjal (RBF = Renal Blood
Flow) adalah sekitar 25% dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/menit. Sekitar
seperlima dari plasma atau sekitar 125 ml/menit dialirkan melalui glomerulus ke
kapsula bowman. Ini dikenal dengan laju filtrasi glomerulus (GFR = Glomerular
Filtration Rate). Gerakan masuk ke kapsula bowman’s disebut filtrat. Tekanan
filtrasi berasal dari perbedaan tekanan yang terdapat antara kapiler glomerulus
dan kapsula bowman’s, tekanan hidrostatik darah dalam kapiler glomerulus
mempermudah filtrasi dan kekuatan ini dilawan oleh tekanan hidrostatik filtrat
dalam kapsula bowman’s serta tekanan osmotik koloid darah. Filtrasi glomerulus
tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan-tekanan koloid diatas namun juga oleh
permeabilitas dinding kapiler.
2.
Reabsorpsi
Zat-zat yang difilltrasi ginjal dibagi
dalam 3 bagian yaitu : non elektrolit, elektrolit dan air. Setelah filtrasi
langkah kedua adalah reabsorpsi selektif zat-zat tersebut kembali lagi zat-zat
yang sudah difiltrasi.
3.
Sekresi
Sekresi tubular
melibatkan transfor aktif molekul-molekul dari aliran darah melalui tubulus kedalam filtrat. Banyak substansi
yang disekresi tidak terjadi secara alamiah dalam tubuh (misalnya penisilin).
Substansi yang secara alamiah terjadi dalam tubuh termasuk asam urat dan kalium
serta ion-ion hidrogen. Pada tubulus distalis, transfor aktif natrium sistem carier
yang juga telibat dalam sekresi hidrogen dan ion-ion kalium tubular. Dalam
hubungan ini, tiap kali carier membawa natrium keluar dari cairan tubular,
cariernya bisa hidrogen atau ion kalium kedalam cairan tubular “perjalanannya
kembali” jadi, untuk setiap ion natrium yang diabsorpsi, hidrogen atau kalium
harus disekresi dan sebaliknya. Pilihan kation yang akan disekresi tergantung pada
konsentrasi cairan ekstratubular (CES) dari ion-ion ini (hidrogen dan kalium). Pengetahuan
tentang pertukaran kation dalam tubulus distalis ini membantu kita memahami
beberapa hubungan yang dimiliki elektrolit dengan lainnya. Sebagai contoh, kita
dapat mengerti mengapa bloker aldosteron dapat menyebabkan hiperkalemia atau
mengapa pada awalnya dapat terjadi penurunan kalium plasma ketika asidosis
berat dikoreksi secara theurapeutik.
Tubular Reabsopsi
Hanya sekitar 1% dari fitrasi glomerulus yang meninggalkan tubuh karena
sisanya (99% lainnya) diserap ke dalam darah ketika melewati tubulus ginjal.
Hal ini disebut reabsorpsi tubular dan terjadi melalui tiga mekanisme yaitu
osmosis, difusi dan transportasi aktif.
Proses
reabsorpsi tubular terjadi dalam urutan sebagai berikut :
Tubulus
konvulasi proksimal
Sebagian besar volume larutan fitrat ini direabsorpsi dalam tubulus
konvulasi proksimal (PCT). Termasuk air dan sebagian besar / semua glukosa
(kecuali dalam kasus penderita diabetes).
Sebagian besar energi yang dikonsumsi oleh ginjal digunakan dalam
reabsorpsi ion natrium (Na+), yang merupakan zat terlarut negatif yaitu mereka
dilarutkan dalam komponen air dari solusi fitrat. Sebagai konsentrasi Na+ dalam
larutan filtrat tinggi (hampir sama dengan konsentrasi Na+ dalam plasma darah),
Na+ bergerak dari cairan tubulus ke dalam sel dari PCT. Dalam kasus ion Na+
banyak ini terjadi dengan bantuan symporters. Symporters sekaligus memfasilitasi perjalanan melalui membran PCT kedua
Na+ dan lain zat / zat terlarut. Zat lain seperti itu yang diserap dengan Na+
dengan cara ini termasuk glukosa (jenis penting dari gula), asam amino , asam laktat dan ion
bikarbonat (HCO 3-). Ini kemudian melanjutkan melalui sel-sel melalui difusi
dan/atau proses transportasi lainnya.
Zat terlarut secara selektif pindah dari filtrat glomular untuk plasma
dengan transportasi aktif. (Namun, hampir semua glukosa dan asam amino, dan
jumlah tinggi tetapi variabel ion, yang diserap kembali lagi nanti - lihat
bagian berikutnya, di bawah).
Setelah zat terlarut (termasuk Na+), air ini kemudian juga diserap
kembali melalui osmosis. Sekitar 80% dari volume filtrat diserap kembali dengan
cara ini. Karena ini bagian dari proses reabsorpsi tidak dikontrol oleh tubulus
proksimal itu sendiri
Loop of Henle

Air yang tersisa (bersama dengan garam-garam terlarut dan urea) melewati
dari PCT ke dalam bagian bawah Henle. Kemudian melewati sepanjang Loop of
Henle, dan sampai bagian atas Henle.
Sifat-sifat permeabilitas yang berbeda dari dua anggota badan dari Loop
of Henle, bersama dengan pengaturan counterflow, memungkinkan perkalian arus
balik untuk menghasilkan konsentrasi zat terlarut tinggi dalam cairan jaringan
dari medula (di luar tubulus). Konsentrasi zat terlarut tertinggi dihasilkan
jauh di dalam medula. Hal ini dijelaskan sebagai berikut:
Descending Limb Loop of Henle
Lapisan epitel ekstremitas menurun dari Henle relatif permeabel terhadap
air - tetapi jauh lebih sedikit permeabel terhadap garam-garam Na+
dan Cl- dan urea. Oleh karena itu air secara bertahap bergerak dari
anggota tubuh yang turun dan masuk ke interstitium (sekitar tubulus) sebagai
aliran cairan melalui bagian dari sistem tubulus ginjal.
Ascending Limb Loop of Henle (bagian tipis)
Anggota tubuh atas Henle berbeda dari anggota tubuh bawah dalam yang
tidak tembus air (sehingga air yang berada di dalam tubulus pada tahap ini umumnya
tetap di dalamnya), tetapi sangat permeabel terhadap Na+ dan Cl-,
dan agak permeabel untuk urea. Oleh karena itu sementara cairan tubular
mengalir kembali ke korteks ginjal, Na+ dan Cl- (yang
lebih terkonsentrasi di cairan tubular dari dalam cairan interstital) berdifusi
dari tubulus ke interstitium. Urea Beberapa juga memasuki tubulus pada tahap
ini - tetapi hilangnya NaCl dari cairan tubulus sangat melebihi keuntungan
dalam urea.
Ascending Limb Loop of Henle (bagian tebal)
Anggota tubuh atas Henle (dan lanjutannya ke bagian pertama dari DCT),
menyerap kembali NaCl dari cairan tubulus melalui proses transportasi berbeda
dari anggota tubuh atas Henle yang tipis.
Efek keseluruhan dari proses yang diuraikan di atas adalah bahwa
konsentrasi dari cairan di dalam tubulus ginjal yang membentuk Loop of Henle
adalah tertinggi pada bagian terdalam dari medula ginjal, dan kurang
terkonsentrasi di korteks ginjal. Inilah yang dimaksud dengan "gradien
konsentrasi" dari Loop of Henle. Istilah "kontra-saat ini" juga
digunakan dalam deskripsi dari Loop of Henle - dan mengacu pada cairan tubular
mengalir dalam arah yang berlawanan sepanjang anggota badan bawah dan atas
(seperti yang ditunjukkan oleh panah merah tipis dalam diagram di atas.
Dalam DCT
Air, urea, dan garam yang terkandung dalam anggota tubuh menaik Henle
akhirnya masuk ke dalam tubulus distal (DCT).
DCT bereaksi
terhadap jumlah anti-diuretik
hormon (ADH)
dalam darah:
Para ADH lebih hadir dalam darah, semakin banyak air yang kembali diserap
ke dalamnya. Hal ini terjadi karena adanya ADH dalam darah menyebabkan sel-sel
di bagian terakhir dari DCT (dan tubulus terkait dan saluran pengumpul) untuk
menjadi lebih permeabel terhadap air, sehingga mereka memungkinkan lebih banyak
air untuk lewat dari bagian belakang tabung cairan ke dalam darah . Hal ini
menyebabkan urin terkonsentrasi lagi.
Sebaliknya juga benar, yaitu jika tingkat ADH dalam darah berkurang maka
sel-sel di bagian terakhir dari DCT (dan tubulus terkait dan saluran pengumpul)
menjadi kurang permeabel terhadap air sehingga air kurang mampu lulus dari
tubular cairan kembali ke darah - yang menghasilkan urin kurang terkonsentrasi.
Sekresi
tubular
Proses ketiga dimana darah ginjal bersih (mengatur komposisi dan volume)
disebut sekresi tubular dan melibatkan zat yang ditambahkan ke cairan tubular.
Hal ini menghilangkan jumlah yang berlebihan dari zat terlarut tertentu dari
tubuh, dan juga menjaga darah pada pH sehat normal (yang biasanya dalam kisaran
pH 7,35 sampai pH 7.45).
Zat yang disekresikan ke dalam cairan tubular (untuk dihapus dari tubuh)
meliputi:
·
Kalium ion (K +),
·
Ion Hidrogen (H +),
·
Ammonium ion (NH 4 +),
·
Kreatinin,
·
Urea,
·
Beberapa hormon, dan
·
Beberapa obat (misalnya penisilin).
Sekresi tubular terjadi dari sel-sel epitel yang melapisi tubulus ginjal
dan duktus kolektivus. Ini adalah sekresi tubular H+ dan NH 4+
dari darah ke dalam cairan tubular (yaitu urin - yang kemudian dikeluarkan dari
tubuh melalui ureter, kandung kemih, dan uretra) yang membantu untuk menjaga pH
darah pada tingkat normal. Pergerakan ion ini juga membantu untuk menghemat
natrium bikarbonat (NaHCO3). pH khas urin adalah sekitar 6.
Pengaturan
tonisitas, volume dan komposisi ion-ion cairan ekstrasel sebagai lingkungan
hidup sel
Pengaturan cairan ekstrasel sebagai
lingkungan hidup sel (milieu interieur)
sangat vital, karena hidup sel sangat bergantung kepada kondisi yang stabil
cairan ekstrasel itu (homeostasis). Pengaturan itu meliputi pengaturan
tonisitas, volume dan komposisi ion-ion, termasuk ion H+. Pengaturan
itu di antaranya melalui ginjal dan hormon antidiuresis (ADH = vasopresin) dan
melalui fungsi paru.
Pertahanan
terhadap perubahan tonisitas
Tonisitas cairan antarsel dipertahankan
terutama melalui fungsi sektresi vasopresin dan mekanisme rasa haus.
Osmolalitas total cairan tubuh berbanding langsung dengan jumlah total ion Na+
dan K+ dibagi jumlah air total. Dengan demikian perubahan osmolalitas cairan
tubuh terjadi bila ada ketidakseimbangan antara jumlah elektrolit dan jumlah
air yang dikonsumsi dan diekskresi. Tubuh akan mengatur, bila tekanan osmosis
plasma meningkat maka sekresi vasopresin meningkat dan mekanisme haus
dirangsang. Dengan demikian air akan ditahan didalam tubuh untuk mengencerkan
plasma yan hipertonik, dan masukan air juga ditingkatkan. Sebaliknya bila
plasma hipotonik, sekresi vasopresin dihambat dan air yang encer diekskresikan.
Dengan mekanisme demikian tonisitas cairan tubuh dipertahankan pada batas-batas
yang sangat sempit pada nilai normal. Pada keadaan sehat, osmolalitas plasma
berkisar antara 280 – 295 mosm/kg air.
Pertahanan terhadap perubahan volume
Volume cairan ekstrasel dipertahankan
terutama oleh jumlah total zat terlarut yang aktif menimbulkan tekanan osmosis.
Ion Na+ dan Cl- merupakan zat yang paling banyak daqn
aktif menimbulkan tekanan osmosis dalam cairan ekstrasel. Perubahan kadar Cl-
terjadi sekunder terhadap perubahan Na+, maka Na+ paling
menentukan volume cairan ekstrasel. Maka mekanisme yang mengontrol kadar Na+
merupakan mekanisme utama yang berperan pada perubahan volume cairan ekstrasel.
Namun ternyata ada mekanisme lain, yaitu melalui hormon vasopresin. Rangsang
volume lebih mendominasi mekanisme tersebut. Angiotensin II merangsang sekresi
aldosteron dan vasopresin. Hal ini juga menimbulkan rasa haus dan konstriksi
pembuluh darah yang juga mempertahankan tekanan darah. Angiotensin II berperan
utama dalam reaksi tubuh terhadap hipovolemia. Peningkatan volume cairan
ekstrasel juga merangsang ANP (atrial natriuretic peptide, A-type natriuretic peptide)
dan BNP (brain natriuretic peptide, B-type natriuretic peptide) oleh jantung,
yang menyebabkan natriuresis dan diuresis.
Aldosteron
Aldosteron merupakan salah satu hormon
mineralokortikoid yang diproduksi oleh korteks adrenal. Aldosteron dan steroid
lain yang mempunyai aktivitas mineralokortikoid meningkatkan reabsorpsi ion Na+
di ginjal, kelenjar keringat, saliva, dan kolon. Dengan demikian Na+ ditahan di
cairan ekstrasel, sehingga volume cairan ekstrasel meningkat.
Di ginjal, terutama pada sel P (principal
cells) di duktus koligentes, aldosteron meningkatkan retensi Na+ melalui
pertukaran dengan ion K+ dan ion H+ di tubulus renalis, sehingga menimbulkan
diuresis K+ dan meningkatkan keasaman kemih.
Seperti halnya steroid yang lain (hormon
yang larut dalam lemak), aldosteron akan bereaksi dengan reseptornya yang
berada di dalam sitoplasma. Kompleks hormon-reseptor ini masuk ke dalam nukleus
dan merangsang transkripsi mRNA pembentuk protein yang mengubah fungsi sel.
Protein yang pembentukannya dirangsang aldosteron ini mempunyai dua efek. Yang
pertama yaitu efek cepat yang meningkatkan aktivitas kanal ion Na+ epitel
(ENaC) dengan meningkatkan insersi kanal ion ini ke membran sel dari pool-nya
di sitoplasma. Efek kedua merupakan efek lambat yang meningkatkan sintesis
ENaC.
Aldosteron juga berikatan dengan membran
sel meningkatkan aktivitas membran dalam pertukaran N+K+.
Dan ini menyebabkan meningkatnya ion N+ di dalam sel. Dalam semua
efek aldosteron, umumnya memakan waktu sekitar 10 – 30 menit atau lebih lama
lagi. Hal ini menunjukkan bahwa kerja aldosteron memerlukan pembentukan protein
baru sehingga memerlukan waktu cukup lama. Pembentukan aldosteron dirangsang
oleh angiotensin II. Mula-mula angiotensinogen yang terdapat di peredaran darah
diubah oleh renin menjadi angiotensin I, angiotensi I diubah oleh ACE
(angiotensi converting enzyme) menjadi angiotensin II. Angiotansin II
merangsang korteks adrenal untuk mensekresi aldosteron.
Bila ada mekanisme untuk meningkatkan
retensi Na+, tubuh juga mempunyai mekanisme untuk mengekskresi ion
Na+.
Reabsorpsi Na+ dan K+
Reabsorpsi Na+ dan Cl- berperan penting dalam metabolisme aor dan
eletrolit tubuh. Trransport Na+ umumnya berpasangan dengan transport
H+, elektrolit lain, glukose, asam amino, asam organik, fosfat, dan
beberapa zat lain dalam melewati dinding tubulus. Di tubulus proksimal, ansa
Henle asendens tebal, tubulus distal, dan di tubulus koligentes ginjal, ion Na+
dari lumen tubulus masuk ke dalam sel epitel tubulus melalui kotransporter atau
penukar (exhanger) menuruni selisih
konsentrasi dan selisih potensial listrik dan kemudian ditransport secara aktif
ke ruang antar sel ginjal oleh Na+-K+-ATPase, yaitu 3 ion
Na+ keluar dari sel dan 2 ion K+ masuk ke dalam sel. Transport
terjadi di lateral intercellular space.
Normalnya sekitar 60% ion Na+
yang difiltrasi glomerulus, akan direabsorpsi oleh tubulus proksimal, terutama
melalui penukar (exchanger) Na+-H+. Selebihnya yang 30%
diabsorpsi kotransporter bersama Na+-Cl--K+ di
ansa Henle asendens tebal, 7% diabsorsi oleh kotransporter Na+-Cl-
di tubulus liku distal (distal convoluted
tubule). Sedang sisanya yang sekitar 3% yang mencapai duktur koligentes
ekskresi atau absorpsinya diatur oleh aldosteron.
Pengaturan ekskresi Na+
Ion Na+ difiltrasi di
glomerulus dalam jumlah yang banyak. Tetapi lebih dari 96% ion Na+
diserap kembali oleh ginjal. Karena ion Na+ merupakan ion yang
paling banyak di cairan ekstrasel dan karena garam Na+ merupakan 90%
zat yang aktif menimbulkan tekanan osmosis dalam plasma dan cairan antarsel,
maka jumlah Na+ di dalam tubuh merupakan penentu utama volume cairan
tubuh. Melalui berbagai mekanisme, ion Na+ diatur ekskresinya sesuai
dengan yang dikonsumsi. Ion Na+ yang diekskresikan melalui kemih
dapat berkisar dari hanya 1 mEq/d pada saat konsumsi garam rendah sampai 400
mEq/d pada saat konsumsi Na+
tinggi.
Variasi ekskresi Na+ terjadi melalui
perubahan LFG (laju filtrasi glomerulus = glomerular filtration rate, GFR) dan
pengaturan aldosteron pada sekitar 3% yang mencapai duktus koligentes. Faktor
lain yang berpengaruh pada reabsorpsi Na+ yaitu hormon
adrenokortikal lain, ANP dan hormon natriuretik lain, serta sekresi H+
dan K+ di tubulus ginjal.
Pengaturan ekskresi K+
Sebagian besar dari K+ yang difiltrasi
direabsorpsi secara aktif dari lumen tubulus di tubulus proksimal., dan
kemudian sekresikan kembali di tubulus distal. Tetapi kecepatan sekresi K+ ini
sangat bergantung kepada kecepatan aliran di lumen tubulus. Jumlah K+ yang
diekskresi biasanya sesuai dengan yang dikonsumsi.
Ekskresi air
Sekitar 180 L air difiltrasi dalam sehari
semalam di glomerulus ginjal. Sedang produksi kemih dalam 24 jam hanya sekitar
1 liter. Itu berarti bahwa yang 179 L direabsorpsi oleh ginjal. Ada dua macam
reabsorpsi air di ginjal, yaitu obligatory
water reabsorption (tidak boleh tidak pasti terjadi) yang terjadi di
tubulus proksimal, dan facultative water
reabsorption yang terjadi di duktus koligentes. Fakultatif artinya kalau
perlu. Reabsorpsi ini diatur oleh vasopresin atau hormon antidiuresis (ADH).
Bila osmolalitas cairan ekstrasel tinggi, sekresi ADH dirangsang, ADH akan
memasang banyak aquaporin (kanal air) di duktus koligentes sehingga reabsorpsi
air banyak (air ditahan di dalam tubuh). Sebaliknya bila osmolalitas cairan
ekstrasel rendah, sekresi ADH dihambat, akuaporin yang terpasang sedikit dan
reabsorpsi air sedikit. Hal demikian dapat terjadi karena mekanisme counter
current ginjal membuat daerah antarsel di medula ginjal sangat tinggi
osmolalitasnya sehingga bila akuaporin banyak terpasang maka air yang lewat
duktus koligentes akan terserap ke daerah itu.
Penyakit Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami
penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal
penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat
kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urine. Gagal
ginjal terjadi ketika ginjal sebagian atau sepenuhnya kehilangan kemampuan
mereka untuk menyaring air dan limbah dari darah.
·
Membangun dari zat beracun yang biasanya dikeluarkan dari
tubuh oleh ginjal dapat menyebabkan masalah kesehatan yang berbahaya.
·
Akut gagal ginjal (juga disebut
sebagai ginjal kegagalan) terjadi dengan
cepat.
·
Disfungsi ginjal ringan sering disebut insufisiensi ginjal.
Penyakit ginjal kronis (CKD) adalah kondisi yang ditandai oleh hilangnya
fungsi ginjal secara bertahap dari waktu ke waktu atau penurunan lambat dan
progresif fungsi ginjal. Ini biasanya akibat komplikasi dari yang lain kondisi
medis yang serius. Tidak seperti gagal ginjal akut, yang terjadi dengan cepat
dan tiba-tiba, gagal ginjal kronis terjadi secara bertahap - selama minggu,
bulan, atau tahun - sebagai ginjal perlahan berhenti bekerja, yang mengarah ke
stadium akhir penyakit ginjal (ESRD).
2.
Klasifikasi
Pada tahun 2002, K / DOQI diterbitkan klasifikasinya dari tahap penyakit
ginjal kronis, sebagai berikut:
·
Tahap 1: Kerusakan ginjal dengan GFR normal atau meningkat
(> 90 mL/min/1.73 m 2)
·
Tahap 2: penurunan ringan pada GFR (60-89 mL/min/1.73 m 2)
·
Tahap 3: penurunan moderat GFR (30-59 mL/min/1.73 m 2)
·
Tahap 4: Penurunan berat pada GFR (15-29 mL/min/1.73 m 2)
·
Tahap 5: Kegagalan ginjal (GFR <15 mL/min/1.73 m 2
atau dialisis)
Di Amerika Serikat, ada meningkatnya insiden dan prevalensi gagal ginjal,
dengan hasil yang buruk dan biaya tinggi. Penyakit ginjal adalah penyebab utama
kematian kesembilan di Amerika Serikat. Nasional Ketiga Kesehatan dan Survey
(NHANES III) memperkirakan bahwa prevalensi penyakit ginjal kronis pada orang
dewasa di Amerika Serikat adalah 11% (19,2 juta): 3,3% (5,9 juta) memiliki
tahap 1, 3% (5,3 juta) harus tahap 2, 4,3% (7,6 juta) memiliki stadium 3, 0,2%
(400.000) memiliki stadium 4, dan 0,2% (300.000) memiliki tahap 5.
Prevalensi penyakit ginjal kronis tahap 1-4 meningkat dari 10% pada tahun
1988-1994 menjadi 13,1% pada 1999-2004. Peningkatan ini sebagian dijelaskan
oleh peningkatan prevalensi diabetes dan hipertensi, yang merupakan penyebab
paling umum dari penyakit ginjal kronis. Data dari Amerika Serikat Renal Data
System (USRDS) menunjukkan bahwa prevalensi gagal ginjal kronis meningkat 104%
antara tahun 1990-2001.
Menurut ketiga Kesehatan Nasional dan Survei Pemeriksaan Gizi,
diperkirakan bahwa 6,2 juta orang (yaitu 3% dari total penduduk AS) lebih tua
dari 12 tahun memiliki nilai kreatinin serum di atas 1,5 mg / dL; 8 juta orang
memiliki GFR kurang dari 60 mL / menit, mayoritas dari mereka berada di
populasi Medicare senior (5,9 juta orang).
Tingkat kejadian stadium akhir penyakit ginjal (ESRD) telah terus
meningkat secara internasional sejak tahun 1989. Amerika Serikat memiliki
tingkat kejadian tertinggi ESRD, diikuti oleh Jepang. Jepang memiliki
prevalensi tertinggi per juta penduduk, dengan Amerika Serikat menempati posisi
kedua.
Penyakit ginjal kronis mempengaruhi semua ras, tetapi, di Amerika
Serikat, kejadian signifikan lebih tinggi dari ESRD ada pada orang kulit hitam
dibandingkan kulit putih; tingkat kejadian untuk orang kulit hitam hampir 4
kali lipat untuk kulit putih.
Choi et al menemukan bahwa tingkat ESRD antara pasien kulit hitam
melebihi orang-orang di antara pasien putih di semua tingkat baseline GFR
diperkirakan (eGFR). Risiko ESRD antara pasien kulit hitam tertinggi pada eGFR
45-59 mL/min/1.73 m 2 (rasio hazard, 3,08), seperti risiko kematian.
Jenis kelamin dan yang berkaitan
dengan usia demografi
Pada NHANES III, distribusi GFRs diperkirakan untuk tahap penyakit ginjal
kronis adalah serupa pada kedua jenis kelamin. Meskipun demikian, USRDS Tahunan
2004 Laporan Data menunjukkan bahwa tingkat kejadian kasus ESRD lebih tinggi
untuk pria, dengan 409 per juta penduduk pada tahun 2002 dibandingkan dengan
276 untuk wanita.
Penyakit ginjal kronis ditemukan pada orang dari segala usia. Meskipun
demikian, di Amerika Serikat, tingkat kejadian tertinggi terjadi pada pasien
ESRD lebih tua dari 65 tahun. Sesuai NHANES III data, prevalensi penyakit
ginjal kronis adalah 37,8% di antara pasien yang lebih tua dari 70 tahun.
Sebuah studi tentang pemuda Israel mengungkapkan bahwa pasien berusia 16-25
tahun dengan hematuria mikroskopis gigih tanpa gejala terisolasi memiliki
peningkatan risiko diperlakukan ESRD selama 22 tahun.
Proses biologis penuaan memulai perubahan struktural dan fungsional dalam
berbagai ginjal. Massa ginjal semakin menurun dengan bertambahnya umur.
Glomerulosclerosis menyebabkan penurunan berat ginjal. Pemeriksaan histologi
adalah penting untuk penurunan jumlah glomerulus sebanyak 30-50% pada usia 70
tahun. Puncak GFR selama dekade ketiga kehidupan di sekitar 120 mL/min/1.73 m 2;
itu menunjukkan penurunan rata-rata tahunan sekitar 1 mL/min/y/1.73 m 2,
dengan nilai rata-rata 70 mL/min/1.73 m2 pada usia 70 tahun.
Namun, respon vasokonstriktor menjadi angiotensin intrarenal identik di
kedua subyek manusia muda dan tua. Sebuah kapasitas vasodilator tumpul dengan
respon vasokonstriktor yang tepat dapat menunjukkan bahwa ginjal dalam usia
memiliki keadaan vasodilatasi untuk mengkompensasi kerusakan sklerotik yang
mendasarinya. Respon vasodilatory telah tumpul pada orang tua bila dibandingkan
dengan pasien yang lebih muda merupakan faktor yang mendasari dalam aliran
darah berkurang ginjal dan filtrasi meningkat mencatat dengan penuaan ginjal
progresif.
Gagal ginjal dapat terjadi dari suatu situasi akut atau dari masalah
kronis. Pada gagal ginjal akut, fungsi ginjal hilang dengan cepat dan dapat
terjadi dari berbagai penghinaan bagi tubuh. Daftar penyebab sering
dikategorisasikan berdasarkan:
Penyebab prerenal (pre = sebelum + ginjal) penyebab adalah karena
penurunan suplai darah ke ginjal. Contoh penyebab prerenal dari gagal ginjal adalah:
1.
Hipovolemia (volume darah rendah) karena kehilangan darah;
2.
Dehidrasi akibat kehilangan cairan tubuh (misalnya, muntah , diare , berkeringat, demam)
3.
Miskin asupan cairan;
4.
Obat, misalnya, diuretik ("air pil") dapat
menyebabkan kehilangan air yang berlebihan, dan
5.
Aliran darah yang abnormal dari dan ke ginjal karena
penyumbatan arteri renalis atau vena.
Penyebab ginjal gagal ginjal (merusak langsung pada ginjal sendiri)
termasuk:
1.
Sepsis : sistem imun tubuh yang
kewalahan dari infeksi dan menyebabkan peradangan dan penutupan ginjal. Hal ini
biasanya tidak terjadi dengan infeksi saluran kemih .
2.
Obat-obatan: Beberapa obat yang toksik
terhadap ginjal, termasuk nonsteroidal anti-inflammatory drugs seperti ibuprofen dan naproxen . Lainnya berpotensi obat beracun meliputi antibiotik
seperti aminoglikosida [ gentamicin (Garamycin), tobramycin ], lithium (Eskalith, Lithobid), yodium yang mengandung obat
seperti yang disuntikkan untuk studi radiologi pewarna.
3.
Rhabdomyolysis: Ini adalah situasi di mana
ada kerusakan otot yang signifikan dalam tubuh, dan serat otot yang rusak
menyumbat sistim penyaringan dari ginjal. ini dapat terjadi karena trauma,
cedera menghancurkan, dan luka bakar. Beberapa obat digunakan untuk mengobati
tinggi kolesterol dapat menyebabkan rhabdomyolysis .
5.
Akut glomerulonefritis atau peradangan dari glomeruli, sistim
penyaringan dari ginjal. Banyak penyakit dapat menyebabkan peradangan ini
termasuk lupus eritematosus sistemik , Wegener granulomatosis , dan sindrom Goodpasture .
Pasang penyebab ginjal gagal ginjal (posting = setelah +
ginjal) disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi arus keluar urin:
1.
Obstruksi kandung kemih atau ureter dapat menyebabkan tekanan
balik karena ginjal terus memproduksi urin, tetapi obstruksi bertindak seperti
bendungan, dan air seni punggung atas ke ginjal. Ketika tekanan meningkat cukup
tinggi, ginjal yang rusak dan ditutup.
2.
Hipertrofi prostat atau kanker prostat dapat menghalangi urethra dan mencegah kandung kemih
dari pengosongan.
3.
Tumor di perut yang mengelilingi dan menghalangi ureter.
4.
Batu ginjal. Biasanya, batu ginjal hanya mempengaruhi satu ginjal dan tidak menyebabkan
gagal ginjal. Namun, jika hanya ada satu hadir ginjal, batu ginjal dapat
menyebabkan ginjal tunggal gagal
Penyebab
penyakit ginjal kronis adalah sebagai berikut:
1.
Diabetes penyakit ginjal
2.
Hipertensi
3.
Vascular penyakit
4.
Glomerular penyakit (primer atau sekunder)
5.
Tubulointerstitial penyakit
6.
Obstruksi saluran kemih
Penyakit
pembuluh darah yang dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis adalah sebagai
berikut:
1.
Ginjal arteri stenosis
2.
Pola antibodi antinetrofil sitoplasma sitoplasma
(C-ANCA)-positif dan pola antibodi antinetrofil perinuklear sitoplasma
(P-ANCA)-positif vaskulitid
3.
Antinetrofil sitoplasma antibodi (ANCA)-negatif vaskulitid
4.
Atheroemboli
5.
Hipertensi nephrosclerosis
6.
Renal vein thrombosis
7.
Belum dilunasi ginjal cedera akut
Penyakit
glomerulus primer meliputi:
·
Membran nefropati
·
Imunoglobulin A nefropati (IgA)
·
Focal dan segmental glomerulosclerosis (FSGS)
·
Minimal perubahan penyakit
·
Membranoproliferatif glomerulonefritis
Cepat penyebab
glomerulonefritis progresif (bulan sabit) Sekunder penyakit glomerulus
meliputi:
·
Diabetes mellitus
·
Sistemik lupus eritematosus
·
Rheumatoid arthritis
·
Campuran jaringan ikat penyakit
·
Scleroderma
·
Goodpasture sindrom
·
Wegener granulomatosis
·
Campuran krioglobulinemia
·
Postinfectious glomerulonefritis
·
Endokarditis
·
Hepatitis B dan C
·
Sipilis
·
Human immunodeficiency virus (HIV)
·
Infeksi parasit
·
Heroin menggunakan
·
Emas
·
Penisilamin
·
Amiloidosis
·
Rantai cahaya deposisi penyakit
·
Neoplasia
·
Thrombocytopenic purpura trombotik (TTP)
·
Hemolitik uremik-syndrome (HUS)
·
Henoch Schonlein purpura-
·
Alport syndrome
·
Refluks nefropati
Penyebab
penyakit tubulointerstitial meliputi:
·
Obat-obatan (misalnya sulfa, allopurinol)
·
Infeksi (virus, bakteri, parasit)
·
Kronis hipokalemia
·
Kronis hypercalcemia
·
Sarkoidosis
·
Multiple myeloma cor nefropati
·
Logam berat
·
Radiasi nefritis
·
Polikistik ginjal
·
Cystinosis
Obstruksi
saluran kemih dapat disebabkan oleh salah satu dari berikut:
·
Urolitiasis
·
Benign prostatic hypertrophy
·
Tumor
·
Retroperitoneal fibrosis
·
Uretra striktur
·
Neurogenik kandung kemih
CKD secara kasar dapat dikategorikan sebagai cadangan ginjal berkurang,
insufisiensi ginjal, atau gagal ginjal (stadium akhir penyakit ginjal).
Awalnya, sebagai jaringan ginjal kehilangan fungsinya, ada kelainan sedikit
karena jaringan yang tersisa dapat meningkatkan kinerja (adaptasi fungsional
ginjal); kehilangan 75% dari jaringan ginjal menyebabkan penurunan GFR hanya
50% dari normal.
Fungsi ginjal menurun mengganggu kemampuan ginjal
untuk mempertahankan homeostasis cairan dan elektrolit. Perubahan melanjutkan
ditebak, tetapi tumpang tindih dan variasi individu ada. Kemampuan untuk
berkonsentrasi penurunan urin awal dan diikuti dengan penurunan kemampuan untuk
mengekskresikan fosfat, asam, dan K. Ketika gagal ginjal lanjut (GFR ≤ 10 mL/min/1.73 m 2), kemampuan untuk
mengencerkan urin hilang, dengan demikian osmolalitas urin biasanya tetap dekat
dengan plasma (300-320 mOsm/kg), dan volume urin tidak merespon cepat terhadap
variasi dalam asupan air.
Plasma konsentrasi kreatinin dan urea (yang sangat
tergantung pada filtrasi glomerular) mulai naik nonlinier sebagai GFR
berkurang. Perubahan-perubahan yang minimal sejak dini. Ketika GFR turun di
bawah 10 mL/min/1.73 m 2 (normal =
100 mL/min/1.73 m 2), tingkat mereka meningkat dengan cepat dan
biasanya berhubungan dengan manifestasi sistemik (uremia). Urea dan kreatinin
tidak kontributor utama dengan gejala uremik, mereka adalah penanda untuk zat
lain (sebagian belum didefinisikan dengan baik) yang menyebabkan gejala.
Meskipun keseimbangan GFR, Na dan air berkurang
tetap terjaga dengan ekskresi fraksional peningkatan Na dan respon normal
terhadap rasa haus. Dengan demikian, konsentrasi plasma Na biasanya normal, dan
hipervolemia jarang terjadi kecuali asupan Na atau air sangat dibatasi atau
berlebihan. Gagal jantung dapat terjadi dari Na dan kelebihan air, terutama
pada pasien dengan cadangan jantung menurun.
Kelainan Ca, fosfat, hormon
paratiroid (PTH), vitamin metabolisme D, dan osteodistrofi ginjal dapat
terjadi. Produksi ginjal penurunan calcitriol kontribusi untuk hipokalsemia.
Penurunan ekskresi ginjal hasil fosfat dalam hiperfosfatemia.
Hiperparatiroidisme sekunder adalah umum dan dapat mengembangkan pada gagal ginjal
sebelum kelainan pada Ca atau konsentrasi fosfat terjadi. Untuk alasan ini,
pemantauan PTH pada pasien dengan CKD moderat, bahkan sebelum hyperphosphatemia
terjadi, telah direkomendasikan.
Osteodistrofi ginjal (mineralisasi tulang abnormal
akibat hiperparatiroidisme, defisiensi calcitriol, fosfat serum, atau rendah
atau normal serum Ca) biasanya mengambil bentuk meningkatnya turnover tulang
karena penyakit hyperparathyroid tulang (osteitis fibrosa) tetapi juga dapat
melibatkan pergantian tulang menurun karena tulang adinamik penyakit (dengan
penekanan paratiroid meningkat) atau osteomalacia. Kekurangan calcitriol dapat
menyebabkan osteopenia atau osteomalacia.
Asidosis sedang (plasma HCO 3 isi 15
sampai 20 mmol / L) dan anemia merupakan karakteristik. Anemia CKD adalah
normokromik normositik-, dengan Ht 20 sampai 30% (35 hingga 50% pada pasien
dengan penyakit ginjal polikistik). Hal ini biasanya disebabkan oleh produksi
eritropoietin kekurangan karena penurunan massa ginjal fungsional.
Faktor-faktor selain proses penyakit yang mendasari dan hipertensi
glomerulus yang dapat menyebabkan cedera ginjal progresif meliputi:
·
Sistemik hipertensi
·
Penghinaan akut dari nephrotoxins atau penurunan perfusi
·
Proteinuria
·
Peningkatan ginjal ammoniagenesis dengan cedera interstisial
·
Hiperlipidemia
·
Hyperphosphatemia dengan deposisi kalsium fosfat
·
Penurunan kadar oksida nitrat
·
Merokok
·
Tidak terkontrol diabetes
Kemampuan untuk mempertahankan kalium (K) ekskresi pada tingkat mendekati
normal umumnya diselenggarakan dalam penyakit ginjal kronis selama keduanya
sekresi aldosteron dan aliran distal dipertahankan. Lain pertahanan terhadap
retensi kalium pada pasien dengan penyakit ginjal kronis meningkat ekskresi
kalium dalam saluran pencernaan, yang juga berada di bawah kendali aldosteron.
Oleh karena itu, hiperkalemia biasanya berkembang ketika GFR turun
menjadi kurang dari 20-25 ml / menit karena kemampuan menurun dari ginjal
mengekskresikan kalium. Hal ini dapat diamati lebih cepat pada pasien yang
menelan makanan yang kaya potasium atau jika kadar aldosteron serum rendah,
seperti di jenis asidosis tubulus ginjal IV yang biasa terlihat pada orang
dengan diabetes atau dengan penggunaan angiotensin-converting enzyme (ACE)
inhibitor atau non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAID).
Hiperkalemia pada penyakit ginjal kronis dapat diperburuk oleh pergeseran
ekstraseluler kalium, seperti yang terjadi dalam pengaturan asidemia atau dari
kekurangan insulin. Hipokalemia jarang tetapi dapat berkembang di antara pasien
dengan asupan yang sangat miskin kehilangan kalium, gastrointestinal atau urin
kalium, diare, atau penggunaan diuretik.
Asidosis metabolik sering merupakan campuran dari anion gap yang normal
dan anion gap meningkat, yang terakhir ini umumnya diamati dengan penyakit
ginjal kronis tahap 5 tetapi dengan anion gap umumnya tidak lebih tinggi dari
20 mEq / L. Pada penyakit ginjal kronis, ginjal tidak mampu untuk memproduksi
amoniak cukup dalam tubulus proksimal mengekskresikan asam endogen ke dalam
urin dalam bentuk amonium. Pada penyakit ginjal tahap kronis 5, akumulasi
fosfat, sulfat, dan anion organik lainnya adalah penyebab dari peningkatan
anion gap.
Asidosis metabolik telah terbukti memiliki efek merusak pada keseimbangan
protein, menyebabkan berikut:
·
Negatif nitrogen balance
·
Peningkatan degradasi protein
·
Peningkatan oksidasi asam amino esensial
·
Mengurangi sintesis albumin
·
Kurangnya adaptasi ke diet rendah protein
Oleh karena itu, asidosis metabolik berhubungan dengan kekurangan energi
protein, kehilangan massa tubuh tanpa lemak, dan kelemahan otot. Mekanisme
untuk mengurangi protein mungkin termasuk efek pada adenosin trifosfat
(ATP)-tergantung proteasomes ubiquitin dan peningkatan aktivitas dari dehydrogenases
asam rantai bercabang keto.
Asidosis metabolik menyebabkan peningkatan ammoniagenesis untuk membantu
hidrogen mengeluarkan lebih. Namun, ini menyebabkan peningkatan fibrosis dan
perkembangan yang cepat dari penyakit ginjal.
Asidosis metabolik merupakan faktor dalam pengembangan osteodistrofi
ginjal, sebagai tulang bertindak sebagai buffer untuk kelebihan asam, dengan
kehilangan resultan dari mineral. Asidosis dapat mengganggu metabolisme vitamin
D, dan pasien yang terus-menerus lebih asidosis lebih mungkin untuk memiliki
osteomalasia atau rendah turnover penyakit tulang.
Garam dan air oleh ginjal penanganan diubah pada penyakit ginjal kronis.
Volume ekstraseluler ekspansi dan total-tubuh hasil volume overload dari
kegagalan natrium dan ekskresi air bebas. Ini biasanya menjadi klinis nyata
ketika GFR turun menjadi kurang dari 10-15 ml / menit, ketika mekanisme
kompensasi telah menjadi kelelahan.
Sebagai fungsi ginjal menurun lebih lanjut, retensi natrium dan volume
memimpin ekspansi ekstraseluler edema perifer dan, tidak jarang, edema paru dan
hipertensi. Pada natrium, lebih tinggi GFR dan air berlebih asupan bisa
menghasilkan gambar yang sama jika jumlah yang tertelan natrium dan air
melebihi potensi yang tersedia untuk ekskresi kompensasi.
Anemia
Normokromik normositik anemia terutama berkembang dari sintesis ginjal
penurunan eritropoietin, hormon yang bertanggung jawab untuk stimulasi sumsum
tulang untuk produksi sel darah merah (RBC). Dimulai pada awal perjalanan
penyakit dan menjadi lebih parah sebagai GFR semakin menurun dengan
ketersediaan massa ginjal kurang layak.
Tidak ada respon retikulosit terjadi. RBC kelangsungan hidup menurun, dan
kecenderungan perdarahan meningkat dari disfungsi uremia akibat trombosit.
Penyebab lain dari anemia pada penyakit ginjal kronis adalah sebagai berikut:
·
Kehilangan darah yang kronis
·
Sekunder hiperparatiroidisme
·
Peradangan
·
Gizi kekurangan
·
Akumulasi inhibitor dari eritropoiesis
Diabetes Melitus
Patofisiologi yang mendasari pada diabetes tipe 2 ditandai oleh tiga
gangguan berikut (1) resistensi perifer terhadap insulin, terutama pada sel
otot: (2) peningkatan produksi glukosa oleh hati, dan (3) sekresi pankreas
diubah. Peningkatan jaringan resistensi terhadap insulin umumnya terjadi
pertama dan akhirnya diikuti oleh sekresi insulin terganggu. Pankreas
memproduksi insulin, namun resistensi insulin mencegah penggunaan yang tepat
pada tingkat sel. Glukosa tidak dapat memasuki sel target dan terakumulasi dalam
aliran darah, mengakibatkan hiperglikemia. Tingkat glukosa darah tinggi sering
merangsang peningkatan produksi insulin oleh pankreas: demikian. Tipe 2
diabetes individu seringkali memiliki produksi insulin yang berlebihan
(hiperinsulinemia).
Resistensi insulin mengacu pada sensitivitas jaringan terhadap insulin.
Reaksi intraseluler berkurang, membuat insulin kurang efektif merangsang
pengambilan glukosa oleh jaringan dan mengatur pelepasan glukosa oleh hati.
Jika kadar glukosa darah yang meningkat secara konsisten untuk jangka
waktu yang signifikan, mekanisme filtrasi ginjal ditekankan, memungkinkan
protein darah bocor ke dalam urin. Akibatnya, tekanan di dalam pembuluh darah
ginjal meningkat. Diperkirakan bahwa tekanan tinggi berfungsi sebagai stimulus
tingkat nefropati.
Perubahan terdeteksi paling awal dalam perjalanan nefropati diabetik
adalah penebalan di glomerulus. Pada tahap ini, ginjal dapat mulai memungkinkan
lebih albumin (protein) dari normal dalam urin, dan ini dapat dideteksi dengan
tes sensitif untuk albumin. Sebagai
nefropati diabetes berlangsung, peningkatan jumlah glomeruli yang hancur.
Sekarang jumlah albumin yang diekskresikan dalam urin meningkat, dan dapat
dideteksi dengan teknik urinalisis biasa. Pada tahap ini, biopsi ginjal jelas
menunjukkan nefropati diabetes dan akhirnya menyebabkan gagal ginjal kronis.

Gejala-gejala berikut dapat terjadi dengan gagal ginjal
akut. Beberapa orang tidak memiliki gejala, setidaknya pada tahap awal.
Gejala-gejala mungkin sangat halus.
·
Penurunan produksi urin
·
Tubuh bengkak
·
Masalah berkonsentrasi
·
Kebingungan
·
Kelelahan
·
Kelesuan
·
Mual, muntah
·
Diare
·
Nyeri perut
·
Logam rasa di mulut
Kejang dan koma dapat terjadi pada gagal ginjal akut
yang sangat parah
·
Pada awalnya, gagal ginjal mungkin tanpa gejala (tidak
menghasilkan gejala apapun). Seperti penurunan fungsi ginjal, gejala terkait
dengan ketidakmampuan untuk mengatur air dan elektrolit saldo, untuk
membersihkan produk sisa dari tubuh, dan untuk mempromosikan produksi sel darah
merah. Kelesuan, kelemahan , sesak napas , pembengkakan dan umum dapat terjadi. Belum diakui
atau tidak diobati, keadaan yang mengancam jiwa dapat berkembang.
·
Asidosis metabolik, atau peningkatan keasaman tubuh karena
ketidakmampuan untuk memproduksi bikarbonat, akan mengubah enzim dan
metabolisme oksigen, menyebabkan gagal organ.
·
Ketidakmampuan untuk mengekskresikan kalium dan kadar kalium
dalam serum meningkat ( hiperkalemia ) dikaitkan dengan gangguan
irama jantung fatal ( aritmia
) termasuk takikardia ventrikel dan fibrilasi ventrikel.
·
Tingkat urea meningkat dalam darah (uremia)
dapat mempengaruhi fungsi berbagai organ mulai dari otak ( ensefalopati
) dengan perubahan pemikiran, untuk radang selaput jantung ( perikarditis
), untuk fungsi otot menurun karena tingkat kalsium yang rendah (
hypocalcemia).
·
Kelemahan umum dapat terjadi karena anemia
, suatu jumlah sel darah menurun merah, karena tingkat lebih rendah dari
erythropoietin yang dihasilkan oleh ginjal gagal tidak cukup merangsang sumsum
tulang. Penurunan sel merah sama dengan penurunan oksigen-membawa kapasitas
darah, mengakibatkan pengiriman oksigen menurun menjadi sel bagi mereka untuk
melakukan pekerjaan, sehingga ban tubuh dengan cepat. Juga, dengan oksigen
sedikit, sel-sel lebih siap menggunakan metabolisme menyebabkan peningkatan
jumlah produksi asam yang tidak dapat ditangani oleh ginjal sudah gagal.
·
Sebagai produk limbah membangun di, darah kehilangan
nafsu makan , lesu, dan kelelahan menjadi jelas. Ini akan maju ke
titik di mana fungsi mental akan berkurang dan koma
dapat terjadi.
·
Karena ginjal tidak dapat mengatasi beban asam
yang meningkat dalam tubuh, pernapasan menjadi lebih cepat karena paru-paru
mencoba untuk buffer keasaman dengan meniup karbon dioksida. Tekanan darah
mungkin naik karena kelebihan cairan, dan cairan ini dapat disimpan di
paru-paru, menyebabkan gagal jantung
kongestif
Efek dan
gejala penyakit ginjal kronis meliputi;
·
Perlu Sering
Buang Air Kecil , terutama pada malam hari (nokturia);
·
Pembengkakan pada kaki dan bengkak di sekitar
mata (retensi cairan);
·
Tekanan darah tinggi;
·
Kelelahan
dan kelemahan (dari anemia
atau akumulasi produk limbah dalam tubuh);
·
Kehilangan nafsu makan, mual dan
muntah ;
·
Gatal kulit, memar, dan pucat mudah (anemia);
·
Sesak napas dari akumulasi cairan di paru-paru;
·
Sakit Kepala
, mati rasa pada kaki atau tangan (neuropati perifer), gangguan
tidur , perubahan status mental ( ensefalopati
dari akumulasi produk-produk limbah atau racun uremik), dan restless leg
syndrome ;
·
Nyeri Dada
karena perikarditis
(radang di sekitar jantung);
·
Perdarahan (karena pembekuan darah yang buruk);
·
Nyeri tulang dan patah tulang, dan
·
Penurunan minat seksual dan disfungsi
ereksi
Penyakit ginjal
kronis biasanya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Hanya tes
laboratorium dapat mendeteksi masalah berkembang. Siapapun pada peningkatan
risiko untuk penyakit ginjal kronis harus secara rutin diuji untuk perkembangan
penyakit ini.
·
Urin, darah, dan pencitraan tes ( X
- ray ) digunakan untuk mendeteksi penyakit ginjal, serta mengikuti
kemajuannya, seperti kelainan jantung kongestif, effusi pleura.
·
Semua tes ini memiliki keterbatasan. Mereka
sering digunakan bersama-sama untuk mengembangkan gambaran sifat dan tingkat
dari penyakit ginjal.
·
Secara umum, pengujian ini dapat dilakukan secara rawat jalan.
Tes Urine
Urinalisis: Analisis urin memberi wawasan yang sangat besar ke dalam fungsi dari
ginjal. Langkah pertama dalam urine adalah melakukan tes dipstick. Dipstick ini memiliki reagen
yang memeriksa urin untuk kehadiran konstituen normal dan abnormal berbagai
termasuk protein. Kemudian, urin diperiksa dibawah mikroskop untuk mencari
sel-sel darah merah dan putih, dan adanya gips dan kristal (padatan).
Hanya jumlah
minimal albumin (protein) yang hadir dalam urin normal. Hasil positif
pada tes dipstick untuk protein adalah abnormal. Lebih sensitif dari tes
dipstick untuk protein adalah estimasi laboratorium terhadap urine albumin (protein)
dan kreatinin dalam urin. Rasio albumin (protein) dan kreatinin
dalam urin memberikan perkiraan yang baik albumin (protein) ekskresi per hari.
Tes urine dua
puluh empat jam: Tes ini mengharuskan Anda untuk mengumpulkan semua urin Anda
selama 24 jam berturut-turut. Urin dapat dianalisa untuk produk protein dan
limbah (urea nitrogen, dan kreatinin). Keberadaan protein dalam urin
mengindikasikan kerusakan ginjal. Jumlah kreatinin dan urea diekskresikan dalam
urin dapat digunakan untuk menghitung tingkat fungsi ginjal dan laju filtrasi
glomerulus (GFR).
Laju filtrasi
glomerulus (GFR): GFR adalah cara standar untuk menyatakan fungsi ginjal secara
keseluruhan. Sebagai penyakit ginjal berlangsung, GFR turun. GFR normal adalah
sekitar 100-140 ml / menit pada pria dan 85-115 mL / menit pada wanita. Ini
mengurangi pada kebanyakan orang dengan usia. GFR dapat dihitung dari jumlah
produk sampah di urin 24-jam atau dengan menggunakan spidol khusus diberikan
secara intravena. Perkiraan GFR (eGFR) dapat dihitung dari tes rutin pasien
darah. Pasien dibagi menjadi lima tahap penyakit ginjal kronis didasarkan pada
mereka GFR (lihat Tabel 1 di atas).
Tes Darah
Kreatinin dan
urea (BUN) dalam darah: darah urea nitrogen dan serum kreatinin adalah tes darah
yang paling umum digunakan untuk layar untuk, dan memonitor penyakit ginjal.
Kreatinin adalah produk dari kerusakan otot normal. Urea adalah produk limbah
dari pemecahan protein. Tingkat zat ini meningkat dalam darah sebagai
memperburuk fungsi ginjal.
Rumus
Cockcroft-Gault untuk memperkirakan CrCl harus digunakan secara rutin sebagai
sarana sederhana untuk memberikan pendekatan yang dapat diandalkan fungsi
ginjal residu pada semua pasien dengan penyakit ginjal kronis. Rumus adalah
sebagai berikut:
·
CrCl (pria) = ([140-usia] × berat badan dalam
kg) / (serum kreatinin × 72)
·
CrCl (perempuan) = CrCl (pria) × 0,85
Perkiraan GFR (eGFR): Laboratorium atau dokter
Anda dapat menghitung GFR diperkirakan dengan menggunakan informasi dari kerja
darah Anda. Adalah penting untuk menyadari Anda GFR estimasi dan stadium
penyakit ginjal kronis. Dokter Anda menggunakan tahap penyakit ginjal Anda
untuk merekomendasikan pengujian tambahan dan saran pada manajemen.
Elektrolit tingkat dan keseimbangan asam-basa: disfungsi ginjal menyebabkan
ketidakseimbangan elektrolit , terutama kalium, fosfor, dan kalsium. Kalium tinggi
( hiperkalemia ) adalah perhatian khusus. Analisa gas darah untuk
melihat apakah adanya kelainan dari keseimbangan asam - basa dalam tubuh.
Penurunan
produksi bentuk aktif vitamin D dapat menyebabkan rendahnya tingkat kalsium
dalam darah. Ketidakmampuan untuk mengeluarkan fosfor oleh ginjal gagal
menyebabkan tingkat dalam darah meningkat. Testis atau ovarium tingkat hormon
juga mungkin abnormal.
Jumlah sel darah: Karena penyakit ginjal mengganggu produksi sel darah dan
mempersingkat kelangsungan hidup sel darah merah, jumlah sel darah merah dan hemoglobin dapat rendah (anemia). Beberapa pasien mungkin juga
mengalami defisiensi besi akibat kehilangan darah dalam sistem pencernaan
mereka. Kekurangan nutrisi lain juga dapat mengganggu produksi sel darah merah.
Pemeriksaan pencitraan
X - ray : Sebuah pyelogram
retrograde dapat diindikasikan jika indeks kecurigaan yang tinggi klinis untuk
obstruksi meskipun ada sebuah temuan negatif pada ginjal ultrasonografi.
Pyelography intravena tidak umum dilakukan karena potensi toksisitas ginjal
dari kontras intravena, namun prosedur ini sering digunakan untuk mendiagnosa
batu ginjal. Plain perut x-ray sangat berguna untuk mencari batu radio-opak
atau nefrokalsinosis. Sebuah voiding cystourethrogram (VCUG) merupakan standar
kriteria untuk diagnosis refluks vesicoureteral

USG: USG sering digunakan dalam diagnosis penyakit ginjal. USG adalah
jenis tes noninvasif pencitraan. Secara umum, ginjal menyusut dalam ukuran pada
penyakit ginjal kronis, meskipun mereka mungkin normal atau bahkan dalam ukuran besar dalam
kasus-kasus disebabkan oleh penyakit ginjal polikistik dewasa, nefropati
diabetik, dan amiloidosis. USG juga dapat digunakan untuk mendiagnosis adanya
obstruksi saluran kemih, batu ginjal dan juga untuk menilai aliran darah ke ginjal.

Biopsi:
Sebuah contoh dari jaringan ginjal (biopsi) kadang-kadang diperlukan dalam
kasus-kasus di mana penyebab dari penyakit ginjal tidak jelas. Biasanya, biopsi
dapat dikumpulkan dengan anestesi lokal dengan memperkenalkan jarum melalui
kulit ke dalam ginjal.
CT scan / MRI : Sebuah computed tomography (CT) scan berguna untuk lebih
menentukan massa ginjal dan kista biasanya dicatat pada USG. Juga, adalah tes
yang paling sensitif untuk mengidentifikasi batu ginjal. IV kontras
ditingkatkan CT scan harus dihindari pada pasien dengan gangguan ginjal untuk
menghindari gagal ginjal akut; risiko ini secara signifikan meningkatkan pada
pasien dengan moderat sampai berat penyakit ginjal kronis. Dehidrasi juga nyata
meningkatkan risiko ini. Magnetic Resonance Imaging (MRI) sangat berguna pada
pasien yang memerlukan CT scan tetapi tidak bisa menerima kontras intravena.
Hal ini dapat diandalkan dalam diagnosis trombosis vena ginjal, seperti CT scan
dan venography ginjal. Magnetic resonance angiography juga menjadi lebih
berguna untuk diagnosis stenosis arteri ginjal, meskipun arteriografi ginjal
tetap menjadi standar kriteria.
·
Pengendalian gangguan yang mendasari
·
Kemungkinan pembatasan protein diet, fosfat, dan
K
·
Suplemen vitamin D
·
Pengobatan anemia dan gagal jantung
·
Dosis semua obat disesuaikan sesuai kebutuhan
·
Dialisis untuk GFR sangat menurun, gejala
uremik, atau kadang-kadang hiperkalemia atau gagal jantung
·
Transplantasi ginjal
Tidak ada obat untuk penyakit ginjal kronis. Empat Tujuan terapi adalah
untuk:
1.
Memperlambat perkembangan penyakit;
2.
Mengobati penyebab dan faktor-faktor;
3.
Mengobati komplikasi penyakit, dan
4.
Menggantikan fungsi ginjal hilang.
Strategi untuk memperlambat progresi dan mengobati kondisi yang mendasari
penyakit ginjal kronis adalah sebagai berikut:
·
Pengendalian glukosa darah: Mempertahankan kontrol yang
baik dari diabetes sangat penting. Orang dengan diabetes yang tidak
mengontrol glukosa darah mereka memiliki risiko jauh lebih tinggi dari semua
komplikasi diabetes, termasuk penyakit ginjal kronis.
·
Kontrol tekanan darah tinggi: ini juga
memperlambat perkembangan penyakit ginjal kronis. Dianjurkan untuk menjaga
tekanan darah Anda di bawah ini mmHg 130/80 jika Anda memiliki penyakit ginjal.
Hal ini sering berguna untuk memonitor tekanan darah di rumah. Obat tekanan
darah yang dikenal sebagai inhibitor angiotensin converting enzyme (ACE) atau
penghambat reseptor
angiotensin (ARB) memiliki manfaat khusus dalam melindungi ginjal.
·
Diet: Diet kontrol sangat penting untuk perkembangan
memperlambat penyakit ginjal kronis dan harus dilakukan konsultasi dengan
praktisi kesehatan dan ahli gizi. Untuk beberapa pedoman umum, lihat Perawatan
Diri di Depan bagian dari artikel ini.
Larangan:
Pada penyakit ginjal kronis, beberapa obat dapat menjadi racun bagi
ginjal dan mungkin perlu dihindari atau diberikan dalam dosis yang disesuaikan.
Di antara over-the-counter, berikut perlu dihindari atau digunakan dengan
hati-hati:
·
Beberapa analgesik: Aspirin
, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID, seperti ibuprofen
·
Armada
atau enema phosphosoda karena kandungan yang tinggi dari fosfor
·
Obat pencahar dan antasida yang mengandung
magnesium dan aluminium seperti magnesium
hidroksida (Susu Magnesia) dan famotidin
(Mylanta)
·
Bisul obat H2-reseptor antagonis: simetidin
(Tagamet), ranitidine
(Zantac), (dosis menurun dengan penyakit ginjal)
·
Dekongestan seperti pseudoephedrine
(Sudafed) terutama jika Anda memiliki tekanan darah tinggi
·
Obat Herbal
Gizi:
·
Pembatasan garam: Batasi untuk 4-6 gram sehari
untuk menghindari retensi cairan dan membantu mengontrol tekanan darah tinggi.
·
Asupan cairan: asupan air yang berlebihan tidak
membantu mencegah penyakit ginjal. Pembatasan asupan air disamakan dengan
jumlah air yang keluar melalui urin (penampungan urin per 24 jam) dikurangkan
sedikit untuk asupan air.
·
Pembatasan Kalium: Hal ini diperlukan pada
penyakit ginjal maju karena ginjal tidak mampu mengeluarkan kalium. Tingginya
kadar kalium bisa menyebabkan irama jantung
abnormal . Contoh makanan tinggi kalium meliputi pisang, jeruk,
kacang-kacangan, dan kentang.
·
Pembatasan protein berat pada penyakit ginjal
masih kontroversial. Namun, pembatasan moderat (0,8 g / kg / hari) aman dan
mudah untuk sebagian besar pasien untuk mentolerir. Beberapa ahli
merekomendasikan 0,6 g / kg / hari untuk pasien dengan diabetes dan, untuk
pasien tanpa diabetes,> 0,8 g / kg / hari jika GFR adalah 25 sampai 55
mL/min/1.73 m 2 atau 0,6 g / kg / hari jika GFR adalah 13 sampai 24 mL/min/1.73
m 2. Gejala uremik Banyak nyata mengurangi ketika protein katabolisme dan
generasi urea berkurang. Karbohidrat dan lemak yang cukup diberikan untuk
memenuhi kebutuhan energi dan mencegah ketosis. Pasien untuk siapa <0,8 g /
kg / hari telah diresepkan harus diikuti oleh ahli gizi. Karena
pembatasan diet dapat mengurangi asupan vitamin yang diperlukan, pasien harus
mengambil multivitamin yang mengandung vitamin yang larut dalam air.
Administrasi vitamin A dan E tidak diperlukan. Vitamin D dalam bentuk
1,25-dihydroxyvitamin D
Komplikasi
penyakit ginjal kronis mungkin memerlukan perawatan medis.
·
Retensi cairan dapat diobati dengan salah satu
dari sejumlah obat diuretik, yang menghilangkan kelebihan air dari tubuh.
Namun, obat ini tidak cocok untuk semua pasien.
·
Anemia dapat diobati dengan agen eritropoiesis
merangsang seperti erythropoietin atau darbepoetin
(Aranesp, Aranesp Gratis Albumin, Aranesp SureClick). Eritropoiesis merangsang
agen adalah kelompok obat yang menggantikan kekurangan erythropoietin, yang
biasanya diproduksi oleh ginjal sehat. Seringkali, pasien yang dirawat dengan
obat tersebut membutuhkan suplemen besi dengan mulut atau kadang-kadang bahkan
intravena.
·
Penyakit tulang berkembang pada penyakit ginjal
karena ketidakmampuan untuk mengeluarkan fosfor dan kegagalan untuk membentuk
aktif vitamin D. Dalam keadaan seperti itu, dokter anda mungkin meresepkan obat
fosfor mengikat dalam usus, dan mungkin meresepkan bentuk aktif vitamin D.
·
Asidosis dapat berkembang dengan penyakit
ginjal. Asidosis dapat menyebabkan kerusakan protein, peradangan, dan penyakit
tulang. Jika asidosis signifikan, dokter mungkin menggunakan obat-obatan
seperti natrium bikarbonat (baking soda) untuk memperbaiki masalah.
Sebuah studi oleh Wald dkk menemukan bahwa pasien dengan massa ventrikel
kiri meningkat yang menjalani in-pusat hemodialisis malam hari (3 kali /
minggu, 7-8 jam / sesi di unit dialisis) regresi berpengalaman, meramalkan
hasil kardiovaskular yang lebih positif.
Dengan pengobatan erythropoietin, tujuannya adalah tingkat hemoglobin
11-12 g / dL, sebagai normalisasi hemoglobin pada pasien dengan penyakit ginjal
kronis tahap 4-5 telah dikaitkan dengan peningkatan risiko hasil kombinasi. Sebelum
memulai eritropoietin, toko besi harus diperiksa. Tujuannya adalah untuk
menjaga kejenuhan besi di 30-50% dan ferritin di 200-500.
Sebuah studi oleh Shurraw dkk menunjukkan bahwa pada orang dengan
non-hemodialisis tergantung CKD, hemoglobin Tingkat (1c) lebih tinggi dari 9%
dihubungkan dengan hasil klinis lebih buruk. Tingkat lebih rendah dari
hemoglobin A (1c) juga tampaknya terkait dengan tingginya tingkat kematian.
Kontrol yang sesuai dan tepat waktu dari A level hemoglobin (1c) pada penderita
diabetes mellitus dan CKD mungkin lebih penting dari yang sebelumnya
diperkirakan, tetapi Penemuan juga menunjukkan bahwa kontrol glikemik intensif
dapat menyebabkan kematian meningkat.
Bukti manfaat dan risiko mengoreksi asidosis metabolik sangat terbatas,
tanpa uji coba terkontrol secara acak pada pasien belum berada pada stadium
akhir penyakit ginjal (ESRD), tidak ada pada anak-anak, dan hanya 3 percobaan
kecil pada pasien dialisis. Percobaan ini menunjukkan bahwa mungkin ada
beberapa efek menguntungkan pada kedua metabolisme protein dan metabolisme
tulang, namun persidangan sangat kurang bertenaga untuk memberikan bukti yang
kuat. Para ahli merekomendasikan terapi alkali untuk menjaga konsentrasi
bikarbonat serum di atas 22 mEq / L.
De Brito-Ashurst dkk menemukan bahwa pasien dengan penyakit ginjal kronis
yang menerima suplemen bikarbonat menunjukkan penurunan lebih lambat dalam
fungsi ginjal. Dalam studi ini, 134 pasien dewasa dengan penyakit ginjal kronis
(yaitu, bersihan kreatinin [CrCl] 15-30 mL/min/1.73 m 2 dan bikarbonat serum
16-20 mmol / L) secara acak ditugaskan untuk menerima natrium bikarbonat
suplementasi oral atau perawatan standar selama 2 tahun. Penurunan lebih lambat
dalam CrCl diamati pada kelompok bikarbonat dibandingkan kelompok kontrol (1,88
vs 5,93 mL/min/1.73 m 2).
Pasien dalam kelompok bikarbonat juga kurang mungkin untuk mengalami
perkembangan penyakit yang pesat daripada adalah anggota dari kelompok kontrol
(9% vs 45%), dan lebih sedikit pasien yang menerima suplemen bikarbonat
dikembangkan ESRD (6,5% banding 33%). Selain manfaat yang tercantum di atas,
parameter gizi diperbaiki dengan suplementasi bikarbonat.
Indikasi untuk terapi pengganti ginjal meliputi:
·
Parah metabolik asidosis
·
Hiperkalemia
·
Perikarditis
·
Ensefalopati
·
Keras volume yang berlebihan
·
Gagal tumbuh dan kekurangan gizi
·
Neuropati perifer
·
Terselesaikan gejala gastrointestinal
·
Pada pasien tanpa gejala, tingkat filtrasi
glomerulus (GFR) dari 5-9 ml / menit
Ada dua jenis dialisis 1) hemodialisis dan 2) dialisis peritoneal.
Dialisis
Akses
Sebuah akses vaskular diperlukan untuk hemodialisis sehingga darah dapat
dipindahkan meskipun filter dialisis pada kecepatan cepat untuk memungkinkan
pembersihan limbah, racun, dan kelebihan cairan. Ada tiga jenis akses vaskular:
fistula arteriovenosa (aVF), graft arteriovenosa, dan kateter vena sentral.
1.
Fistula arteriovenosa (aVF): Akses yang lebih disukai
untuk hemodialisis adalah aVF, dimana arteri secara langsung bergabung ke
pembuluh darah. Vena ini memakan waktu dua sampai empat bulan untuk memperbesar
dan matang sebelum dapat digunakan untuk cuci darah. Setelah matang, dua jarum
ditempatkan ke dalam vena untuk dialisis. Satu jarum digunakan untuk menarik
darah dan dijalankan melalui mesin dialisis. Jarum kedua adalah untuk
mengembalikan darah dibersihkan. AVFs cenderung tidak terinfeksi atau
mengembangkan gumpalan dari jenis lainnya akses dialisis.
2.
Graft arteriovenosa: Sebuah graft arteriovenosa ditempatkan pada mereka
yang memiliki pembuluh darah kecil atau dalam fistula yang telah gagal dibuat. Teknik
ini terbuat dari bahan buatan dan jarum dialisis dimasukkan ke dalam jalur
secara langsung.
3.
Kateter vena sentral: Sebuah kateter mungkin baik sementara atau permanen.
Pipa ini yang baik ditempatkan di leher atau pangkal paha ke dalam pembuluh
darah besar. Meskipun kateter memberikan akses langsung untuk cuci darah,
mereka rentan terhadap infeksi dan juga dapat menyebabkan pembuluh darah
menggumpal atau sempit.
Peritoneal akses (untuk dialisis peritoneal): Sebuah kateter
ditanamkan ke dalam rongga perut (dibatasi oleh peritoneum) dengan prosedur
bedah minor. Kateter ini adalah tabung tipis yang terbuat dari bahan yang
fleksibel lembut, biasanya silikon atau poliuretan. Kateter biasanya memiliki
satu atau dua manset yang membantu menahannya di tempat. Ujung kateter mungkin
lurus atau melingkar dan memiliki beberapa lubang untuk memungkinkan jalan
keluar dan kembali cairan. Meskipun kateter dapat digunakan segera setelah
implantasi, biasanya disarankan untuk menunda dialisis peritoneal selama
minimal 2 minggu sehingga memungkinkan penyembuhan dan mengurangi risiko
kebocoran berkembang.
Hemodialisis melibatkan sirkulasi darah melalui filter atau dialyzer pada
mesin dialisis.
·
Dialyzer memiliki dua kompartemen cairan dan
dikonfigurasi dengan kumpulan berongga tabung kapiler serat.
·
Darah di kompartemen pertama dipompa sepanjang
satu sisi membran semipermeabel, sedangkan dialisat (cairan yang digunakan
untuk membersihkan darah) dipompa sepanjang sisi lain, dalam kompartemen yang
terpisah, dalam arah yang berlawanan.
·
Konsentrasi gradien zat antara darah dan
dialisat menyebabkan perubahan yang diinginkan dalam komposisi darah, seperti
pengurangan produk-produk limbah (urea nitrogen dan kreatinin), sebuah koreksi
kadar asam, dan equilibrium tingkat mineral berbagai.
·
Pengeluaran kelebihan cairan.
·
Darah kemudian kembali ke tubuh.



Transplantasi
ginjal menawarkan hasil terbaik dan kualitas terbaik dari kehidupan.
Transplantasi ginjal Sukses terjadi setiap hari di Amerika Serikat.
Transplantasi ginjal dapat berasal dari donor hidup terkait, donor hidup tidak
berhubungan, atau orang yang telah meninggal karena sebab lain (donor kadaver).
Pada penderita diabetes tipe I, transplantasi ginjal-pankreas dikombinasikan
sering merupakan pilihan yang lebih baik. Namun, tidak semua orang merupakan
kandidat untuk transplantasi ginjal. Orang perlu menjalani pengujian ekstensif
untuk memastikan kesesuaian mereka untuk transplantasi. Juga, ada kekurangan
organ untuk transplantasi, membutuhkan waktu tunggu dari bulan sampai tahun
sebelum mendapatkan transplantasi.
Seseorang yang membutuhkan transplantasi ginjal mengalami beberapa tes
untuk mengidentifikasi karakteristik sistem kekebalan tubuh nya. Penerima dapat
menerima hanya ginjal yang berasal dari donor yang cocok tertentu karakteristik
imunologi nya. Donor lebih mirip berada dalam karakteristik ini, semakin besar
kemungkinan kesuksesan jangka panjang dari transplantasi. Transplantasi dari
donor yang terkait hidup umumnya memiliki hasil terbaik.
Terapi antibodi Antilymphocyte induksi bervariasi dan termasuk antiserum
poliklonal, monoclonals mouse, dan apa yang disebut monoclonals manusiawi.
Antiserum poliklonal, seperti globulin antilymphocyte (ALG), antilymphocyte
serum (ALS), dan antithymocyte globulin (ATG), adalah kuda, kambing, atau
antiserum kelinci ditujukan terhadap sel-sel limfoid manusia. Efeknya adalah
untuk secara signifikan lebih rendah dan hampir menghapuskan sel limfoid
beredar yang sangat penting untuk respon penolakan. Imunologi co-stimulasi
blokade dengan Belatacept (Nulojix) telah menjanjikan sebagai agen
imunosupresif perawatan baru untuk meningkatkan fungsi ginjal. Itu mungkin
memainkan peran dalam menekan ketergantungan pada kalsineurin inhibitor
(tacrolimus dan siklosporin) untuk imunosupresi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa GFR diperkirakan lebih rendah, lebih
tinggi albuminuria, usia muda, dan seks laki-laki menunjuk sebuah pengembangan
yang lebih cepat dari gagal ginjal. Juga, serum albumin rendah, kalsium, dan
bikarbonat, dan fosfat serum yang lebih tinggi dapat memprediksi peningkatan
risiko gagal ginjal.
Di Amerika Serikat, hemodialisis dan peritoneal dialisis memiliki
populasi umum penerimaan rumah sakit 2 per pasien per tahun; pasien yang
memiliki transplantasi ginjal memiliki rata-rata 1 masuk rumah sakit per tahun.
Selain itu, pasien dengan ESRD yang menjalani transplantasi ginjal bertahan
hidup lebih lama daripada mereka pada dialisis kronis.
Angka kematian yang berhubungan dengan hemodialisis yang mencolok dan
menunjukkan bahwa harapan hidup pasien masuk ke hemodialisis nyata
dipersingkat. Pada tahun 2003, lebih dari 69.000 pasien dialisis terdaftar
dalam program ESRD meninggal.
BAB III
PEMBAHASAN
LAPORAN KASUS
A.
IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn. Diabak
Umur
: 54 Tahun
Jenis
kelamin : Laki-laki
Alamat
: Bonjeruk - Praya
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama
: Islam
Ruangan : IGD
No
RM :
Tanggal
Masuk : 26 Januari 2022
B.
ANAMNESA
Anamnesis dilakukan di IGD
tanggal 26
Januari pukul 23.05 WITA secara autoanamnesis dan alloanamnesis
a.
Keluhan
Utama : Sesak Nafas
b.
Riwayat
Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh sesak nafas dirasakan ± 2
jam yang lalu ketika akan dilaksanakan cuci darah. Sesak nafas dirasakan secara
tiba-tiba dan semakin memberat. Sesak
nafas dirasakan hilang timbul, durasi serangan selama sesak nafas 15 menit dan
memberat dengan aktivitas. Pasien sampai tidak kuat berjalan dan badan terasa
lemas. Sesak berkurang bila pasien istirahat dan saat posisi tidur setengah
duduk. Pasien menggunakan 2 tambahan bantal ketika tidur. Pasien mengeluh mual,
pusing berputar-putar, dan tengkuk kaku.
Pasien juga merasakan bengkak dikedua kaki
2 minggu yang lalu. Pasien kadang juga
mengeluh nyeri dada kiri hilang timbul seperti ditusuk menjalar sampai ulu hati
dengan durasi 15 menit setiap serangan. Pasien mengakui sering BAK, 4-5x/hari,
keluarnya sedikit, warna kuning bening.
c.
Riwayat
Penyakit Dahulu
-
Riwayat
sakit
serupa : Disangkal
-
Riwayat Hipertensi : Diakui sejak ± 2 tahun yang
lalu, jarang kontrol
-
Riwayat Diabetes Mellitus : Disangkal
-
Riwayat Penyakit jantung : Disangkal
-
Riwayat Gastritis : Disangkal
-
Riwayat
asma : Disangkal
-
Riwayat
penyakit ginjal : Diakui, sejak 9 bulan yg
lalu dan cuci darah rutin seminggu 2 kali
-
R. Asam Urat : Diakui
sejak 3 bulan yang lalu, jarang kontrol
-
Riwayat
Alergi obat : Disangkal
d.
Riwayat
Penyakit Keluarga
-
Riwayat Hipertensi :
Disangkal
-
Riwayat Diabetes Mellitus : Disangkal
-
Riwayat Asma : Disangkal
-
Riwayat Penyakit jantung : Disangkal
-
R. Asam Urat : Diakui,
pada ibu pasien
e.
Riwayat kebiasaan :
-
Kebiasaan merokok : Disangkal
-
Kebiasaan minum alkohol : Disangkal
-
Kebiasaan olahraga : Jarang
-
Kebiasaan konsumsi makanan manis : Jarang
-
Kebiasaan konsumsi makanan asin : Diakui
-
Kebiasaan konsumsi makanan berlemak : Kadang-kadang
-
Kebiasaan konsumsi gorengan :
Diakui
f.
Riwayat
Sosial Ekonomi
Pasien adalah
seorang penjual cilok. Biaya
kesehatan ditanggung oleh BPJS non PBI. Kesan ekonomi cukup.
ANAMNESIS SISTEM
·
Keluhan utama : Sesak nafas
·
Kepala : Sakit kepala (-), pusing (+), nggliyer (-), jejas (-), leher
kaku (-).
·
Mata : Penglihatan kabur (-), pandangan ganda (-), pandangan
berputar (-), berkunang-kunang (-).
·
Hidung : Pilek (-), mimisan (-), tersumbat (-)
·
Telinga : Pendengaran berkurang (-), berdenging (-), keluar
cairan (-), darah (-).
·
Mulut : Sariawan (-), luka pada sudut bibir(-), bibir
pecah-pecah (-), gusi berdarah (-), mulut kering (-)
·
Tenggorokan : Sakit menelan (-), suara serak (-), gatal (-).
·
Sistem respirasi : Sesak nafas (+), batuk berdahak (-), tidur
mendengkur (-)
·
Sistem kardiovaskuler : Sesak nafas saat beraktivitas (+), nyeri
dada (+), berdebar-debar (-), keringat dingin (-)
·
Sistem gastrointestinal : Mual (+), muntah (-), perut mules (-), diare
(-), nyeri ulu hati (+), nafsu makan menurun (-), BB turun (-), BAB warna coklat.
·
Sistem muskuloskeletal : Nyeri otot (-), nyeri sendi (-), kaku otot
(-)
·
Sistem genitourinaria : Sering kencing (+), nyeri saat kencing (-), keluar
darah (-), berpasir (-), kencing nanah (-), sulit memulai kencing (-), warna
kencing kuning jernih (+), anyang-anyangan (-), berwarna seperti teh (-).
·
Ekstremitas: Atas : Luka (-), kesemutan(-), bengkak(-), sakit
sendi (-), panas (-), berkeringat (-),warna merah pada telapak tangan (-)
·
Bawah : Luka (-), gemetar (-), ujung jari dingin (-), kesemutan di kaki (-), sakit sendi (-), bengkak (+) kedua
kaki
·
Sistem neuropsikiatri : Kejang (-), gelisah (-), kesemutan (-),
mengigau (-), emosi tidak stabil (-)
·
Sistem Integumentum : Kulit kuning (-), pucat (+), gatal (-),
bercakmerah kehitaman di bagian dada, punggung,
tangan dan kaki (-).
C.
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan
fisik dilakukan pada tanggal 26 Januari 2022:
a.
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang,
sesak
b.
Kesadaran : Compos mentis
c.
Vital sign : T : 151/90
mmHg
N : 82
x/menit isi dan tegangan
cukup
R : 26
x/menit
S : 37
°C
Tinggi
badan : 144 cm
Berat
badan : 45 kg
Status
Gizi : IMT = 21,7 kg/m2
(normoweight)
d.
Kepala : Mesocephal, distribusi rambut merata, tidak mudah rontok
e.
Mata : Conjunctiva Palpebra Pucat (+/+),
Sklera
kuning (-/-), pupil isokor
diameter 3mm/3mm, reflek cahaya (+/+)
f.
Telinga : Discharge (-),Darah (-/-), nyeri tekan
mastoid (-/-), gangguan fungsi pendengaran(-/-).
g.
Hidung : Secret (-), napas cuping hidung (-)
h.
Mulut : Lidah
kotor (-), pernapasan mulut (-), Bibir kering (-), sianosis(-),
i.
Kulit : Pucat (+), hipopigmentasi (-), hiperpigmentasi (+)
j.
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening
(-), deviasi trakea (-), peningkatan JVP
(-)
k.
Thorak
Jantung
Ø Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Ø Palpasi : Kuat angkat, ictus cordis teraba 2 cm lateral di ICS 5 linea midclavikula sinistra,
pulsus parasternal (-), pulsus epigastrium (-)
Ø Perkusi
Kanan jantung : ICS
4 linea parasternalis
dextra
Atas jantung : ICS
2 linea parasternal sinistra
Pinggang jantung: ICS 3 linea parasternalis sinistra
Kiri jantung : ICS
5, 2 cm lateral linea midclavicula sinistra
Ø Auskultasi : BJ
I-II regular, bising (-), gallop (-)
Kesan : Kardiomegali
Pulmo
|
PULMO |
DEXTRA |
SINISTRA |
|
Depan |
|
|
|
1)
Inspeksi |
|
|
|
Bentuk dada |
Datar
|
Datar |
|
Hemitoraks |
Simetris
statis dinamis |
Simetris statis dinamis |
|
Warna |
Sama
dengan kulit sekitar |
Sama dengan kulit sekitar |
|
2)
Palpasi |
||
|
Nyeri tekan |
(-) |
(-) |
|
Stem fremitus |
(+)
normal,Kanan < kiri |
(+)
normal, Kanan < kiri |
|
3. Perkusi |
Sonor
seluruh lapang paru |
sonor
seluruh lapang paru |
|
4. Auskultasi |
||
|
Suara dasar |
Vesikuler |
Vesikuler |
|
Suara tambahan |
||
|
Wheezing |
- |
- |
|
Ronki kasar |
- |
- |
|
Ronkhi basah
halus |
+ minimal |
+ minimal |
|
Stridor |
- |
- |
|
Belakang |
|
|
|
1.
Inspeksi |
|
|
|
Warna |
Sama dengan kulit sekitar |
Sama dengan kulit sekitar |
|
2.
Palpasi |
||
|
Nyeri tekan |
(-) |
(-) |
|
Stem Fremitus |
Tidak ada pengerasan dan
pelemahan |
Tidak ada pengerasan dan pelemahan |
|
3.
Perkusi |
||
|
Lapang paru |
sonor seluruh lapang paru |
sonor seluruh lapang paru |
|
4.
Auskultasi |
||
|
Suara dasar |
Vesikuler |
Vesikuler |
|
Suara tambahan |
||
|
Wheezing |
- |
- |
|
Ronki kasar |
- |
- |
|
Ronkhi basah halus |
+ minimal |
+ minimal |
|
Stridor |
- |
- |
Tampak anterior paru Tampak posterior paru
RBH
RBH
Kesan
: RBH (+) minimal pada basal paru
l.
Abdomen
Inspeksi : Bentuk datar, warna sama dengan sekitar
Auskultasi : Bising
usus 8 kali permenit
Perkusi : Timpani seluruh lapang perut, Pekak sisi (-), Pekak alih (-)
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), Hepar : tidak teraba, Lien : tidak teraba,
Ginjal :
Tidak teraba,
Tes undulasi (-)
m. Ekstremitas
|
|
Superior |
Inferior |
|
Akral dingin Edema Sianosis Pucat |
(-/-) (-/+) (-/-) (-/+) |
(-/-) (-/+) (-/-) (-/+) |
D.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.
Darah Rutin
27 Januari 2022
|
Pemeriksaan |
Hasil |
Satuan |
Nilai Normal |
|
Leukosit |
L 1,17 |
10^3/ul |
3,8
– 10,6 |
|
Eritrosit |
L
2,33 |
10^3/ul |
4,4
– 5,9 |
|
Hemoglobin |
L
6,40 |
g/dl |
13,2
– 17,3 |
|
Hematokrit |
L
19,10 % |
% |
40
– 52 |
|
MCV |
82,00 |
Fl |
80
– 100 |
|
MCH |
27,50 |
Pg |
26
– 34 |
|
MCHC |
33,50 |
g/dl |
32
– 36 |
|
Trombosit |
220 |
10^3/ul |
150
– 440 |
|
RDW |
H 16,00 |
% |
11,5
– 14,5 |
|
Eosinofil absolute |
0,31 |
10^3/ul |
0,045
– 0,44 |
|
Basofil absolute |
0,01 |
10^3/ul |
0
– 0,02 |
|
Neutrofil absolute |
2,61 |
10^3/ul |
1,8
– 8 |
|
Limfosit absolute |
0,95 |
10^3/ul |
0,9
– 5,2 |
|
Monosit absolute |
0,39 |
10^3/ul |
0,16
– 1 |
|
Eosinofil |
H 7,40 |
% |
2
– 4 |
|
Basofil |
0,20 |
% |
0
– 1 |
|
Neutrofil |
62,60 |
% |
50
– 70 |
|
Limfosit |
L
22,80 |
% |
25
– 40 |
|
Monosit |
7,00 |
% |
2
– 8 |
Kimia Klinik (Serum)
27 Januari 2022
|
Pemeriksaan |
Hasil |
Satuan
|
Harga normal |
|
GDS |
H 222 |
Mg/dL |
<
125 |
|
Kolesterol |
H 239 |
Mg/dL |
<200 |
|
Trigliserida |
H 200 |
Mg/dL |
<200 |
|
Ureum |
H 96,00 |
Mg/dL |
10,00
– 50,00 |
|
Kreatinin |
H 13,35 |
Mg/dL |
0,70
– 1,10 |
|
Kalium |
3,60 |
Mmol/L |
3,5 –
5,0 |
|
Natrium |
136 |
Mmol/L |
135 –
145 |
|
Chlorida
|
H 106 |
Mmol/L |
95 –
105 |
|
Albumin |
H 3,1 |
g/dL |
3,2 –
5,2 |
b.
Pemeriksaan Radiologi
Foto toraks
Kesan : kardiomegali
Pelebaran vasa-vasa pulmonalis
Efusi pleura kanan>kiri
c.
EKG (tanggal 27 Januari 2022)

1. Irama
: Sinus
2. Frekuensi : 1500/19 = 79 kali permenit
3. Regularitas : Regular,
interval konsisten
4. Axis
: Lead I (+), aVF (+) normoaxis
5. Zona
transisi : V3
6. Gel
P : Lebar 2 kotak kecil, tinggi 0,1 mV (1 kotak
kecil)
7. Interval
PR : 0,16 detik (4 kotak kecil)
8. Komplek
QRS : 0,04 detik (1 kotak kecil)
9. ST
segmen : Isoelektrik
10. Gel
T : Inversi pada V1, V2
11. Pembesaran ventrikel kiri : S di V1 + R di V5 = 23 + 20 =
43 (>35 kk)
E.
DAFTAR ABNORMALITAS
|
Anamnesis |
Pemeriksaan Fisik |
Pemeriksaan Penunjang |
|
1.
Sesak nafas 2.
Tidur dengan posisi ½ duduk 3.
Mudah lelah 4.
Bengkak dikedua kaki 5.
BAK sering, keluar hanya sedikit-sedikit 6.
Riwayat
hipertensi : 2 tahun tidak terkontrol. 7.
Kebiasaan olahraga : jarang 8.
Konsumsi makanan asin dan gorengan |
9.
TD : 151/90
mmHg 10. RR : 26x/menit 11. Konjungtiva palpebra pucat
(+/+) 12. Kulit tampak pucat 13. Perkusi jantung :
Kardiomegali 14. pulmo
auskultasi RBH + minimal. |
15. Foto thorax : Kardiomegali Efusi pleura kanan>kiri 16. Leukosit ↓ 17. Hemoglobin ↓ 18. Hematokrit ↓ 19. Eritrosit ↓ 20. Eosinofil ↑ 21. Limfosit ↓ 22. Ureum ↑ 23. Creatinin ↑ 24. Klorida ↑ 25. EKG gel T inversi V1, V2, pembesaran ventrikel
kiri 26. GFR : 4,87 ml/menit |
F.
ANALISIS MASALAH
1.
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,13,14,15,16,20,21,22,23,24,26 : CKD stage 5
2.
6,7,8,9 :
Hipertensi stage I
3.
25 :
IHD
4.
3,11,12,17,18,19 :
Anemia
G.
RENCANA PEMECAHAN MASALAH
1)
Chronic Kidney Disease stage
5
Assessment
1.
Etiologi
a. Penyakit
ginjal non diabetes
·
Penyakit vaskuler
Penyakit pembuluh darah
besar, hipertensi, mikroangiopati
·
Penyakit glomerular
Autoimun, infeksi sistemik, obat, neoplasia
·
Penyakit tubulointertisial
Pielonefritis kronik, batu, obstruksi, keracunan obat
·
Penyakit kistik
Ginjal polikistik
b. Penyakit ginjal dengan diabetes
Diabetes tipe 1 dan 2
c. Penyakit
pada transplantasi
·
Rejeksi kronik
·
Keracunan obat
·
Transplant glomerulopati
2. Factor resiko
·
Usia
·
Hipertensi
·
DM
3.
Komplikasi
·
Cardiovascular (hipertensi, CHF)
·
Hematologis (anemia)
·
Endokrin (hiperglikemi, hipoglikemi)
Initial plan
1.
Diagnosis
·
Blood gas analysis
·
USG renal
·
Biopsy renal
·
Cek gula darah sewaktu, gula darah puasa, HbA1c
2.
Terapi
·
Bed rest ½ duduk
·
Infus NaCl 8 tpm
·
O2 2-4L/menit
·
Inj furosemide 20 mg/ 12 jam
·
Pasang DC
·
Dilakukan cuci darah
3.
Monitoring
·
Keadaan umum
·
Vital sign
·
Balance cairan
·
Cek lab darah lengkap
·
CCT
4.
Edukasi
·
Penyakit pasien adalah penyakit ginjal
kronik stadium V, merupakan komplikasi dari hipertensi dan DM, dapat
menyebabkan banyak komplikasi
·
Kemungkinan harus dilakukan terapi
pengganti ginjal berupa cuci darah
·
Istirahat yang cukup
·
Pembatasan konsumsi air dan garam
2)
Hipertensi stage I
Assessment
1. Etiologi
·
Esensial Primer Hipertensi
·
Hipertensi sekunder
2. Factor resiko
·
Obesitas
·
Kurangnya aktivitas fisik
·
Diabetes mellitus
·
LFG<60ml/menit
·
Umur (laki laki >55 tahun, perempuan >65 tahun)
3. Komplikasi
Kerusakan organ target
·
Hipertrofi
ventrikel kiri
·
Angina atau infark miokardium
·
Gagal jantung
·
Stroke atau transient ischemic attack
·
Penyakit ginjal kronis
·
Penyakit arteri perifer
·
Retinopati
Initial plan
1.
Diagnosis
·
Pengukuran tekanan darah serial
·
Kimia darah ( kolesterol, TG, HDL, LDL)
·
Funduskopi
2.
Terapi
·
Non farmakologi :
-
Diet rendah garam (2-4 g)
-
Olahraga yang tidak membuat stress
-
Istirahat
·
Farmakologik :
-
Candisartan 8 mg p.o 2x1/hari
3.
Monitoring
-
KU, vital sign dan klinis penderita
-
Balance cairan,dan diuresis.
4.
Edukasi
-
Diet rendah garam
-
Minum obat secara rutin, edukasi efek samping obat
3)
Ischemic heart disease
Assessment
1.
Etiologi
·
Hipertensi
·
Plak aterosklerosis
·
Thrombosis
2.
Factor resiko
·
Jenis kelamin
·
Usia
·
Gaya hidup (makanan, obesitas, jarang olahraga, stress)
·
Kadar gula darah
3.
Komplikasi
·
Gagal Jantung
Initial plan
1.
Diagnosis
·
Kimia darah ( kolesterol, TG, HDL, LDL)
·
Enzim jantung
2.
Terapi
·
O2 kanul 3-4 lpm
·
Isosorbid dinitrate syring pump 5 mcg/kgbb/menit
·
Aspilet 80 mg p.o 1x1/hari
3. Monitoring
·
Keadaan umum & vital sign
·
EKG
4.
Edukasi
·
Menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya
·
Komplikasi bisa ke organ lain yaitu otak, mata, ginjal,
pembuluh darah.
·
pembatasan intake garam, pengendalian tekanan darah,
pengendalian Kencing manis, berhenti merokok
4)
Anemia
Assesment
1.
Etiologi
a. gangguan pembentukan
eritrosit
b. perdarahan
c. Hemolisis
2.
Faktor Resiko
a. Genetik
b. Pola makan yang kurang
c. Autoimun
d. Kehamilan
3.
Komplikasi
a. Gagal jantung kongestif
b. Penyakit ginjal
c. Gangguan sistem imun
d. Talasemia
4)
Initial plan
1.
Diagnosis
a. Pemeriksaan darah lengkap :
Hb, Eritrosit, MCV, MCH
b. Serum feritin
c. TIBC
2.
Terapi
a. Transfusi PRC 2 kolf
b. Asam Folat 1x1
3.
Monitoring
a.
Tanda vital dan keadaan umum
b.
Monitoring Hb, eritrosit
4.
Edukasi
a. Harus transfusi PRC
b. Bed rest
c. Makan makanan yang tinggi
vitamin seperti sayuran
5)
Dislipidemia
Assessment
1.
Etiologi
a.
Dislipidemia primer
b.
Dislipidemia sekunder akibat suatu penyakit lain seperti
hipotiroidisme, sindrom nefrotik, diabetes melitus.
2.
Faktor resiko
a.
Jenis kelamin (laki-laki > wanita)
b.
Usia
c.
Pola makan makanan yang berlemak
d.
Olahraga yang jarang
e.
Kebiasaan merokok
f.
Obesitas
3.
Komplikasi
a. Aterosklerosis
b. Penyakit jantung koroner
c. Pankreatitis akut
d. Penyakit serebrovaskuler
seperti stroke
Initial Plan
1.
Initial diagnosis : profil lipid, foto rontgen
thoraks, CT-scan
2.
Initial terapi
Nonfarmakologis
: diet rendah lemak, olahraga jogging 5-10 menit Farmakologis : Pravastatin 10
mg 1x1 pada malam hari
3.
Initial monitoring : Keadaan
umum, tanda vital, HDL, LDL
4.
Initial edukasi
a.
Diet rendah lemak
b.
Motivasi untuk menurunkan berat badan
c.
Olahraga yang teratur
H.
PROGRESS NOTE
|
Tanggal |
Jumat, 2 Oktober 2015 |
|
S O A P |
Lemas (+) sesak nafas (+), bengkak dikedua kaki dan perut Kesadaran : CM TD 183/106 mmHg HR : 59 x/menit RR : 26 x/menit T : 37 oC Kepala : mesocephal Mata : Conjungtiva pucat (+/+) Thorak : Cor BJ I-II regular, konfigurasi kesan
kardiomegali Pulmo SDV +/+, ronki
(+/+) Abdomen : BU (+)N CKD Oksigen 3 Liter/menit Infus NaCl 0,9% 10 tpm ·
Inj. Ceftriaxon 2x1 gr (IV) ·
ISDN 30 ug/kgBB ·
Inj. Furosemid 1x 10mg ·
Curcuma 3x 100mg p.o ·
Captopril 3 x 25 mg p.o. |
|
Tanggal |
Sabtu,
3 Oktober 2015
|
|
S O A P |
Lemas (+) sesak nafas (+) sudah berkurang, bengkak dikedua kaki
sudah berkurang, pusing Kesadaran : CM TD 140/90 mmHg HR : 90 x/menit RR : 23 x/menit T : 36,5 oC Kepala : mesocephal Mata : Conjungtiva pucat (-/-) Thorak : Cor BJ I-II regular, konfigurasi kesan
kardiomegali Pulmo SDV +/+, ronki
(+/+) Abdomen : BU (+)N Foto rongten : Gambaran kardiomegali, efusi pleura kanan>kiri CKD Oksigen 3 Liter/menit Infus NaCl 0,9% 10 tpm ·
Inj. Ceftriaxon 2x1 gr (IV) ·
ISDN 20 ug/kgBB ·
Inj. Furosemid 1x 10mg ·
Curcuma 3x 100mg p.o ·
Captopril 3 x 25 mg p.o. |
BAB
IV
PEMBAHASAN
KASUS
PENYAKIT
GINJAL KRONIK
A.
DEFINISI
Merupakan suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam,
mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir
dengan gagal ginjal
Gagal ginjal adalah keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi
ginjal yang ireversibel pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti
ginjal yang tetap berupa dialysis atau transplantasi ginjal
Criteria penyakit ginjal kronik
|
1. Kerusakan ginjal > 3
bulan, yaitu kelainan struktur atau fungsi ginjal, dengan atau tanpa
penurunan laju filtrasi glomerulus berdasarkan: Kelainan patologik Petanda kerusakan ginjal
seperti proteinuria atau kelainan pada pemeriksaan pencitraan |
|
2. Laju filtrasi
glomerulus < 60 ml/menit/1,73m² selama > 3 bulan dengan atau tanpa
kerusakan ginjal |
B. KLASIFIKASI
1. Klasifikasi berdasarkan
derajat
|
Derajat |
Penjelasan |
LFG (mL/menit/1,73m2) |
|
1 |
Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau ↑ |
≥ 90 |
|
2 |
Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ ringan |
60-89 |
|
3 |
Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ sedang |
30-59 |
|
4 |
Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ berat |
15-29 |
|
5 |
Gagal ginjal |
<15 atau dialisis |
2. Klasifikasi berdasarkan
etiologi
|
Penyakit |
Tipe mayor (contoh) |
|
Penyakit ginjal diabetes |
Diabetes
tipe 1 dan 2 |
|
Penyakit ginjal non
diabetes |
-
Penyakit glomerular (autoimun, infeksi
sistemik, obat, neoplasia) -
Penyakit vascular (penyakit pembuluh darah
besar, hipertensi, mikroangiopati) -
Penyakit tubulointerstitial (pielonefritis kronik, batu,
obstruksi, keracunan obat) -
Penyakit kistik Polikistik ginjal |
|
Penyakit pada
transplantasi |
-
Rejeksi kronik -
Keracunan obat (siklosporin/takrolimus) -
Penyakit rekuren (glomerular) -
Transplant glomerulopathy |
C. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi penyakit ginjal kronik pada awalnya
tergantung pada penyakit yang mendasarinya, tapi dalam perkembangan selanjutnya
proses yang terjadi kurang lebih sama. Pengurangan massa ginjal mengakibatkan
hipertrofi struktural dan fungsional nefron yang masih tersisa (surviving
nefron) sebagai upaya kompensasi, yang diperantarai oleh molekul vasoaktif
seperti sitokin dan growth factors.
Hal ini mengakibatkan hiperfiltrasi, yang diikuti oleh peningkatan tekanan
kapiler dan aliran darah glomerolus. Proses adaptasi ini berlangsung singkat,
akhirnya diikuti oleh proses maladaptasi berupa skelrosis nefron yang masih
tersisa. Proses ini akhirnya diikuti dengan penurunan fungsi nefron yang
progresif, walaupun penyakit dasarnya sudah tidak aktif lagi.1,2
Adanya peningkatan aktivitas aksis
renin-angiotensin-aldosteron intrarenal, ikut memberikan kontribusi terhadap
terjadinya hiperfiltrasi, sklerosis, dan progresifitas tersebut. Aktivasi
jangka panjang aksis renin-angiotensin-aldosteron, sebagian diperantarai oleh growth factor seperti transforming growth factor β (TGF-β). Beberapa
hal yang juga dianggap berperan terhadap terjadinya progresifitas penyakit
ginjal kronik adalah albuminuria, hipertensi, hiperglikemia, dislipidemia.
Terdapat variabilitas interindividual untuk terjadinya sklerosis dan fibrosis
glomerolus maupun interstitial.1
Perjalanan umum gagal
ginjal kronik dapat dibagi menjadi empat stadium. Stadium ringan dinamakan
penurunan cadangan ginjal. Selama stadium ini kreatinin serum dan kadar BUN
normal dan penderita asimptomatik. Gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat
diketahui dengan memberi beban kerja yang berat pada ginjal tersebut, seperti
test pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan test LFG yang teliti.1
Stadium sedang perkembangan tersebut
disebut insufisiensi ginjal, dimana lebih dari 75% jaringan yang berfungsi
telah rusak (LFG besarnya 25% dari normal). Pada tahap ini kadar BUN baru mulai
meningkat diatas batas normal. Peningkatan konsentrasi BUN ini berbeda-beda,
tergantung dari kadar protein dalam diet. Pada stadium ini, kadar
kreatinin serum juga mulai meningkat melebihi kadar normal. Azotemia biasanya
ringan, kecuali bila penderita misalnya mengalami stress akibat infeksi, gagal
jantung, atau dehidrasi. Pada stadium insufisiensi ginjal ini pula
gejala-gejala nokturia dan poliuria (diakibatkan oleh kegagalan pemekatan)
mulai timbul. Gejala-gejala ini timbul sebagai respons terhadap stress dan
perubahan makanan atau minuman yang tiba-tiba. Penderita biasanya tidak terlalu
memperhatikan gejala-gejala ini, sehingga gejala tersebut hanya akan terungkap
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang teliti.1
Stadium berat dan stadium terminal gagal
ginjal kronik disebut gagal ginjal stadium akhir atau uremia. Gagal ginjal
stadium akhir timbul apabila sekitar 90% dari massa nefron telah hancur, atau
hanya sekitar 200.000 nefron saja yang masih utuh. Nilai LFG hanya 10% dari
keadaan normal, dan bersihan kreatinin mungkin sebesar 5-10 ml per menit atau
kurang. Pada keadaan ini kreatinin serum dan kadar BUN akan meningkat dengan
sangat menyolok sebagai respons terhadap LFG yang mengalami sedikit penurunan.
Pada stadium akhir gagal ginjal, penderita mulai merasakan gejala-gejala yang
cukup parah, karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostasis cairan
dan elektrolit dalam tubuh. Kemih menjadi isoosmotis dengan plasma pada berat
jenis yang tetap sebesar 1,010. Penderita biasanya menjadi oligourik
(pengeluaran kemih kurang dari 500 ml/hari) karena kegagalan glomerulus
meskipun proses penyakit mula-mula menyerang tubulus ginjal. Kompleks perubahan
biokimia dan gejala-gejala yang dinamakan sindrom uremik mempengaruhi setiap
sistem dalam tubuh. Pada stadium akhir gagal ginjal, penderita pasti akan
meninggal kecuali kalau ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi
ginjal atau dialisis.1
Meskipun perjalanan klinis penyakit ginjal kronik dibagi menjadi empat stadium, tetapi dalam prakteknya tidak
ada batas-batas yang jelas antara stadium-stadium tersebut.

![]()
D. DIAGNOSIS
1.
Gambaran klinis
a.
Kelainan Hemopoeisis
Anemia normokrom normositer dan normositer (MCV 78-94
CU), sering ditemukan pada pasien gagal ginjal kronik. Anemia pada pasien gagal ginjal
kronik terutama disebabkan oleh defisiensi eritropoetin. Hal lain yang ikut
berperan dalam terjadinya anemia adalah defisiensi besi, kehilangan darah
(misal perdarahan saluran cerna, hematuri), masa hidup eritrosit yang pendek
akibat terjadinya hemolisis, defisiensi asam folat, penekanan sumsum tulang
oleh substansi uremik, proses inflamasi akut ataupun kronik.
Evaluasi terhadap anemia dimulai saat kadar hemoglobin <
10 g/dL atau hematokrit < 30 %, meliputi evaluasi terhadap status besi
(kadar besi serum / serum iron, kapasitas ikat besi total / Total Iron binding
Capacity(TIBC), feritin serum), mencari sumber perdarahan, morfologi eritrosit,
kemungkinan adanya hemolisis dan sebagainya.
Penatalaksanaan terutama ditujukan pada penyebab
utamanya, di samping penyebab lain bila ditemukan. Pemberian eritropoetin (EPO)
merupakan hal yang dianjurkan. Pemberian tranfusi pada penyakit ginjal kronik
harus dilakukan hati-hati, berdasarkan indikasi yang tepat dan pemantauan yang
cermat. Tranfusi darah yang dilakukan secara tidak cermat mengakibatkan
kelebihan cairan tubuh, hiperkalemia, dan perburukan fungsi ginjal. Sasaran
hemoglobin menurut berbagai studi klinik adalah 11-12 g/dL.1
b.
Kelainan saluran cerna
Mual dan muntah sering merupakan keluhan utama dari
sebagian pasien gagal ginjal kronik terutama pada stadium terminal. Patogenesis
mual dan muntah masih belum jelas, diduga mempunyai hubungan dengan dekompresi
oleh flora usus sehingga terbentuk amonia. Amonia inilah yang menyebabkan
iritasi atau rangsangan mukosa lambung dan usus halus. Keluhan-keluhan saluran
cerna ini akan segera mereda atau hilang setelah pembatasan diet protein dan
antibiotika.
c.
Kelainan mata
Visus hilang (azotemia amaurosis) hanya dijumpai pada
sebagian kecil pasien gagal ginjal kronik. Gangguan visus cepat hilang setelah
beberapa hari mendapat pengobatan gagal ginjal kronik yang adekuat, misalnya
hemodialisis. Kelainan saraf mata menimbulkan gejala nistagmus, miosis dan
pupil asimetris. Kelainan retina (retinopati) mungkin disebabkan hipertensi
maupun anemia yang sering dijumpai pada pasien gagal ginjal kronik. Penimbunan
atau deposit garam kalsium pada conjunctiva menyebabkan gejala red
eye syndrome akibat iritasi dan hipervaskularisasi. Keratopati mungkin juga
dijumpai pada beberapa pasien gagal ginjal kronik akibat penyulit
hiperparatiroidisme sekunder atau tersier.
d.
Kelainan kulit
Gatal sering mengganggu pasien, patogenesisnya masih
belum jelas dan diduga berhubungan dengan hiperparatiroidisme sekunder. Keluhan
gatal ini akan segera hilang setelah tindakan paratiroidektomi. Kulit biasanya
kering dan bersisik, tidak jarang dijumpai timbunan kristal urea pada kulit
muka dan dinamakan urea frost.
e.
Kelainan neuropsikiatri
Beberapa kelainan mental ringan seperti emosi labil,
dilusi, insomnia, dan depresi sering dijumpai pada pasien gagal ginjal kronik.
Kelainan mental berat seperti konfusi, dilusi, dan tidak jarang dengan gejala
psikosis juga sering dijumpai pada pasien GGK. Kelainan mental ringan atau
berat ini sering dijumpai pada pasien dengan atau tanpa hemodialisis, dan
tergantung dari dasar kepribadiannya (personalitas).
f.
Kelainan kardiovaskular
Patogenesis gagal jantung kongestif (GJK) pada gagal
ginjal kronik sangat kompleks. Beberapa faktor seperti anemia, hipertensi,
aterosklerosis, kalsifikasi sistem vaskular, sering dijumpai pada pasien gagal
ginjal kronik terutama pada stadium terminal dan dapat menyebabkan kegagalan
faal jantung.
g.
Gambaran laboratoris
·
Sesuai dengan penyakit yang mendasarinya
·
Penurunan fungsi ginjal berupa peningkatan ureum dan
kreatinin serum
·
Penurunan GFR yang dihitung dengan rumus kockroft-gault
·
Kelainan biokimiawi meliputi penurunan hemoglobin,
peningkatan asam urat, hiper atau hipokalemia, hionatremia, hipo atau
hiperkloremia, hiperfosfatemia, hipokalsemia, asidosis metabolic
·
Kelainan urinalisis berupa proteinuria, hematuria,
leukosituria, cast, isostenuria
h.
Gambaran radiologis
·
Foto polos abdomen dapat tampak batu radio opak
·
pielografi intravena: sekarang jarang digunakan karena
kontras seriing tidak bisa melewati filter glomerolus, di samping kekhawatiran
terjadinya pengaruh toksisk oleh kontras terhadap ginjal yang sudah mengalami
kerusakan
·
pielografi antergrad atau retrograde dilakukan sesuai
indikasi
·
ultrasonografi ginjal dapat memperlihatkan ukuran ginjal yang
mengecil, korteks yang menipis, adanya hidronefrosis atau batu ginjal, kista,
massa, klasifikasi
·
pemeriksaan pemindaan ginjal atau renografi dikerjakan
bila ada indikasi
i.
Biopsy ginjal
Dilakukan pada
pasien dengan ukuran ginjal masih normal , dimana diagnosis secara non invasive
tidak bias ditegakkan. Berguna untuk menentukan etiologi, terapi,
prognosis, dan evaluasi hasil terapi yang telah diberikan. Kontraindikasi yaitu
pada ginjal yang sudah mengecil, polikistik ginjal, hipertensi tak terkendali,
infeksi perinefrik, gangguan pembekuan darah, gagal nafas, dan obesitas.
E. PENATALAKSANAAN
1.
Terapi
konservatif
Tujuan dari terapi konservatif adalah mencegah memburuknya faal ginjal
secara progresif, meringankan keluhan-keluhan akibat akumulasi toksin azotemia,
memperbaiki metabolisme secara optimal dan memelihara keseimbangan cairan dan
elektrolit.
a.
Peranan diet
Terapi diet rendah protein (DRP) menguntungkan untuk mencegah atau
mengurangi toksin azotemia, tetapi untuk jangka lama dapat merugikan terutama
gangguan keseimbangan negatif nitrogen.
b.
Kebutuhan jumlah kalori
Kebutuhan jumlah kalori (sumber energi) untuk GGK harus adekuat dengan
tujuan utama, yaitu mempertahankan keseimbangan positif nitrogen, memelihara
status nutrisi dan memelihara status gizi.
c.
Kebutuhan cairan
Bila ureum serum > 150 mg% kebutuhan cairan harus adekuat supaya jumlah
diuresis mencapai 2 L per hari.
d.
Kebutuhan elektrolit dan mineral
Kebutuhan jumlah mineral dan elektrolit bersifat individual tergantung dari
LFG dan penyebab dasar penyakit ginjal tersebut (underlying renal disease).
2.
Terapi Simptomatik
a.
Asidosis metabolik
Asidosis metabolik harus dikoreksi karena meningkatkan
serum kalium (hiperkalemia). Untuk mencegah dan mengobati asidosis metabolik
dapat diberikan suplemen alkali. Terapi alkali (sodium bicarbonat) harus
segera diberikan intravena bila pH ≤ 7,35 atau serum bikarbonat ≤ 20 mEq/L.
b.
Anemia
Dapat diberikan eritropoetin pada pasien gagal ginjal
kronik. Dosis inisial 50 u/kg IV 3 kali dalam seminggu.
Jika Hb meningkat >2 gr/dL kurangi dosis pemberian menjadi 2 kali seminggu.
Maksimum pemberian 200 u/kg dan tidak lebih dari tiga kali dalam seminggu.6
Transfusi darah misalnya Paked Red Cell (PRC)
merupakan salah satu pilihan terapi alternatif, murah, dan efektif. Terapi
pemberian transfusi darah harus hati-hati karena dapat menyebabkan kematian
mendadak.
Sasaran hemoglobin adal 11-12 gr/dL.
c.
Keluhan gastrointestinal
Anoreksi, cegukan, mual dan muntah, merupakan keluhan
yang sering dijumpai pada
GGK. Keluhan
gastrointestinal ini merupakan keluhan utama (chief complaint) dari GGK.
Keluhan gastrointestinal yang lain adalah ulserasi mukosa mulai dari mulut
sampai anus. Tindakan yang harus dilakukan yaitu program terapi dialisis
adekuat dan obat-obatan simtomatik.
d.
Kelainan kulit
Tindakan yang
diberikan harus tergantung dengan jenis keluhan kulit.
e.
Kelainan neuromuskular
Beberapa terapi
pilihan yang dapat dilakukan yaitu terapi hemodialisis reguler yang adekuat,
medikamentosa atau operasi subtotal paratiroidektomi.
f.
Hipertensi
Pemberian
obat-obatan anti hipertensi terutama penghambat Enzym Konverting Angiotensin (Angiotensin Converting Enzyme/ ACE inhibitor).
Melalui berbagai studi terbukti dapat memperlambat proses pemburukan
antihipertensi dan antiproteinuria.
g.
Kelainan sistem kardiovaskular
Pencegahan dan
terapi terhadap penyakit kardiovaskular merupakan hal yang penting, karena
40-50% kematian pada penyakit ginjal kronik disebabkan oleh penyakit
kardiovaskular. Tindakan yang diberikan tergantung dari kelainan kardiovaskular
yang diderita, termasuk pengendalian diabetes, hipertensi, dislipidemia,
hiperfosfatemia, dan terapi terhadap kelebihan cairan dan gangguan
keseimbanagan elektrolit.
3.
Terapi pengganti ginjal
Terapi pengganti ginjal dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5,
yaitu pada LFG kurang dari 15 ml/menit. Terapi tersebut dapat berupa hemodialisis,
dialisis peritoneal, dan transplantasi ginjal.
a.
Hemodialisis
Tindakan terapi dialisis tidak boleh terlambat untuk
mencegah gejala toksik azotemia, dan malnutrisi. Tetapi terapi dialisis tidak
boleh terlalu cepat pada pasien GGK yang belum tahap akhir akan memperburuk
faal ginjal (LFG). Indikasi tindakan terapi dialisis, yaitu indikasi absolut
dan indikasi elektif. Beberapa yang termasuk dalam indikasi absolut, yaitu
perikarditis, ensefalopati/neuropati azotemik, bendungan paru dan kelebihan
cairan yang tidak responsif dengan diuretik, hipertensi refrakter, muntah
persisten, dan Blood Uremic Nitrogen (BUN) > 120 mg% dan kreatinin
> 10 mg%.
Indikasi elektif, yaitu LFG antara 5 dan 8
mL/menit/1,73m², mual, anoreksia, muntah, dan astenia berat.
b.
Dialisis peritoneal (DP)
Akhir-akhir ini sudah populer Continuous Ambulatory
Peritoneal Dialysis (CAPD) di pusat ginjal di luar negeri dan di Indonesia.
Indikasi medik CAPD, yaitu pasien anak-anak dan orang tua (umur lebih dari 65
tahun), pasien-pasien yang telah menderita penyakit sistem kardiovaskular,
pasien- pasien yang cenderung akan mengalami perdarahan bila dilakukan
hemodialisis, kesulitan pembuatan AV shunting, pasien dengan stroke, pasien GGT
(gagal ginjal terminal) dengan residual urin masih cukup, dan pasien nefropati
diabetik disertai co-morbidity dan co-mortality. Indikasi
non-medik, yaitu keinginan pasien sendiri, tingkat intelektual tinggi untuk
melakukan sendiri (mandiri), dan di daerah yang jauh dari pusat ginjal.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Penyakit Ginjal Kualitas
Hasil Initiative (K / DOQI) dari National Kidney Foundation (NKF)
mendefinisikan penyakit ginjal kronis baik sebagai kerusakan ginjal atau
tingkat filtrasi glomerulus menurun (GFR) kurang dari 60 mL/min/1.73 m 2
untuk 3 atau bulan lagi. Apapun etiologi yang mendasarinya, penghancuran massa
ginjal dengan sclerosis ireversibel dan hilangnya nefron menyebabkan penurunan
progresif GFR. Pada tahun 2002, K / DOQI diterbitkan klasifikasinya dari tahap
penyakit ginjal kronis, sebagai berikut:
·
Tahap 1: Kerusakan ginjal dengan GFR normal atau meningkat
(> 90 mL/min/1.73 m 2)
·
Tahap 2: penurunan ringan pada GFR (60-89 mL/min/1.73 m 2)
·
Tahap 3: penurunan moderat GFR (30-59 mL/min/1.73 m 2)
·
Tahap 4: Penurunan berat pada GFR (15-29 mL/min/1.73 m 2)
·
Tahap 5: Kegagalan ginjal (GFR <15 mL/min/1.73 m 2
atau dialisis)
Gejala dan klinis dari gagal
ginjal kronis meliputi banyak penyerta, terkait dengan keluhan yang timbul dari
metabolisme yang tidak terkontrol pada ginjal. Dan gejala yang menyertai
dikarenakan metabolisme dalam ginjal yang tidak baik sehingga menyebabkan
kelainan pada organ lainnya.
Pengobatan gagal ginjal
meliputi penghambatan dari proses perkembangan penyakit, pengobatan gejala simptomatik,
pengobatan dasar penyebab, dan komplikasi. Dari kemajuan teknologi yang sudah
dikembangkan beberapa tahun ini, hemodialisa bukan berarti menyembuhkan
penyakit gagal ginjal melainkan bertujuan untuk menggantikan fungsi ginjal yang
sudah rusak dan banyak hasil yang kurang memuaskan pada pengobatan jangka
panjang, tetapi pada transplantasi ginjal banyak yang menunjukan hasil yang
memuaskan pada waktu yang panjang.
DAFTAR PUSTAKA
Arora,
Pradeep, MD. Mar 28, 2012. Chronic Kidney Disease. http://emedicine.medscape.com/article/238798-overview
Davey, Patrick. At a Glance
Medicine. 2005. Penerbit : Erlangga. Hal : 258, Gagal ginjal Kronis dan
pasien dialisis. Kathuria, Yogendra, MD, FACP, FASN. 2012. Chronic Kidney
Disease. http://www.emedicinehealth.com/chronic_kidney_disease/article_em.htm
Kaufman,
Dixon B, MD, PhD. Jan 25, 2012. Renal Transplantation (Medical).
http://emedicine.medscape.com/article/429314-overview
James I. McMillan, MD.
December 2007. Chronic Kidney Disease (Chronic Renal Failure).
http://www.merckmanuals.com/professional/genitourinary_disorders/renal_failure/chronic_kidney_disease.html
Tanagho EA,
McAninch JW. Smith’s General Urology. Edisi ke-16. New York : Lange
Medical Book. 2004.
Physiology of Kidney.
2012. http://www.ivy-rose.co.uk/HumanBody/Urinary/Urinary_System_Kidneys_Actions.php
Sudoyo, Aru
W. Setyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid 1. Edisi 3. Jakarta: Balai Pustaka FKUI.
PATHOPHYSIOLOGY: Chronic kidney failure secondary
to Diabetes Mellitus type II. http://nursingdepartment.blogspot.com/2009/03/pathophysiology-of-diabetes-milletus.html
Lilly,
Leonard S. 2003. Pathofisiology of Heart Disease. USA: Lippincott Williams
Wilkins.
Price, Sylvia
Anderson. 2005. Patofisologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta :
EGC.
Download disini

0 comments:
Post a Comment