dapatkan file MS WORD dengan klik DISINI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Pemerintah melalui Departemen Pendidikan
Nasional telah berusaha untuk
meningkatka pendidikan Kimia,
namun hasilnya belum seperti yang diharapkan.
Hasil-hasil belajar yang diperlihatkan siswa dalam berbagai kesempatan menunjukkan hal itu. Rata-rata nasional
NEM untuk Kimia sejak beberapa tahun yang lalu
rendah. Dan sampai saat ini siswa menganggap
mata pelajaran Kimia tergolong mata pelajaran yang sulit.
Penyebab prestasi Kimia rendah menurut
Marpaung (2004) yang pertama dan terutama
adalah pada pembelajaran Kimia itu sendiri.
Pembelajaran Kimia di sekolah pada
umumnya masih bersifat menjejalkan pengetahuan ke pikiran anak. Guru-guru cenderung memindahkan pengetahuan yang dia miliki ke
pikiran anak dengan bermacam-macam
cara : (1) memberi tahu, (2) mengajari, (3) melatih seperti men-drill untuk menyelesaikan soal, (4) menanyakan
fakta-fakta, (5) mementingkan hasil daripada
proses, (6) memuji anak kalau dia bisa menjawab dengan betul dan memarahi dengan berbagai cara kalau dia menjawab
salah, (7) mengajarkan materi secara urut halaman
per halaman tanpa membahas keterkaitan antara konsep-konsep atau masalah.
Disamping faktor-faktor diatas, penyebab
rendahnya prestasi belajar Kimia juga
dipengaruhi faktor intern dan faktor ekstern siswa. Faktor internal meliputi :
bakat, minat, kecerdasan motivasi. kemampuan awal, dan sebagainya.
Sedangkan factor eksternal
meliputi : faktor keluarga, sekolah, cara guru mengajar (metode pembelajaran), lingkungan masyarakat, dan
sebagainya.
Pembelajaran yang berlangsung di sekolah
merupakan proses interaksi antara guru siswa, kurikulum, sarana pembelajaran
termasuk media pembelajaran, dan komponen
lain yan berpengaruh pada
pada proses pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran yan diharapkan.
Dalam mencapai tujuan pembelajaran yang salah
satu komponen pembelajaran yang penting adalah metodologi pembelajaran.
Nana Sudjana & Ahmad Rivai (2002 : 1)
menyatakan bahwa metodologi pembelajaran adalah suatu teknik yang digunakan
guru dalam interaksinya dengan siswa agar baha pembelajaran sampai kepada
siswa, sehingga siswa menguasai tujuan pembelajaran. Salah satu unsur penting
dalam metode pembelajaran adalah penggunaan media pembelajaran yang tepat dalam
pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran yang tepat
dapat lebih menarik perhatian siswa, dan dapat menumbuhkan motivasi belajar,
sehingga bahan belajar yang diterima akan lebih jelas dan bermakna, yang
akhirnya diharapkan dapat mempertingg prestasi prestasi belajar yang dicapai.
Azhar Arsyad (2006:10) mengemukakan bahwa
sesuai dengan kerucut Pengalaman Edgar Daie, hasil belajar seseorang diperoleh
mulai dari pengalaman langsung (kongkret) berup berbagai kenyataan yang ada di
lingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, dramatisasi,
demontrasi, karyawisata, pameran, televisi, gambar hidup, gambar diam dan
rekaman video, lambang visual, sampai kepada lambang verbal atau abstrak berupa
kata-kata. Jadi medi pembelajaran sangat penting dalam kegiatan belajar guna
memperoleh hasil belajar yang lebih meningkat. Mengingat pentingnya media dalam
pembelajaran, maka pengelolaanya harus baik agar dapat memberi kontribusi
positif terhadap tujuan pembelajaran.
Kimia di sekolah berfungsi mengembangkan
kemampuan menghitung mengukur menurunkan dan menggunakan rumus kimia yang
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya melalui materi koloid yang
sangat berfungsi untuk kehidupan manusia. Kimia juga berfungsi mengembangkan
kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa melalu model kimia yang dapat
berupa kalimat dan persamaan kimia, diagram, grafik atau tabel (Depdiknas, 2005
: 26).
Kemampuan awal menurut Winkel (1996 : 134)
merupakan kemampuan yang diperlukan oleh seorang siswa untuk mencapai tujuan
instruksional. Kemampuan awal yang dimiliki siswa berbeda satu dengan yang
lainnya. Kemampuan awal siswa dapat berpengaruh terhadap suatu proses belajar
mengajar di dalam kelas, misalnya taraf intelegensi, daya kreativitas, kadar
motivasi belajar, tahap perkembangan, kemampuan berbahasa, sikap terhadap
tugas, kebiasaan dalam cara belajar, kecepatan belajar dan kondisi fisik.
Peran guru masih sangat dominan. Guru
menyusun program pembelajaran, siswa tinggal menerima rancangan pembelajaran
dan informasi yang diberikan oleh guru. Guru menyampaikan materi pelajaran
menggunakan media konvensional yaitu buku cetak, LKS, dan papan tulis Dalam
pembelajaran belum didukung dengan media pembelajaran yang mudah dilihat dan
menarik perhatian siswa. Hal demikian menjadikan siswa bosan kurang motivasi,
kelas menjadi pasif, dan minat belajar siswa pada mata pelajaran kimia menurun,
yang pada akhirnya prestasi belajar kimia menjadi rendah. Disamping itu juga
sumber daya manusia di Purwantoro juga rendah sehingga kemampuan awal siswa
juga relatif rendah sehingga juga akan mempengaruhi
prestasi belajar kimia.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah,
identifikasi masalah dan pembatasamasalah, maka dirumuskan masalah penelitian
sebagai berikut:
1.
Adakah perbedaan pengaruh antara
penggunaan pembelajaran Online dan media LKS terhadap prestasi belajar
kimia siswa?
2.
Adakah perbedaan pengaruh antara kemampuan
awal tinggi dan kemampuan awal rendah
terhadap prestasi belajar kimia siswa?
1.3
Tujuan
Penelitian
Ada dua tujuan dari penelitian ini yaitu
khusus dan umum. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1.
Perbedaan pengaruh antara penggunaan
pembelajaran Online dan media LKS terhadap prestasi belajar kimia siswa.
2.
Perbedaan pengaruh antara kemampuan awal
tinggi dan kemampuan awal rendah terhadap prestasi belajar kimia siswa.
Sedangkan tujuan penelitian ini secara
umum adalah untuk meningkatkanprestasi belajar kimia siswa melalui pembelajaran
Online dengan menyertakan tingkat kemampuan
awal siswa.
1.4
Manfaat
Penelitian
Manfaat
dari penelitian ini ada dua, yaitu manfaat teoritis dan praktis.
1.
Manfaat Teoritis
Secara
teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan dalam penggunaan pembelajaran Online
pada pembelajaran kimia di SMA.
Harapan lainnya adalah agar para pengajar kimia di SMA dapat mengkaji kekurangan dan kelebihan dari pembelajaran
Online dibandingkan dengan pembelajaran
menggunakan media LKS.
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi guru
1)
Dengan dilaksanakannya penelitian ini,
guru dapat mengetahui pembelajaran yang bervariasi, efektif, dan efisien,
sehingga dapat memperbaiki sistem pembelajaran di kelas.
2)
Guru akan terbiasa melakukan penelitian
kecil yang tentunva akan sangat bermanfaat bagi perbaikan pembelajaran, maupun
bagi pengembangan karier guru itu sendiri.
b.
Bagi siswa
1)
Memberi suasana belajar yang,
menyenangkan.
2)
Siswa ikut berpartisipasi aktif dalam
proses pembelajaran.
3)
Siswa diberi kesempatan untuk
mengembangkan penalaran sehingga akan meningkatkan
pemahaman
mereka.
4)
Siswa berani mengemukakan pendapat
sehingga meningkatkan rasa percaya diri mereka.
5)
Prestasi belajar kimia, siswa dapat lebih
meningkat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Kajian
Teori
2.1.1
Pengertian
Kimia
Kimia merupakan ilmu yang termasuk rumpun
IPA, oleh karenanya kimia mempunyai
karakteristik sama dengan IPA. Karakteristik tersebut adalah objek ilmu kimia, cara memperoleh, serta
kegunaannya. Kimia merupakan ilmu yang pada
awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun pada perkembangan selanjutnya kimia
juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan
teori (deduktif). Kimia adalah ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana
gejala-gejala alam yang berkaitan dengan
komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energetika zat. Oleh sebab itu, mata pelajaran kimia di
SMA/MA mempelajari segala sesuatu tentang
zat yang meliputi komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energetika zat yang melibatkan
keterampilan dan penalaran. Ada dua hal yang berkaitan
dengan kimia yang tidak terpisahkan, yaitu kimia sebagai produk (pengetahuan kimia yang berupa fakta,
konsep, prinsip, hukum, dan teori) temuan ilmuwan
dan kimia sebagai proses (kerja ilmiah). Oleh sebab itu, pembelajaran kimia dan penilaian hasil belajar kimia
harus memperhatikan karakteristik ilmu kimia
sebagai proses dan produk.
Berdasarkan etimologi, perkataan kimia
berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh
dengan bernalar dan penerapan (Depdiknas, 2005 : 8). Menurut Jujus S. Suriasumantri (1996 : 208), kimia
merupakan bahasa artifisial yang dikembangkan
untuk menjawab kekurangan bahasa verbal yang bersifat alamiah. Untuk itu, maka diperlukan usaha tertentu
untuk menguasai kimia dalam bentuk kegiatan
belajar. Jurang antara mereka yang belajar dan mereka yang tidak (enggan) belajar ternyata makin lama makin
melebar. Kimia makin lama makin bersifat
abstrak dan esoterik yang makin jauh dari tangkapan orang, awam, magis dan misterius.
2.1.2
Pengertian
Prestasi Belajar
Belajar merupakan kegiatan bagi setiap
orang. pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan,
kegemaran, dan sikap seseorang terbentuk, dimodifikasi dan berkembang disebabkan belajar. Dengan
demikian seseorang dikatakan belajar bila dapat
diasumsikan dalam diri orang itu menjadi satu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah
laku.
Budiyono (2007 : 7) mengemukakan bahwa
belajar merupakan proses mengasimilasi
dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang
(dalam hal ini adalah siswa) sehingga pengertiannya
itu dapat dikembangkan.
Prestasi merupakan penampakan keberhasilan
seseorang dalam mencapai tujuan
dengan unggul dan excellent. prestasi belajar merupakan interaksi antara kemampuan
/dan pengetahuan, motivasi, dan tugas. Atau dapat dikatakan bahwa untuk
mencapai prestasi dibutuhkan kemampuan dan dorongan untuk melaksanakan tugas.
Prestasi
belajar kimia dalam penelitian ini adalah penguasaan kemampuan intelektual
siswa yang meliputi belajar : (1) perbedaan konsep, (2) ketrampilan
memperkirakan, (3) ketrampilan menggunakan rumus, kaidah, prinsip dan konsep
pada standar kompetensi kimia setelah siswa mengikuti pembelajaran kimia.
2.1.3
Kemampuan
Awal Siswa
Di dalam suatu kegiatan pembelajaran,
kadang-kadang seorang guru merasakan bahwa di suatu kelas tertentu mudah
mengarahkan siswa untuk dikuasai oleh sekelompok siswa sebelum memulai
suatupembelajaran yang baru. Dinyatakan pula bahwa dalam penelitiannya
menunjukkan sebagian besar prediksinya yang berhasil dalam situasi pembelajaran
adalah faktoro sejauh mana kemampuan awal siswa perlu diperhatikan.
Hamzah B. Uno (2006 : 159) menyatakan
bahwa kemampuan awal amat penting dalam peranannya dalam meningkatkan
kebermaknaan pembelajaran, yang selanjutnya membaw dampak dalam memudahkan
proses internal yang berlangsung dalam diri siswa ketika belajar.
2.1.4
Online
Learning
Online Learning (pembelajaran
secara langsung ) menurut Michael Molinda (2005
: 182) dapa didefinisikan
sebagai upaya menghubungkan pembelajar (peserta didik)
dengan sumber belajarnya (database, pakar/instruktur, perpustakaan) yang secara fisik terpisah atau bahkan
berjauhan namun dapat saling berkomunikasi, berinteraksi
atau berkolaborasi secara (secara langsung/synchronous dan secara tida langsung/asynchronous). Online merupakan
bentuk pembelajaran/pelatihan jara jauh
yang memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan informasi , misalny internet, video/audiobroadcasting,
video/audioconferencing, CD-ROOM (secara langsung dan tidak langsung). Ke
semua media elektronik tersebut bertujuan membantu
siswa agar bias lebih
menguasai materi pelajaran. Sehingga Online berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa
bantuan perangkat elektronika secara
langsung. Kegiatan Online ini termasuk dalam model pembelajaran individual. Online Learning sangat
potensial karena siswa dan guru dapat mengakses materi
secara luas dari berbagai sumber. Salah satu definisi umum dari online
learning diberikan oleh Gilbert & Jones (2001), yaitu: pengiriman
materi pembelajaran melalui suatu media
elektronik seperti Internet, intranet/extranet, satellite
broadcast, audio/video tape, interactive TV, CD-ROM, dan computerbased .training (CBT)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Waktu
dan Tempat Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di salah satu SMAN yang ada di SMAN 1 Praya Tengah , pada tahun
ajaran 2020/2021. Penentuan,
tempat didasarkan pada pertimbangan bahwa lokasi penelitian terletak di
daerah tempat tinggal peneliti. pertimbangan lain adalah sekolah tersebut tidak menerapkan kelas unggulan. sehingga
semua kelas mempunyai komposisi yang
sama yaitu terdiri dari siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
3.2
Jenis
Penelitian
Jenis penelitian
yangg digunakan dalam peneltitian ini menggunakan metode
eksperimen dengan pola desain
faktorial atau disingkat pola F, karena peneliti akan menyelidiki pengaruh yang ditimbulkan dari Sebuah perlakuan.
Dari masing-masing kelas diadakan pembelajaran
dengan menggunakan media yang beda, lalu peneliti mengadakan perbandingan hasil belajar yang diperoleh
pembelajaran dengan Online dengan pembelajaran
dengan menggunakan media LKS. Dari hasil perbandingan peneliti dapat mengambil
kesimpulan mana media yang efektif, dan mana media yang kurang efektif diantara dua media
tersebut dalam pembelajaran kimia.
3.3
Variabel
penelitian
3.3.1
Variabel bebas
Ada
dua variabel bebas dalam penelitian ini yaitu variable penggunaan media dalam pembelajaran yang terdiri dari Online
dan LKS. Dan variabel tingkat kemampuan
awal siswa yang terdiri dari kemampuan awal tingkat tinggi dan kemampuan awal tingkat rendah.
3.3.2
Variabel terikat.
Dalam
penelitian ini hanya ada satu variabel terikat yaitu variabel prestasi belajar kimia.
3.4
Populasi
dan Sampel
3.4.1
Populasi
Populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya ( Sugiyono, 2017). Populasi penelitian ini
diambil dari seluruh SMAN di lombok Tengah yang merupakan siswa peminatan IPA
kelas XII.
3.4.2
Sampel
Penelitian
ini dalam pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Menurut
Suharsimi Arikunto (2002 : III), dengan teknik Cluster random sampling peneliti
memberi hak yang sama kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan (chance) dipilih
menjadi sampel. Secara acak ditentukan dua kelas diberi perlakuan pembelajaran Online
dan dua kelas kontrol, yaitu diberi perlakuan pembelajaran
menggunakan media LKS.
3.5
Tekhnik
pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi
dan teknik tes prestasi.
3.5.1
Teknik
Dokumentasi.
Suharsimi
Arikunto (2002: 134) menulis bahwa dokumentasi berasal dari asal katanya dokumen. yang artinya
barang-barang tertulis. Teknik dokumentasi yang dilakukan
dalam penelitian ini adalah dengan cara melihat data nilai raport semester 1 mata pelajaran kimia kelas X tahun
pelajaran 2008/2009. Teknik ini ditempuh dalarn
rangka mendapatkan data tentang kemampuan awal siswa.
3.5.2
Teknik
Tes Prestasi.
Prestasi
belajar kimia adalah tingkat penguasaan kimia standar kompetensi Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya
dalam kehidupan seharihari., dengan
kompetensi dasar. Membuat berbagai sistem koloid dengan bahanbahan yang ada di sekitarnya dan Mengelompokkan
sifat-sifat koloid dan penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari. Teknik tes prestasi dilakukan dengan cara
memberikan sejumlah soal piliha ganda
dengan hanya satu jawaban yang benar. Soal ini menggunakan empat option jawaban. Aspek yang diukur meliputi
ingatan. pemahaman. aplikasi, dan analisis. Teknik
ini digunakan untuk mendapatkan data tentang prestasi belajar kimia. Instrumen penelitian yang digunakan adalah
tes prestasi yang dinamakan dengan
tes ulangan harian kimia. Penyusunan instrumen berdasarkan kisi-kisi yang dikembangkan dari silabus pembelajaran
kimia yang, sudah baku. Berdasarkan kisikisi disusun
tes ulangan harian sebanyak 35 butir dalam bentuk tes obyektif
0 comments:
Post a Comment