Tuesday, March 15, 2022

MENDIAGNOSA PENYAKIT PADA JARINGAN LUNAK RONGGA MULUT

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk yang kompleks. Ia melaksanakan berbagai fungsi untuk mempertahankan kehidupannya. Salah satu diantara fungsi tersebut adalah fungsi metabolisme yang didapat dari energi melalui proses pencernaan. Proses pencernaan sendiri merupakan proses yang pasti dilakukan oleh setiap makhluk hidup untuk menghasilkan nutrisi yang berguna sebagai energi. Dalam prosesnya ini, ia melibatkan beberapa organ yang salah satu diantaranya adalah rongga mulut. Kelainan atau masalah yang terjadi pada rongga ini tentu akan berakibat kepada nutrisi  yang masuk ke dalam tubuh. Salah satu dari penyakit yang mungkin menyerang rongga mulut adalah cancer oral cavity.

Kanker merupakan salah satu penyakit dengan angka keatian yang tinggi. Data Global action against canser (2005) dari WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa kematian akibat kanker dapat mencapai angka 45% dari tahun 2007 hingga 2030, yaitu sekitar 7,9 juta jiwa menjadi 11,5 juta jia kematian. Di Indonesia, menurut laporan Riskesdes (2007) prevelensi kanker mencapai 4,3 per 1000 penduduk dan mejadi penyebab kematian nomo tujuh (5,7) setelah stroke, tuerkulosis, hipertensi, trauma, perinatal dan diabetes melitus.

Cancer oral cavity atau yang lebih dikenal dengan kanker rongga mulut merupakan gabungan beberapa kanker dari bagian-bagian dalam rongga mulut. Diantara kanker rongga mulut (KRM) yang paling sering diketemukan adalah kanker lidah (25-45%), terutama pada bagian lateral sepertiga tengah (40-75%) dengan histopalogi berupa karsinoma sel skuamosa (epidermoid) jenis well differentiated dan 60% nya sudah mencapai stadium lanjut (Levine, 2001).

Adanya pembuluh limfe yang ekstensif di daerah rongga mulut menyebabkan resiko metastasis regional  yang tinggi. Sedangkan jika dilihat dari tipenya sendiri, kebanyakan kanker rongga mulut adalah tipe karsinoma epidermoid (hampir 97%), 2-3% adenokarsinoma dan 1% adalah keganasan yang jarang seperti limfoma, melanoma maligna dan fibrosarkoma. (Sciubba, 2001).

Secara global, insiden ini menduduki tempat nomor 4 untuk laki-laki dan nomer 6 untuk perempuan. Kanker mulut berhubungan dengan usia yang dijumpai pada usia lebih dari 40 tahun dan semakin meningkat dengan bertambahnya usia. Penyakit kanker bibir dan mulut menurun pada laki-laki yang berkulit putih dan meningkat pada laki-laki kulit hitam serta perempuan.

Kebanyakan penderita kaker jenis ini akan datang saat sudah mencapai stadium lanjut sehingga nanti akan kesukaran dalam hal penanganannya, khusunya dalam segi pembedahannya (Vermey, 1988; Pedersen, 1992).

Pencegahan yang tepat dan penanganan yang dini tentu akan membuat prognosis penyakit ini menjadi lebih baik. Oleh karena itu sebagai bagian dari tenaga pelayan kesehatan, kita sebagai perawat perlu mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dewasa ehingga taraf kesembuhan pasien dapat meningkat.

 

B.       Rumusan Masalah

1.         Bagaimana anatomi dan fisiologi mulut ?

2.         Apakah definisi kanker rongga mulut ?

3.         Apakah etiologi kanker rongga mulut ?

4.         Bagaimana manifestasi klinis kanker rongga mulut ?

5.         Bagaimana patofisiologi kanker rongga mulut ?

6.         Apa saja klasifikasi kanker rongga mulut ?

7.         Apa saja pemeriksaan diagnostic yang harus dijalani pada penderita kanker rongga mulut ?

C.      Tujuan

1.         Tujuan umum

Mahasiswa dapat memahami dan melakukan peran sebagai perawat dalam pencegahan dan penanganan masalah kanker rongga mulut.

2.         Tujuan khusus

a.         Mengetahui dan memahami anatomi dan fisiologi rongga mulut

b.        Mengetahui dan memahami definisi kanker rongga mulut

c.         Mengetahui dan memahami etiologi kanker rongga mulut

d.        Mengetahui dan memahami manifestasi klinis kanker rongga mulut

e.         Mengetahui dan memahami patofisiologi kanker rongga mulut

f.          Mengatahui dan memahami klasifikasi kanker rongga mulut

g.        Mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik yang harus dijalani penderita kanker rongga mulut

 

D.      Manfaat

Menambah pengetahuan serta keterampilan mahasiswa dalam pengerjaan makalah dan presentasi di depan kelas. Menambah kecakapan dan rasa percaya diri mahasiswa serta lebih memahami masalah pencernaan terutama masalah kanker rongga mulut serta memahami asuhan keperawatan pada klien dengan masalah kanker rongga mulut.


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      Anatomi dan Fisiologi

1.         Rongga Mulut

Rongga mulut atau mulut merupakan titik masuknya makanan dan udara ke dalam tubuh dan mulut dan bibir sangat penting bagi manusia untuk memungkinkan pembicaraan dengan memodifikasi perjalanan udara. Rongga mulut yang disebut juga rongga bukal, dibentuk secara anatomis oleh pipi, palatum keras, palatum lunak, dan lidah. Pipi membentuk dinding bagian lateral masing'masing sisi dari rongga mulut. Pada bagian eksternal dari pipi, pipi dilapisi oleh kulit. Sedangkan pada bagian internalnya, pipi dilapisi oleh membran mukosa,yang terdiri dari epitel pipih berlapis yang tidak terkeratinasi. Otot-otot businator (otot yang menyusun dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun diantara kulit dan membran mukosa dari pipi. Bagian anterior dari pipi berakhir pada bagian bibir (Tortoraet al., 2009).


Gambar 1.1: Rongga Mulut

2.         Bibir dan Palatum

Bibir atau disebut juga labia, adalah lekukan jaringan lunak yang mengelilingi bagian yang terbuka dari mulut. Bibir terdiri dari otot orbicularis oridan dilapisi oleh kulit pada bagian eksternal dan membrane mukosa pada bagian internal.

Secara anatomi bibir dibagi menjadi dua bagian yaitu bibir bagian atas dan bibir bagian bawah, Bibir bagian atas terbentang dari dasar dari hidung pada bagian superior sampai ke lipatan nasolabial pada bagian lateral dan batas bebas dari sisi vermilion pada bagian inferor. Bibir bagian bawah terbentang dari bagian atas sisi vermilion sampai ke bagian komisura pada bagian lateral dan kebagian mandibular pada bagian inferor. 

Gambar 1.2 Bibir dan Platum

Kedua bagian bibir tersebut secara histologi tersusun dari epidermis, jaringan subkutan, serat otot orbicularis oris, dan membrane mukosa yang tersusun dari bagian superfisial sampai ke bagian paling dalam. Bagian vermilion merupakan bagian yang tersusun atas epitel pipih yang tidak terkeratinasi.

3.         Lidah

Lidah tersusun dari otot lurik yang dilapsi oleh membrane mukosa. Lidah beserta otot-otot yang berhubungan dengan lidah merupakan bagian yang menyusun dasar dari rongga mulut. Lidah dibagi menjadi dua bagian yang lateral simetris oleh septum median yang berada di sepanjang lidah. Lidah menempel pada tulang hyoid pada bagian inferor, prosesus styloid dari tulang temporal dan mandibula.

Lidah ditutupi oleh papilla pada bagian permukaan atas lidah dan permukaan lateral lidah. Papila adalah proyeksi dari lamina popria yang ditutupi oleh epitel ipih berlapis. Terdapat empat jenis papilla pada lidah, yaitu :

a)        Papila Filiformis

Jumlahnya sangat banyak di lidah. Bentuknya kerucut memanjang dan terkeratinasi, hal tersebut menyebabkan arna keputihan atau keabuan pada lidah. Papila jenis ini tidak mengandung kuncup perasa.

b)        Papila Fungiformis

Jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan papilla filiformis. Papila ini sedikit terkeratinasi dan berbentuk menyerupai jamur dengan dasarnya adalah jaringan ikat. Papila ni memiliki beberapa kuncup perasa pada bagian permukaan luarnya. Papila ini tersebar di antara papilla filiformis.

c)        Papila Foliata

Papila ini sedikit berkembang pada orang dewasa, tetapi mengandung lipatan-lipatan pada bagian tepi dari lidah dan mengandung kuncup perasa.

d)        Papila Sirkumfalata


Merupakan papilla dengan jumlah paling sedikit, namum memiliki ukuran papilla yang paling bear dan mengandung lebih dari setengah jumlah keseluruhan papilla di lidah manusia.

Gambar 1.3: Penampang Lidah

4.         Gigi

Manusia memiliki dua bah perangkat gigi , yaitu:

a)        Gigi susu : gigi susu berjumlah 24 buah yaitu 4 buah gigi seri (insisivus), 2 buah gigi taring (caninum) dan 4 buah gigi geraham pada setiap rahang.

b)        Gigi permanen : gigi permanen berjumlah 32 buah yaitu 4 buah gigi seri, 2 buah gigi taring, 4 buah gigi premolar, dan 6 buah gigi geraham pada setiap rahang.

Gigi melekat pada gusi dan yang tampak dari luar adalah bagian mahkota dari gigi. Mahkota gigi memiliki lima buah permukaan pada setiap gigi. Kelima permukaan tersebut adalah bakal (menghadap kearah pipi atau bibir), lingual (menghadap kearah lidah), mesial (menghadap kearah gigi), distal (menghadap kearah gigi), dan bagian pengunyah.

Gambar 1.1: Gigi

B.      Kanker Rongga Mulut

1.         Definisi

Menurut WHO, kanker adalah istilah umum untuk satu kelompok besar penyakit yang dapat mempengaruhi setiap bagian dari tubuh. Istilah lain yang digunakan adalah tumor ganas dan neoplasma. Salah satu fitur mendefinisikan kanker adalah pertumbuhan sel-sel baru secara abnormal yang tumbuh melampaui batas normal, dan yang kemudian dapat menyerang bagian sebelah tubuh dan menyebar ke organ lain. Proses ini disebut metastasis. Metastasis merupakan penyebab utama kematian akibat kanker (WHO, 2009).

Menurut Lippincott dan wilkins (2012), pengertian kanker rongga mulut adalah tumor ganas yang mulai muncul pada mulut yang melibatkan beberapa jenis jaringan dan sel sehingga mengakibatkan berbagai jenis kanker.

Sedangkan kanker rongga mulut adalah kegananasan yang terjadi didalam rongga yang dibatasi vermilion bibir dibagian depan dan arkus faringeus anterior dibagian belakang. Kanker rongga mulut meliputi kanker bibir gingival, lidah, bukal, dasar mulut, palatum, dan arkus faringeus anterior ( Muttaqin, 2011 ).

Kanker rongga mulut merupakan tumor ganas dalam rongga mulut yang tumbuh secara cepat dan menginvasi jaringan sekitar, berkembang sampai daerah endontel, dan dapat bermetastasis ke bagian tubuh yang lain dan sering asimtomatik pada tahap awal. 

 

2.         Etiologi

Eiologi dari kanker rongga mulut adalah :

a.         Multifaktor

Bersifat multifaktor karena erat kaitannya dengan gaya hidup, umumnya kebiasaan gaya hidup, umunya kebiasaan hidup dan diet (terutama tembakau atau tembakau yang digunakan dalam sirih, dan penggunaan alkohol), meskipun faktor lain seperti bahan infeksius, kerusakan metabolisme karsinogen, kerusakan enzim yang memperbaiki DNA yang rusak dan kombinasi faktor-faktor ini juga berperan dalam terjadinya kanker rongga mulut.

b.        Pajaan sinar matahari

Merupakan faktor presdiposisi kanker bibir efek dari sinar ultraviolet.

c.         Mutasi Gen

Mutasi gen supresor tumor (TSGs) yang mengontrol pertumbuhan sel . mutasi TSGs berkaitan dengan sitokrom P450 yang berperan dalam karsinogenesis karsinoma rongga mulut. Perubahan TSGs  dan onkogen dapat merusak kontrol pertumbuhan sel menjadi pertumbuhan kanker yang tak terkontrol.

d.        Alkohol

Penggunaan alkohol berat merupakan faktor risiko terkena kanker mulut. Penggunaan alkohol terbukti mengalami peningkatan risiko terkena kanker rongga mulut karena alkohol mengandung karsinogen atau prokarsinogen , termasuk kontaminan dari nitrosamin dan uretan selain etanol. Etanol dimetabolisme oleh alkohol-dehidrogenase dan oleh sitokrom P450 menjadi asetalhedid yang bersifat karsinogen.

e.         Tembakau dan alkohol

Alkohol memudahkan kerja tembakau dengan berfungsi sebagai pelarut sehingga memudahkan bahan kanker untuk berpenetrasi ke dalam jaringan mulut. Efek kombinasi penggunaan alkohol dan tembakau menjadi berlipat ganda, lebih besar dari kumulatif efek masing-masing bahan, sehingga risiko berkembangnya kanker rongga mulut pada pasien pengguna alkohol dan perokok meningkat 80 kali lebih tinggi.

f.          Tembakau

Mengunyah atau mengisap tembakau menyebabkan iritasi dari kontak langsung bahan-bahan karsinogen yang mengiritasi sel skuamosa rongga mulut. Rangsangan asap rokok yang lama dapat menyebabkan perubahan-perubahan yang bersifat merusak bagian mukosa mulut yang terkena, yang bervariasi dan penebalan menyeluruh bagian epitel mulut (smoker’s keratosis) sampai bercak putih keratotik yang menandai leukoplakia dan kanker mulut.

g.        Nikotin

Merupakan bahan yang menyebabkan ketergantungan / adiksi. Saat dihisap nikotin mencapai otak dalam waktu 7 detik, 2x lebih cepat dari penggunaan obat IV. Kemudian mempengaruhi otak dan sistem saraf pusat dengan mengubah kadar neurotransmiter dan bahan kimiawi yang mengatur temperamen, belajar, dan kemampuan berkosenterasi. Nikotin dapat bekerja sebagai sedatif, tergantung pada kadar nikotin dalam tubuh dan lamamnya. Merokok juga menyebabkan pelepasan endorfin yang membentuk efek tranquilizer. Nikotin merupakan racun yang dalam dosis besar dapat mematikan.

h.        Diet

Buah dan sayuran mempunyai kontribusi terhadap terjadinya kanker mulut dan kanker lainnya. Buah dan sayuran mengandung antioksidan yang mengikat molekul berbahaya penyebab mutasi gen sehingga dapat mencegah terjadinya kanker.

i.          Obat Kumur

Efek penggunaan obat kumur terhadap terjadinya kanker sama dengan efek penggunaan alkohol tetapi dengan konstribusi yang lebih rendah.

j.          Kesehatan Gigi Mulut.

Terjadi peningkatan resiko pada pria yang menggunakan gigi palsu dari logam. Iritasi kronis juga dapat ditimbulkan oleh gigi, gigi palsu atau tambalan yang mengiritassi gigi, keadaan gigi-geligi yang rusak atau hilang dapat merupakan faktor resiko penyebab kanker.

k.        Bahan infeksius

Bahan infeksius yaitu candida albicans dan virus. Virus herpes dan virus papiloma dapat dijumpai pada beberapa kasus karsinoma sel skuamosa. HPV terutama berperan dalam kanker orofaring

3.         Manifestasi Klinis  

Bintik putih atau merah (leukoplakia, eritroplakia, atau eritroleukoplakia) di dalam mulut ataupun pada bibir.

a.         Leukoplakia : Merupakan lesi putih keratolitik pada mukosa mulut.

Secara klinis leukoplakia dapat dibagi atas 4 grade (Ohrn, 2000), yaitu sebagai berikut:

ü  Grade I : bercak kemerahan yang granuler yang secara bertahap berubah menjadi keabuan.

ü  Grade II : bercak putih kebiruan berbatas tegas, tanpa indurasi

ü  Grade III : bercak keputihan berbatas tegas dengan indurasi, mungkin ada kerutan

ü  Grade IV : bercak mengalami indurasi, ada fisura, erosi, kadang-kadang permukaannya mengalami proliferasi seperti veruka. Pada pemeriksaan mikroskopis nampak perubahan keganasan dini.

b.        Eritroplakia : Daerah mukosa yang kemerahan, memiliki tekstur seperti beludru, dan berdasarkan pemeriksaan klinis serta histopatologi tidak disebabkan inflamasi atau penyakit lain. Sebagian besar lesi ini, terutama yang berada di bawah lidah, dasar mulut, palatum molle, dan pilar faucial anterior memiliki kecenderungan menjadi ganas. Diduga sebagai lesi awal kanker rongga mulut. Jarang ditemukan karena tidak mencolok dan asimtomatik, karena itu pemeriksaan mulut harus dilakukan dalam keadaan kering dan dengan teliti.

c.         Eritroleukoplakia : Merupakan lesi berwarna putih merah

ü  Luka pada bibir ataupun rongga mulut yang sulit sembuh.

ü  Perdarahan pada rongga mulut.

ü  Kehilangan gigi.

ü  Sulit atau timbulnya rasa sakit pada waktu mengunyah.

ü  Kesulitan untuk menggunakan geligi tiruan.

ü  Pengerasan pada leher, serta rasa sakit pada telinga.

d.        Manifestasi klinis dari kanker rongga mulut jika dibedakan berdasarkan tempat terjadinya kanker, yaitu :

ü  Kanker pada Bibir

ü  Warna bibir tidak nampak merah muda

ü  Bibir nampak kering

ü  Adanya ketidaksimetrisan antara bibir atas dan bawah

ü  Adanya ulserasi fisura

ü  Nyeri pada daerah sekitar bibir

ü  Adanya bintik putih atau merah pada bibir

ü  Jika terjadi luka, maka sulit sembuh

e.         Kanker pada Lidah

ü  Adanya bintik putih yang berbentuk V pada bagian dorsal lidah

ü  Ada lesi pada mukosa lidah sehingga vena superficial di bawah lidah terlihat

ü  Nyeri tekan

ü  Kadang disertai mati rasa

ü  Warna lidah terlihat kemerahan

ü  Papila terlihat tipis

f.          Kanker pada Gusi

ü  Terjadinya perdarahan gusi yang hebat

ü  Kehilangan gigi

ü  Kesulitan untuk mengunyah

ü  Timbul rasa sakit ketika mengunyah

g.        Kanker di sekitar faring

ü  Sulit menelan

ü  Sulit berbicara

ü  Batuk disertau sputum yang mengandung darah

ü  Kemungkinan terjadinya pembesaran nodus limfe servikal

4.         Patofisiologi

Sel kanker muncul setelah terjadi mutasi-mutasi pada sel normal yang disebabkan oleh zat-zat karsinogen yang memicu terjadinya karsinogenesis (transformasi sel normal menjadi sel kanker). Karsinogenesis terbagi menjadi 3 tahap : 

1.        Tahap pertama merupakan Inisiaasi yaitu kontak pertama sel normal dengan zat karsinogen yang memancing sel normal tersebut menjadi ganas.

2.        Tahap kedua yaitu Promosi dimana sel yang terpancing tersebut membentuk klon melalui pembelahan (poliferasi).

3.        Tahap terakhir yaitu Progresi dimana sel yang telah mengalami poliferasi mendapatkan satu atau lebih karakteristik neoplasma ganas.

Kanker rongga mulut dalam pertumbuhannya dimulai dengan lesi yang sangat kecil. Dengan berjalannya waktu tumor tersebut lambat laun akan mencapai ukuran yang besar.

5.         Klasifikasi

a.         Kanker pada bibir

Bibir terutama bibir bagian bawah merupakan tempat terjadinya kerusakan karena cahaya matahari atau actinic keratosis sehingga bibir tampak pecah dan kemerahan, keputihan atau campuran merah dan putih. Kanker di bibir sebelah luar lebih sering terjadi pada daerah beriklim panas. Kelainan pada bibir atas lebih jarang terjadi dibandingkan dengan bibir bawah, tetapi lebih mungkin menjadi ganas dan memerlukan perhatian medis. Pada perokok, bisa tumbuh benjolan putih di bagian dalam bibir. Benjolan ini bisa tumbuh menjadi squamous cell carcinoma (Williams, 1990).

b.        Kanker Pada Lidah

Kanker lidah adalah suatu keganasan yang timbul dari jaringan epitel mukosa lidah dengan selnya berbentuk squamous cell carcinoma (sel epitel gepen berlapis) dan terjadi akibat rangsangan menahun, juga beberapa penyakit- penyakit tertentu (premalignant) seperti sifilis dan plumer vision syndrome, leukoplakia, serta eritoplakia. Kanker ganas ini dapat menginfiltrasi ke daerah di sekitarnya, disamping itu dapat melakukan metastasis secara limfogen dan hematogen (Sciubba, 1999).

c.         Kanker dasar mulut

Kanker dasar mulut biasanya dihubungkan dengan penggunaan alkohol dan tembakau. Pada tingkat awal mungkin tidak menimbulkan gejala. Bila lesi berkembang, pasien akan mengeluhkan adanya gumpalan dalam mulut atau perasaan tidak nyaman (Daftary, 1992).

Pada pemeriksaan klinis yang paling sering dijumpai adalah lesi berupa nodul dengan tepi yang timbul dan mengeras yang terletak dekat frenulum lingual. Bentuk yang lain adalah penebalan mukosa yang kemerah- merahan, nodul yang tidak sakit atau dapat berasal dari leukoplakia.

d.        Kanker pada mukosa pipi

Pada beberapa pasien yang mempunyai kebiasaan mengunyah campuran pinang, daun sirih, kapur dan tembakau akan memberikan risiko peningkatan kanker pada mukosa pipi. Dengan kondisi material yang melakukan kontak langsung dengan mukosa pipi kiri dan kanan selama beberapa jam dan trauma pada mengunyah memberikan dampak terhadap perubahan sel mukosa pipi (Daftary, 1992). Pada pemeriksaan fisik rongga mulut, bagian pipi akan didapatkan adanya lesi ulserasi, nodular dan infiltratif.

e.         Kanker pada gusi

Kanker pada gusi biasanya dihubungkan dengan riwayat pasien mengisap pipa tembakau. Daerah yang terlibat biasanya lebih sering pada gusi bawah (mandibular)  daripada gusi atas  (maksila) (Daftary, 1992).

Pada pemeriksaan fisik, lesi awal terlihat sebagai ulkus, granuloma kecil atau sebagai nodul. Sekilas lesi terlihat sama dengan lesi yang dihasilkan oleh trauma kronis atau hyperplasia inflamatori (Daftary, 1992). Lesi yang lebih lanjut berupa pertumbuhan eksofitik atau pertumbuhan infiltrative yang lebih dalam. Pertumbuhan eksofitik terlihat seperti bunga kol dan mudah berdarah. Pertumbuhan infiltrative biasanya tumbuh invasive pada tulang mandibula dan menimbulkan dekstruktif (Tambunan, 1993).

f.          Kanker pada palatum

Predisposisi merokok meningkatkan risiko kanker pada palatum. Kebanyakan kanker palatum merupakan pertumbuhan eksofitik dengan dasar yang luas dan permukaan bernodul. Jika lesi terus berkembang mungkin akan mengisi seluruh palatum. Kanker pada palatum dapat menyebabkan perforasi palatum dan meluas sampai ke rongga hidung (Daftary, 1992).

   Menurut American Joint Committee on Cancer (AJCC) klasifikasi kanker rongga mulut menggunakan sistem TNM. Sistem TNM ini terdiri atas :

T (Tumor) : gambaran dari level pembesaran tumor

N (Nodus) : sejauh mana keterlibatan nodus limfe sebagai sistem imun tubuh

M (Metastasis) : kondisi metastasis menggambarkan keterlibatan organ lain pada bagian distal.

 

C.       Diagnosa Keperawatan

1.         Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (00002) berhubungan dengan intake nutrisi tidak adekuat

2.         Ketidakmampuan menelan (00103) berhubungan dengan terjadi kerusakan pada sistem anatomi

3.         Gangguan komunikasi verbal (00051) berhubungan dengan kondisi fisologis ditandai dengan susahnya berbicara


BAB III

PENUTUP


A.    Kesimpulan

Kanker rongga mulut adalah tumor ganas yang mulai muncul pada mulut yang melibatkan beberapa jenis jaringan dan sel sehingga mengakibatkan berbagai jenis kanker (Lippincott dan wilkins, 2012). Kanker rongga mulut merupakan tumor ganas dalam rongga mulut yang tumbuh secara cepat dan menginvasi jaringan sekitar, berkembang sampai daerah endontel, dan dapat bermetastasis ke bagian tubuh yang lain dan sering asimtomatik pada tahap awal.

Etiologi dari kanker rongga mulut adalah bersifat multifaktor, pajaan sinar matahari, mutasi gen, alkohol, tembakau dan alkohol, tembakau, nikotin, diet, obat kumur, kesehatan gigi dan mulut dan bahan infeksius.

Manifestasi dari kanker rongga mulut antara lain bintik putih atau merah (leukoplakia, eritroplakia, atau eritroleukoplakidi dalam mulut ataupun pada bibir, luka pada bibir ataupun rongga mulut yang sulit sembuh, perdarahan pada rongga mulut, kehilangan gigi, sulit atau timbulnya rasa sakit pada waktu mengunyah, kesulitan untuk menggunakan geligi tiruan, pengerasan pada leher, serta rasa sakit pada telinga. Kanker rongga mulut dalam pertumbuhannya dimulai dengan lesi yang sangat kecil. Dengan berjalannya waktu tumor tersebut lambat laun akan mencapai ukuran yang besar.

Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan adalah sitolgi mulut, biopsi, pemeriksaan Toluidine blue, dan pemeriksaan Positron Emission Tomography (PET).

Sedangkan penatalaksanaannya dapat bervariasi sesuai dengan sifat lesi, pilihan dokter, dan pilihan pasien, diantaranya yaitu pembedahan, radiasi, kemoterapi, terapi kombinasi, edukasi, dan perawatan pemulihan setelah operasi.

 

B.     Saran

Untuk pengembangan penelitian selanjutnya, disarankan menambahkan nilai keyakinan pasien di setiap gejala yang dipilih pasien. Dengan menyertakan nilai keyakinan pasien terhadap gejala yang dialaminya, hasil diagnosis akan lebih akurat.

Tambahkan satu atau dua pakar lagi yang berkontribusi pada penelitian sebagai sumber pengetahuan agar nilai-nilai parameter yang diberikan bisa dibandingkan antara pakar satu dengan yang lainnya agar hasil diagnosis bisa lebih akurat

Untuk menghindari atau mencegah penyakit pada jaringan lunak pada rongga mulut sebaiknya kita menghindari makan makanan yang diawetkan.


untuk mendapatkan file MS WORD silahkan anda klik DISINI

0 comments:

Post a Comment