BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Manusia merupakan makhluk yang kompleks.
Ia melaksanakan berbagai fungsi untuk mempertahankan kehidupannya. Salah satu
diantara fungsi tersebut adalah fungsi metabolisme yang didapat dari energi
melalui proses pencernaan. Proses pencernaan sendiri merupakan
proses yang pasti dilakukan oleh setiap makhluk hidup untuk menghasilkan
nutrisi yang berguna sebagai energi. Dalam prosesnya
ini, ia melibatkan beberapa organ yang salah satu diantaranya adalah rongga
mulut. Kelainan
atau masalah yang terjadi pada rongga ini tentu akan berakibat kepada
nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Salah
satu dari penyakit yang mungkin menyerang rongga mulut adalah cancer oral cavity.
Kanker merupakan salah satu penyakit
dengan angka keatian yang tinggi. Data Global action against canser
(2005) dari WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa kematian
akibat kanker dapat mencapai angka 45% dari tahun 2007 hingga 2030, yaitu
sekitar 7,9 juta jiwa menjadi 11,5 juta jia kematian. Di Indonesia, menurut laporan
Riskesdes (2007) prevelensi kanker mencapai 4,3 per 1000 penduduk dan mejadi
penyebab kematian nomo tujuh (5,7) setelah stroke, tuerkulosis, hipertensi,
trauma, perinatal dan diabetes melitus.
Cancer oral cavity atau yang lebih dikenal dengan kanker rongga mulut merupakan gabungan
beberapa kanker dari bagian-bagian dalam rongga mulut. Diantara kanker rongga
mulut (KRM) yang paling sering diketemukan adalah kanker lidah (25-45%), terutama
pada bagian lateral sepertiga tengah (40-75%) dengan histopalogi berupa
karsinoma sel skuamosa (epidermoid) jenis well differentiated dan 60% nya sudah
mencapai stadium lanjut (Levine, 2001).
Adanya pembuluh limfe yang ekstensif
di daerah rongga mulut menyebabkan resiko metastasis regional yang tinggi. Sedangkan jika dilihat dari
tipenya sendiri, kebanyakan kanker rongga mulut adalah tipe karsinoma
epidermoid (hampir 97%), 2-3% adenokarsinoma dan 1% adalah keganasan yang
jarang seperti limfoma, melanoma maligna dan fibrosarkoma. (Sciubba, 2001).
Secara global, insiden ini menduduki
tempat nomor 4 untuk laki-laki dan nomer 6 untuk perempuan. Kanker
mulut berhubungan dengan usia yang dijumpai pada usia lebih dari 40 tahun dan
semakin meningkat dengan bertambahnya usia. Penyakit kanker bibir dan mulut
menurun pada laki-laki yang berkulit putih dan meningkat pada laki-laki kulit
hitam serta perempuan.
Kebanyakan penderita kaker jenis ini
akan datang saat sudah mencapai stadium lanjut sehingga nanti akan kesukaran
dalam hal penanganannya, khusunya dalam segi pembedahannya (Vermey, 1988;
Pedersen, 1992).
Pencegahan yang tepat dan penanganan
yang dini tentu akan membuat prognosis penyakit ini menjadi lebih baik. Oleh
karena itu sebagai bagian dari tenaga pelayan kesehatan, kita sebagai perawat
perlu mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dewasa ehingga taraf
kesembuhan pasien dapat meningkat.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana anatomi dan
fisiologi mulut ?
2.
Apakah definisi kanker
rongga mulut ?
3.
Apakah etiologi kanker
rongga mulut ?
4.
Bagaimana manifestasi
klinis kanker rongga mulut ?
5.
Bagaimana patofisiologi
kanker rongga mulut ?
6.
Apa saja klasifikasi
kanker rongga mulut ?
7.
Apa saja pemeriksaan
diagnostic yang harus dijalani pada penderita kanker rongga mulut ?
C.
Tujuan
1.
Tujuan umum
Mahasiswa dapat memahami dan melakukan peran
sebagai perawat dalam pencegahan dan penanganan masalah kanker rongga
mulut.
2.
Tujuan khusus
a.
Mengetahui dan memahami
anatomi dan fisiologi rongga mulut
b.
Mengetahui dan memahami
definisi kanker rongga mulut
c.
Mengetahui dan memahami
etiologi kanker rongga mulut
d.
Mengetahui dan memahami
manifestasi klinis kanker rongga mulut
e.
Mengetahui dan memahami
patofisiologi kanker rongga mulut
f.
Mengatahui dan memahami
klasifikasi kanker rongga mulut
g.
Mengetahui dan memahami
pemeriksaan diagnostik yang harus dijalani penderita kanker rongga mulut
D.
Manfaat
Menambah pengetahuan serta keterampilan mahasiswa dalam pengerjaan makalah dan presentasi di depan kelas. Menambah kecakapan dan rasa percaya diri mahasiswa serta lebih memahami masalah pencernaan terutama masalah kanker rongga mulut serta memahami asuhan keperawatan pada klien dengan masalah kanker rongga mulut.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Anatomi dan Fisiologi
1.
Rongga Mulut
2.
Bibir dan
Palatum
Bibir atau disebut juga labia, adalah lekukan
jaringan lunak yang mengelilingi bagian yang terbuka dari mulut. Bibir terdiri
dari otot orbicularis oridan dilapisi oleh kulit pada bagian eksternal dan
membrane mukosa pada bagian internal.
Kedua bagian bibir tersebut secara histologi tersusun dari epidermis,
jaringan subkutan, serat otot orbicularis oris, dan membrane mukosa yang
tersusun dari bagian superfisial sampai ke bagian paling dalam. Bagian
vermilion merupakan bagian yang tersusun atas epitel pipih yang tidak
terkeratinasi.
3.
Lidah
Lidah tersusun dari otot lurik yang dilapsi oleh
membrane mukosa. Lidah beserta otot-otot yang berhubungan dengan lidah
merupakan bagian yang menyusun dasar dari rongga mulut. Lidah dibagi menjadi
dua bagian yang lateral simetris oleh septum median yang berada di sepanjang
lidah. Lidah menempel pada tulang hyoid pada bagian inferor, prosesus styloid
dari tulang temporal dan mandibula.
Lidah ditutupi oleh papilla pada bagian permukaan
atas lidah dan permukaan lateral lidah. Papila adalah proyeksi dari lamina
popria yang ditutupi oleh epitel ipih berlapis. Terdapat empat jenis papilla
pada lidah, yaitu :
a)
Papila Filiformis
Jumlahnya sangat banyak di lidah. Bentuknya kerucut
memanjang dan terkeratinasi, hal tersebut menyebabkan arna keputihan atau
keabuan pada lidah. Papila jenis ini tidak mengandung kuncup perasa.
b)
Papila Fungiformis
Jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan papilla
filiformis. Papila ini sedikit terkeratinasi dan berbentuk menyerupai jamur
dengan dasarnya adalah jaringan ikat. Papila ni memiliki beberapa kuncup perasa
pada bagian permukaan luarnya. Papila ini tersebar di antara papilla
filiformis.
c)
Papila Foliata
Papila ini sedikit berkembang pada orang dewasa,
tetapi mengandung lipatan-lipatan pada bagian tepi dari lidah dan mengandung
kuncup perasa.
d)
Papila Sirkumfalata
4.
Gigi
Manusia memiliki dua bah
perangkat gigi , yaitu:
a)
Gigi susu : gigi susu berjumlah 24 buah yaitu 4 buah gigi seri
(insisivus), 2 buah gigi taring (caninum) dan 4 buah gigi geraham pada setiap
rahang.
b)
Gigi permanen : gigi permanen berjumlah 32 buah yaitu 4 buah gigi seri, 2
buah gigi taring, 4 buah gigi premolar, dan 6 buah gigi geraham pada setiap
rahang.
Gigi melekat pada gusi dan
yang tampak dari luar adalah bagian mahkota dari gigi. Mahkota gigi memiliki
lima buah permukaan pada setiap gigi. Kelima permukaan tersebut adalah bakal (menghadap kearah pipi atau bibir), lingual (menghadap kearah lidah), mesial
(menghadap kearah gigi), distal (menghadap kearah gigi), dan bagian pengunyah.
B.
Kanker Rongga Mulut
1.
Definisi
Menurut WHO, kanker
adalah istilah umum untuk satu kelompok besar penyakit yang dapat mempengaruhi
setiap bagian dari tubuh. Istilah lain yang digunakan adalah tumor ganas dan
neoplasma. Salah satu fitur mendefinisikan kanker adalah pertumbuhan sel-sel baru
secara abnormal yang tumbuh melampaui batas normal, dan yang kemudian dapat
menyerang bagian sebelah tubuh dan menyebar ke organ lain. Proses ini disebut
metastasis. Metastasis merupakan penyebab utama kematian akibat kanker (WHO,
2009).
Menurut Lippincott dan
wilkins (2012), pengertian kanker rongga mulut adalah tumor ganas yang mulai
muncul pada mulut yang melibatkan beberapa jenis jaringan dan sel sehingga
mengakibatkan berbagai jenis kanker.
Sedangkan kanker rongga
mulut adalah kegananasan yang terjadi didalam rongga yang dibatasi vermilion
bibir dibagian depan dan arkus faringeus anterior dibagian belakang. Kanker
rongga mulut meliputi kanker bibir gingival, lidah, bukal, dasar mulut,
palatum, dan arkus faringeus anterior ( Muttaqin, 2011 ).
Kanker rongga mulut
merupakan tumor ganas dalam rongga mulut yang tumbuh secara cepat dan
menginvasi jaringan sekitar, berkembang sampai daerah endontel, dan dapat
bermetastasis ke bagian tubuh yang lain dan sering asimtomatik pada tahap awal.
2.
Etiologi
Eiologi
dari kanker rongga mulut adalah :
a.
Multifaktor
Bersifat multifaktor
karena erat kaitannya dengan gaya hidup, umumnya kebiasaan gaya hidup, umunya
kebiasaan hidup dan diet (terutama tembakau atau tembakau yang digunakan dalam
sirih, dan penggunaan alkohol), meskipun faktor lain seperti bahan infeksius,
kerusakan metabolisme karsinogen, kerusakan enzim yang memperbaiki DNA yang
rusak dan kombinasi faktor-faktor ini juga berperan dalam terjadinya kanker
rongga mulut.
b.
Pajaan sinar matahari
Merupakan faktor presdiposisi kanker bibir efek dari sinar ultraviolet.
c.
Mutasi Gen
Mutasi gen supresor tumor
(TSGs) yang mengontrol pertumbuhan sel . mutasi TSGs berkaitan dengan sitokrom
P450 yang berperan dalam karsinogenesis karsinoma rongga mulut. Perubahan
TSGs dan onkogen dapat merusak kontrol
pertumbuhan sel menjadi pertumbuhan kanker yang tak terkontrol.
d.
Alkohol
Penggunaan alkohol berat
merupakan faktor risiko terkena kanker mulut. Penggunaan alkohol terbukti
mengalami peningkatan risiko terkena kanker rongga mulut karena alkohol
mengandung karsinogen atau prokarsinogen , termasuk kontaminan dari nitrosamin
dan uretan selain etanol. Etanol dimetabolisme oleh alkohol-dehidrogenase dan
oleh sitokrom P450 menjadi asetalhedid yang bersifat karsinogen.
e.
Tembakau dan alkohol
Alkohol memudahkan kerja
tembakau dengan berfungsi sebagai pelarut sehingga memudahkan bahan kanker
untuk berpenetrasi ke dalam jaringan mulut. Efek kombinasi penggunaan alkohol
dan tembakau menjadi berlipat ganda, lebih besar dari kumulatif efek
masing-masing bahan, sehingga risiko berkembangnya kanker rongga mulut pada
pasien pengguna alkohol dan perokok meningkat 80 kali lebih tinggi.
f.
Tembakau
Mengunyah atau mengisap
tembakau menyebabkan iritasi dari kontak langsung bahan-bahan karsinogen yang
mengiritasi sel skuamosa rongga mulut. Rangsangan asap rokok yang lama dapat
menyebabkan perubahan-perubahan yang bersifat merusak bagian mukosa mulut yang
terkena, yang bervariasi dan penebalan menyeluruh bagian epitel mulut (smoker’s keratosis) sampai bercak putih keratotik yang
menandai leukoplakia dan kanker mulut.
g.
Nikotin
Merupakan bahan yang
menyebabkan ketergantungan / adiksi. Saat dihisap nikotin mencapai otak dalam
waktu 7 detik, 2x lebih cepat dari penggunaan obat IV. Kemudian mempengaruhi
otak dan sistem saraf pusat dengan mengubah kadar neurotransmiter dan bahan
kimiawi yang mengatur temperamen, belajar, dan kemampuan berkosenterasi.
Nikotin dapat bekerja sebagai sedatif, tergantung pada kadar nikotin dalam
tubuh dan lamamnya. Merokok juga menyebabkan pelepasan endorfin yang membentuk
efek tranquilizer. Nikotin merupakan racun yang dalam dosis besar dapat
mematikan.
h.
Diet
Buah dan sayuran
mempunyai kontribusi terhadap terjadinya kanker mulut dan kanker lainnya. Buah
dan sayuran mengandung antioksidan yang mengikat molekul berbahaya penyebab
mutasi gen sehingga dapat mencegah terjadinya kanker.
i.
Obat Kumur
Efek penggunaan obat
kumur terhadap terjadinya kanker sama dengan efek penggunaan alkohol tetapi
dengan konstribusi yang lebih rendah.
j.
Kesehatan Gigi Mulut.
Terjadi peningkatan
resiko pada pria yang menggunakan gigi palsu dari logam. Iritasi kronis juga
dapat ditimbulkan oleh gigi, gigi palsu atau tambalan yang mengiritassi gigi,
keadaan gigi-geligi yang rusak atau hilang dapat merupakan faktor resiko
penyebab kanker.
k.
Bahan infeksius
Bahan infeksius yaitu
candida albicans dan virus. Virus herpes dan virus papiloma dapat dijumpai pada
beberapa kasus karsinoma sel
skuamosa. HPV terutama berperan dalam kanker orofaring
3.
Manifestasi
Klinis
Bintik putih atau merah
(leukoplakia, eritroplakia, atau eritroleukoplakia) di dalam mulut ataupun pada
bibir.
a.
Leukoplakia : Merupakan lesi putih keratolitik pada mukosa mulut.
Secara klinis leukoplakia
dapat dibagi atas 4 grade (Ohrn, 2000), yaitu sebagai berikut:
ü Grade
I : bercak kemerahan yang granuler yang secara bertahap berubah menjadi
keabuan.
ü Grade
II : bercak putih kebiruan berbatas tegas, tanpa indurasi
ü Grade
III : bercak keputihan berbatas tegas dengan indurasi, mungkin ada kerutan
ü Grade
IV : bercak mengalami indurasi, ada fisura, erosi, kadang-kadang permukaannya
mengalami proliferasi seperti veruka. Pada pemeriksaan mikroskopis nampak
perubahan keganasan dini.
b.
Eritroplakia : Daerah mukosa yang kemerahan, memiliki tekstur seperti
beludru, dan berdasarkan pemeriksaan klinis serta histopatologi tidak
disebabkan inflamasi atau penyakit lain. Sebagian besar lesi ini, terutama yang
berada di bawah lidah, dasar mulut, palatum molle, dan pilar faucial anterior memiliki kecenderungan
menjadi ganas. Diduga sebagai lesi awal kanker rongga mulut.
Jarang ditemukan karena tidak mencolok dan asimtomatik, karena itu pemeriksaan
mulut harus dilakukan dalam keadaan kering dan dengan teliti.
c.
Eritroleukoplakia : Merupakan lesi berwarna putih merah
ü Luka pada
bibir ataupun rongga mulut yang sulit sembuh.
ü Perdarahan
pada rongga mulut.
ü Kehilangan
gigi.
ü Sulit atau
timbulnya rasa sakit pada waktu mengunyah.
ü Kesulitan
untuk menggunakan geligi tiruan.
ü Pengerasan
pada leher, serta rasa sakit pada telinga.
d.
Manifestasi klinis dari
kanker rongga mulut jika dibedakan berdasarkan tempat terjadinya kanker, yaitu
:
ü Kanker
pada Bibir
ü
Warna bibir tidak nampak
merah muda
ü
Bibir nampak kering
ü
Adanya ketidaksimetrisan
antara bibir atas dan bawah
ü
Adanya ulserasi fisura
ü
Nyeri pada daerah sekitar
bibir
ü
Adanya bintik putih atau
merah pada bibir
ü
Jika terjadi luka, maka
sulit sembuh
e.
Kanker pada Lidah
ü
Adanya bintik putih yang
berbentuk V pada bagian dorsal lidah
ü
Ada lesi pada mukosa
lidah sehingga vena superficial di bawah lidah terlihat
ü
Nyeri tekan
ü
Kadang disertai mati rasa
ü
Warna lidah terlihat
kemerahan
ü
Papila terlihat tipis
f.
Kanker pada Gusi
ü
Terjadinya perdarahan
gusi yang hebat
ü
Kehilangan gigi
ü
Kesulitan untuk mengunyah
ü
Timbul rasa sakit ketika
mengunyah
g.
Kanker di sekitar faring
ü
Sulit menelan
ü
Sulit berbicara
ü
Batuk disertau sputum
yang mengandung darah
ü
Kemungkinan terjadinya
pembesaran nodus limfe servikal
4.
Patofisiologi
Sel kanker muncul setelah
terjadi mutasi-mutasi pada sel normal yang disebabkan oleh zat-zat karsinogen
yang memicu terjadinya karsinogenesis (transformasi sel normal menjadi sel
kanker). Karsinogenesis terbagi menjadi 3 tahap :
1.
Tahap pertama merupakan Inisiaasi yaitu kontak pertama sel normal dengan zat
karsinogen yang memancing sel normal tersebut menjadi ganas.
2.
Tahap kedua yaitu Promosi dimana sel yang terpancing tersebut membentuk
klon melalui pembelahan (poliferasi).
3.
Tahap terakhir yaitu Progresi dimana sel yang telah mengalami poliferasi
mendapatkan satu atau lebih karakteristik neoplasma ganas.
Kanker
rongga mulut dalam pertumbuhannya dimulai dengan lesi yang sangat kecil. Dengan
berjalannya waktu tumor tersebut lambat laun akan mencapai ukuran yang besar.
|
|
5.
Klasifikasi
a.
Kanker pada bibir
Bibir
terutama bibir bagian bawah merupakan tempat terjadinya kerusakan karena cahaya
matahari atau actinic keratosis
sehingga bibir tampak pecah dan kemerahan, keputihan atau campuran merah dan
putih. Kanker di bibir sebelah luar lebih sering terjadi pada daerah beriklim
panas. Kelainan pada bibir atas lebih jarang terjadi dibandingkan dengan bibir
bawah, tetapi lebih mungkin menjadi ganas dan memerlukan perhatian medis. Pada
perokok, bisa tumbuh benjolan putih di bagian dalam bibir. Benjolan ini bisa tumbuh
menjadi squamous cell carcinoma (Williams,
1990).
b.
Kanker Pada Lidah
Kanker lidah adalah suatu
keganasan yang timbul dari jaringan epitel mukosa lidah dengan selnya berbentuk
squamous cell carcinoma (sel epitel
gepen berlapis) dan terjadi akibat rangsangan menahun, juga beberapa penyakit-
penyakit tertentu (premalignant) seperti sifilis dan plumer vision syndrome, leukoplakia, serta eritoplakia. Kanker
ganas ini dapat menginfiltrasi ke daerah di sekitarnya, disamping itu dapat
melakukan metastasis secara limfogen dan hematogen (Sciubba, 1999).
c.
Kanker dasar mulut
Kanker
dasar mulut biasanya dihubungkan dengan penggunaan alkohol dan tembakau. Pada
tingkat awal mungkin tidak menimbulkan gejala. Bila lesi berkembang, pasien
akan mengeluhkan adanya gumpalan dalam mulut atau perasaan tidak nyaman
(Daftary, 1992).
Pada
pemeriksaan klinis yang paling sering dijumpai adalah lesi berupa nodul dengan
tepi yang timbul dan mengeras yang terletak dekat frenulum lingual. Bentuk yang
lain adalah penebalan mukosa yang kemerah- merahan, nodul yang tidak sakit atau
dapat berasal dari leukoplakia.
d.
Kanker pada mukosa pipi
Pada
beberapa pasien yang mempunyai kebiasaan mengunyah campuran pinang, daun sirih,
kapur dan tembakau akan memberikan risiko peningkatan kanker pada mukosa pipi.
Dengan kondisi material yang melakukan kontak langsung dengan mukosa pipi kiri
dan kanan selama beberapa jam dan trauma pada mengunyah memberikan dampak
terhadap perubahan sel mukosa pipi (Daftary, 1992). Pada pemeriksaan fisik
rongga mulut, bagian pipi akan didapatkan adanya lesi ulserasi, nodular dan
infiltratif.
e.
Kanker pada gusi
Kanker
pada gusi biasanya dihubungkan dengan riwayat pasien mengisap pipa tembakau.
Daerah yang terlibat biasanya lebih sering pada gusi bawah (mandibular) daripada gusi atas (maksila) (Daftary, 1992).
Pada
pemeriksaan fisik, lesi awal terlihat sebagai ulkus, granuloma kecil atau
sebagai nodul. Sekilas lesi terlihat sama dengan lesi yang dihasilkan oleh
trauma kronis atau hyperplasia inflamatori (Daftary, 1992). Lesi yang lebih
lanjut berupa pertumbuhan eksofitik atau pertumbuhan infiltrative yang lebih
dalam. Pertumbuhan eksofitik terlihat seperti bunga kol dan mudah berdarah.
Pertumbuhan infiltrative biasanya tumbuh invasive pada tulang mandibula dan
menimbulkan dekstruktif (Tambunan, 1993).
f.
Kanker pada palatum
Predisposisi
merokok meningkatkan risiko kanker pada palatum. Kebanyakan kanker palatum
merupakan pertumbuhan eksofitik dengan dasar yang luas dan permukaan bernodul.
Jika lesi terus berkembang mungkin akan mengisi seluruh palatum. Kanker pada
palatum dapat menyebabkan perforasi palatum dan meluas sampai ke rongga hidung
(Daftary, 1992).
Menurut American Joint Committee on Cancer
(AJCC) klasifikasi kanker rongga mulut menggunakan sistem TNM. Sistem TNM ini
terdiri atas :
T
(Tumor) : gambaran dari level pembesaran tumor
N
(Nodus) : sejauh mana keterlibatan nodus limfe sebagai sistem imun tubuh
M
(Metastasis) : kondisi metastasis menggambarkan keterlibatan organ lain pada
bagian distal.
C. Diagnosa Keperawatan
1.
Ketidakseimbangan
nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (00002) berhubungan dengan intake nutrisi
tidak adekuat
2.
Ketidakmampuan menelan
(00103) berhubungan dengan terjadi kerusakan pada sistem anatomi
3.
Gangguan komunikasi
verbal (00051) berhubungan dengan kondisi fisologis ditandai dengan susahnya
berbicara
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kanker rongga mulut adalah tumor
ganas yang mulai muncul pada mulut yang melibatkan beberapa jenis jaringan dan
sel sehingga mengakibatkan berbagai jenis kanker (Lippincott dan wilkins,
2012). Kanker rongga mulut merupakan tumor ganas dalam rongga mulut yang tumbuh
secara cepat dan menginvasi jaringan sekitar, berkembang sampai daerah
endontel, dan dapat bermetastasis ke bagian tubuh yang lain dan sering asimtomatik
pada tahap awal.
Etiologi dari kanker rongga mulut
adalah bersifat multifaktor, pajaan sinar matahari, mutasi gen, alkohol,
tembakau dan alkohol, tembakau, nikotin, diet, obat kumur, kesehatan gigi dan
mulut dan bahan infeksius.
Manifestasi dari kanker rongga mulut
antara lain bintik putih atau merah (leukoplakia, eritroplakia, atau
eritroleukoplakidi dalam mulut ataupun pada bibir, luka pada bibir ataupun
rongga mulut yang sulit sembuh, perdarahan pada rongga mulut, kehilangan gigi,
sulit atau timbulnya rasa sakit pada waktu mengunyah, kesulitan untuk
menggunakan geligi tiruan, pengerasan pada leher, serta rasa sakit pada
telinga. Kanker rongga mulut dalam pertumbuhannya dimulai dengan lesi yang
sangat kecil. Dengan berjalannya waktu tumor tersebut lambat laun akan mencapai
ukuran yang besar.
Pemeriksaan diagnostik yang dapat
dilakukan adalah sitolgi mulut, biopsi, pemeriksaan Toluidine blue, dan
pemeriksaan Positron Emission Tomography (PET).
Sedangkan penatalaksanaannya dapat
bervariasi sesuai dengan sifat lesi, pilihan dokter, dan pilihan pasien,
diantaranya yaitu pembedahan, radiasi, kemoterapi, terapi kombinasi, edukasi,
dan perawatan pemulihan setelah operasi.
B. Saran
Untuk
pengembangan penelitian selanjutnya, disarankan menambahkan nilai keyakinan
pasien di setiap gejala yang dipilih pasien. Dengan menyertakan nilai keyakinan
pasien terhadap gejala yang dialaminya, hasil diagnosis akan lebih akurat.
Tambahkan
satu atau dua pakar lagi yang berkontribusi pada penelitian sebagai sumber pengetahuan
agar nilai-nilai parameter yang diberikan bisa dibandingkan antara pakar satu
dengan yang lainnya agar hasil diagnosis bisa lebih akurat
Untuk
menghindari atau mencegah penyakit pada jaringan lunak pada rongga mulut
sebaiknya kita menghindari makan makanan yang diawetkan.
0 comments:
Post a Comment