BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap anak pasti mengalami masa pertumbuhan. Begitu pula dengan
gigi. Di mulai dari pertumbuhan gigi susu sampai berganti menjadi gigi
permanen. Tanpa gigi manusia tidak akan bisa dalam mencerna dan mengunyah
makanan. Gigi berfungsi untuk mengunyah setiap makanan yang masuk ke mulut
untuk diteruskan ke tubuh manusia, tentunya makanan yang sudah halus. Masa ini
akan terus berlangsung mulai dari masa anak-anak sampai dewasa.
Kelompok anak-anak pada umumnya belum dapat menyikat gigi dengan
baik dan efektif karena menyikat gigi itu tidak mudah terutama pada makanan
yang lengket, serta sisa makanan yang berada pada permukaan gigi yang sulit
dijangkau dengan sikat gigi (Ircham, 1995).
Peranan orang tua sangat penting dalam membimbing dan
mendisiplinkan anak untuk melatih memelihara kesehatan gigi dan mulut dengan
menyikat gigi secara baik dan benar. Karena pada umumnya kebiasaan anak dalam
menyikat gigi hanyalah bertujuan untuk menyegarkan mulut saja, bukan karena
mengerti bahwa hal tersebut baik untuk kesehatan gigi dan mulutnya, sehingga
anak cenderung menyikat gigi dengan semaunya sendiri. Besarnya peran orang tua
sangat diperlukan dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anak-anaknya agar
tercapai kesehatan gigi dan mulut yang optimal (Tomasowa, 1981).
Tujuan kami membuat makalah ini untuk memberikan pengetahuan
tentang pentingnya memelihara dan
menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak dengan baik dan benar.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa itu Anak ?
2.
Apa itu kesehatan gigi ?
3.
Apa itu pelayanan
kesehatan gigi ?
4.
Apa itu pedodontic ?
5.
Apa itu Pedodontia ?
6.
Apa saja faktor-faktor
yang mempengaruhi kesehatan gigi anak ?
7.
Apa saja jenis-jenis
perawatan gigi pada anak ?
8.
Bagaimana peranan dental
asisten dalam perawatan pedodontia ?
9.
Apa saja langkah-langkah
yang dilakukan anak dalam merawat gigi ?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui
pengertian Anak
2.
Untuk mengetahui
pengertian kesehatan gigi
3.
Untuk mengetahui
pengertian pelayanan kesehatan gigi
4.
Untuk mengetahui
pengertian pedodontic
5.
Untuk memberikan
informasi tentang pengertian dari pedodontia
6.
Untuk menjelaskan
faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan gigi anak
7.
Untuk menjelaskan
informasi mengenai jenis-jenis perawatan gigi pada anak.
8.
Untuk memberikan
penjelasan mengenai peranan dental asisten dalam perawatan pedodontia .
9.
Untuk memberikan pengetahuan
tentang langkah-langkah yang dilakukan anak dalam merawat gigi
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Pengertian Anak
1. Menurut UU RI No. 4 tahun 1979
Anak adalah
seseorang yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum pernah menikah. Batas 21
tahun ditentukan karena berdasarkan pertimbangan usaha kesejahteraan sosial,
kematangan pribadi, dan kematangan mental seorang anak dicapai pada usia
tersebut.
2. John Locke
Anak merupakan pribadi yang masih
bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan.
3. Menurut
Psikologi
Anak
adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau
enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah, kemudian
berkembang setara dengan tahun tahun sekolah dasar.
B. Pengertian Kesehatan Gigi
1.
Depkes RI. 1990/1991. Pedoman Kerja Puskesmas,
Jilid IV. Jakarta
Kesehatan gigi adalah
kesehatan gigi dan mulut yang bersifat peningkatan pencegahan umum (Mass
Prerevention); pneyuluhan gigi dan mulut, pemeliharaan kebersihan gigi dan
mulut perlindungan (toothburshing compaign, kumur-kumur flour,
flouridasi air minum).
2.
Sowelo,1992
Kesehatan
gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan manusia seutuhnya,
dengan demikian upaya-upaya dalam bidang kesehatan gigi pada akhirnya akan
turut berperan dalam peningkatan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia
C.
Pengertian Pelayanan kesehatan Gigi
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut
adalah setiap bentuk pelayanan atau program kesehatan gigi dan mulut yang
ditujukan pada perorangan atau bersama-sama dalam suatu organisasi dengan
tujuan untuk memelihara maupun meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut.
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut ditujukan kepada keluarga serta masyarakat
di wilayah kerjanya,secara menyeluruh baik promotif, preventif, kuratif maupun
rehabilitatif(Rukasa,2005).
D. Pengertian Pedodontic
Pediatric kedokteran
gigi [sebelumnya Pedodontik ( Inggris Amerika ) atau paedodontics ( Commonwealth Inggris ) adalah cabang kedokteran
gigi yang
berhubungan dengan anak-anak sejak lahir sampai remaja. Spesialisasi diakui oleh American
Dental Association , Royal College
of Dokter Gigi Kanada , dan Ulasan Royal
Australasian College of Surgeons Gigi
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Pedodonsia
Apabila kita membicarakan tentang anak khususnya pada
bagian kesehatan anak, maka tentu kita tidak akan lepas dari kata Pediatric.
Pediatric berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua suku kata yaitu
Paedes/Paedos yang artinya anak dan Iatrica yang artinya adalah pengobatan.
Oleh sebab itu pediatric secara singkat dapat diartikan sebagai Ilmu Penyakit
Anak. Akan tetapi arti tersebut seiring perkembangan jaman, mulai tahun 1968 pediatric
diartikan sebagai Ilmu Kesehatan Anak.
Pemeliharaan kesehatan gigi dan gusi
masyarakat terutama pada anak-anak usia sekolah sangatlah penting. Oleh sebab
itu salah satu kebijaksanaannya adalah dengan meningkatkan upaya promotif,
preventif dan kuratif pada anak usia sekolah (6-12tahun) karena pada usia
tersebut merupakan waktu dimana akan tumbuhnya gigitetap (Muhariani,2009).
Pedodontik atau perawatan gigi pada
anak merupakan hal yang sering diabaikan oleh orangtua, utamanya pada periode
gigi susu. Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya
perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kebersihan gigi dan mulut anak
diantaranya adalah pentingnya memeriksakan gigi dan mulut yang dilakukan
minimal 1kali 6 bulan (Sukmono,2003).
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan
Gigi Anak
Dalam hal ini banyak sekali yang
mempengaruhi kesehatan gigi, antara lain
:
1.
Gizi Makanan
Perlu kita ketahui bahwa benih gigi
seudah terbentuk waktu janin (embrio) berusia ½ bulan dalam kandungan. Makanan makanan ini sudah tercakup dalam
empat sehat lima sempurna.
2.
Jenis makanan
Makanan yang mudah lengket dan
menempel digigit seperti permen dan coklat, makanan ini sangat disukai oleh
anakanak. Hal ini yang mengakibatkan gangguan. Makanan tadi mudah tertinggal
dan melekat pada gigi dan bila terlalu sering dan lama akan berakibat tidak
baik. Makanan yang manis dan lengket tersebut akan bereaksi di mulut dan asam
yang merusak email gigi.
3.
Kebersihan gigi
Biasakanlah anak-anak agar selalu
menyikat giginya atau berkumur-kumur setiap selesai makan atau sebelum tidur.
4.
Kepekatan air ludah
Pada orang-orang yang mempunyai air
ludah yang sangat pekat dan sedikit akan lebih mudah giginya menjadi berlubang
dibandingkan dengan air ludah yang encer dan banyak, sebab pada anak yang beair
ludah pekat dan sedikit maka sisa makanan akan mudah menempel pada permukaan
gigi. (Moestopo, 1982)
C. Jenis-Jenis Perawatan Gigi
Yang Dapat Dilakukan Pada Anak
1.
Pencabutan Gigi Susu
Tindakan
ekstraksi gigi pada rongga mulut dilakukan dengan berbagai alasan yang bervariasi. Walaupun kondisi
modern dalam kedokteran gigi saat ini sangat mungkin untuk mempertahankan gigi pada kavitas oral, masih
dibutuhkan pelaksanaan ekstraksi dengan beberapa alasan.
Penatalaksanaan ekstraksi yang tidak membutuhkan waktu yang lama dan biayayang
relatif murah pada akhirnya menjadi alasan pasien untuk menyetujui dilakukan
ekstraksi.Pada prinsipnya ekstraksi gigi
anak dan gigi dewasa itu sama saja,hanya saja ada beberapa faktor
yang perlu diperhatikan dalam melakukan ekstraksi gigi anak,yaitu:
a)
Anak-anak memiliki rongga mulut kecil sehingga menyulitkan
kita dalam melakukan ekstraksi karena pandangan kita karena rongga mulut yang
kecil tersebut.
b)
Dalam melakukan ekstraksi gigi anak kita harus hati-hati
karena adanya benih gigi permanen yang masih terpendam. Apabila kita melakukan
pencabutan prematur pada gigi anak dan ruang kosong bekas pencabutan tidak
diberi space retainer maka akan mengakibatkan maloklusi.
2.
Indikasi Pencabutan Gigi Sulung
a)
Natal tooth / neonatal tooth
b)
Natal tooth , gigi erupsi sebelum lahir
c)
Neonatal tooth, gigi erupsi setelah 1 bulan dan
biasanya gigi :
ü Mobility
ü Dapat
mengiritasi – menyebabkan ulserasi pada lidah
ü Mengganggu
untuk menyusui
ü Gigi dengan
karies yang parah
ü Infeksi
periapikal – intraradikuler yang tidak dapat di sembuhkan kecuali pencabutan
ü Gigi yang
sudah waktunya tanggal
ü Gigi sulung
yang persistensi
ü Gigi sulung
yang impacted , menghalangi erupsi gigi tetap
ü Gigi dengan
ulkus decubitus
ü Supernumerary
teeth
3.
Kontraindikasi Pencabutan Gigi Anak
a)
Anak yang sedang menderita infeksi akut di mulutnya
Misalnya : - acute infection stomatitis
-
Herpetic stomatitis
Infeksi ini di sembuhkan dulu baru
di lakukan pencabutan.
b)
Blood diserasia atau kelainan pada darah
Di mana bisa mengakibatkan
terjadinya perdarahan, dan infeksi setelah pencabutan.Pencabutan dilakukan
setelah konsultasi dengan dokter ahli tentang penyakit darah.
c)
Persiapan Sebelum
Pencabutan pada Pasien Anak
ü Sebagian negara mempunyai hukum yang
mengharuskan izin tertulis dari orang tua (Informed Concent)
sebelum melakukan anastesi pada pasien anak.
ü Kunjungan untuk pencabutan sebaiknya
dilakukan pagi hari (saat anak masih aktif) dan dijadwalkan, sehingga
anak tidak menunggu terlalu lama karena anak cenderung menjadi lelah
menyebabkan anak tidak koperatif. Anak bertoleransi lebih baik terhadap
anastesi lokal setelah diberi makan ± 2 jam sebelum pencabutan.
ü Penjelasan lokal anastesi tergantung usia
pasien anak, teknik penanganan tingkah laku anak yang dapat dilakukan,
misalnya TSD modelling.
ü Instrumen yang akan dipakai,
sebaiknya jangan diletakkan di atas meja. Letakkan pada tempat yang tidak
terlihat oleh anak dan diambil saat akan digunakan. Jangan mengisi jarum
suntik di depan pasien, dapat menyebabkan rasa takut dan cemas.
ü Sebaiknya dikatakan kepada anak yang
sebenarnya bahwa akan ditusuk dengan jarum (disuntik) dan terasa sakit sedikit,
tidak boleh dibohongi.
ü Aspirasi dilakukan untuk mencegah
masuknya anastetikum dalam pembuluh darah, juga mencegah reaksi
toksis, alergi dan hipersensitifitas.
1.
Penambalan Gigi Susu / Gigi Permanen Muda
Gigi
susu atau gigi permanen muda yang mengalami kerusakan (gigi berlubang) sebaiknya segera ditambal.
Gigi berlubang yang dibiarkan akan terus-menerus rusak dan akhirnya harus
dicabut. Bila gigi susu rusak parah dan harus dicabut, tetapi gigi permanen
penggantinya belum waktunya tumbuh, maka ruangan bekas pencabutan gigi susu
tersebut, yang seharusnya ditempati oleh gigi permanen, akan
mengecil/menyempit, sehingga bila tiba waktunya gigi permanen tumbuh, gigi
tersebut akan kekurangan tempat. Bila yang rusak parah adalah gigi permanen
muda, dan harus dicabut, nantinya tidak akan ada lagi gigi yang tumbuh di
tempat itu, sehingga gigi tetangganya yang tersisa akan miring dan menjadi
tidak teratur. Oleh karena itu, gigi susu maupun gigi permanen muda yang
mengalami kerusakan harus segera ditambal, agar kerusakannya tidak semakin
parah.
a)
Bahan Tambal gigi
Ø Semen
Ionomer Kaca / Glass Ionomer Cement (GIC)
Adalah penambalan permanen sewarna
yang pengerasan bahan tambalnya tidak dilakukan dengan penyinaran (Self
Curing), kelebihan Mengandung fluor sehingga dapat mencegah terjadinya karies
dikemudian hari,kekurangan tambalan rentan pecah dan abrasi permukaan,
khususnya di daerah yang menerima tekanan kunyah, selain itu tampilan warna
tambalan masih terlihat sedikit berbeda dengan warna gigi yang asli. Dan
umumnya untuk anak-anak.
Penambalan dengan Glass Ionomer Cement
Gambar 1.2.
Gambar Penambalan
dengan Glass Ionomer Cement
Ø Resin
Komposit -Tambalan Sinar / Laser (Light Curing)
Penambalan gigi dengan bahan
komposite memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan bahan penambalan
jenis glass ionomer atau bahan jenis amalgam,keunggulannya yaitu tampilan
warna sangat mendekati dengan warna gigi asli sehingga didaptkan estetis yang
sangat baik,dan tentu kekuatan dan keawetannya juga baik,serta adaptasi yang
baik,dan sesaat setelah penambalan sudah bisa langsung digunakan untuk
pengunyahan.
b)
Perawatan Saluran Akar Gigi Susu / Gigi Permanen Muda
Perawatan
saluran akar gigi susu atau gigi permanen muda dilakukan pada gigi dengan
tingkat kerusakan mencapai ruangan pulpa, namun belum waktunya untuk dicabut
dan tidak cukup bila hanya dilakukan penambalan, sehingga untuk mempertahankan
gigi tersebut harus dilakukan perawatan saluran akar. Dengan dilakukannya
perawatan saluran akar pada gigi susu tersebut, diharapkan dapat mengurangi
kontak anak dengan obat-obatan pereda sakit (analgesik) akibat gigi yang rusak
tersebut sering menimbulkan rasa sakit. Selain itu, dengan dilakukannya
perawatan saluran akar dapat mempertahankan keberadaan gigi tersebut lebih
lama, sehingga dapat tetap memaksimalkan fungsi pengunyahan anak,
mempertahankan lengkung rahang anak, dan dapat menjadi petunjuk bagi gigi
permanen pengganti yang akan tumbuh nantinya.
2.
Preventive Dentistry pada Pasien Anak-Anak
1.
Topikal Aplikasi Fluor
Sebuah
perawatan dengan mengaplikasikan bahan yang mengandung fluoride pada seluruh
permukaan gigi susu atau gigi permanen muda yang masih sehat untuk membantu
melindungi gigi dan mencegah terjadinya lubang gigi (karies).
Setelah gigi dibersihkan dan dikeringkan
dengan semprotan udara, maka permukaan gigi dioles dengan larutan yang
dibiarkan mengering (selama 4 menit). Selain itu penderita selama satu jam
tidak boleh makan, minum dan berkumur-kumur. Aplikasi flour dengan cara ini
efektif dalam mengurangi frekuensi karies gigi sekitar 40%, bergantung pada
jumlah aplikasi, cara pengulasan, konsentrasi dan komposisilarutan.
2. Fissure Sealent
Gambar 1.4. Fissure Sealent
Sebuah
tindakan perawatan gigi pada anak dimana diaplikasikan bahan tambalan sealent
(flowable composite) di atas fissur gigi susu yang dalam untuk mencegah
kerusakan gigi akibat sisa makanan yang mudah tersangkut dan menjadi sulit
dibersihkan karena anatomi fissur gigi yang dalam.
3. Interseptive Orthodontic
Suatu
perawatan yang bertujuan menjaga lengkung rahang dan mengembalikan ruang yang
menyempit setelah dilakukannya pencabutan dini gigi susu (premature extraction)
dengan menggunakan alat yang dapat berupa alat lepasan, semi cekat, atau cekat
(brackets).
A. Peranan Dental Assistant dalam Tindakan Pedodontia
Topikal Aplikasi Fluoride Gel
|
OPERATOR |
DENTAS ASSISTANT |
|
1. Membersihkan semua permukaan gigi dari debris dengan pasta gigi |
Membantu FHD |
|
|
Pembuatan informed conscent untuk tindakan Topikal
Aplikasi Fluoride Gel |
|
|
Mempersiapkan alat & bahan untuk membersihkan
permukaan gigi |
|
|
Melakukan isolasi area kerja untuk tindakan Topikal
Aplikasi Fluoride Gel |
|
|
Mengaduk pasta gigi, pumice dan air di deppen disk
kemudian menyerahkan kepada operator untuk membersihkan semua permukaan gigi
dari debris |
|
2. Memasukkan sendok cetak berisi fluoride gel ke dalam mulut pasien |
Memilih sendok cetak |
|
|
Mengisi sendok cetak dengan fluoride gel kemudian menyerahkan
kepada operator dan membantu operator memasukkan sendok cetak ke dalam mulut
pasien |
|
|
Menerima sendok cetak yang sudah dipakai untuk
kemudian di buang fluoride gelnya |
|
|
Melepaskan isolasi area kerja |
|
|
Melakukan komunikasi terapeutik berupa pemberian
instruksi pasca perawatan kepada pasien |
Alat
& Bahan:
|
ALAT |
OBAT & BAHAN |
|
Kaca mulut |
Larutan fluoride |
|
Pinset |
Cotton roll & cotton palate |
|
Sendok pumis |
Alcohol |
|
Aplikator tip |
Pumis |
|
Tongue holder |
Brush |
Fissure Sealant
|
OPERATOR |
DENTAS ASSISTANT |
|
1. Melakukan pembersihan permukaan oklusal dengan brush |
Pembuatan informed conscent untuk tindakan Fissure
Sealant |
|
|
Melakukan isolasi area kerja |
|
|
Menyerahkan contra angel handpiece (low speed)
dengan brush terpasang kepada operator |
|
|
Melakukan isolasi area kerja |
|
2. Mengoleskan kapas yang sudah diberi dentin conditioner pada fissure
gigi yang bersangkutan |
Menyerahkan cotton palate yang sudah diberi dentin
conditioner kepada operator |
|
3. Mengaplikasikan adukan powder & liquid GIC di atas fissure gigi
yang bersangkutan |
Mengaduk powder & liquid GIC dengan konsistensi
sesuai aturan lalu mengambil hasil adukan dengan sonde kemuadian
mentransferkan ke operator |
|
4. Mengoleskan cotton palate yang sudah diberi varnish/vaselin di
permukaan sealant |
Mentransfer cotton palate yang sudah di beri varnish
dengan pinset kepada operator |
|
|
Melepaskan isolasi area kerja |
|
|
Melakukan komunikasi terapeutik berupa pemberian
instruksi pasca perawatan kepada pasien |
Alat & Bahan:
|
ALAT |
OBAT & BAHAN |
|
Kaca mulut |
Handschoen |
|
Pinset |
Powder & Liquid GIC |
|
PFI (Plastis Filing Instrument) |
Varnish |
|
Agate spatle |
Cotton roll & cotton palate |
|
Sendok pumis |
Alcohol |
|
Sendok powder GIC |
Pumis |
|
Tongue holder |
Pasta gigi |
|
Paper pad |
|
|
Brush |
|
B. Persiapan Dental Asisten Dalam Melakukan Perawatan Pedodontia
1.
Menyalakan kompresor dan dental chair
2.
Menyiakan alat-alat dan bahan yang akan diunakan untuk
perawatan
3.
Mempersilahkan pasien duduk dan membuka table dental chair
4.
Memposisikan table senyaman mungkin dengan operator dan
pasien
5.
Mencuci tangan sesudah dan setelah perawatan
6.
Memakai APD lengkap
7.
Mempersilahkan pasien kumur sebelum diperiksa dokter
8.
Membantu dokter pada saat perawatan berlangsung
9.
Melakukan saction ke rongga mulut pasien
10. Setelah selesai perawatan, membuka
table dental chair
11. Memberikan pesan kepada pasien dan
orangtua serta mengantarkan pasien keluar dari ruangan
C. Langkah-Langkah yang Dilakukan Anak dalam Merawat Gigi
1.
Gosok gigi minimal 2 kali sehari. Waktu terbaik untuk menggosok
gigi adalah setelah makan dan sebelum tidur. Menggosok gigi setelah makan
bertujuan mengangkat sisa-sisa makanan yang menempel di permukaan ataupun di
sela-sela gigi dan gusi. Sedangkan menggosok gigi sebelum tidur berguna untuk
menahan perkembangbiakan bakteri dalam mulut karena dalam keadaan tidur tidak
diproduksi ludah yang berfungsi membersihkan gigi dan mulut secara alami.
2.
Ganti sikat gigi 3-4 bulan sekali. Pilih sikat gigi yang
bulunya lembut dengan kepala sikat yang dapat menjangkau semua bagian gigi.
Untuk anak, pilih sikat gigi yang
ukurannya kecil dengan tangkai yang mudah di genggam. Bulu halus tapi kuat.
Bagian ujung kepala sikat menyempit agar mudah menjangkau bagian dalam. Anak
1-5 tahun bisa memakai sikat dengan 3 deret bulu. Di usia 6 tahun ke atas
(periode gigi geligi bercampur), selain sikat dengan 3 deret bulu dapat pula
dipakai sikat dengan 4 deret bulu. Jangan lupa sikat lidah, yang merupakan
tempat berkumpulnya bakteri yang dapat menyebabkan bau mulut.
3.
Pemberian pasta gigi untuk balita tidak dianjurkan.
Menggosok gigi balita sebaiknya tidak menggunakan pasta gigi namun cukup
digosok dan diberi minum air (air matang) karena balita belum bisa berkumur
sehingga kurang tepat kalau diberikan pasta gigi. Untuk anak usia 3 tahun
keatas sebaiknya dianjurkan berkumur pada saat menggosok gigi, diberikan pasta
gigi kira-kira 0,5 cm atau sebesar biji kacang polong, usahakan berkumur
menggunakan air yang sudah masak karena anakbelum begitu mahir berkumur yang
dikhawatirkan anak menelan air dan pasta gigi. Terlalu banyak menelan pasta
gigi yang mengandung flour akan mengganggu perkembangan gigi anak.
4.
Benang gigi, pengunaan benang gigi sekali sehari dianjurkan
untuk mengangkat plak yang tidak dapat disentuh sikat gigi dan obat kumur.
5.
Permen karet tanpa gula, mengunyah permen karet tanpa gula
dapat meningkatkan aliran air liur yang dapat membersihkan partikel makanan dan
asam penyebab kerusakan gigi.
6.
Hindari makanan yang banyak mengandung gula dan manis,
seperti sirup, permen, dan cokelat.
7.
Minum air setelah makan.
8.
Biasakanlah untuk makan buah-buahan segar. Selain baik untuk
kesehatan, seratnya dapat membantu menghilangkan kotoran yang ada di gigi.
9.
Makanlah makanan yang seimbang dan kaya kalsium, seperti
susu, keju, telur, teri, bayam, katuk, sawi, dan agar-agar.
10. Memperkenalkan anak dengan gelas
setelah ASI, bukan botol susu.
11. Pemeriksaan gigi
secara teratur.
Perawatan gigi anak sehari-hari harus dibarengi dengan pemeriksaan gigi anak
secara teratur. Perhatikan apakah pada gigi anak muncul plak berwarna coklat
atau hitam, dan bawalah anak ke dokter gigi bila Anda menemukan hal ini. Bila
tidak ada masalah pada gigi, bawa anak Anda ke dokter gigi minimal 1 tahun
sekali untuk pengecekan rutin.
12. Hindari transfer
bakteri dari orang tua. Banyak kerusakan gigi anak yang diakibatkan karena
transfer bakteri dari orang tua yang memiliki karies. Untuk menghindarinya,
hindari penggunaan mug dan peralatan makan yang sama ketika makan. Jangan
menjilat atau mengulum dot anak untuk membersihkannya.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pedodontik atau perawatan gigi pada
anak merupakan hal yang sering diabaikan oleh orangtua, utamanya pada periode
gigi susu. Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya
perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kebersihan gigi dan mulut anak
diantaranya adalah pentingnya memeriksakan gigi dan mulut yang dilakukan
minimal 1kali 6 bulan (Sukmono,2003).
Menjalin komunikasi yang efektif
dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak pada saat kunjungan pertama anak
dapat membantu mempermudah proses pelayanan kesehatan gigi yang akan diberikan
kepada anak. Peran kooperatif dari orang tua dapat juga mempermudah dalam
tindakan perawatan kesehatan gigi.
Masalah-masalah kesehatan gigi yang
sering terjadi pada anak seperti, karies, gigi lahir premature, dan gangguan
pada jaringan penyangga gigi dapat menghambat tumbuh kembang anak, oleh sebab
itu perlu adanya peran aktif anak dalam mencegah dan tetap menjaga kebersihan
mulut. Tentu saja juga terdapat peran dari petugas pelayanan kesehatan gigi khusunya
perawat gigi dalam tindakan promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitative.
B.
Saran
1.
Bagi Mahasiswa
Lebih memperdalam pengetahuan
tentang pedodontia agar terciptanya kerja yang profesional di dalam pelayanan
kesehatan gigi nanti.
2.
Bagi Orang Tua
Orang tua harus mengetahui bagaimana
cara dalam merawat gigi anak agar dapat membantu anak dalam mencegah terjadinya
kerusakan gigi pada anak.
0 comments:
Post a Comment