BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes
Mellitus (DM) merupakan kategori penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi
masalah kesehatan masyarakat, baik secara global, regional, nasional maupun
lokal. Salah satu jenis penyakit metabolik yang selalu mengalami peningkatan
penderita setiap tahun di negara-negara seluruh dunia. Diabetes merupakan
serangkaian gangguan metabolik menahun akibat pankreas tidak memproduksi cukup
insulin, sehingga menyebabkan kekurangan insulin baik absolut maupun relatif,
akibatnya terjadi peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah (Infodatin, 2014;
Sarwono, dkk, 2007).
Hipertensi
adalah keadaan di mana tekanan darah mengalami peningkatan yang memberikan
gejala berlanjut pada suatu organ target di tubuh. Hal ini dapat menimbulkan
kerusakan yang lebih berat, misalnya stroke (terjadi pada otak dan menyebabkan
kematian yang cukup tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi kerusakan
pembuluh darah jantung), dan hipertrofi ventrikel kiri (terjadi pada otot
jantung).
Hipertensi
juga dapat menyebabkan penyakit gagal ginjal, penyakit pembuluh lain dan
penyakit lainnya (Syahrini et al., 2012). Umumnya penyakit hipertensi terjadi
pada orang yang sudah berusia lebih dari 40 tahun. Penyakit ini biasanya tidak
menunjukkan gejala yang nyata dan pada stadium awal belum menimbulkan gangguan
yang serius pada kesehatan penderitanya (Gunawan, 2012). Hal ini serupa seperti
yang dikemukakan oleh Yogiantoro (2006), hipertensi tidak mempunyai gejala
khusus sehingga sering tidak disadari oleh penderitanya.
Tuberculosis
paru (TB paru) merupakan salah satu penyakit infeksi yang prevalensinya paling
tinggi di dunia. Berdasarkan laporan World Health Organitation (WHO, 2012)
sepertiga populasi dunia yaitu sekitar dua milyar penduduk terinfeksi
Mycobacterium Tuberculosis. Lebih dari 8 juta populasi terkena TB aktif setiap
tahunnya dan sekitar 2 juta meninggal. Lebih dari 90% kasus TB dan kematian
berasal dari negara berkembang salah satunya Indonesia (Depkes RI, 2012)
Menurut World Health Organization sejak tahun 2010 hingga Maret 2011, di Indonesia
tercatat 430.000 penderita TB paru dengan korban meninggal sejumlah 61.000.
Jumlah ini lebih kecil dibandingkan kejadian tahun 2009 yang mencapai 528.063
penderita TB paru dengan 91.369 orang meninggal (WHO Tuberculosis Profile,
2012).
Penyakit
jantung koroner termasuk ke dalam kelompok penyakit kardiovaskuler, dimana
penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama kematian di negara dengan
pendapatan rendah dan menengah seperti Indonesia (Delima, Mihardja dan Siswoyo,
2009). Menurut World Health Organization (WHO) (2013) kematian akibat penyakit
kardiovaskuler mencapai 17,1 juta orang per tahun. Penyakit kardiovaskuar
diantaranya penyakit jantung koroner dan stoke menjadi urutan pertama dalam
daftar penyakit kronis di dunia. Di Indonesia sendiri prevalensi penyakit
jantung koroner berdasarkan wawancara terdiagnosis oleh dokter sebesar 0,5%
sedangkan berdasarkan terdiagnosis atau gejala sebesar 1,5% (Riskesdas, 2013).
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu penyakit
Diabetes (DM) dan bagaimana mendiagnosa penyakit DM?
2. Seperti apakah
penyakit Hipertensi dan bagaimana penanganan dalam mendiagnosa penyakit
hipertensi?
3. Bagaimana gejala
penyakit TBC dan bagaimana penanganannya untuk mendiagnosa penyakit TBC?
4. Seperti apa penyakit
jantung dan bagaimana cara pencegahannya?
C. Tujuan
1. Membahas tentang
gejala penyakit DM dan bagaimana cara mendiagnosa penyakit DM
2. Membahas penyakit
hipertensi dan bagaimana mendiagnosanya
3. Mempelajari gejala
penyakit TBC dan mendiagnosa penyakit TBC
4. Membahas tentang
penyakit Jantung dan bagaimana cara mecegah penyakit jantung
BAB II
PEMBAHASAN
PENYAKIT SISTEMATIK
DM, HIPERTENSI, TBC,
DAN JANTUNG
A.
Diabetes (DM)
Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan ciri-ciri
berupa tingginya kadar gula (glukosa) darah. Glukosa merupakan sumber
energi utama bagi sel tubuh manusia.
Glukosa yang menumpuk di dalam darah
akibat tidak diserap sel tubuh dengan baik dapat menimbulkan
berbagai gangguan organ tubuh. Jika diabetes tidak dikontrol dengan baik,
dapat timbul berbagai komplikasi yang membahayakan nyawa penderita.
Kadar gula dalam darah dikendalikan
oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas, yaitu organ yang terletak di
belakang lambung. Pada penderita diabetes, pankreas tidak mampu memproduksi
insulin sesuai kebutuhan tubuh. Tanpa insulin, sel-sel tubuh tidak dapat
menyerap dan mengolah glukosa menjadi energi.
1.
Jenis-Jenis
Diabetes
Secara umum, diabetes dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1
terjadi karena sistem kekebalan tubuh penderita menyerang dan menghancurkan
sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Hal ini mengakibatkan peningkatan
kadar glukosa darah, sehingga terjadi kerusakan pada organ-organ tubuh.
Diabetes tipe 1 dikenal juga dengan diabetes autoimun. Pemicu timbulnya keadaan
autoimun ini masih belum diketahui dengan pasti. Dugaan paling kuat adalah
disebabkan oleh faktor genetik dari penderita yang dipengaruhi juga oleh faktor
lingkungan.
Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang
lebih sering terjadi. Diabetes jenis ini disebabkan oleh sel-sel tubuh yang
menjadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga insulin yang dihasilkan
tidak dapat dipergunakan dengan baik (resistensi sel tubuh terhadap insulin).
Sekitar 90-95% persen penderita diabetes di dunia menderita diabetes tipe ini.
Selain kedua jenis diabetes tersebut,
terdapat jenis diabetes khusus pada ibu hamil yang dinamakan diabetes gestasional. Diabetes pada kehamilan disebabkan oleh perubahan hormon, dan gula
darah akan kembali normal setelah ibu hamil menjalani persalinan.
2.
Gejala Diabetes
Diabetes tipe 1 dapat berkembang
dengan cepat dalam beberapa minggu, bahkan beberapa hari saja. Sedangkan pada
diabetes tipe 2, banyak penderitanya yang tidak menyadari bahwa mereka telah
menderita diabetes selama bertahun-tahun, karena gejalanya cenderung tidak
spesifik. Beberapa ciri-ciri diabetes tipe 1 dan tipe 2 meliputi:
1.
Sering merasa haus.
2.
Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
3.
Sering merasa sangat lapar.
4.
Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas.
5.
Berkurangnya massa otot.
6.
Terdapat keton dalam urine. Keton adalah produk sisa dari pemecahan otot
dan lemak akibat tubuh tidak dapat menggunakan gula sebagai sumber energi.
7.
Lemas.
8.
Pandangan kabur.
9.
Luka yang sulit sembuh.
10. Sering mengalami infeksi,
misalnya pada gusi, kulit, vagina, atau saluran kemih.
Beberapa gejala lain juga bisa menjadi
ciri-ciri bahwa seseorang mengalami diabetes, antara lain:
1.
Mulut kering.
2.
Rasa terbakar, kaku, dan nyeri pada kaki.
3.
Gatal-gatal.
4.
Disfungsi ereksi atau impotensi.
5.
Mudah tersinggung.
6.
Mengalami hipoglikemia reaktif, yaitu hipoglikemia yang terjadi beberapa jam setelah
makan akibat produksi insulin yang berlebihan.
7.
Munculnya bercak-bercak hitam di sekitar leher, ketiak, dan
selangkangan, (akantosis
nigrikans) sebagai
tanda terjadinya resistensi insulin.
Beberapa orang dapat mengalami kondisi
prediabetes, yaitu kondisi ketika glukosa dalam darah di atas normal, namun
tidak cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes. Seseorang yang menderita
prediabetes dapat menderita diabetes tipe 2 jika tidak ditangani dengan baik.
3.
Faktor
Risiko Diabetes
Seseorang akan lebih mudah mengalami
diabetes tipe 1 jika memiliki faktor-faktor risiko, seperti:
1.
Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1.
2.
Menderita infeksi virus.
3.
Orang berkulit putih diduga lebih mudah mengalami diabetes tipe 1
dibandingkan ras lain.
4.
Bepergian ke daerah yang jauh dari khatulistiwa (ekuator).
5.
Diabetes tipe 1 banyak terjadi pada usia 4-7 tahun dan 10-14 tahun,
walaupun diabetes tipe 1 dapat muncul pada usia berapapun.
Sedangkan pada kasus diabetes tipe 2,
seseorang akan lebih mudah mengalami kondisi ini jika memiliki faktor-faktor
risiko, seperti:
1.
Kelebihan berat badan.
2.
Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2.
3.
Kurang aktif. Aktivitas fisik membantu mengontrol berat badan, membakar
glukosa sebagai energi, dan membuat sel tubuh lebih sensitif terhadap insulin.
Kurang aktif beraktivitas fisik menyebabkan seseorang lebih mudah terkena
diabetes tipe 2.
4.
Usia. Risiko terjadinya diabetes tipe 2 akan meningkat seiring
bertambahnya usia.
5.
Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi).
6.
Memiliki kadar kolesterol dan trigliserida abnormal. Seseorang yang
memiliki kadar kolesterol baik atau HDL (high-density lipoportein) yang rendah
dan kadar trigliserida yang tinggi lebih berisiko mengalami diabetes tipe 2.
Khusus pada wanita, ibu hamil yang
menderita diabetes gestasional dapat lebih mudah mengalami diabetes tipe 2.
Selain itu, wanita yang memiliki riwayat penyakit polycystic ovarian syndrome
(PCOS) juga
lebih mudah mengalami diabetes tipe 2.
4.
Diagnosis Diabetes
Gejala diabetes biasanya berkembang
secara bertahap, kecuali diabetes tipe 1 yang gejalanya dapat muncul secara
tiba-tiba. Dikarenakan diabetes seringkali tidak terdiagnosis pada awal
kemunculannya, maka orang-orang yang berisiko terkena penyakit ini dianjurkan
menjalani pemeriksaan rutin. Di antaranya adalah:
ü Orang yang berusia di atas
45 tahun.
ü
Wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional saat hamil.
ü
Orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) di atas 25.
ü
Orang yang sudah didiagnosis menderita prediabetes.
Tes gula darah merupakan pemeriksaan
yang mutlak akan dilakukan untuk mendiagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2. Hasil
pengukuran gula darah akan menunjukkan apakah seseorang menderita diabetes atau
tidak. Dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani tes gula darah pada
waktu dan dengan metode tertentu. Metode tes gula darah yang dapat
dijalani oleh pasien, antara lain:
5.
Tes Gula
Darah Sewaktu
Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar
glukosa darah pada jam tertentu secara acak. Tes ini tidak memerlukan pasien
untuk berpuasa terlebih dahulu. Jika hasil tes gula darah sewaktu menunjukkan
kadar gula 200 mg/dL atau lebih, pasien dapat didiagnosis menderita diabetes.
6.
Tes Gula Darah Puasa
Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar
glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Pasien akan diminta berpuasa terlebih
dahulu selama 8 jam, kemudian menjalani pengambilan sampel darah untuk diukur
kadar gula darahnya. Hasil tes gula darah puasa yang menunjukkan kadar gula
darah kurang dari 100 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes gula
darah puasa di antara 100-125 mg/dL menunjukkan pasien menderita prediabetes.
Sedangkan hasil tes gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien
menderita diabetes.
7.
Tes Toleransi Glukosa
Tes ini dilakukan dengan meminta
pasien untuk berpuasa selama semalam terlebih dahulu. Pasien kemudian akan
menjalani pengukuran tes gula darah puasa. Setelah tes tersebut dilakukan,
pasien akan diminta meminum larutan gula khusus. Kemudian sampel gula darah
akan diambil kembali setelah 2 jam minum larutan gula. Hasil tes toleransi
glukosa di bawah 140 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes tes
toleransi glukosa dengan kadar gula antara 140-199 mg/dL menunjukkan kondisi
prediabetes. Hasil tes toleransi glukosa dengan kadar gula 200 mg/dL atau lebih
menunjukkan pasien menderita diabetes.
8.
Tes HbA1C (glycated haemoglobin test)
Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar
glukosa rata-rata pasien selama 2-3 bulan ke belakang. Tes ini akan mengukur
kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi
membawa oksigen dalam darah. Dalam tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa
terlebih dahulu. Hasil tes HbA1C di bawah 5,7 % merupakan kondisi normal. Hasil
tes HbA1C di antara 5,7-6,4% menunjukkan pasien mengalami kondisi prediabetes.
Hasil tes HbA1C di atas 6,5% menunjukkan pasien menderita diabetes.
Hasil dari tes gula darah akan
diperiksa oleh dokter dan diinformasikan kepada pasien. Jika pasien didiagnosis
menderita diabetes, dokter akan merencanakan langkah-langkah pengobatan yang
akan dijalani. Khusus bagi pasien yang dicurigai menderita diabetes tipe 1,
dokter akan merekomendasikan tes autoantibodi untuk memastikan apakah pasien
memiliki antibodi yang merusak jaringan tubuh, termasuk pankreas.
9.
Pengobatan Diabetes
Pasien diabetes diharuskan untuk
mengatur pola makan dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein dari biji-bijian,
serta makanan rendah kalori dan lemak. Pasien diabetes dan keluarganya dapat
berkonsultasi dengan dokter atau dokter gizi untuk mengatur pola makan
sehari-hari.
Untuk membantu mengubah gula darah
menjadi energi dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin, pasien
diabetes dianjurkan untuk berolahraga secara rutin, setidaknya 10-30 menit tiap
hari. Pasien dapat berkonsultasi dengan dokter untuk memilih olahraga dan
aktivitas fisik yang sesuai.
Pada diabetes tipe 1, pasien akan
membutuhkan terapi insulin untuk mengatur gula darah
sehari-hari. Selain itu, beberapa pasien diabetes tipe 2 juga disarankan untuk
menjalani terapi insulin untuk mengatur gula darah. Insulin tambahan tersebut
akan diberikan melalui suntikan, bukan dalam bentuk obat minum. Dokter akan
mengatur jenis dan dosis insulin yang digunakan, serta memberitahu cara
menyuntiknya.
Pada kasus diabetes tipe 1 yang berat,
dokter dapat merekomendasikan operasi pencangkokan (transplantasi) pankreas
untuk mengganti pankreas yang mengalami kerusakan. Pasien diabetes tipe 1 yang
berhasil menjalani operasi tersebut tidak lagi memerlukan terapi insulin, namun
harus mengonsumsi obat
imunosupresif secara
rutin.
Pada pasien diabetes tipe 2, dokter
akan meresepkan obat-obatan, salah satunya adalah metformin, obat minum yang berfungsi untuk
menurunkan produksi glukosa dari hati. Selain itu, obat diabetes lain yang
bekerja dengan cara menjaga kadar glukosa dalam darah agar tidak terlalu tinggi
setelah pasien makan, juga dapat diberikan.
Pasien diabetes harus mengontrol gula
darahnya secara disiplin melalui pola makan sehat agar gula darah tidak
mengalami kenaikan hingga di atas normal. Selain mengontrol kadar glukosa,
pasien dengan kondisi ini juga akan diaturkan jadwal untuk menjalani tes HbA1C
guna memantau kadar gula darah selama 2-3 bulan terakhir.
10.
Komplikasi Diabetes
Sejumlah komplikasi yang dapat muncul akibat diabetes tipe 1
dan 2 adalah:
·
Stroke
·
Gagal ginjal kronis
·
Gangguan penglihatan
·
Depresi
·
Demensia
·
Gangguan pendengaran
1.
Luka dan infeksi pada kaki yang sulit sembuh
2.
Kerusakan kulit akibat infeksi bakteri dan jamur
Diabetes akibat kehamilan dapat
menimbulkan komplikasi pada ibu hamil dan bayi. Contoh komplikasi pada ibu
hamil adalah preeklamsia. Sedangkan contoh komplikasi yang
dapat muncul pada bayi adalah:
·
Kelebihan berat badan saat lahir.
·
Gula darah rendah (hipoglikemia).
·
Keguguran.
·
Meningkatnya risiko menderita diabetes tipe 2 pada saat bayi sudah
menjadi dewasa.
11.
Pencegahan Diabetes
Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah
karena pemicunya belum diketahui. Sedangkan, diabetes tipe 2 dan diabetes
gestasional dapat dicegah, yaitu dengan pola hidup sehat. Beberapa hal yang
dapat dilakukan untuk mencegah diabetes, di antaranya adalah:
·
Mengatur frekuensi dan menu makanan menjadi lebih sehat
·
Rutin berolahraga
·
Rutin menjalani pengecekan gula darah, setidaknya sekali dalam setahun
B. Pengertian Hipertensi
Hipertensi adalah nama lain dari tekanan darah
tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang parah dan
meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan terkadang kematian.
Tekanan darah adalah kekuatan yang
diberikan oleh sirkulasi darah terhadap dinding arteri tubuh, yaitu pembuluh darah utama
dalam tubuh. Tekanan ini tergantung pada resistensi pembuluh darah dan seberapa
keras jantung bekerja. Semakin banyak darah yang dipompa jantung dan semakin
sempit arteri, maka semakin tinggi tekanan darah.
Hipertensi dapat diketahui dengan cara
rajin memeriksakan tekanan darah. Untuk orang dewasa minimal memeriksakan darah
setiap lima tahun sekali.
Hasil tekanan darah ditulis dalam dua
angka. Angka pertama (sistolik) mewakili tekanan dalam pembuluh darah ketika
jantung berkontraksi atau berdetak. Angka kedua (diastolik) mewakili tekanan di
dalam pembuluh darah ketika jantung beristirahat di antara detak jantung.
Seseorang bisa dikatakan mengalami
hipertensi bila ketika diukur pada dua hari yang berbeda, pembacaan tekanan
darah sistolik pada kedua hari adalah lebih besar dari 140 mmHg dan / atau
pembacaan tekanan darah diastolik pada kedua hari adalah lebih besar dari 90
mmHg.
1.
Faktor Risiko Hipertensi
Seiring bertambahnya usia, kemungkinan mengidap hipertensi akan
meningkat. Berikut ini faktor-faktor pemicu yang dapat memengaruhi peningkatan
risiko hipertensi:
a)
Berusia
di atas 65 tahun.
b)
Mengonsumsi
banyak garam.
c)
Kelebihan
berat badan.
d)
Memiliki
keluarga dengan hipertensi.
e)
Kurang
makan buah dan sayuran.
f)
Jarang
berolahraga.
g)
Minum
terlalu banyak kopi (atau minuman lain yang mengandung kafein).
h)
Terlalu
banyak mengonsumsi minuman keras.
Risiko hipertensi dapat
dicegah dengan mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang baik dan mengubah
gaya hidup menjadi lebih sehat.
2.
Penyebab Hipertensi
Ada dua jenis tekanan darah
tinggi, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Berikut penyebab
masing-masing kedua jenis hipertensi tersebut:
a)
Hipertensi
Primer
Pada kebanyakan orang dewasa
penyebab tekanan darah tinggi ini seringkali tidak diketahui. Hipertensi primer
cenderung berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun.
b)
Hipertensi
Sekunder
Beberapa orang memiliki
tekanan darah tinggi karena memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya.
Hipertensi sekunder cenderung muncul tiba-tiba dan menyebabkan tekanan darah
lebih tinggi daripada hipertensi primer.
Berbagai kondisi dan
obat-obatan yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder, antara lain:
a)
Obstruktif
sleep apnea (OSA).
b)
Masalah
ginjal.
c)
Tumor
kelenjar adrenal.
d)
Masalah
tiroid.
e)
Cacat
bawaan di pembuluh darah.
f)
Obat-obatan,
seperti pil KB, obat flu, dekongestan, obat penghilang rasa sakit yang dijual
bebas.
g)
Obat-obatan
terlatang, seperti kokain dan amfetamin.
3.
Gejala Hipertensi
Seseorang yang mengidap
hipertensi akan merasakan beberapa gejala yang timbul. Gejala yang muncul
akibat hipertensi, antara lain:
·
Sakit kepala.
·
Lemas.
·
Masalah
dalam penglihatan.
·
Nyeri
dada.
·
Sesak
napas.
·
Aritmia.
·
Adanya
darah dalam urine.
4.
Diagnosis Hipertensi
Untuk mengukur tekanan darah,
dokter atau tenaga ahli biasanya akan memakaikan manset lengan tiup di sekitar
lengan dan mengukur tekanan darah dengan menggunakan alat pengukur
tekanan.
Hasil pengukuran tekanan darah
dibagi menjadi empat kategori umum:
·
Tekanan
darah normal, yaitu di bawah 120/80 mmHg.
·
Tekanan
darah tinggi, bila tekanan sistolik berada di kisaran 120-129 mmHg dan tekanan
diastolik berada di bawah 80 mmHg.
·
Hipertensi
stadium 1, bila tekanan sistolik berada di kisaran 130-139 mmHg dan tekanan
diastolik berkisar antara 80-89 mmHg.
·
Hipertensi
stadium 2. Ini adalah kondisi hipertensi yang lebih parah. Hipertensi tahap 2
adalah ketika tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih tinggi atau tekanan
diastolik 90 mmHg atau lebih tinggi.
5.
Pengobatan Hipertensi
Bagi sebagian pengidap
hipertensi, konsumsi obat harus dilakukan seumur hidup untuk mengatur tekanan
darah. Namun, jika tekanan darah pengidap sudah terkendali melalui perubahan
gaya hidup, penurunan dosis obat atau konsumsinya dapat dihentikan. Dosis yang
sudah ditentukan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, karena
takarannya disesuaikan dengan tingkat tekanan darah. Selain itu, obat yang
diberikan juga harus diperhatikan apa saja dampak dan efek samping yang timbul
pada tubuh sang pengidap.
Obat-obatan yang umumnya
diberikan kepada para pengidap hipertensi, antara lain:
·
Obat
untuk membuang kelebihan garam dan cairan di tubuh melalui urine. Hipertensi
membuat pengidapnya rentan terhadap kadar garam tinggi dalam tubuh, untuk itu
penggunaan obat ini dibutuhkan sebagai bagian dari pengobatan.
·
Obat
untuk melebarkan pembuluh darah, sehingga tekanan darah bisa turun. Hipertensi
membuat pengidapnya rentan untuk mengalami sumbatan pada pembuluh darah.
·
Obat
yang bekerja untuk memperlambat detak jantung dan melebarkan pembuluh. Tujuan
penggunaan obat ini adalah untuk menurunkan tekanan darah pengidap
hipertensi.
·
Obat
penurun tekanan darah yang berfungsi untuk membuat dinding pembuluh darah lebih
rileks.
·
Obat
penghambat renin yang memliiki fungsi utama obat untuk menghambat kerja enzim
yang berfungsi untuk menaikan tekanan darah dan dihasilkan oleh ginjal. Jika
renin bekerja berlebihan, tekanan darah akan naik tidak terkendali.
Selain konsumsi obat-obatan,
pengobatan hipertensi juga bisa dilakukan melalui terapi relaksasi, misalnya
terapi meditasi atau terapi yoga. Terapi tersebut bertujuan untuk mengendalikan
stres dan memberikan dampak relaksasi bagi pengidap hipertensi. Pengobatan
terhadap hipertensi juga tidak akan berjalan lancar jika tidak disertai dengan
perubahan gaya hidup. Menjalani pola makan dan hidup sehat, serta menghindari
konsumsi kafein dan garam yang berlebihan juga harus dilakukan.
6.
Pencegahan Hipertensi
Terdapat berbagai langkah
pencegahan yang bisa dilakukan terhadap penyakit hipertensi, antara lain:
·
Mengonsumsi
makanan sehat.
·
Mengurangi
konsumsi garam jangan sampai berlebihan.
·
Mengurangi
konsumsi kafein yang berlebihan seperti teh dan kopi.
·
Berolahraga
secara teratur.
·
Menurunkan
berat badan, jika diperlukan.
·
Mengurangi
konsumsi minuman beralkohol.
·
Menghindari
konsumsi minuman bersoda.
C.
TBC
(Tuberkulosis)
TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan TB adalah penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium
tuberculosis. TBC
akan menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama
(lebih dari 3 minggu), biasanya berdahak, dan terkadang mengeluarkan darah.
Kuman TBC tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa
menyerang tulang, usus, atau kelenjar. Penyakit ini ditularkan dari percikan
ludah yang keluar penderita TBC, ketika berbicara, batuk, atau bersin. Penyakit
ini lebih rentan terkena pada seseorang yang kekebalan tubuhnya rendah,
misalnya penderita HIV.
1.
Gejala Tuberkulosis
Selain menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung
lama, penderita TBC juga akan merasakan beberapa gejala lain, seperti:
·
Demam
·
Lemas
·
Berat badan turun
·
Tidak nafsu makan
·
Nyeri dada
2.
Pengobatan
Tuberkulosis
TBC dapat dideteksi melalui pemeriksaan dahak. Beberapa
tes lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi penyakit menular ini adalah foto
Rontgen dada, tes darah, atau tes kulit (Mantoux).
TBC dapat disembuhkan jika penderitanya patuh mengonsumsi
obat sesuai dengan resep dokter. Untuk mengatasi penyakit ini, penderita perlu
minum beberapa jenis obat untuk waktu yang cukup lama (minimal 6 bulan). Obat
itu umumnya berupa:
·
Isoniazid
·
Rifampicin
·
Pyrazinamide
·
Ethambutol
Pengobatan penyakit TBC membutuhkan waktu yang cukup lama
dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, memiliki asuransi kesehatan bisa menjadi pertimbangan, sehingga Anda tidak
perlu dipusingkan dengan tanggungan biaya saat berobat nanti.
3.
Pencegahan
Tuberkulosis
TBC dapat dicegah dengan pemberian vaksin, yang
disarankan dilakukan sebelum bayi berusia 2 bulan. Selain itu, pencegahan juga
dapat dilakukan dengan cara:
·
Mengenakan masker saat berada di tempat ramai.
·
Tutupi mulut saat bersin, batuk, dan tertawa.
·
Tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.
4.
Gejala
TBC (Tuberkulosis)
Gejala-gejala TBC (tuberkulosis) yang muncul dapat
berupa:
·
Batuk yang berlangsung lama (3 minggu atau lebih), biasanya berdahak.
·
Berkeringat pada malam hari.
·
Penurunan berat badan.
·
Demam dan menggigil.
·
Lemas.
·
Nyeri dada saat bernapas atau batuk.
·
Tidak nafsu makan.
·
Lemas.
Tidak semua kuman TBC yang masuk ke paru-paru langsung
menimbulkan gejala. Kuman TBC bisa saja hanya bersembunyi sampai suatu hari
berubah menjadi aktif dan menimbulkan gejala. Kondisi ini dikenal sebagai TBC
laten. Selain tidak menimbulkan gejala, TBC laten juga tidak menular.
Selain menyerang paru-paru, kuman TBC juga dapat
menyerang organ lainnya, seperti ginjal, usus, otak, atau TBC kelenjar.
Penyakit TBC pada organ selain paru-paru sering terjadi pada orang dengan
kekebalan tubuh rendah, misalnya penderita AIDS.
Berikut ini adalah contoh gejala yang muncul akibat
penyakit TBC di luar paru-paru, menurut organ yang terkena:
·
Pembengkakan kelenjar getah bening bila terkena TBC kelenjar.
·
Kencing berdarah pada TBC ginjal.
·
Nyeri punggung pada TBC tulang
belakang.
·
Sakit perut jika mengalami TBC usus.
·
Sakit kepala dan kejang bila terkena TBC di otak.
5.
Penyebab Tuberkulosis TBC (TuberkulosiS)
TBC (tuberkulosis) disebabkan oleh infeksi kuman dengan
nama yang sama, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Kuman atau
bakteri ini menyebar di udara melalui percikan ludah penderita, misalnya saat
berbicara, batuk, atau bersin. Meski demikian, penularan TBC membutuhkan kontak
yang cukup dekat dan cukup lama dengan penderita, tidak semudah
penyebaran flu.
Makin lama seseorang berinteraksi dengan penderita TBC,
semakin tinggi risiko untuk tertular. Misalnya, anggota keluarga yang tinggal
serumah dengan penderita TBC.
Pada penderita TBC yang tidak menimbulkan gejala (TBC
laten), kuman TBC tetap tinggal di dalam tubuhnya. Kuman TBC dapat berkembang
menjadi aktif jika daya tahan tubuh orang tersebut melemah, seperti pada
penderita AIDS. Namun, TBC laten ini tidak menular.
Seperti telah dikatakan sebelumnya, penularan TBC tidak
semudah flu, sehingga Anda tidak akan tertular TBC jika hanya sekadar berjabat
tangan dengan penderita TBC. Namun, ada beberapa kelompok orang yang lebih
mudah tertular penyakit ini, yaitu:
·
Orang yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh.
·
Petugas medis yang sering berhubungan dengan penderita TBC.
·
Lansia dan anak-anak.
·
Orang yang kecanduan alkohol.
·
Perokok.
·
Penderita penyakit ginjal stadium lanjut.
·
Orang dengan kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita AIDS, diabetes, kanker, serta orang yang kekurangan
gizi.
Selain penyakit, terdapat beberapa jenis obat-obatan yang
dapat melemahkan kekebalan tubuh (obat
imunosupresif).
Obat-obatan tersebut umumnya digunakan untuk mengobati:
·
Lupus
·
Psoriasis
·
Rheumatoid arthritis
·
Penyakit Crohn
6.
Diagnosis
Tuberkulosis TBC (Tuberkulosis)
Untuk mendeteksi TBC (tuberkulosis), pertama-tama dokter
akan menanyakan keluhan dan penyakit yang pernah diderita. Kemudian dokter akan
melakukan pemeriksaan fisik, terutama dengan mendengarkan suara napas di
paru-paru menggunakan stetoskop. Dokter juga akan memeriksa ada tidaknya
pembesaran kelenjar, bila dicurigai adanya TBC kelenjar.
Jika pasien diduga mengalami TBC, dokter akan meminta
pasien melakukan pemeriksaan dahak yang disebut pemeriksaan BTA.
Pemeriksaan BTA juga dapat dilakukan menggunakan sampel selain dahak, untuk
kasus TBC yang terjadi bukan di paru-paru.
Jika dokter membutuhkan hasil yang lebih spesifik, dokter
akan menganjurkan pemeriksaan kultur BTA, yang juga menggunakan sampel dahak
penderita. Tes kultur BTA dapat mengetahui efektif atau tidaknya obat TBC yang
akan digunakan dalam membunuh kuman. Namun, tes ini memakan waktu yang lebih
lama.
Selain pemeriksaan BTA, dokter dapat melakukan
serangkaian pemeriksaan lain sebagai pendukung diagnosis, meliputi:
·
Foto Rontgen
·
CT scan
·
Tes kulit Mantoux atau Tuberculin skin test
·
Tes Darah IGRA (interferon gamma release assay).
7.
Pengobatan
Tuberkulosis TBC (Tuberkulosis)
Penyakit ini dapat disembuhkan dan jarang berakibat fatal
jika penderita mengikuti saran dari dokter. Prinsip utama pengobatan TBC
(tuberkulosis) adalah patuh untuk minum obat selama jangka waktu yang
dianjurkan oleh dokter (minimal 6 bulan).
Apabila berhenti meminum obat sebelum waktu yang
dianjurkan, penyakit TBC yang Anda derita berpotensi menjadi kebal terhadap
obat-obat yang biasa diberikan. Jika hal ini terjadi, TBC menjadi lebih
berbahaya dan sulit diobati.
Obat yang diminum merupakan kombinasi dari isoniazid, rifampicin,
pyrazinamide
dan ethambutol.
Sama seperti semua obat, obat TBC juga memiliki efek samping, antara lain:
·
Warna urine menjadi kemerahan
·
Menurunnya efektivitas pil KB, KB suntik, atau susuk
·
Gangguan penglihatan
·
Gangguan saraf
·
Gangguan fungsi hati
Untuk penderita yang sudah kebal dengan kombinasi obat
tersebut, akan menjalani pengobatan dengan kombinasi obat yang lebih banyak dan
lebih lama. Lama pengobatan dapat mencapai 18-24 bulan.
Selama pengobatan, penderita TBC harus rutin menjalani
pemeriksaan dahak untuk memantau keberhasilannya.
8.
Pencegahan
Tuberkulosis TBC (Tuberkulosis)
Salah satu langkah untuk mencegah TBC (tuberkulosis)
adalah dengan menerima vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin).
Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan
sebelum bayi berusia 2 bulan. Bagi yang belum pernah menerima vaksin BCG,
dianjurkan untuk melakukan vaksin bila terdapat salah satu anggota keluarga
yang menderita TBC.
TBC juga dapat dicegah dengan cara yang sederhana, yaitu
mengenakan masker saat berada di tempat ramai dan jika berinteraksi dengan
penderita TBC, serta sering mencuci tangan.
Walaupun sudah menerima pengobatan, pada bulan-bulan awal
pengobatan (biasanya 2 bulan), penderita TBC juga masih dapat menularkan
penyakit. Jika Anda menderita TBC, langkah-langkah di bawah ini sangat berguna
untuk mencegah penularan, terutama pada orang yang tinggal serumah dengan Anda:
·
Tutupi mulut saat bersin, batuk, dan tertawa, atau kenakan Apabila
menggunakan tisu untuk menutup mulut, buanglah segera setelah digunakan.
·
Tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.
·
Pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik, misalnya dengan sering
membuka pintu dan jendela agar udara segar serta sinar matahari dapat masuk.
·
Jangan tidur sekamar dengan orang lain, sampai dokter menyatakan TBC
yang Anda derita tidak lagi menular.
D.
Penyakit Jantung
Penyakit jantung adalah kondisi ketika
jantung mengalami gangguan. Bentuk gangguan itu sendiri bisa bermacam-macam.
Ada gangguan pada pembuluh darah jantung, irama jantung, katup jantung, atau
gangguan akibat bawaan lahir.
Jantung adalah otot yang terbagi
menjadi empat ruang. Dua ruang terletak di bagian atas, yaitu atrium (serambi)
kanan dan kiri. Sedangkan dua ruang lagi terletak di bagian bawah, yaitu
ventrikel (bilik) kanan dan kiri. Antara ruang kanan dan kiri dipisahkan oleh
dinding otot (septum) yang berfungsi mencegah tercampurnya darah yang kaya
oksigen dengan darah yang miskin oksigen.
Fungsi utama jantung adalah
mengalirkan darah kaya oksigen ke seluruh bagian tubuh. Setelah seluruh organ
tubuh menggunakan oksigen dalam darah, darah yang miskin oksigen tersebut
kembali ke jantung (atrium kanan), untuk diteruskan ke ventrikel kanan melalui
katup trikuspid. Sesudah darah memenuhi ventrikel kanan, katup trikuspid akan
menutup guna mencegah darah kembali ke atrium kanan. Kemudian, saat ventrikel
kanan berkontraksi, darah miskin oksigen akan keluar dari jantung melalui katup
pulmonal dan arteri pulmonal, lalu dibawa ke paru-paru untuk diisi dengan
oksigen.
Darah yang telah diperkaya oksigen
tadi, kemudian dibawa ke atrium kiri melalui vena pulmonal. Saat atrium kiri
berkontraksi, darah akan diteruskan ke ventrikel kiri melalui katup mitral.
Setelah ventrikel kiri dipenuhi darah, katup mitral akan menutup untuk mencegah
darah kembali ke atrium kiri. Kemudian, ventrikel kiri akan berkontraksi, dan
darah akan dialirkan ke seluruh tubuh melalui katup aorta. Siklus peredaran
darah tersebut akan terus berulang.
1.
Jenis Penyakit Jantung
Istilah penyakit jantung meliputi beragam gangguan pada jantung, antara lain:
·
Penyakit arteri koroner (penyakit jantung koroner) –
penyempitan pembuluh darah jantung.
·
Aritmia – gangguan pada irama jantung.
·
Penyakit jantung bawaan – kelainan jantung sejak
lahir.
·
Kardiomiopati – gangguan pada otot jantung.
·
Infeksi jantung – infeksi pada jantung akibat
bakteri, virus, atau parasit.
·
Penyakit katup jantung – gangguan pada salah satu
atau keempat katup jantun
Gejala penyakit jantung sangat beragam, tergantung
kepada jenis kondisi yang dialami. Sejumlah gejala yang dapat muncul pada
penyakit jantung, antara lain:
·
Nyeri dada terasa seperti tertindih.
·
Nyeri di leher, rahang, tenggorokan, punggung, dan lengan.
·
Jantung berdebar atau detak jantung malah melambat.
·
Perubahan pada irama jantung.
·
Sesak napas.
·
Batuk kering yang tidak membaik.
·
Mudah lelah saat beraktivitas.
·
Tangan dan kaki terasa dingin.
·
Sianosis atau warna kulit yang membiru.
·
Pembengkakan pada tungkai, lengan, perut, atau sekitar mata.
·
Pusing.
·
Pingsan atau terasa ingin pingsan.
·
Demam.
·
Ruam kulit.
Penyakit jantung akan lebih mudah ditangani bila
terdeteksi lebih awal. Oleh karena itu, konsultasikan dengan dokter bila muncul
gejala di atas. Konsultasikan juga mengenai cara yang perlu dilakukan untuk
mengurangi risiko terkena penyakit jantung, terutama bila ada riwayat penyakit
jantung pada keluarga.
2.
Komplikasi Penyakit Jantung
Sejumlah komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit
jantung, antara lain:
·
Aneurisma. Aneurisma adalah pembesaran
di dinding arteri, yang bila pecah dapat menyebabkan kematian.
·
Penyakit arteri
perifer. Kondisi ini ditandai dengan tersumbatnya aliran darah ke kaki,
sehingga menyebabkan nyeri saat berjalan (klaudikasio).
·
Stroke. Sejumlah
faktor risiko yang memicu penyakit jantung koroner juga dapat memicu stroke iskemik.
Stroke iskemik terjadi ketika arteri ke otak tersumbat, sehingga tidak menerima
aliran darah yang cukup. Kondisi tersebut harus segera ditangani, karena dapat
mematikan jaringan otak dalam beberapa menit setelah serangan stroke terjadi.
·
Gagal jantung.
Kondisi ini terjadi ketika jantung tidak dapat memompa cukup darah ke seluruh
tubuh. Gagal jantung dapat terjadi akibat penyakit
jantung koroner, penyakit katup jantung, penyakit kelainan jantung,
kardiomiopati, dan infeksi jantung.
·
Serangan jantung.
Kondisi ini terjadi ketika bekuan darah menghambat aliran darah ke jantung yang
sudah menyempit sebelumnya, dan merusak bagian ototnya. Salah satu yang dapat
memicu menyempitnya pembuluh darah jantung adalah aterosklerosis.
·
Henti jantung
mendadak. Kondisi ini terjadi ketika fungsi jantung berhenti mendadak, sehingga
penderita tidak bisa bernapas dan kehilangan kesadaran. Bila tidak segera
ditangani, dapat mengakibatkan kematian. Henti jantung mendadak seringkali
dipicu oleh aritmia.
3.
Penyebab
Penyakit Jantung
Penyebab penyakit jantung sangat bervariasi, mulai dari
masalah pada pembuluh darah jantung, irama jantung, hingga bawaan lahir.
Berikut akan dijelaskan penyebab penyakit jantung berdasarkan jenisnya.
4.
Penyakit
jantung koroner
Penyakit jantung koroner terjadi ketika jantung tidak
cukup mendapatkan darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi. Kondisi ini
disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah jantung atau
arteri koroner.
Penyakit jantung koroner disebabkan oleh aterosklerosis,
yaitu penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak. Pada kondisi yang
jarang, penyempitan atau kerusakan arteri koroner juga dapat terjadi akibat
emboli arteri, arteritis (radang arteri), aneurisma, dan diseksi aorta.
5.
Gangguan
irama jantung
Gangguan irama jantung atau aritmia adalah irama jantung
yang tidak normal. Aritmia terjadi ketika impuls listrik yang mengatur irama
jantung tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, jantung dapat berdetak terlalu
cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan. Contoh aritmia adalah fibrilasi
atrium.
Aritmia dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi, seperti:
·
Diabetes.
·
Kelainan jantung saat lahir.
·
Konsumsi minuman beralkohol atau berkafein secara
berlebihan.
·
Merokok.
·
Obat-obatan.
·
Penyakit katup jantung.
·
Penyakit jantung koroner.
·
Penyalahgunaan NAPZA.
·
Stres.
·
Tekanan darah tinggi.
6.
Penyakit jantung
bawaan
Penyakit jantung bawaan adalah kelainan pada bentuk dan
fungsi jantung yang terjadi sejak lahir. Kelainan dapat terletak pada katup
jantung, dinding jantung, atau di pembuluh darah. Contoh penyakit jantung
bawaan adalah VSD, patent ductus arteriosus dan tetralogy of Fallot.
Penyakit jantung bawaan terjadi akibat gangguan pada
proses perkembangan jantung saat bayi masih di dalam kandungan. Belum diketahui
kenapa gangguan tersebut terjadi, namun diduga terkait dengan sejumlah faktor
berikut:
·
Riwayat kelainan jantung pada keluarga.
·
Penggunaan obat-obatan di masa kehamilan
·
Infeksi virus pada trimester pertama kehamilan.
·
Kecanduan alkohol atau penyalahgunaan NAPZA di masa
kehamilan.
·
Diabetes.
7.
Kardiomiopati
Penyakit jantung juga dapat disebabkan oleh
kardiomiopati, yaitu kondisi otot jantung yang tidak cukup kuat untuk memompa
darah ke seluruh tubuh. Kardiomiopati sangat berbahaya, karena dapat memicu
gagal jantung hingga henti jantung mendadak.
Belum diketahui apa yang menyebabkan kardiomiopati. Namun
demikian, kondisi ini diduga terkait dengan:
·
Hipertensi.
·
Kerusakan otot jantung akibat serangan jantung.
·
Gangguan metabolik, seperti penyakit tiroid dan diabetes.
·
Hemokromatosis.
·
Komplikasi kehamilan.
·
Penyalahgunaan NAPZA.
8.
Infeksi
jantung
Penyakit jantung juga dapat disebabkan oleh infeksi atau
peradangan pada lapisan dalam jantung (endokardium), otot jantung (miokardium),
atau pada membran yang melapisi jantung (perikardium). Beberapa contoh penyakit
jantung akibat infeksi adalah endokarditis, miokarditis, dan perikarditis.
Infeksi jantung dapat disebabkan oleh virus, bakteri,
parasit, atau jamur. Pemicu penyakit ini juga bervariasi, di antaranya AIDS,
gagal ginjal, lupus, atau
cedera pada jantung akibat kecelakaan.
9.
Penyakit katup
jantung
Sebagaimana namanya, penyakit katup jantung ditandai
dengan kerusakan pada katup jantung. Kerusakan katup dapat disebabkan oleh
penyempitan (stenosis) atau kebocoran (insufisiensi atau regurgitasi).
Penyakit katup jantung dapat disebabkan oleh beberapa
kondisi, seperti demam rematik, endokarditis yang disebabkan oleh infeksi,
gangguan pada jaringan ikat, atau kelainan sejak lahir.
10.
Faktor Risiko
Penyakit Jantung
Penyakit jantung dapat dialami oleh siapa saja. Beberapa
faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalaminya adalah:
·
Usia. Bertambahnya usia meningkatkan risiko otot jantung
melemah dan menebal.
·
Jenis kelamin. Pria lebih berisiko terserang penyakit
jantung dibanding wanita. Akan tetapi, risiko terserang penyakit ini akan
meningkat pada wanita setelah masa menopause.
·
Riwayat keluarga. Risiko seseorang untuk menderita
penyakit jantung juga tinggi apabila memiliki riwayat penyakit ini dalam
keluarga. Terutama, bila memiliki ayah atau saudara laki-laki yang terserang
penyakit jantung sebelum usia 55 tahun. Atau dalam kasus lain, memiliki ibu
atau saudara perempuan yang didiagnosis menderita penyakit jantung sebelum usia
65 tahun.
·
Rokok. Kandungan nikotin dan karbonmonoksida dalam asap
rokok dapat menyempitkan pembuluh darah dan merusak lapisan dalam jantung. Oleh
sebab itu, serangan jantung lebih sering terjadi pada perokok.
·
Terapi kanker. Penggunaan obat kemoterapi dan radioterapi
meningkatkan risiko penyakit jantung.
·
Pola makan buruk. Konsumsi makanan tinggi lemak, gula,
garam, dan kolesterol berkontribusi pada penyakit jantung.
·
Hipertensi. Tekanan darah tinggi yang tidak terkendali
akan memicu penebalan pada pembuluh darah, sehingga mempersempit aliran darah.
·
Kadar kolesterol tinggi. Kolesterol tinggi dapat membentuk
timbunan plak pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko aterosklerosis.
·
Kurang menjaga kebersihan diri. Tidak rutin mencuci tangan
atau menyikat gigi, dapat membuat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh dan
memicu infeksi jantung.
Selain sejumlah faktor di atas, kurang aktivitas, stres
yang tidak ditangani dengan baik, serta kondisi medis seperti diabetes atau
obesitas, juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
11.
Diagnosis
Penyakit Jantung
Sebelum menjalankan pemeriksaan, dokter akan terlebih
dahulu bertanya tentang riwayat penyakit pasien dan keluarganya. Kemudian,
dokter akan memeriksa detak jantung dan tekanan darah pasien. Sampel darah juga
dapat diambil untuk mengukur kadar kolesterol dan protein C-reaktif.
Untuk memperkuat diagnosis, dokter akan melakukan
pemeriksaan lanjutan. Metode pemeriksaan tergantung pada dugaan dokter mengenai
jenis penyakit jantung yang dialami pasien. Sejumlah metode pemeriksaan
tersebut meliputi:
a)
Elektrokardiografi
(EKG)
EKG adalah tes yang bertujuan merekam sinyal listrik
jantung. Tes ini dapat mendeteksi kelainan pada irama dan struktur jantung.
Dokter dapat menjalankan EKG dalam keadaan pasien beristirahat atau
berolahraga.
Pada pemeriksaan ini, dokter akan meminta pasien
berbaring, dan menempelkan 12-15 elektroda ke tubuhnya. Kemudian, mesin yang
terhubung dengan elektroda akan merekam sinyal listrik jantung pasien.
b)
Ekokardiografi
Ekokardiografi adalah pemeriksaan yang
menggunakan gelombang suara (USG) pada jantung. Ekokardiografi
membantu dokter mengevaluasi kondisi otot dan katup jantung pasien.
Dokter dapat menjalankan ekokardiografi dengan
menggerakkan transduser pada dada pasien. Pada kasus lain, dokter
dapat menggunakan transduser yang lebih kecil untuk dimasukkan ke kerongkongan.
Transduser ini berfungsi mengirim gelombang suara dari dan ke jantung, untuk
diterjemahkan menjadi gambar di monitor.
c)
Uji tekanan (stress
test)
Uji tekanan adalah pemeriksaan kondisi jantung saat detak
jantung pasien meningkat. Untuk meningkatkan detak jantung, pasien akan diminta
mengayuh sepeda statis atau berlari di treadmill.
d) Holter monitoring
Dalam pemeriksaan ini, pasien akan diminta memakai suatu
perangkat di dada yang disebut monitor Holter. Monitor Holter akan merekam
aktivitas listrik jantung selama 1-3 hari.
e)
Tilt table test
Bila gejala penyakit jantung yang dialami pasien sampai
membuatnya pingsan, dokter akan menjalankan tilt table test.
Dalam tes ini, pasien akan dibaringkan di meja yang kemudian digerakkan dari
posisi horizontal ke vertikal. Saat meja bergerak, dokter akan memonitor detak
jantung, tekanan darah, dan kadar oksigen dalam tubuh pasien. Tilt
table test membantu dokter mengetahui apakah pasien pingsan akibat
penyakit jantung atau kondisi lain.
f)
CT scan jantung
Pemeriksaan ini menggunakan sinar X untuk menampilkan
gambar jantung pasien dan pembuluh darah koroner. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan untuk mendeteksi penumpukan kalsium di arteri koroner.
g)
MRI jantung
Pada pemeriksaan ini, pasien akan diminta berbaring di
meja periksa, lalu dimasukkan ke mesin MRI. Selama pemeriksaan, medan magnet di
dalam mesin MRI akan menampilkan citra bagian dalam tubuh pasien. Kemudian,
gambar tersebut akan dianalisis oleh dokter guna mendiagnosis jenis penyakit
jantung yang dialami.
h) Katerisasi jantung
Katerisasi jantung adalah tindakan memasukkan
selang kecil (kateter) melalui pembuluh darah di paha atau lengan. Dengan
bantuan foto Rontgen, dokter akan mengarahkan kateter tersebut
hingga ke jantung. Tindakan ini dapat membantu dokter mengetahui apakah ada
sumbatan atau penyempitan di arteri.
12.
Pengobatan
Penyakit Jantung
Pengobatan tergantung kepada jenis penyakit jantung yang
dialami pasien. Sebagai contoh, pada penyakit jantung yang disebabkan infeksi,
dokter akan meresepkan antibiotik.
Pada umumnya, metode pengobatan penyakit jantung
meliputi:
a)
Perubahan gaya hidup. Menjalani pola hidup sehat dapat
mencegah penyakit jantung makin memburuk. Beberapa cara yang dapat dilakukan,
antara lain dengan melakukan olahraga ringan 30 menit sehari, mengonsumsi
makanan rendah lemak dan rendah sodium, berhenti merokok, dan membatasi konsumsi minuman
beralkohol.
b)
Obat-obatan. Obat yang digunakan untuk mengobati penyakit
jantung tergantung kepada jenis penyakit jantung itu sendiri. Beberapa golongan
obat yang umumnya digunakan dalam pengobatan penyakit jantung, antara lain:
·
ACE inhibitor – berfungsi menghambat tubuh menghasilkan angiotensin
sehingga menurunkan tekanan darah. Contohnya captopril dan ramipril.
·
Angiotensin II receptor blockers – bekerja dengan menghambat efek
angiotensin sehingga menurunkan tekanan darah. Contohnya losartan.
·
Antikoagulan – berfungsi mencegah penggumpalan darah dengan
menghambat kerja faktor pembekuan darah.
Contohnya, heparin dan warfarin.
·
Antiplatelet – Sama halnya dengan antikoagulan, antiplatelet
berfungsi mencegah terbentuknya gumpalan darah dengan cara yang berbeda.
Contohnya, aspirin dan clopidrogel.
·
Antagonis kalsium – bekerja dengan mengatur kadar kalsium yang
masuk ke otot jantung dan pembuluh darah, sehingga melebarkan pembuluh darh. Contohnya
amlodipine dan nifedipine.
·
Penghambat beta – bekerja dengan menekan efek adrenalin yang
meningkatkan detak jantung, sehingga jantung tidak bekerja terlalu keras.
Contohnya metoprolol dan bisoprolol.
·
Penurun kolesterol – berfungsi meningkatkan kadar kolesterol baik
(HDL) dan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL). Contohnya atorvastatin.
·
Obat digitalis – bekerja dengan meningkatkan kadar kalsium pada sel
jantung, sehingga meningkatkan pompa jantung. Contohnya, digoxin.
·
Nitrat – berfungsi melebarkan pembuluh darah.
Contohnya, nitrogliserin dan isosorbide dinitrate.
c)
Prosedur Medis. Pada beberapa kasus, dokter akan menjalankan
prosedur bedah, agar kondisi pasien tidak semakin memburuk. Sebagai contoh,
bila arteri pasien hampir atau sudah tertutup seluruhnya, dokter akan
memasang stent atau ring ke arteri, agar aliran darah pasien
kembali normal. Prosedur yang dilakukan tergantung kepada jenis penyakit
jantung dan tingkat kerusakan jantung yang dialami pasien. Prosedur lain yang
sering dilakukan adalah operasi bypass jantung. Prosedur operasi ini dilakukan
dengan mencangkok pembuluh darah lain, sehingga aliran darah melewati pembuluh
darah yang baru tersebut.
13.
Pencegahan
Penyakit Jantung
Penyakit jantung yang disebabkan oleh kelainan tidak
dapat dicegah. Namun demikian, banyak jenis penyakit ini yang dapat dicegah,
dengan menjalani pola hidup sehat. Selain sebagai pencegahan, pola hidup sehat
di bawah ini juga dapat membantu pasien penyakit jantung dalam proses
penyembuhan:
·
Berhenti merokok. Rokok adalah faktor risiko utama
penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner.
·
Rutin memeriksakan diri. Lakukan pemeriksaan rutin
terkait kadar kolesterol, gula darah, dan tekanan darah. Ketahui kadar normal
pada tiga kondisi tersebut, yaitu:
ü Tekanan darah. Tekanan
darah normal adalah di bawah 120/80 mm Hg.
ü Kadar kolesterol jahat
(LDL). Pada umumnya, kadar LDL normal adalah di bawah 130 mg/dL. Namun
pada orang dengan faktor risiko penyakit jantung, kadar LDL sebaiknya berada di
bawah 100 mg/dL. Sedangkan pada individu dengan penyakit jantung atau diabetes,
kadar LDL disarankan di bawah 70 mg/dL.
ü Kadar gula
darah. Kadar gula darah normal umumnya kurang dari 100 mg/dL setelah tidak
makan (puasa) selama setidaknya 8 jam, dan kurang dari 140 mg/dL 2 jam setelah
makan.
·
Latihan atau olahraga rutin. Selain membantu menjaga kesehatan,
latihan rutin selama 30-60 menit sehari dapat membantu mengontrol tekanan
darah, serta kadar kolesterol dan gula darah. Akan tetapi, pada pasien aritmia
dan kelainan jantung bawaan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan
dokter mengenai durasi latihan yang aman.
·
Konsumsi makanan sehat. Perbanyak konsumsi buah, sayuran, gandum, dan lemak omega-3. Selain itu, batasi konsumsi daging
merah, serta hindari makanan tinggi gula, lemak, kolesterol, dan garam. Ketahui
juga batas kandungan kalori dalam makanan yang dikonsumsi, dan usahakan untuk
mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi dan rendah kalori.
·
Jaga berat badan ideal. Berat badan berlebih atau obesitas, dapat
meningkatkan risiko terserang penyakit jantung.
·
Kelola stres dengan baik. Stres dalam jangka panjang dapat
menyebabkan jantung bekerja lebih keras. Oleh karena itu, sebisa mungkin
kurangi stres dengan menjalani aktivitas fisik. Sebagai contoh, lakukan latihan
yang melibatkan teknik pernapasan dan relaksasi otot, seperti yoga.
Konsultasikan dengan dokter bila Anda sering merasa bingung, tertekan, dan
marah tiap kali menghadapi masalah.
·
Menjaga kebersihan tubuh. Rutin mencuci tangan, menyikat gigi, dan
hindari kontak dengan orang yang sedang terserang penyakit infeksi seperti flu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan ciri-ciri
berupa tingginya kadar gula (glukosa) darah. Glukosa merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh
manusia.
Glukosa yang menumpuk di dalam darah akibat tidak diserap
sel tubuh dengan baik dapat menimbulkan berbagai gangguan organ tubuh. Jika
diabetes tidak dikontrol dengan baik, dapat timbul berbagai komplikasi yang
membahayakan nyawa penderita.
Hipertensi adalah nama lain dari tekanan darah tinggi.
Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang parah dan meningkatkan
risiko penyakit jantung, stroke, dan terkadang kematian.
Tekanan darah adalah kekuatan yang diberikan oleh sirkulasi
darah terhadap dinding arteri tubuh, yaitu pembuluh darah utama dalam tubuh.
Tekanan ini tergantung pada resistensi pembuluh darah dan seberapa keras jantung
bekerja. Semakin banyak darah yang dipompa jantung dan semakin sempit arteri,
maka semakin tinggi tekanan darah.
TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan
TB adalah penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC akan menimbulkan gejala
berupa batuk yang berlangsung lama (lebih dari 3 minggu),
biasanya berdahak, dan terkadang mengeluarkan darah.
Penyakit jantung adalah kondisi ketika jantung mengalami
gangguan. Bentuk gangguan itu sendiri bisa bermacam-macam. Ada gangguan pada
pembuluh darah jantung, irama jantung, katup jantung, atau gangguan akibat
bawaan lahir.
Jantung adalah otot yang terbagi
menjadi empat ruang. Dua ruang terletak di bagian atas, yaitu atrium (serambi)
kanan dan kiri. Sedangkan dua ruang lagi terletak di bagian bawah, yaitu
ventrikel (bilik) kanan dan kiri. Antara ruang kanan dan kiri dipisahkan oleh
dinding otot (septum) yang berfungsi mencegah tercampurnya darah yang kaya
oksigen dengan darah yang miskin oksigen.
B. Saran
Diabetes Mellitus
Meningkatkan
penyuluhan-penyuluhan pada masyarakat, sehingga pengertian masyarakat tentang
diabetes mellitus akan bertambah.
Mengetahui tanda
bahaya dari adanya komplikasi diabetes secara dini sangat perlu agar tindakan
medis secara dini dapat dilaksanakan.
Segeralah mulai
melakukan olahraga kesehatan sebelum menjadi penyandang cacat akibat penyulit
diabetes. Mengikuti semua nasehat dokter, baik dalam melakukan olah raga,
mengatur diit serta dalam cara meminum obat
Hipertensi
Bagi
pasien hipertensi, konsumsi obat bisa membantu mengontrol tekanan darah. Namun,
pengaturan gaya hidup juga tak kalah penting.
TBC
Selama pengobatan,
penderita TBC harus rutin menjalani pemeriksaan dahak untuk memantau
keberhasilannya.
Jantung
Untuk mencegah
penyakit jantung koroner selain dengan diet rendah lemak jenuh, mengurangi
merokok, dan olah raga konsumsi omega-3 juga baik dalam mencegah dan mengurangi
insidensi mortalitas penyakit jantung koroner. Dalam mengkomsumsi omega-3 juga
perlu menyajikan co-faktor seperti vit B6, B3, C, E, A dan mineral zinc dan
magnesium.
ingin mendapatkan file MS WORD silahkan klik DISINI
0 comments:
Post a Comment