Thursday, March 17, 2022

PENYAKIT SISTEMATIK DM, HIPERTENSI, TBC, DAN JANTUNG

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.      Latar Belakang

Diabetes Mellitus (DM) merupakan kategori penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik secara global, regional, nasional maupun lokal. Salah satu jenis penyakit metabolik yang selalu mengalami peningkatan penderita setiap tahun di negara-negara seluruh dunia. Diabetes merupakan serangkaian gangguan metabolik menahun akibat pankreas tidak memproduksi cukup insulin, sehingga menyebabkan kekurangan insulin baik absolut maupun relatif, akibatnya terjadi peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah (Infodatin, 2014; Sarwono, dkk, 2007).

Hipertensi adalah keadaan di mana tekanan darah mengalami peningkatan yang memberikan gejala berlanjut pada suatu organ target di tubuh. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan yang lebih berat, misalnya stroke (terjadi pada otak dan menyebabkan kematian yang cukup tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi kerusakan pembuluh darah jantung), dan hipertrofi ventrikel kiri (terjadi pada otot jantung).

Hipertensi juga dapat menyebabkan penyakit gagal ginjal, penyakit pembuluh lain dan penyakit lainnya (Syahrini et al., 2012). Umumnya penyakit hipertensi terjadi pada orang yang sudah berusia lebih dari 40 tahun. Penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala yang nyata dan pada stadium awal belum menimbulkan gangguan yang serius pada kesehatan penderitanya (Gunawan, 2012). Hal ini serupa seperti yang dikemukakan oleh Yogiantoro (2006), hipertensi tidak mempunyai gejala khusus sehingga sering tidak disadari oleh penderitanya.

Tuberculosis paru (TB paru) merupakan salah satu penyakit infeksi yang prevalensinya paling tinggi di dunia. Berdasarkan laporan World Health Organitation (WHO, 2012) sepertiga populasi dunia yaitu sekitar dua milyar penduduk terinfeksi Mycobacterium Tuberculosis. Lebih dari 8 juta populasi terkena TB aktif setiap tahunnya dan sekitar 2 juta meninggal. Lebih dari 90% kasus TB dan kematian berasal dari negara berkembang salah satunya Indonesia (Depkes RI, 2012) Menurut World Health Organization sejak tahun 2010 hingga Maret 2011, di Indonesia tercatat 430.000 penderita TB paru dengan korban meninggal sejumlah 61.000. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan kejadian tahun 2009 yang mencapai 528.063 penderita TB paru dengan 91.369 orang meninggal (WHO Tuberculosis Profile, 2012).

Penyakit jantung koroner termasuk ke dalam kelompok penyakit kardiovaskuler, dimana penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama kematian di negara dengan pendapatan rendah dan menengah seperti Indonesia (Delima, Mihardja dan Siswoyo, 2009). Menurut World Health Organization (WHO) (2013) kematian akibat penyakit kardiovaskuler mencapai 17,1 juta orang per tahun. Penyakit kardiovaskuar diantaranya penyakit jantung koroner dan stoke menjadi urutan pertama dalam daftar penyakit kronis di dunia. Di Indonesia sendiri prevalensi penyakit jantung koroner berdasarkan wawancara terdiagnosis oleh dokter sebesar 0,5% sedangkan berdasarkan terdiagnosis atau gejala sebesar 1,5% (Riskesdas, 2013).

 

B.       Rumusan Masalah

1.      Apa itu penyakit Diabetes (DM) dan bagaimana mendiagnosa penyakit DM?

2.      Seperti apakah penyakit Hipertensi dan bagaimana penanganan dalam mendiagnosa penyakit hipertensi?

3.      Bagaimana gejala penyakit TBC dan bagaimana penanganannya untuk mendiagnosa penyakit TBC?

4.      Seperti apa penyakit jantung dan bagaimana cara pencegahannya?

 

C.      Tujuan

1.      Membahas tentang gejala penyakit DM dan bagaimana cara mendiagnosa penyakit DM

2.      Membahas penyakit hipertensi dan bagaimana mendiagnosanya

3.      Mempelajari gejala penyakit TBC dan mendiagnosa penyakit TBC

4.      Membahas tentang penyakit Jantung dan bagaimana cara mecegah penyakit jantung


 

BAB II

PEMBAHASAN

PENYAKIT SISTEMATIK DM, HIPERTENSI, TBC,

DAN JANTUNG

 

 

A.       Diabetes (DM)

Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan ciri-ciri berupa tingginya kadar gula (glukosa) darah. Glukosa merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh manusia.

Glukosa yang menumpuk di dalam darah akibat tidak diserap sel tubuh dengan baik dapat menimbulkan berbagai gangguan organ tubuh. Jika diabetes tidak dikontrol dengan baik, dapat timbul berbagai komplikasi yang membahayakan nyawa penderita.

Kadar gula dalam darah dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas, yaitu organ yang terletak di belakang lambung. Pada penderita diabetes, pankreas tidak mampu memproduksi insulin sesuai kebutuhan tubuh. Tanpa insulin, sel-sel tubuh tidak dapat menyerap dan mengolah glukosa menjadi energi.

1.         Jenis-Jenis Diabetes

Secara umum, diabetes dibedakan menjadi dua jenis, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 terjadi karena sistem kekebalan tubuh penderita menyerang dan menghancurkan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Hal ini mengakibatkan peningkatan kadar glukosa darah, sehingga terjadi kerusakan pada organ-organ tubuh. Diabetes tipe 1 dikenal juga dengan diabetes autoimun. Pemicu timbulnya keadaan autoimun ini masih belum diketahui dengan pasti. Dugaan paling kuat adalah disebabkan oleh faktor genetik dari penderita yang dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan.

Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang lebih sering terjadi. Diabetes jenis ini disebabkan oleh sel-sel tubuh yang menjadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga insulin yang dihasilkan tidak dapat dipergunakan dengan baik (resistensi sel tubuh terhadap insulin). Sekitar 90-95% persen penderita diabetes di dunia menderita diabetes tipe ini.

Selain kedua jenis diabetes tersebut, terdapat jenis diabetes khusus pada ibu hamil yang dinamakan diabetes gestasional. Diabetes pada kehamilan disebabkan oleh perubahan hormon, dan gula darah akan kembali normal setelah ibu hamil menjalani persalinan.

2.         Gejala Diabetes

Diabetes tipe 1 dapat berkembang dengan cepat dalam beberapa minggu, bahkan beberapa hari saja. Sedangkan pada diabetes tipe 2, banyak penderitanya yang tidak menyadari bahwa mereka telah menderita diabetes selama bertahun-tahun, karena gejalanya cenderung tidak spesifik. Beberapa ciri-ciri diabetes tipe 1 dan tipe 2 meliputi:

1.        Sering merasa haus.

2.        Sering buang air kecil, terutama di malam hari.

3.        Sering merasa sangat lapar.

4.        Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas.

5.        Berkurangnya massa otot.

6.        Terdapat keton dalam urine. Keton adalah produk sisa dari pemecahan otot dan lemak akibat tubuh tidak dapat menggunakan gula sebagai sumber energi.

7.        Lemas.

8.        Pandangan kabur.

9.        Luka yang sulit sembuh.

10.    Sering mengalami infeksi, misalnya pada gusi, kulit, vagina, atau saluran kemih.

Beberapa gejala lain juga bisa menjadi ciri-ciri bahwa seseorang mengalami diabetes, antara lain:

1.       Mulut kering.

2.       Rasa terbakar, kaku, dan nyeri pada kaki.

3.       Gatal-gatal.

4.       Disfungsi ereksi atau impotensi.

5.       Mudah tersinggung.

6.       Mengalami hipoglikemia reaktif, yaitu hipoglikemia yang terjadi beberapa jam setelah makan akibat produksi insulin yang berlebihan.

7.       Munculnya bercak-bercak hitam di sekitar leher, ketiak, dan selangkangan, (akantosis nigrikans) sebagai tanda terjadinya resistensi insulin.

Beberapa orang dapat mengalami kondisi prediabetes, yaitu kondisi ketika glukosa dalam darah di atas normal, namun tidak cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes. Seseorang yang menderita prediabetes dapat menderita diabetes tipe 2 jika tidak ditangani dengan baik.

3.         Faktor Risiko Diabetes

Seseorang akan lebih mudah mengalami diabetes tipe 1 jika memiliki faktor-faktor risiko, seperti:

1.        Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1.

2.        Menderita infeksi virus.

3.        Orang berkulit putih diduga lebih mudah mengalami diabetes tipe 1 dibandingkan ras lain.

4.        Bepergian ke daerah yang jauh dari khatulistiwa (ekuator).

5.        Diabetes tipe 1 banyak terjadi pada usia 4-7 tahun dan 10-14 tahun, walaupun diabetes tipe 1 dapat muncul pada usia berapapun.

Sedangkan pada kasus diabetes tipe 2, seseorang akan lebih mudah mengalami kondisi ini jika memiliki faktor-faktor risiko, seperti:

1.        Kelebihan berat badan.

2.        Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2.

3.        Kurang aktif. Aktivitas fisik membantu mengontrol berat badan, membakar glukosa sebagai energi, dan membuat sel tubuh lebih sensitif terhadap insulin. Kurang aktif beraktivitas fisik menyebabkan seseorang lebih mudah terkena diabetes tipe 2.

4.        Usia. Risiko terjadinya diabetes tipe 2 akan meningkat seiring bertambahnya usia.

5.        Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi).

6.        Memiliki kadar kolesterol dan trigliserida abnormal. Seseorang yang memiliki kadar kolesterol baik atau HDL (high-density lipoportein) yang rendah dan kadar trigliserida yang tinggi lebih berisiko mengalami diabetes tipe 2.

Khusus pada wanita, ibu hamil yang menderita diabetes gestasional dapat lebih mudah mengalami diabetes tipe 2. Selain itu, wanita yang memiliki riwayat penyakit polycystic ovarian syndrome (PCOS) juga lebih mudah mengalami diabetes tipe 2.

4.         Diagnosis Diabetes

Gejala diabetes biasanya berkembang secara bertahap, kecuali diabetes tipe 1 yang gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba. Dikarenakan diabetes seringkali tidak terdiagnosis pada awal kemunculannya, maka orang-orang yang berisiko terkena penyakit ini dianjurkan menjalani pemeriksaan rutin. Di antaranya adalah:

ü  Orang yang berusia di atas 45 tahun.

ü  Wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional saat hamil.

ü  Orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) di atas 25.

ü  Orang yang sudah didiagnosis menderita prediabetes.

Tes gula darah merupakan pemeriksaan yang mutlak akan dilakukan untuk mendiagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2. Hasil pengukuran gula darah akan menunjukkan apakah seseorang menderita diabetes atau tidak. Dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani tes gula darah pada waktu dan dengan metode tertentu. Metode tes gula darah yang dapat dijalani oleh pasien, antara lain:

5.         Tes Gula Darah Sewaktu

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada jam tertentu secara acak. Tes ini tidak memerlukan pasien untuk berpuasa terlebih dahulu. Jika hasil tes gula darah sewaktu menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih, pasien dapat didiagnosis menderita diabetes.

6.         Tes Gula Darah Puasa

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Pasien akan diminta berpuasa terlebih dahulu selama 8 jam, kemudian menjalani pengambilan sampel darah untuk diukur kadar gula darahnya. Hasil tes gula darah puasa yang menunjukkan kadar gula darah kurang dari 100 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes gula darah puasa di antara 100-125 mg/dL menunjukkan pasien menderita prediabetes. Sedangkan hasil tes gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes.

7.         Tes Toleransi Glukosa

Tes ini dilakukan dengan meminta pasien untuk berpuasa selama semalam terlebih dahulu. Pasien kemudian akan menjalani pengukuran tes gula darah puasa. Setelah tes tersebut dilakukan, pasien akan diminta meminum larutan gula khusus. Kemudian sampel gula darah akan diambil kembali setelah 2 jam minum larutan gula. Hasil tes toleransi glukosa di bawah 140 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes tes toleransi glukosa dengan kadar gula antara 140-199 mg/dL menunjukkan kondisi prediabetes. Hasil tes toleransi glukosa dengan kadar gula 200 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes.

8.         Tes HbA1C (glycated haemoglobin test)

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa rata-rata pasien selama 2-3 bulan ke belakang. Tes ini akan mengukur kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi membawa oksigen dalam darah. Dalam tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa terlebih dahulu. Hasil tes HbA1C di bawah 5,7 % merupakan kondisi normal. Hasil tes HbA1C di antara 5,7-6,4% menunjukkan pasien mengalami kondisi prediabetes. Hasil tes HbA1C di atas 6,5% menunjukkan pasien menderita diabetes.

Hasil dari tes gula darah akan diperiksa oleh dokter dan diinformasikan kepada pasien. Jika pasien didiagnosis menderita diabetes, dokter akan merencanakan langkah-langkah pengobatan yang akan dijalani. Khusus bagi pasien yang dicurigai menderita diabetes tipe 1, dokter akan merekomendasikan tes autoantibodi untuk memastikan apakah pasien memiliki antibodi yang merusak jaringan tubuh, termasuk pankreas.

9.         Pengobatan Diabetes

Pasien diabetes diharuskan untuk mengatur pola makan dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein dari biji-bijian, serta makanan rendah kalori dan lemak. Pasien diabetes dan keluarganya dapat berkonsultasi dengan dokter atau dokter gizi untuk mengatur pola makan sehari-hari.

Untuk membantu mengubah gula darah menjadi energi dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin, pasien diabetes dianjurkan untuk berolahraga secara rutin, setidaknya 10-30 menit tiap hari. Pasien dapat berkonsultasi dengan dokter untuk memilih olahraga dan aktivitas fisik yang sesuai.

Pada diabetes tipe 1, pasien akan membutuhkan terapi insulin untuk mengatur gula darah sehari-hari. Selain itu, beberapa pasien diabetes tipe 2 juga disarankan untuk menjalani terapi insulin untuk mengatur gula darah. Insulin tambahan tersebut akan diberikan melalui suntikan, bukan dalam bentuk obat minum. Dokter akan mengatur jenis dan dosis insulin yang digunakan, serta memberitahu cara menyuntiknya.

Pada kasus diabetes tipe 1 yang berat, dokter dapat merekomendasikan operasi pencangkokan (transplantasi) pankreas untuk mengganti pankreas yang mengalami kerusakan. Pasien diabetes tipe 1 yang berhasil menjalani operasi tersebut tidak lagi memerlukan terapi insulin, namun harus mengonsumsi obat imunosupresif secara rutin.

Pada pasien diabetes tipe 2, dokter akan meresepkan obat-obatan, salah satunya adalah metformin, obat minum yang berfungsi untuk menurunkan produksi glukosa dari hati. Selain itu, obat diabetes lain yang bekerja dengan cara menjaga kadar glukosa dalam darah agar tidak terlalu tinggi setelah pasien makan, juga dapat diberikan.

Pasien diabetes harus mengontrol gula darahnya secara disiplin melalui pola makan sehat agar gula darah tidak mengalami kenaikan hingga di atas normal. Selain mengontrol kadar glukosa, pasien dengan kondisi ini juga akan diaturkan jadwal untuk menjalani tes HbA1C guna memantau kadar gula darah selama 2-3 bulan terakhir.

10.     Komplikasi Diabetes

Sejumlah komplikasi yang dapat muncul akibat diabetes tipe 1 dan 2 adalah:

·           Penyakit jantung

·           Stroke

·           Gagal ginjal kronis

·           Neuropati diabetik

·           Gangguan penglihatan

·           Depresi

·           Demensia

·           Gangguan pendengaran

1.      Luka dan infeksi pada kaki yang sulit sembuh

2.      Kerusakan kulit akibat infeksi bakteri dan jamur

Diabetes akibat kehamilan dapat menimbulkan komplikasi pada ibu hamil dan bayi. Contoh komplikasi pada ibu hamil adalah preeklamsia. Sedangkan contoh komplikasi yang dapat muncul pada bayi adalah:

·           Kelebihan berat badan saat lahir.

·           Kelahiran prematur.

·           Gula darah rendah (hipoglikemia).

·           Keguguran.

·           Penyakit kuning.

·           Meningkatnya risiko menderita diabetes tipe 2 pada saat bayi sudah menjadi dewasa.

11.     Pencegahan Diabetes

Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah karena pemicunya belum diketahui. Sedangkan, diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional dapat dicegah, yaitu dengan pola hidup sehat. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah diabetes, di antaranya adalah:

·           Mengatur frekuensi dan menu makanan menjadi lebih sehat

·           Menjaga berat badan ideal

·           Rutin berolahraga

·           Rutin menjalani pengecekan gula darah, setidaknya sekali dalam setahun

 

B.       Pengertian Hipertensi

Hipertensi adalah nama lain dari tekanan darah tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang parah dan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan terkadang kematian.

Tekanan darah adalah kekuatan yang diberikan oleh sirkulasi darah terhadap dinding arteri tubuh, yaitu pembuluh darah utama dalam tubuh. Tekanan ini tergantung pada resistensi pembuluh darah dan seberapa keras jantung bekerja. Semakin banyak darah yang dipompa jantung dan semakin sempit arteri, maka semakin tinggi tekanan darah.

Hipertensi dapat diketahui dengan cara rajin memeriksakan tekanan darah. Untuk orang dewasa minimal memeriksakan darah setiap lima tahun sekali.

Hasil tekanan darah ditulis dalam dua angka. Angka pertama (sistolik) mewakili tekanan dalam pembuluh darah ketika jantung berkontraksi atau berdetak. Angka kedua (diastolik) mewakili tekanan di dalam pembuluh darah ketika jantung beristirahat di antara detak jantung.

Seseorang bisa dikatakan mengalami hipertensi bila ketika diukur pada dua hari yang berbeda, pembacaan tekanan darah sistolik pada kedua hari adalah lebih besar dari 140 mmHg dan / atau pembacaan tekanan darah diastolik pada kedua hari adalah lebih besar dari 90 mmHg.

1.         Faktor Risiko Hipertensi

Seiring bertambahnya usia, kemungkinan mengidap hipertensi akan meningkat. Berikut ini faktor-faktor pemicu yang dapat memengaruhi peningkatan risiko hipertensi:

a)        Berusia di atas 65 tahun.

b)        Mengonsumsi banyak garam.

c)        Kelebihan berat badan.

d)        Memiliki keluarga dengan hipertensi.

e)        Kurang makan buah dan sayuran.

f)         Jarang berolahraga.

g)        Minum terlalu banyak kopi (atau minuman lain yang mengandung kafein).

h)        Terlalu banyak mengonsumsi minuman keras.

Risiko hipertensi dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang baik dan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.

2.         Penyebab Hipertensi

Ada dua jenis tekanan darah tinggi, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Berikut penyebab masing-masing kedua jenis hipertensi tersebut:

a)        Hipertensi Primer

Pada kebanyakan orang dewasa penyebab tekanan darah tinggi ini seringkali tidak diketahui. Hipertensi primer cenderung berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun.

b)        Hipertensi Sekunder

Beberapa orang memiliki tekanan darah tinggi karena memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya. Hipertensi sekunder cenderung muncul tiba-tiba dan menyebabkan tekanan darah lebih tinggi daripada hipertensi primer.

Berbagai kondisi dan obat-obatan yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder, antara lain:

a)        Obstruktif sleep apnea (OSA).

b)        Masalah ginjal.

c)        Tumor kelenjar adrenal.

d)        Masalah tiroid.

e)        Cacat bawaan di pembuluh darah.

f)         Obat-obatan, seperti pil KB, obat flu, dekongestan, obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas.

g)        Obat-obatan terlatang, seperti kokain dan amfetamin.

3.         Gejala Hipertensi

Seseorang yang mengidap hipertensi akan merasakan beberapa gejala yang timbul. Gejala yang muncul akibat hipertensi, antara lain:

·           Sakit kepala.

·           Lemas.

·           Masalah dalam penglihatan.

·           Nyeri dada.

·           Sesak napas.

·           Aritmia.

·           Adanya darah dalam urine.

4.         Diagnosis Hipertensi

Untuk mengukur tekanan darah, dokter atau tenaga ahli biasanya akan memakaikan manset lengan tiup di sekitar lengan dan mengukur tekanan darah dengan menggunakan alat pengukur tekanan. 

Hasil pengukuran tekanan darah dibagi menjadi empat kategori umum:

·           Tekanan darah normal, yaitu di bawah 120/80 mmHg.

·           Tekanan darah tinggi, bila tekanan sistolik berada di kisaran 120-129 mmHg dan tekanan diastolik berada di bawah 80 mmHg.

·           Hipertensi stadium 1, bila tekanan sistolik berada di kisaran 130-139 mmHg dan tekanan diastolik berkisar antara 80-89 mmHg.

·           Hipertensi stadium 2. Ini adalah kondisi hipertensi yang lebih parah. Hipertensi tahap 2 adalah ketika tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih tinggi atau tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih tinggi.

5.         Pengobatan Hipertensi

Bagi sebagian pengidap hipertensi, konsumsi obat harus dilakukan seumur hidup untuk mengatur tekanan darah. Namun, jika tekanan darah pengidap sudah terkendali melalui perubahan gaya hidup, penurunan dosis obat atau konsumsinya dapat dihentikan. Dosis yang sudah ditentukan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, karena takarannya disesuaikan dengan tingkat tekanan darah. Selain itu, obat yang diberikan juga harus diperhatikan apa saja dampak dan efek samping yang timbul pada tubuh sang pengidap.

Obat-obatan yang umumnya diberikan kepada para pengidap hipertensi, antara lain:

·           Obat untuk membuang kelebihan garam dan cairan di tubuh melalui urine. Hipertensi membuat pengidapnya rentan terhadap kadar garam tinggi dalam tubuh, untuk itu penggunaan obat ini dibutuhkan sebagai bagian dari pengobatan. 

·           Obat untuk melebarkan pembuluh darah, sehingga tekanan darah bisa turun. Hipertensi membuat pengidapnya rentan untuk mengalami sumbatan pada pembuluh darah. 

·           Obat yang bekerja untuk memperlambat detak jantung dan melebarkan pembuluh. Tujuan penggunaan obat ini adalah untuk menurunkan tekanan darah pengidap hipertensi. 

·           Obat penurun tekanan darah yang berfungsi untuk membuat dinding pembuluh darah lebih rileks. 

·           Obat penghambat renin yang memliiki fungsi utama obat untuk menghambat kerja enzim yang berfungsi untuk menaikan tekanan darah dan dihasilkan oleh ginjal. Jika renin bekerja berlebihan, tekanan darah akan naik tidak terkendali. 

Selain konsumsi obat-obatan, pengobatan hipertensi juga bisa dilakukan melalui terapi relaksasi, misalnya terapi meditasi atau terapi yoga. Terapi tersebut bertujuan untuk mengendalikan stres dan memberikan dampak relaksasi bagi pengidap hipertensi. Pengobatan terhadap hipertensi juga tidak akan berjalan lancar jika tidak disertai dengan perubahan gaya hidup. Menjalani pola makan dan hidup sehat, serta menghindari konsumsi kafein dan garam yang berlebihan juga harus dilakukan.

 

6.         Pencegahan Hipertensi

Terdapat berbagai langkah pencegahan yang bisa dilakukan terhadap penyakit hipertensi, antara lain:

·           Mengonsumsi makanan sehat.

·           Mengurangi konsumsi garam jangan sampai berlebihan.

·           Mengurangi konsumsi kafein yang berlebihan seperti teh dan kopi.

·           Berhenti merokok.

·           Berolahraga secara teratur.

·           Menurunkan berat badan, jika diperlukan.

·           Mengurangi konsumsi minuman beralkohol.

·           Menghindari konsumsi minuman bersoda.

 

C.       TBC (Tuberkulosis)

TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan TB adalah penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC akan menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama (lebih dari 3 minggu), biasanya berdahak, dan terkadang mengeluarkan darah.

Kuman TBC tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyerang tulang, usus, atau kelenjar. Penyakit ini ditularkan dari percikan ludah yang keluar penderita TBC, ketika berbicara, batuk, atau bersin. Penyakit ini lebih rentan terkena pada seseorang yang kekebalan tubuhnya rendah, misalnya penderita HIV.

1.         Gejala Tuberkulosis

Selain menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama, penderita TBC juga akan merasakan beberapa gejala lain, seperti:

·           Demam

·           Lemas

·           Berat badan turun

·           Tidak nafsu makan

·           Nyeri dada

·           Berkeringat di malam hari

2.         Pengobatan Tuberkulosis

TBC dapat dideteksi melalui pemeriksaan dahak. Beberapa tes lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi penyakit menular ini adalah foto Rontgen dada, tes darah, atau tes kulit (Mantoux).

TBC dapat disembuhkan jika penderitanya patuh mengonsumsi obat sesuai dengan resep dokter. Untuk mengatasi penyakit ini, penderita perlu minum beberapa jenis obat untuk waktu yang cukup lama (minimal 6 bulan). Obat itu umumnya berupa:

·           Isoniazid

·           Rifampicin

·           Pyrazinamide

·           Ethambutol

Pengobatan penyakit TBC membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, memiliki asuransi kesehatan bisa menjadi pertimbangan, sehingga Anda tidak perlu dipusingkan dengan tanggungan biaya saat berobat nanti.

3.         Pencegahan Tuberkulosis

TBC dapat dicegah dengan pemberian vaksin, yang disarankan dilakukan sebelum bayi berusia 2 bulan. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara:

·           Mengenakan masker saat berada di tempat ramai.

·           Tutupi mulut saat bersin, batuk, dan tertawa.

·           Tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.

4.         Gejala TBC (Tuberkulosis)

Gejala-gejala TBC (tuberkulosis) yang muncul dapat berupa:

·           Batuk yang berlangsung lama (3 minggu atau lebih), biasanya berdahak.

·           Batuk mengeluarkan darah.

·           Berkeringat pada malam hari.

·           Penurunan berat badan.

·           Demam dan menggigil.

·           Lemas.

·           Nyeri dada saat bernapas atau batuk.

·           Tidak nafsu makan.

·           Lemas.

Tidak semua kuman TBC yang masuk ke paru-paru langsung menimbulkan gejala. Kuman TBC bisa saja hanya bersembunyi sampai suatu hari berubah menjadi aktif dan menimbulkan gejala. Kondisi ini dikenal sebagai TBC laten. Selain tidak menimbulkan gejala, TBC laten juga tidak menular.

Selain menyerang paru-paru, kuman TBC juga dapat menyerang organ lainnya, seperti ginjal, usus, otak, atau TBC kelenjar. Penyakit TBC pada organ selain paru-paru sering terjadi pada orang dengan kekebalan tubuh rendah, misalnya penderita AIDS.

Berikut ini adalah contoh gejala yang muncul akibat penyakit TBC di luar paru-paru, menurut organ yang terkena:

·           Pembengkakan kelenjar getah bening bila terkena TBC kelenjar.

·           Kencing berdarah pada TBC ginjal.

·           Nyeri punggung pada TBC tulang belakang.

·           Sakit perut jika mengalami TBC usus.

·           Sakit kepala dan kejang bila terkena TBC di otak.

5.         Penyebab Tuberkulosis TBC (TuberkulosiS)

TBC (tuberkulosis) disebabkan oleh infeksi kuman dengan nama yang sama, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Kuman atau bakteri ini menyebar di udara melalui percikan ludah penderita, misalnya saat berbicara, batuk, atau bersin. Meski demikian, penularan TBC membutuhkan kontak yang cukup dekat dan cukup lama dengan penderita, tidak semudah penyebaran flu.

Makin lama seseorang berinteraksi dengan penderita TBC, semakin tinggi risiko untuk tertular. Misalnya, anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TBC.

Pada penderita TBC yang tidak menimbulkan gejala (TBC laten), kuman TBC tetap tinggal di dalam tubuhnya. Kuman TBC dapat berkembang menjadi aktif jika daya tahan tubuh orang tersebut melemah, seperti pada penderita AIDS. Namun, TBC laten ini tidak menular.

Seperti telah dikatakan sebelumnya, penularan TBC tidak semudah flu, sehingga Anda tidak akan tertular TBC jika hanya sekadar berjabat tangan dengan penderita TBC. Namun, ada beberapa kelompok orang yang lebih mudah tertular penyakit ini, yaitu:

·           Orang yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh.

·           Petugas medis yang sering berhubungan dengan penderita TBC.

·           Lansia dan anak-anak.

·           Pengguna NAPZA.

·           Orang yang kecanduan alkohol.

·           Perokok.

·           Penderita penyakit ginjal stadium lanjut.

·           Orang dengan kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita AIDS, diabetes, kanker, serta orang yang kekurangan gizi.

Selain penyakit, terdapat beberapa jenis obat-obatan yang dapat melemahkan kekebalan tubuh (obat imunosupresif). Obat-obatan tersebut umumnya digunakan untuk mengobati:

·           Lupus

·           Psoriasis

·           Rheumatoid arthritis

·           Penyakit Crohn

6.         Diagnosis Tuberkulosis TBC (Tuberkulosis)

Untuk mendeteksi TBC (tuberkulosis), pertama-tama dokter akan menanyakan keluhan dan penyakit yang pernah diderita. Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama dengan mendengarkan suara napas di paru-paru menggunakan stetoskop. Dokter juga akan memeriksa ada tidaknya pembesaran kelenjar, bila dicurigai adanya TBC kelenjar.

Jika pasien diduga mengalami TBC, dokter akan meminta pasien melakukan pemeriksaan dahak yang disebut pemeriksaan BTA. Pemeriksaan BTA juga dapat dilakukan menggunakan sampel selain dahak, untuk kasus TBC yang terjadi bukan di paru-paru.

Jika dokter membutuhkan hasil yang lebih spesifik, dokter akan menganjurkan pemeriksaan kultur BTA, yang juga menggunakan sampel dahak penderita. Tes kultur BTA dapat mengetahui efektif atau tidaknya obat TBC yang akan digunakan dalam membunuh kuman. Namun, tes ini memakan waktu yang lebih lama.

Selain pemeriksaan BTA, dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan lain sebagai pendukung diagnosis, meliputi:

·           Foto Rontgen

·           CT scan

·           Tes kulit Mantoux atau Tuberculin skin test

·           Tes Darah IGRA (interferon gamma release assay).

7.         Pengobatan Tuberkulosis TBC (Tuberkulosis)

Penyakit ini dapat disembuhkan dan jarang berakibat fatal jika penderita mengikuti saran dari dokter. Prinsip utama pengobatan TBC (tuberkulosis) adalah patuh untuk minum obat selama jangka waktu yang dianjurkan oleh dokter (minimal 6 bulan).

Apabila berhenti meminum obat sebelum waktu yang dianjurkan, penyakit TBC yang Anda derita berpotensi menjadi kebal terhadap obat-obat yang biasa diberikan. Jika hal ini terjadi, TBC menjadi lebih berbahaya dan sulit diobati.

Obat yang diminum merupakan kombinasi dari isoniazid, rifampicin, pyrazinamide dan ethambutol. Sama seperti semua obat, obat TBC juga memiliki efek samping, antara lain:

·           Warna urine menjadi kemerahan

·           Menurunnya efektivitas pil KB, KB suntik, atau susuk

·           Gangguan penglihatan

·           Gangguan saraf

·           Gangguan fungsi hati

Untuk penderita yang sudah kebal dengan kombinasi obat tersebut, akan menjalani pengobatan dengan kombinasi obat yang lebih banyak dan lebih lama. Lama pengobatan dapat mencapai 18-24 bulan.

Selama pengobatan, penderita TBC harus rutin menjalani pemeriksaan dahak untuk memantau keberhasilannya.

8.         Pencegahan Tuberkulosis TBC (Tuberkulosis)

Salah satu langkah untuk mencegah TBC (tuberkulosis) adalah dengan menerima vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia 2 bulan. Bagi yang belum pernah menerima vaksin BCG, dianjurkan untuk melakukan vaksin bila terdapat salah satu anggota keluarga yang menderita TBC.

TBC juga dapat dicegah dengan cara yang sederhana, yaitu mengenakan masker saat berada di tempat ramai dan jika berinteraksi dengan penderita TBC, serta sering mencuci tangan.

Walaupun sudah menerima pengobatan, pada bulan-bulan awal pengobatan (biasanya 2 bulan), penderita TBC juga masih dapat menularkan penyakit. Jika Anda menderita TBC, langkah-langkah di bawah ini sangat berguna untuk mencegah penularan, terutama pada orang yang tinggal serumah dengan Anda:

·           Tutupi mulut saat bersin, batuk, dan tertawa, atau kenakan Apabila menggunakan tisu untuk menutup mulut, buanglah segera setelah digunakan.

·           Tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.

·           Pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik, misalnya dengan sering membuka pintu dan jendela agar udara segar serta sinar matahari dapat masuk.

·           Jangan tidur sekamar dengan orang lain, sampai dokter menyatakan TBC yang Anda derita tidak lagi menular.


 

D.       Penyakit Jantung

Penyakit jantung adalah kondisi ketika jantung mengalami gangguan. Bentuk gangguan itu sendiri bisa bermacam-macam. Ada gangguan pada pembuluh darah jantung, irama jantung, katup jantung, atau gangguan akibat bawaan lahir.

Jantung adalah otot yang terbagi menjadi empat ruang. Dua ruang terletak di bagian atas, yaitu atrium (serambi) kanan dan kiri. Sedangkan dua ruang lagi terletak di bagian bawah, yaitu ventrikel (bilik) kanan dan kiri. Antara ruang kanan dan kiri dipisahkan oleh dinding otot (septum) yang berfungsi mencegah tercampurnya darah yang kaya oksigen dengan darah yang miskin oksigen.

Fungsi utama jantung adalah mengalirkan darah kaya oksigen ke seluruh bagian tubuh. Setelah seluruh organ tubuh menggunakan oksigen dalam darah, darah yang miskin oksigen tersebut kembali ke jantung (atrium kanan), untuk diteruskan ke ventrikel kanan melalui katup trikuspid. Sesudah darah memenuhi ventrikel kanan, katup trikuspid akan menutup guna mencegah darah kembali ke atrium kanan. Kemudian, saat ventrikel kanan berkontraksi, darah miskin oksigen akan keluar dari jantung melalui katup pulmonal dan arteri pulmonal, lalu dibawa ke paru-paru untuk diisi dengan oksigen.

Darah yang telah diperkaya oksigen tadi, kemudian dibawa ke atrium kiri melalui vena pulmonal. Saat atrium kiri berkontraksi, darah akan diteruskan ke ventrikel kiri melalui katup mitral. Setelah ventrikel kiri dipenuhi darah, katup mitral akan menutup untuk mencegah darah kembali ke atrium kiri. Kemudian, ventrikel kiri akan berkontraksi, dan darah akan dialirkan ke seluruh tubuh melalui katup aorta. Siklus peredaran darah tersebut akan terus berulang.

1.         Jenis Penyakit Jantung

Istilah penyakit jantung meliputi beragam gangguan pada jantung, antara lain:

·           Penyakit arteri koroner (penyakit jantung koroner) – penyempitan pembuluh darah jantung.

·           Aritmia – gangguan pada irama jantung.

·           Penyakit jantung bawaan – kelainan jantung sejak lahir.

·           Kardiomiopati – gangguan pada otot jantung.

·           Infeksi jantung – infeksi pada jantung akibat bakteri, virus, atau parasit.

·           Penyakit katup jantung – gangguan pada salah satu atau keempat katup jantun

Gejala penyakit jantung sangat beragam, tergantung kepada jenis kondisi yang dialami. Sejumlah gejala yang dapat muncul pada penyakit jantung, antara lain:

·           Nyeri dada terasa seperti tertindih.

·           Nyeri di leher, rahang, tenggorokan, punggung, dan lengan.

·           Jantung berdebar atau detak jantung malah melambat.

·           Perubahan pada irama jantung.

·           Sesak napas.

·           Batuk kering yang tidak membaik.

·           Mudah lelah saat beraktivitas.

·           Tangan dan kaki terasa dingin.

·           Sianosis atau warna kulit yang membiru.

·           Pembengkakan pada tungkai, lengan, perut, atau sekitar mata.

·           Pusing.

·           Pingsan atau terasa ingin pingsan.

·           Demam.

·           Ruam kulit.

Penyakit jantung akan lebih mudah ditangani bila terdeteksi lebih awal. Oleh karena itu, konsultasikan dengan dokter bila muncul gejala di atas. Konsultasikan juga mengenai cara yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko terkena penyakit jantung, terutama bila ada riwayat penyakit jantung pada keluarga.

2.         Komplikasi Penyakit Jantung

Sejumlah komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit jantung, antara lain:

·          Aneurisma. Aneurisma adalah pembesaran di dinding arteri, yang bila pecah dapat menyebabkan kematian.

·          Penyakit arteri perifer. Kondisi ini ditandai dengan tersumbatnya aliran darah ke kaki, sehingga menyebabkan nyeri saat berjalan (klaudikasio).

·          Stroke. Sejumlah faktor risiko yang memicu penyakit jantung koroner juga dapat memicu stroke iskemik. Stroke iskemik terjadi ketika arteri ke otak tersumbat, sehingga tidak menerima aliran darah yang cukup. Kondisi tersebut harus segera ditangani, karena dapat mematikan jaringan otak dalam beberapa menit setelah serangan stroke terjadi.

·          Gagal jantung. Kondisi ini terjadi ketika jantung tidak dapat memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Gagal jantung dapat terjadi akibat penyakit jantung koroner, penyakit katup jantung, penyakit kelainan jantung, kardiomiopati, dan infeksi jantung.

·          Serangan jantung. Kondisi ini terjadi ketika bekuan darah menghambat aliran darah ke jantung yang sudah menyempit sebelumnya, dan merusak bagian ototnya. Salah satu yang dapat memicu menyempitnya pembuluh darah jantung adalah aterosklerosis.

·          Henti jantung mendadak. Kondisi ini terjadi ketika fungsi jantung berhenti mendadak, sehingga penderita tidak bisa bernapas dan kehilangan kesadaran. Bila tidak segera ditangani, dapat mengakibatkan kematian. Henti jantung mendadak seringkali dipicu oleh aritmia.

3.         Penyebab Penyakit Jantung

Penyebab penyakit jantung sangat bervariasi, mulai dari masalah pada pembuluh darah jantung, irama jantung, hingga bawaan lahir. Berikut akan dijelaskan penyebab penyakit jantung berdasarkan jenisnya.

4.         Penyakit jantung koroner

Penyakit jantung koroner terjadi ketika jantung tidak cukup mendapatkan darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi. Kondisi ini disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah jantung atau arteri koroner.

Penyakit jantung koroner disebabkan oleh aterosklerosis, yaitu penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak. Pada kondisi yang jarang, penyempitan atau kerusakan arteri koroner juga dapat terjadi akibat emboli arteri, arteritis (radang arteri), aneurisma, dan diseksi aorta.

5.         Gangguan irama jantung

Gangguan irama jantung atau aritmia adalah irama jantung yang tidak normal. Aritmia terjadi ketika impuls listrik yang mengatur irama jantung tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, jantung dapat berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan. Contoh aritmia adalah fibrilasi atrium.

Aritmia dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi, seperti:

·           Diabetes.

·           Kelainan jantung saat lahir.

·           Konsumsi minuman beralkohol atau berkafein secara berlebihan.

·           Merokok.

·           Obat-obatan.

·           Penyakit katup jantung.

·           Penyakit jantung koroner.

·           Penyalahgunaan NAPZA.

·           Stres.

·           Tekanan darah tinggi.

6.         Penyakit jantung bawaan

Penyakit jantung bawaan adalah kelainan pada bentuk dan fungsi jantung yang terjadi sejak lahir. Kelainan dapat terletak pada katup jantung, dinding jantung, atau di pembuluh darah. Contoh penyakit jantung bawaan adalah VSDpatent ductus arteriosus dan tetralogy of Fallot.

Penyakit jantung bawaan terjadi akibat gangguan pada proses perkembangan jantung saat bayi masih di dalam kandungan. Belum diketahui kenapa gangguan tersebut terjadi, namun diduga terkait dengan sejumlah faktor berikut:

·           Riwayat kelainan jantung pada keluarga.

·           Penggunaan obat-obatan di masa kehamilan

·           Infeksi virus pada trimester pertama kehamilan.

·           Kecanduan alkohol atau penyalahgunaan NAPZA di masa kehamilan.

·           Diabetes.

7.         Kardiomiopati

Penyakit jantung juga dapat disebabkan oleh kardiomiopati, yaitu kondisi otot jantung yang tidak cukup kuat untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Kardiomiopati sangat berbahaya, karena dapat memicu gagal jantung hingga henti jantung mendadak.

Belum diketahui apa yang menyebabkan kardiomiopati. Namun demikian, kondisi ini diduga terkait dengan:

·           Hipertensi.

·           Kerusakan otot jantung akibat serangan jantung.

·           Gangguan metabolik, seperti penyakit tiroid dan diabetes.

·           Hemokromatosis.

·           Komplikasi kehamilan.

·           Kecanduan alkohol.

·           Penyalahgunaan NAPZA.

8.         Infeksi jantung

Penyakit jantung juga dapat disebabkan oleh infeksi atau peradangan pada lapisan dalam jantung (endokardium), otot jantung (miokardium), atau pada membran yang melapisi jantung (perikardium). Beberapa contoh penyakit jantung akibat infeksi adalah endokarditis, miokarditis, dan perikarditis.

Infeksi jantung dapat disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, atau jamur. Pemicu penyakit ini juga bervariasi, di antaranya AIDS, gagal ginjal, lupus, atau cedera pada jantung akibat kecelakaan.

9.         Penyakit katup jantung

Sebagaimana namanya, penyakit katup jantung ditandai dengan kerusakan pada katup jantung. Kerusakan katup dapat disebabkan oleh penyempitan (stenosis) atau kebocoran (insufisiensi atau regurgitasi).

Penyakit katup jantung dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti demam rematik, endokarditis yang disebabkan oleh infeksi, gangguan pada jaringan ikat, atau kelainan sejak lahir.

10.     Faktor Risiko Penyakit Jantung

Penyakit jantung dapat dialami oleh siapa saja. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalaminya adalah:

·           Usia. Bertambahnya usia meningkatkan risiko otot jantung melemah dan menebal.

·           Jenis kelamin. Pria lebih berisiko terserang penyakit jantung dibanding wanita. Akan tetapi, risiko terserang penyakit ini akan meningkat pada wanita setelah masa menopause.

·           Riwayat keluarga. Risiko seseorang untuk menderita penyakit jantung juga tinggi apabila memiliki riwayat penyakit ini dalam keluarga. Terutama, bila memiliki ayah atau saudara laki-laki yang terserang penyakit jantung sebelum usia 55 tahun. Atau dalam kasus lain, memiliki ibu atau saudara perempuan yang didiagnosis menderita penyakit jantung sebelum usia 65 tahun.

·           Rokok. Kandungan nikotin dan karbonmonoksida dalam asap rokok dapat menyempitkan pembuluh darah dan merusak lapisan dalam jantung. Oleh sebab itu, serangan jantung lebih sering terjadi pada perokok.

·           Terapi kanker. Penggunaan obat kemoterapi dan radioterapi meningkatkan risiko penyakit jantung.

·           Pola makan buruk. Konsumsi makanan tinggi lemak, gula, garam, dan kolesterol berkontribusi pada penyakit jantung.

·           Hipertensi. Tekanan darah tinggi yang tidak terkendali akan memicu penebalan pada pembuluh darah, sehingga mempersempit aliran darah.

·           Kadar kolesterol tinggi. Kolesterol tinggi dapat membentuk timbunan plak pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko aterosklerosis.

·           Kurang menjaga kebersihan diri. Tidak rutin mencuci tangan atau menyikat gigi, dapat membuat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh dan memicu infeksi jantung.

Selain sejumlah faktor di atas, kurang aktivitas, stres yang tidak ditangani dengan baik, serta kondisi medis seperti diabetes atau obesitas, juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

11.     Diagnosis Penyakit Jantung

Sebelum menjalankan pemeriksaan, dokter akan terlebih dahulu bertanya tentang riwayat penyakit pasien dan keluarganya. Kemudian, dokter akan memeriksa detak jantung dan tekanan darah pasien. Sampel darah juga dapat diambil untuk mengukur kadar kolesterol dan protein C-reaktif.

Untuk memperkuat diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Metode pemeriksaan tergantung pada dugaan dokter mengenai jenis penyakit jantung yang dialami pasien. Sejumlah metode pemeriksaan tersebut meliputi:

a)        Elektrokardiografi (EKG)

EKG adalah tes yang bertujuan merekam sinyal listrik jantung. Tes ini dapat mendeteksi kelainan pada irama dan struktur jantung. Dokter dapat menjalankan EKG dalam keadaan pasien beristirahat atau berolahraga.

Pada pemeriksaan ini, dokter akan meminta pasien berbaring, dan menempelkan 12-15 elektroda ke tubuhnya. Kemudian, mesin yang terhubung dengan elektroda akan merekam sinyal listrik jantung pasien.

b)        Ekokardiografi

Ekokardiografi adalah pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara (USG) pada jantung. Ekokardiografi membantu dokter mengevaluasi kondisi otot dan katup jantung pasien.

Dokter dapat menjalankan ekokardiografi dengan menggerakkan transduser pada dada pasien. Pada kasus lain, dokter dapat menggunakan transduser yang lebih kecil untuk dimasukkan ke kerongkongan. Transduser ini berfungsi mengirim gelombang suara dari dan ke jantung, untuk diterjemahkan menjadi gambar di monitor.

c)        Uji tekanan (stress test)

Uji tekanan adalah pemeriksaan kondisi jantung saat detak jantung pasien meningkat. Untuk meningkatkan detak jantung, pasien akan diminta mengayuh sepeda statis atau berlari di treadmill.

d)       Holter monitoring

Dalam pemeriksaan ini, pasien akan diminta memakai suatu perangkat di dada yang disebut monitor Holter. Monitor Holter akan merekam aktivitas listrik jantung selama 1-3 hari.

e)        Tilt table test

Bila gejala penyakit jantung yang dialami pasien sampai membuatnya pingsan, dokter akan menjalankan tilt table test. Dalam tes ini, pasien akan dibaringkan di meja yang kemudian digerakkan dari posisi horizontal ke vertikal. Saat meja bergerak, dokter akan memonitor detak jantung, tekanan darah, dan kadar oksigen dalam tubuh pasien. Tilt table test membantu dokter mengetahui apakah pasien pingsan akibat penyakit jantung atau kondisi lain.

f)         CT scan jantung

Pemeriksaan ini menggunakan sinar X untuk menampilkan gambar jantung pasien dan pembuluh darah koroner. Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk mendeteksi penumpukan kalsium di arteri koroner.

g)        MRI jantung

Pada pemeriksaan ini, pasien akan diminta berbaring di meja periksa, lalu dimasukkan ke mesin MRI. Selama pemeriksaan, medan magnet di dalam mesin MRI akan menampilkan citra bagian dalam tubuh pasien. Kemudian, gambar tersebut akan dianalisis oleh dokter guna mendiagnosis jenis penyakit jantung yang dialami.

h)       Katerisasi jantung

Katerisasi jantung adalah tindakan memasukkan selang kecil (kateter) melalui pembuluh darah di paha atau lengan. Dengan bantuan foto Rontgen, dokter akan mengarahkan kateter tersebut hingga ke jantung. Tindakan ini dapat membantu dokter mengetahui apakah ada sumbatan atau penyempitan di arteri.

12.     Pengobatan Penyakit Jantung

Pengobatan tergantung kepada jenis penyakit jantung yang dialami pasien. Sebagai contoh, pada penyakit jantung yang disebabkan infeksi, dokter akan meresepkan antibiotik.

Pada umumnya, metode pengobatan penyakit jantung meliputi:

a)        Perubahan gaya hidup. Menjalani pola hidup sehat dapat mencegah penyakit jantung makin memburuk. Beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain dengan melakukan olahraga ringan 30 menit sehari, mengonsumsi makanan rendah lemak dan rendah sodium, berhenti merokok, dan membatasi konsumsi minuman beralkohol.

b)        Obat-obatan. Obat yang digunakan untuk mengobati penyakit jantung tergantung kepada jenis penyakit jantung itu sendiri. Beberapa golongan obat yang umumnya digunakan dalam pengobatan penyakit jantung, antara lain:

·           ACE inhibitor – berfungsi menghambat tubuh menghasilkan angiotensin sehingga menurunkan tekanan darah. Contohnya captopril dan ramipril.

·           Angiotensin II receptor blockers – bekerja dengan menghambat efek angiotensin sehingga menurunkan tekanan darah. Contohnya losartan.

·           Antikoagulan – berfungsi mencegah penggumpalan darah dengan menghambat kerja faktor pembekuan darah. Contohnya, heparin dan warfarin.

·           Antiplatelet – Sama halnya dengan antikoagulan, antiplatelet berfungsi mencegah terbentuknya gumpalan darah dengan cara yang berbeda. Contohnya, aspirin dan clopidrogel.

·           Antagonis kalsium – bekerja dengan mengatur kadar kalsium yang masuk ke otot jantung dan pembuluh darah, sehingga melebarkan pembuluh darh. Contohnya amlodipine dan nifedipine.

·           Penghambat beta – bekerja dengan menekan efek adrenalin yang meningkatkan detak jantung, sehingga jantung tidak bekerja terlalu keras. Contohnya metoprolol dan bisoprolol.

·           Penurun kolesterol – berfungsi meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) dan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL). Contohnya atorvastatin.

·           Obat digitalis – bekerja dengan meningkatkan kadar kalsium pada sel jantung, sehingga meningkatkan pompa jantung. Contohnya, digoxin.

·           Nitrat – berfungsi melebarkan pembuluh darah. Contohnya, nitrogliserin dan isosorbide dinitrate.

c)        Prosedur Medis. Pada beberapa kasus, dokter akan menjalankan prosedur bedah, agar kondisi pasien tidak semakin memburuk. Sebagai contoh, bila arteri pasien hampir atau sudah tertutup seluruhnya, dokter akan memasang stent atau ring ke arteri, agar aliran darah pasien kembali normal. Prosedur yang dilakukan tergantung kepada jenis penyakit jantung dan tingkat kerusakan jantung yang dialami pasien. Prosedur lain yang sering dilakukan adalah operasi bypass jantung. Prosedur operasi ini dilakukan dengan mencangkok pembuluh darah lain, sehingga aliran darah melewati pembuluh darah yang baru tersebut.

13.     Pencegahan Penyakit Jantung

Penyakit jantung yang disebabkan oleh kelainan tidak dapat dicegah. Namun demikian, banyak jenis penyakit ini yang dapat dicegah, dengan menjalani pola hidup sehat. Selain sebagai pencegahan, pola hidup sehat di bawah ini juga dapat membantu pasien penyakit jantung dalam proses penyembuhan:

·           Berhenti merokok. Rokok adalah faktor risiko utama penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner.

·           Rutin memeriksakan diri. Lakukan pemeriksaan rutin terkait kadar kolesterol, gula darah, dan tekanan darah. Ketahui kadar normal pada tiga kondisi tersebut, yaitu:

ü  Tekanan darah. Tekanan darah normal adalah di bawah 120/80 mm Hg.

ü  Kadar kolesterol jahat (LDL). Pada umumnya, kadar LDL normal adalah di bawah 130 mg/dL. Namun pada orang dengan faktor risiko penyakit jantung, kadar LDL sebaiknya berada di bawah 100 mg/dL. Sedangkan pada individu dengan penyakit jantung atau diabetes, kadar LDL disarankan di bawah 70 mg/dL.

ü  Kadar gula darah. Kadar gula darah normal umumnya kurang dari 100 mg/dL setelah tidak makan (puasa) selama setidaknya 8 jam, dan kurang dari 140 mg/dL 2 jam setelah makan.

·           Latihan atau olahraga rutin. Selain membantu menjaga kesehatan, latihan rutin selama 30-60 menit sehari dapat membantu mengontrol tekanan darah, serta kadar kolesterol dan gula darah. Akan tetapi, pada pasien aritmia dan kelainan jantung bawaan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter mengenai durasi latihan yang aman.

·           Konsumsi makanan sehat. Perbanyak konsumsi buah, sayuran, gandum, dan lemak omega-3. Selain itu, batasi konsumsi daging merah, serta hindari makanan tinggi gula, lemak, kolesterol, dan garam. Ketahui juga batas kandungan kalori dalam makanan yang dikonsumsi, dan usahakan untuk mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi dan rendah kalori.

·           Jaga berat badan ideal. Berat badan berlebih atau obesitas, dapat meningkatkan risiko terserang penyakit jantung.

·           Kelola stres dengan baik. Stres dalam jangka panjang dapat menyebabkan jantung bekerja lebih keras. Oleh karena itu, sebisa mungkin kurangi stres dengan menjalani aktivitas fisik. Sebagai contoh, lakukan latihan yang melibatkan teknik pernapasan dan relaksasi otot, seperti yoga. Konsultasikan dengan dokter bila Anda sering merasa bingung, tertekan, dan marah tiap kali menghadapi masalah.

·           Menjaga kebersihan tubuh. Rutin mencuci tangan, menyikat gigi, dan hindari kontak dengan orang yang sedang terserang penyakit infeksi seperti flu.

 


 

BAB III

PENUTUP

 

 

A.      Kesimpulan

Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan ciri-ciri berupa tingginya kadar gula (glukosa) darah. Glukosa merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh manusia.

Glukosa yang menumpuk di dalam darah akibat tidak diserap sel tubuh dengan baik dapat menimbulkan berbagai gangguan organ tubuh. Jika diabetes tidak dikontrol dengan baik, dapat timbul berbagai komplikasi yang membahayakan nyawa penderita.

Hipertensi adalah nama lain dari tekanan darah tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang parah dan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan terkadang kematian.

Tekanan darah adalah kekuatan yang diberikan oleh sirkulasi darah terhadap dinding arteri tubuh, yaitu pembuluh darah utama dalam tubuh. Tekanan ini tergantung pada resistensi pembuluh darah dan seberapa keras jantung bekerja. Semakin banyak darah yang dipompa jantung dan semakin sempit arteri, maka semakin tinggi tekanan darah.

TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan TB adalah penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC akan menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama (lebih dari 3 minggu), biasanya berdahak, dan terkadang mengeluarkan darah.

Penyakit jantung adalah kondisi ketika jantung mengalami gangguan. Bentuk gangguan itu sendiri bisa bermacam-macam. Ada gangguan pada pembuluh darah jantung, irama jantung, katup jantung, atau gangguan akibat bawaan lahir.

Jantung adalah otot yang terbagi menjadi empat ruang. Dua ruang terletak di bagian atas, yaitu atrium (serambi) kanan dan kiri. Sedangkan dua ruang lagi terletak di bagian bawah, yaitu ventrikel (bilik) kanan dan kiri. Antara ruang kanan dan kiri dipisahkan oleh dinding otot (septum) yang berfungsi mencegah tercampurnya darah yang kaya oksigen dengan darah yang miskin oksigen.

 

B.       Saran

Diabetes Mellitus

Meningkatkan penyuluhan-penyuluhan pada masyarakat, sehingga pengertian masyarakat tentang diabetes mellitus akan bertambah.

Mengetahui tanda bahaya dari adanya komplikasi diabetes secara dini sangat perlu agar tindakan medis secara dini dapat dilaksanakan.

Segeralah mulai melakukan olahraga kesehatan sebelum menjadi penyandang cacat akibat penyulit diabetes. Mengikuti semua nasehat dokter, baik dalam melakukan olah raga, mengatur diit serta dalam cara meminum obat

Hipertensi

Bagi pasien hipertensi, konsumsi obat bisa membantu mengontrol tekanan darah. Namun, pengaturan gaya hidup juga tak kalah penting. 

TBC

Selama pengobatan, penderita TBC harus rutin menjalani pemeriksaan dahak untuk memantau keberhasilannya.

Jantung

Untuk mencegah penyakit jantung koroner selain dengan diet rendah lemak jenuh, mengurangi merokok, dan olah raga konsumsi omega-3 juga baik dalam mencegah dan mengurangi insidensi mortalitas penyakit jantung koroner. Dalam mengkomsumsi omega-3 juga perlu menyajikan co-faktor seperti vit B6, B3, C, E, A dan mineral zinc dan magnesium.


ingin mendapatkan file MS WORD silahkan klik DISINI

0 comments:

Post a Comment