Thursday, March 17, 2022

COMMUNITY PERIODONTAL INDEX FOR TREATMENT NEEDS (CPITN)

 BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Penyakit periodontal adalah penyakit yang mengenai jaringan pendukung gigi, yaitu gingiva/gusi serta jaringan periodontal, yaitu jaringan yang menghubungkan antara gigi dan tulang penyangga gigi yaitu tulang alveolar. Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit yang sangat meluas dalam kehidupan manusia, sehingga kebanyakan masyarakat menerima keadaan ini sebagai sesuatu yang tidak terhindari. Namun studi etiologi, pencegahan dan perawatan penyakit periodontal menunjukkan bahwa penyakit ini dapat dicegah. Penyakit yang paling sering mengenai jaringan periodontal adalah gingivitis dan periodontitis.

Gingivitis adalah peradangan pada gusi yang disebabkan bakteri dengan tanda-tanda klinis perubahan warna lebih merah dari normal, gusi bengkak dan berdarah pada tekanan ringan. Penderita biasanya tidak merasa sakit pada gusi. Gingivitis bersifat reversible yaitu jaringan gusi dapat kembali normal apabila dilakukan pembersihan plak dengan sikat gigi secara teratur. Periodontitis menunjukkan peradangan yang sudah mengenai jaringan pendukung gigi yang lebih dalam. Penyakit ini bersifat progresif, biasanya dijumpai antara usia 30-40 tahun dan bersifat irreversible/tidak dapat kembali normal seperti semula, yaitu apabila tidak dirawat dapat menyebabkan kehilangan gigi dan bila gigi tersebut sampai hilang/tanggal berarti terjadi kegagalan dalam mempertahankan keberadaan gigi di dalam rongga mulut seumur hidup.

Porphyromonas Gingivalis merupakan bakteri coccobacillus gram negatif anaerob obligat di rongga mulut yang dikaitkan dengan kerusakan jaringan periodontal pada manusia. Porphyromonas Gingivalis hampir selalu ditemukan di daerah subgigiva dan persisten dalam reservoir pada permukaan mukosa seperti pada lidah dan tonsila, namunPorphyromonas Gingivalis jarang ditemukan dalam plak manusia yang sehat. Seperti telah disebutkan diatas, kerusakan jaringan secara langsung dapat diakibatkan oleh infeksi bakteri P.gingivalis melalui produk-produk bakterimaupun secara tidak langsung.

Menjaga oral hygiene/kebersihan mulut merupakan obat pencegah yang paling efektif yaitu melalui pembersihan dan eliminasi faktor lokal seperti plak dengan gosok gigi dan dengan scalling untuk meghilangkan kalkulus/karang gigi. Kalkulus merupakan deposit keras yang berasal dari plak yang mengalami kalsifikasi biasanya terdapat di servikal/leher gigi dan dapat menjadi iritan kronis terhadap gusi sehingga mengakibatkan peradangan. Disamping itu pencegahan penyakit periodontal dapat dilakukan dengan menghilangkan kebiasaan buruk seperti bruxism/kerot, bernapas melalui mulut serta mengkoreksi kondisi gigi yang mengalami trauma oklusal karena malposisi, yaitu posisi gigi yang salah maupun gigi yang terpendam.

 

B.       Rumusan Msalah

1.         Bagaimana caranya mendapatkan data tentang status periodontal masyarakat?

2.         Apa saja rencana program penyuluhan

3.         Bagaimana menentukan kebutuhan perwatan (jenis tindakan, beban kerja, kebutuhan tenaga)

 

C.      Tujuan Pengukuran atau Pemeriksaan CPITN

1.         Mendapatkan data tentang status periodontal masyarakat.

2.         Merencanakan program penyuluhan.

3.         Menentukan kebutuhan perawatan (jenis tindakan, beban kerja, kebutuhan tenaga).

4.         Memantau kemajuan kondisi periodontal individu.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

A.        Pengertian CPITN

Pengertian CPITN atau Community Periodontal Index for Treatment Needs adalah indeks resmi yang digunakan oleh WHO untuk mengukur kondisi jaringan periodontal serta perkiraan akan kebutuhan perawatannya dengan menggunakan sonde khusus yaitu WHO Periodontal Examining Probe.

Sonde khusus yang dipergunakan untuk pemeriksaan CPITN ini memiliki bentuk ujung bulat dengan diameter 0,5 mm, dengan kode warna 3,5 sampai 5,5 mm.

 

B.        Tujuan Pengukuran atau Pemeriksaan CPITN adalah :

1.          Mendapatkan data tentang status periodontal masyarakat.

2.          Merencanakan program penyuluhan.

3.          Menentukan kebutuhan perawatan (jenis tindakan, beban kerja, kebutuhan tenaga).

4.          Memantau kemajuan kondisi periodontal individu.

 

C.        Pemeriksaan CPITN Ini Menggunakan 6 Sektan

1.          Sektan kanan atas : elemen gigi 1.7, 1.6, 1.5, 1.4 (sektan 1)

2.          Sektan anterior (depan) atas : elemen gigi 1.3, 1.2, 1.1, 2.1, 2.2, 2.3 (sektan 2)

3.          Sektan kiri atas : elemen gigi 2.4, 2.5, 2.6, 2.7 (sektan 3)

4.          sektan kiri bawah : elemen gigi 3.7, 3.6. 3.5, 3.4 (sektan 4)

5.          Sektan anterior bawah : elemen gigi 3.3, 3.2, 3.1, 4.1, 4.2, 4 (sektan 5)

6.          Sektan kanan bawah : elemen gigi 4.4, 4.5, 4.6, 4.7 (sektan 6)

Gigi Index CPITN Terbagi Dan Tergantung Atas Tiga Kelompok Umur

1.          Umur 20 tahun atau lebih

2.          Umur 16 tahun sampai 19 tahun

3.          Umur kurang dari 15 tahun

 

D.        Dalam Pemeriksaan CPITN Perlu Diperhatikan

1.          Apabila salah satu gigi geraham atau molar dan juga gigi seri atau incisivus tidak ada, tidak diperlukan penggantian gigi.

2.          Apabila dalam satu sektan tidak terdapat gigi index maka gigi dalam sektan tersebut diperiksa semuanya dan yang diambil adalah gigi dengan skor tertinggi. 

3.          Umur 19 tahun kebawah tidak dilakukan pemeriksaan Molar Kedua (M2) untuk menghindari false pocket.

4.          Umur 15 tahun kebawah, pencatatan hanya dilakukan bila ada perdarahan daerah gusi dan karang gigi saja.

5.          Jika gigi index dan penggantinya tidak ada maka sektan diberi tanda X.

Lebih gampangnya, tentang kelompok umur, gigi indax dan skornya adalah sebagai berikut:

1.          Umur 20 tahun atau lebih, gigi index yang diperiksa adalah 1.7, 1.6, 1.1, 2.1, 2.6, 2.7, 3.7, 3.6, 3.1, 4.1, 4.6, 4.7, dengan skor 0, 1, 2, 3, 4.

2.          Umur 16 tahun sampai 19 tahun, gigi index yang diperiksa adalah 1.6, 1.1, 2.6, 3.6, 3.1, 4.6, dengan skor 0, 1, 2, 3, 4.

3.          Umur kurang dari 15 tahun, gigi index yang diperiksa adalah sama dengan 16-19 tahun, dengan skor 0,1, 2.


 

BAB III

PENUTUP

 

 

A.        Kesimpulan

Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang adekuat bagi komunitas tertentu, seringkali perlu ditentukan kebutuhan perawatan. CPITN terbukti merupakan sistem yang paling sering digunakan untuk tujuan ini dan menggunakan metode berikut:

Sistem pemberian skor (menggunakan probe)

0          :  tidak ada poket atau pendarahan gingiva pada saat penyondean

1          : perdarahan gingiva pada saat penyondean

2          : kalkulus supra- sub gingiva

4               :  Poket sedalam 3,5-5,5 mm

4                :  poket > 6 mm

Rencana perawatan

Rencana perawatan ditentukan dengan berlandasakan pada:

0          :  tidak perlu

2               :  Perawatan di rumah

2 dan 3: skeling dan perbaikan perarawatan gigi di rumah

4          :  memerukan perawatan rumit, (skeling operasi dan perawatan di rumah)(Wahyukundari, 2008).

 

B.        Saran

Sebaiknya pengaplikasian CPITN lebih dimaksimalkan lagi, banyak orang di Indonesia kurang mengetahui tentang penyakit gigi dan mulut apalagi tentang penyakit periodontal. Dengan pengaplikasian CPITN diharapkan penyakit periodontal yang terjadi pada suatu komunitas dapat tertangani dengan baik sesuai dengan kebutuhan perawatannya.

untuk mendapatkan file lengkapnya silahkan klik DISINI

0 comments:

Post a Comment