Wednesday, March 9, 2022

PROGRAM KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA RENCANA USAHA DIPANG BAR CEMILAN TRADISIONAL BERGIZI DENGAN CITA RASA KEKINIAN UNTUK MENEMANI MASA PANDEMI

 

RINGKASAN

 

 Pulau Lombok mempunyai jenis olahan pangan tradisional yang beragam dan telah dikenal oleh masyarakat lokal, salah satunya yaitu Dipang. Dipang termasuk ke jenis makanan ringan yang dibuat dari beras ketan dan ditambahkan gula yang telah mengalami karamelisasi agar dapat memadat dan dipotong membentuk balok. Seiring dengan perkembangan zaman dipang mulai jarang dikonsumsi karena tergantikan dengan produk makanan modern yang mempunyai cita rasa dan bentuk yang sesuai dengan tren masyarakat saat ini.

Oleh karena itu, untuk membuat jenis makanan tradisional Lombok seperti dipang tetap eksis dikonsumsi masyarakat, dilakukan inovasi dengan menambahkan bahan-bahan bernilai gizi yang digemari masyarakat seperti raisin dan oatmilk. Perbaikan dilakukan pula pada bagian pengemasan dan bentuk dipang sehingga lebih sesuai dengan tren masyarakat saat ini.

Ditargetkan penjualan dapat mencapai segala kelas usia masyarakat karena menggabungkan kultur tradisional dan modern. Dengan besaran HPP senilai Rp. 6.660 dan laba target sebesar 10% maka harga jual produk ke pasaran sebesar Rp. 7.500. Diestimasikan produksi dapat mencapai 450 pcs produk per bulan, sehingga jika produk dapat habis sesuai dengan jalannya produksi diharapkan modal usaha sebesar Rp. 3.000.000 dapat kembali setelah 1 bulan kegiatan usaha.

silahkan klik DISINI untuk download file

I.            PENDAHULUAN

 

 

1.1         Latar Belakang

Keragaman kultur masyarakat Indonesia yang tinggi menyebabkan munculnya berbagai macam olahan pangan yang disesuaikan dengan ketersediaan jenis pangan daerah dan gaya hidup masyarakatnya, hal ini menyebabkan munculnya jenis makanan daerah satu dengan daerah lain sangat berbeda yang disebut sebagai makanan tradisional. Menurut Utami (2014) Makanan tradisional adalah makanan yang berasal dari Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah nusantara dan resepnya telah ada sejak dahulu serta menggunakan bahan-bahan yang sederhana. Keragaman olahan pangan di Indonesia dapat dilihat dari beragamnya jenis makanan tradisional yang telah dikonsumsi turun temurun, karena pengaruh adat atau kebutuhan sehari-hari banyak jenis olahan pangan tradisional yang masih digemari oleh masyarakat hingga saat ini termasuk di Pulau Lombok.

Di Pulau Lombok terdapat berbagai jenis pangan tradisional yang digemari masyarakat baik olahan makanan pokok maupun olahan makanan ringan salah satunya yaitu Dipang. Dipang terbuat dari beras ketan yang digoreng kemudian dilumuri dengan gula dan dibentuk seperti balok batu bata sebesar pergelangan tangan. Dengan rasa manisnya yang khas dan juga harganya yang tergolong murah, Dipang banyak digemari oleh berbagai kalangan usia terutama anak-anak. Namun demikian, sejalan dengan waktu karena cita rasa dan bahan yang terkandung dalam jajanan ini sangat sederhana dan jarang sekali ditambahkan inovasi, menyebabkan minat masyarakat lambat laun mulai berkurang.  Ditambah lagi, Berbagai jenis jajanan modern dengan kemasan yang lebih menark dan rasa yang lebih variatif telah menggeser kepopuleran Dipang.

 Olahan pangan dipang sebenarnya masih tergolong cocok untuk dikembangkan menjadi salah satu jenis olahan pangan fungsional saat ini, karena dipang mempunyai daya simpan yang cukup panjang dan mudah dalam pengolahannya, namun tentunya untuk dapat bersaing dengan produk makanan lain di pasaran harus ditambahkan bahan inovatif yang dapat meningkatkan keunggulan dan nilai jual dipang. Salah satu caranya yaitu menambahkan bahan pangan bernilai gizi seperti raisin (buah kering) dan oatmilk ke produk dipang. Seperti artikel yang dikemukakan dalam kompas.com menyatakan bahwa, tren hidup masyarakat saat ini  beralih ke gaya hidup sehat dan menyukai produk yang mempunyai nilai kesehatan, hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya nilai penjualan dari produk bernilai kesehatan.

Dengan menambahkan nilai gizi dalam olahan produk dipang yang disesuaikan dengan tren konsumsi masyarakat saat ini dan perbaikan dalam tampilan serta pengemasan, tentunya akan meningkatkan minat masyarakat terhadap produk dipang  dan menyebabkan makanan tradisional dapat tetap eksis di masyarakat. Oleh karenanya, penulis mengisiniasi sebuah program usaha yang berjudul Dipang Bar : Makanan Tradisional Cita Rasa Kekinian Bernilai Gizi

 

1.2         Peluang dan Persaingan Usaha

1.2.1        Peluang Usaha

Dari potensi yang telah disampaikan pada latar belakang, maka peluang usaha dari produk Dipang Bar ini yaitu,

1.        Tren konsumsi makanan sehat saat ini mulai meningkat menyebabkan kebutuhan akan produk bernilai kesehatan juga meningkat.

2.        Dipang merupakan makanan tradisional yang telah banyak dikenal dan disukai masyarakat luas sehingga penetrasi inovasi produk ke konsumen lebih mudah.

3.        Meningkatnya tren konsumsi makanan ringan praktis yang membuka peluang produk siap santap.

4.        Konep mengombinasikan produk makanan tradisional dengan tren modern menjadikan produk usaha menjadi produk yang memiliki keunikan dan kebaruan di konsumen.

1.2.2        Persaingan Usaha

1.        Munculnya pesaing yang memasarkan produk serupa dengan produk usaha.

2.        Terdapat produk  makanan lain  yang dapat menjadi produk substitusi dari produk usaha.

 

1.3         Tujuan Berwirausaha

Tujuan dari kegiatan usaha ini sebagai berikut,

1.             Membantu melestarikan makanan tradisional Lombok dan meningkatkan nilai konsumsinya dengan memberikan inovasi pada produk makanan tersebut sesuai dengan tren masyarakat saat ini.

2.             Menghasilkan produk makanan siap santap yang praktis dan bernilai gizi yang dapat berperan sebagai pemenuhan kebutuhan gizi harian masyarakat saat menjalankan aktivitas.

3.             Menumbuhkan kegiatan usaha mikro skala mahasiswa yang dapat terus dikembangkan untuk menciptkan kolompok usaha skala masyarakat.

 

1.4         Motivasi Berwirausaha

Motivasi dari kegiatan usaha ini yaitu,

1.             Menciptakan produk usaha yang mengedepankan kualitas bagi konsumen.

2.             Menciptakan produk inovatif yang menggabungkan antara cita rasa tradisional dengan tren saat ini sehingga produk dapat diterima berbagai kalangan.

3.             Keinginan mengubah mindset masyarakt umum tentang produk bernilai gizi harus mempunyai harga yang tinggi.

4.             Menumbuhkan jiwa wirausaha yang bertanggung jawab dalam anggota dan mitra usaha.

 

1.5         Manfaat Langsung dan Tidak Langsung

1.5.1        Manfaat Langsung

Manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh program kewirausahaan ini yaitu:

1.        Menjadikan produk usaha sebagai produk inovatif di tengah konsumen saat ini.

2.        Memberikan produk yang mempunyai dampak baik terhadap konsumen dalam segi rasa maupun kandungan gizi.

3.        Menghasilkan produk praktis tepat guna yang dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan ekonomi masyarakat.

1.5.2        Manfaat Tidak Langsung

Manfaat tidak langsung dari wirausaha ini adalah,

1.        Menumbuhkan jiwa wirausaha mahasiswa pengelola untuk terus dikembangkan sesuai dengan potensi dan kebutuhan konsumen saat ini.

2.        Inspirasi bagi mahasiswa khususnya dan masyarakat umumnya dalam menciptakan usaha  skala mikro.

 

 


 

II.         GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA

 

 

 

2.1         Kapasitas Produksi

2.1.1        Kuantitas

Proses produksi dilakukan setiap minggu dengan estimasi dua hari produksi per minggu sehingga selama 1 bulan kegiatan dilakukan 4 kali produksi, setiap produksi minimal menghasilkan 115 pcs produk usaha sehingga dalam satu bulan dapat menghasilka produksi minimal 450 pcs produk usaha.

2.1.2        Kualitas

Produksi diestimasikan dapat berjalan secara konstan karena perkembangan dari pangsa pasar produk sejalan dengan proses pemasaran produk. Perkembangan produk diestimasikan dapat mencapai 10% setiap bulannya yang meningkat secara konstan sehingga produksi yang dihasilkan terus bertambah dari bulan sebelumnya.

 

2.2         Pengemasan

Pengemasan produk usaha menggunakan dua kemasan, kemasan pertama menggunakan  plastic wrap atau plastik bening untuk membungkus satuan produk sekaligus dapat menjaga produk dari kontaminan sehingga tahan lama dalam proses penyimpanan. Kemasan kedua merupakan kemasan luar yang berfungsi sebagai pembungkus produk satuan dan media identitas produk, kemasan kedua menggunakan standing pouch yang dapat berisi beberapa potong produk usaha. Diestimasikan harga kemasan tidak melebihi 10% dari harga total produk usaha. Berikut ilustrasi pengemasan produk usaha,

 


               Gambar  1. Ilustrasi produk usaha



    Gambar  2. Pengemasan pertama menggunakan plastik bening

 


              Gambar  3. Kemasan luar standing pouch

2.3         Merek Dagang

Merek dagang produk usaha yang diajukan yaitu, Dipang Bar yang merupakan produk makanan tradisional yang telah dimodifikasi dengan cita rasa modern dan ditambah beberapa bahan inovatif untuk meningkatkan nilai gizinya. Dengan memanfaatkan konsep usaha yang menggabungkan makanan tradisional yang dikombinasikan dengan tren saat ini, maka dibuat tagline produk usaha  yaitu Dipang Bar : Makanan Tradisional Cita Rasa Kekinian Bernilai Gizi. Penggunaan tagline diharapkan menjadi identitas produk usaha sehingga konsumen mengetahui produk yang diusahakan.

 

2.4         Labeling

Pelabelan produk dilakukan pada kemasan luar sebagai identitas produk usaha dan media promosi produk. Pelabelan menggunakan stiker warna tahan air sehingga tidak mudah rusak saat dipasarkan ke konsumen namun tetap menarik. Pada label mengandung informasi mengenai merek dagang, tagline, berat bersih produk, komposisi dan masa simpan produk. Berikut gambaran pelabelan yang akan digunakan,

Gambar  4. Label produk

 

 

 

 

 


 

III.     PEMASARAN3

3.1         Segmentasi Pasar

Produk usaha merupakan produk makanan tradisional yang telah banyak di kenal khususnya di Pulau Lombok sehingga tidak terlalu sulit melakukan penetrasi produk ke konsumen. Selain itu, produk diolah menjadi bercita rasa kekinian dan menggunakan bahan-bahan yang bernilai gizi sehingga sesuai dengan tren masyarakat saat ini. Karena  mengangkat produk tradisional dengan konsep kekinian, maka pangsa pasar produk dapat menjangkau berbagai kalangan usia. Berikut segmentasi pasar yang ditargetkan,

1.             Konsumen pelajar usia 12 – 17 tahun

Produk usaha Dipang Bar mempunyai harga yang tergolong terjangkau dengan kondisi ekonomi konsumen kelas pelajar, ditambah dengan rasa dan bentuk produk yang kekinian yang sesuai dengan psikologi konsumen di rentang usia target.

2.             Kalangan mahasiswa

Mahasiswa mempunyai gaya hidup yang dinamis dan cenderung berfikir praktis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga produk Dipang Bar yang mudah untuk dikonsumsi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi harian sangat cocok dijadikan produk makanan alternatif mahasiswa saat melakukan kegiatan.

3.             Konsumen dewasa usia 25 – 50 tahun

Produk Dipang Bar merupakan olahan makanan tradisional yang mengalami inovasi bahan baku untuk mendiversifikasi pangan masyarakat menjadi produk bernilai gizi, sehingga produk ini dapat diterima di usia masyarakat dewasa yang menginginkan produk makanan tradisional namun mempunyai kandungan nutrisi yang baik bagi konsumen.

 

3.2         Strategi Pemasaran

Strategi pemasaran yang akan dilakukan untuk meningkatkan pemasaran produk ini diantaranya :

1.             Menggunakan Media Sosial

Strategi pemasaran Dipang Bar dilakukan dengan memanfaatan media sosial yang sedang banyak digunakan saat ini, hal ini dilakukan karena promosi melalui media sosial dapat menjangkau berbagai lapisan usia konsumen dan membantu proses pemasaran yang lebih luas.

2.             Penjualan langsung

Penjualan dilakukan menggunakan promosi secara langsung kepada calon pembeli pada awal proses pemasaran, hal ini ditujukan untuk menarik perhatian konsumen dan lebih mengenalkan produk ke konsumen sehingga pangsa pasar akan semakin luas.

3.             Memberikan potongan harga untuk jumlah pembelian tertentu

Pemberian potongan harga bagi konsumen bertujuan menambah keinginan untuk membeli produk. Konsumen akan mendapatkan potongan harga jika membeli produk dalam jumlah tertentu yang telah disesuaikan dengan omset yang akan didapatkan. Kegiatan pemberian potongan harga dilakukan hanya pada masa awal penjualan.

 

3.3         Perluasan Pangsa Pasar

Untuk memperluas pangsa pasar, dilakukan beberapa strategi diantaranya,

1.             Menambah Variasi Produk

Penambahan variasi produk dimaksudkan untuk menjaga eksistensi produk di kalangan konsumen. Variasi produk disesuaikan dengan perkembangan tren konsumen dan kebutuhan konsumen sehingga variasi yang dibuat sesuai dengan kebutuhan pasar. Penambahan variasi produk dapat berupa rasa dan komposisi bahan produk Dipang Bar.


 

2.             Membentuk Kemitraan

Kemitraan berfungsi untuk memperluas areal pemasaran sehingga dapat menjangkau berbagai lapisan konsumen. Jika pada awal proses pemasaran dilakukan di sekitar area universitas mataram, maka akan dibentuk kemitraan diluar universitas mataram atau di daerah baru sehingga produk Dipang Bar tersedia di berbagai daerah.

 

3.4         Target Harga dan Penjualan

3.4.1        Target Harga

Nilai HPP produk usaha sebesar Rp. 6.660, diestimasikan laba per produk sebesar 10% sehingga harga jual minimal produk usaha yaitu Rp. 7.332, untuk membuat harga produk menjadi praktis maka harga dasar produk dibulatkan menjadi Rp. 7.500. Sejalan dengan proses usaha maka akan dilakukan variasi produk dengan harga produk yang bervariasi pula.

3.4.2        Target penjualan

Produk usaha Dipang Bar ditargetkan per bulan dapat menjual 450 pcs produk, sehingga setiap hari minimal terjual 15 produk. Jika penjualan berjalan konstan tanpa mengalami penurunan, maka diestimasikan modal investasi awal dapat kembali setelah 1 bulan kegiatan usaha.

 


 

IV.      KELAYAKAN USAHA

 

 

 

 

4.1         Target Penjualan dan Penerimaan

Produk usaha Dipang Bar dalam satu bulan ditargetkan dapat menjual produk minimal 450 pcs, sehingga setiap hari minimal menjual 15 produk ke konsumen. Dari HPP sebesar Rp. 6.660 per produk, laba yang diharapkan minimal 10% dari HPP, sehinga modal investasi yang dikeluarkan sebesar Rp. 3.000.000 dapat kembali setelah 1 bulan kegiatan produksi dan menghasilkan omset penjualan sebesar Rp. 3.375.000, dari kegiatan usaha didapatkan laba kotor sebesar Rp. 375.000 yang meningkat secara linier per bulan minimal 10% sehingga pada 4 bulan kegiatan didapatkan laba kotor total sebesar Rp. 2.350.000.

 

4.2         Biaya Produksi Dan Harga Per Unit

                                    Total Biaya Tetap + Total Biaya Operasional

Biaya Produksi         = ----------------------------------------------------------

Target Produksi

 

Harga per unit          =   Biaya Produksi per unit + Target Laba per unit

                                 =   6.660 + laba 10% dari HPP

                                 =   6.660 + 666

                                 =  7.332 (dibulatkan menjadi 7.500)

                                 =  Jadi harga bawah produk bernilai Rp. 7.500

 

4.3         Perhitungan Laba Rugi Kotor

1.             Omset penjualan per bulan x 4 bulan

=  Produksi/bulan x Harga x 4 bulan

=  450 x 7.500 x 4

=  Rp. 13.500.000

 

2.             Omzet biaya operasional per bulan x 4 bulan

 =  Biaya/bulan x 4 bulan

 =  3.000.000 x 4

 =  Rp. 12.000.000

 

3.             Saldo

=  Omzet Penjualan - Biaya Operasonal

=  13.500.000 - 12.000.000

=  Rp. 1.500.000

 

4.4         Analisis Kelayakan

1.             Analisis Titik Impas (BEP)

=  450

                               =   Jadi, modal ditargetkan akan kembali setelah penjualan mencapai 450 produk dengan waktu produksi selama 1 bulan kegiatan.

                   BEPRp = BEPq x Harga per unit

                               = 450  x 7.500

= Rp. 3.375.000

                               =   Dari modal awal senilai Rp. 3.000.000 dalam penjualan produk ke-450 akan didapatkan  laba kotor sebesar             Rp. 375.000

2.             Return on Invesment

RoI      =   Laba Kotor / Asset

                               =   Modal investasi yang dikeluarkan sebesar Rp. 3.000.000 setelah 4 bulan akan menghasilkan labar sebesar 50% dari modal yaitu sebesar Rp. 1.500.000

3.             Provitabilitas

V         = Laba Bersih /Biaya Produksi

 

                               =   Jadi, dengan biaya tetap yang berjumlah Rp. 1.100.000 ditambah biaya variabel bahan sebesar Rp. 1.900.000 dan biaya variabel lain seperti biaya listrik, air dan tenaga kerja diestimasikan sebesar Rp. 300.000, maka nilai provitabilitas bernilai 45% sehingga selama 4 bulan kegiatan usaha dapat menghasilkan laba sebesar 45%.

 

 

V.         JADWAL KEGIATAN USAHA

 

No

Kegiatan

Bulan ke-

1

2

3

4

5

 

Minggu ke-

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Pelatihan Kewirausahaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penyusunan Rencana Usaha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengusulan Rencana Usaha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Pelaksanaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Start Up

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan Usaha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendampingan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Monev

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Monitoring

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Evaluasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Pelaporan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VI.      RENCANA ANGGARAN

 

 

 

No

Uraian

Vol

Harga/unit

Jumlah

%

A

Biaya Investasi

 

1.      Loyang Aluminium

4

20.000

80.000

2,6

2.      Pisau

1

15.000

15.000

0,5

3.      Wajan

1

75.000

75.000

2,5

4.      Panci

2

65.000

130.000

4,3

5.      Oven Manual

1

400.000

400.000

13,3

6.      Hand Sealer

1

200.000

200.000

6,6

7.      Box Penyimpanan

1

200.000

200.000

6,6

Jumlah A

Rp. 1.100.000

36,6

B

Biaya Operasional

 

1.     Beras

15 kg

10.000/kg

150.000

5,0

2.     Ketan

10 kg

15.000/kg

150.000

5,0

3.     Gula Pasir

5 kg

12.000/kg

60.000

2,0

4.     Gula Merah

2 kg

15.000/kg

30.000

1,0

5.     Madu

1 L

200.000

200.000

6,6

6.     Raisin

1 kg

70.000

70.000

2,3

7.     Sokade

5 pcs

5.000

25.000

0,8

8.     Susu Bubuk

3 pcs

70.000

210.000

7,0

9.     Granola

5 kg

30.000/kg

150.000

5,0

10.  Kacang Tanah

3 kg

20.000

60.000

2,0

11.  Kedelai Kering

3 kg

20.000

60.000

2,0

12.  Plastic Wrap

3 rol

30.000

90.000

3,0

13.  Kemasan + Label

1 paket

200.000

300.000

10

14.  Minyak Goreng

10 L

12.000

120.000

4,0

15.  Aneka Buah Kering

1 paket

225.000

225.000

7,5

Jumlah B

Rp. 1.900.000

63,3

Jumlah A + B

Rp. 3.000.000

100%

 


 

VII.   SUMBER MODAL

 

 

 

1.             Modal Sendiri (iuran anggota)                      =   Rp 0

2.             Modal Pinjaman                                             =   Rp 0

3.             Modal Stimulan dari PNBP BLU Unram      =   Rp 3.000.000                        

Jumlah Modal                                                =   Rp 3.000.000

 

 

0 comments:

Post a Comment