RINGKASAN
Pulau Lombok mempunyai jenis olahan pangan tradisional yang beragam dan telah dikenal oleh masyarakat lokal, salah satunya yaitu Dipang. Dipang termasuk ke jenis makanan ringan yang dibuat dari beras ketan dan ditambahkan gula yang telah mengalami karamelisasi agar dapat memadat dan dipotong membentuk balok. Seiring dengan perkembangan zaman dipang mulai jarang dikonsumsi karena tergantikan dengan produk makanan modern yang mempunyai cita rasa dan bentuk yang sesuai dengan tren masyarakat saat ini.
Oleh karena itu, untuk membuat jenis makanan tradisional
Lombok seperti dipang tetap eksis dikonsumsi masyarakat, dilakukan inovasi
dengan menambahkan bahan-bahan bernilai gizi yang digemari masyarakat seperti
raisin dan oatmilk. Perbaikan dilakukan pula pada bagian pengemasan dan bentuk
dipang sehingga lebih sesuai dengan tren masyarakat saat ini.
Ditargetkan penjualan dapat mencapai segala kelas usia
masyarakat karena menggabungkan kultur tradisional dan modern. Dengan besaran
HPP senilai Rp. 6.660 dan laba target sebesar 10% maka harga jual produk ke
pasaran sebesar Rp. 7.500. Diestimasikan produksi dapat mencapai 450 pcs produk
per bulan, sehingga jika produk dapat habis sesuai dengan jalannya produksi
diharapkan modal usaha sebesar
Rp. 3.000.000 dapat kembali setelah 1 bulan kegiatan usaha.
silahkan klik DISINI untuk download file
Keragaman
kultur masyarakat Indonesia yang tinggi menyebabkan munculnya berbagai macam
olahan pangan yang disesuaikan dengan ketersediaan jenis pangan daerah dan gaya
hidup masyarakatnya, hal ini menyebabkan munculnya jenis makanan daerah satu
dengan daerah lain sangat berbeda yang disebut sebagai makanan tradisional. Menurut
Utami (2014) Makanan
tradisional adalah makanan yang berasal dari Indonesia yang tersebar di
berbagai wilayah nusantara dan resepnya telah ada sejak dahulu serta
menggunakan bahan-bahan yang sederhana. Keragaman olahan pangan di
Indonesia dapat dilihat dari beragamnya jenis makanan tradisional yang telah
dikonsumsi turun temurun, karena pengaruh adat atau kebutuhan sehari-hari
banyak jenis olahan pangan tradisional yang masih digemari oleh masyarakat
hingga saat ini termasuk di Pulau Lombok.
Di Pulau
Lombok terdapat berbagai jenis pangan tradisional yang digemari masyarakat baik
olahan makanan pokok maupun olahan makanan ringan salah satunya yaitu Dipang. Dipang
terbuat dari beras ketan yang digoreng kemudian dilumuri dengan gula dan
dibentuk seperti balok batu bata sebesar pergelangan tangan. Dengan rasa
manisnya yang khas dan juga harganya yang tergolong murah, Dipang banyak
digemari oleh berbagai kalangan usia terutama anak-anak. Namun demikian, sejalan
dengan waktu karena cita rasa dan bahan yang terkandung dalam jajanan ini
sangat sederhana dan jarang sekali ditambahkan inovasi, menyebabkan minat masyarakat
lambat laun mulai berkurang. Ditambah
lagi, Berbagai jenis jajanan modern dengan kemasan yang lebih menark dan rasa
yang lebih variatif telah menggeser kepopuleran Dipang.
Olahan pangan dipang sebenarnya masih
tergolong cocok untuk dikembangkan menjadi salah satu jenis olahan pangan
fungsional saat ini, karena dipang mempunyai daya simpan yang cukup panjang dan
mudah dalam pengolahannya, namun tentunya untuk dapat bersaing dengan produk
makanan lain di pasaran harus ditambahkan bahan inovatif yang dapat
meningkatkan keunggulan dan nilai jual dipang. Salah satu caranya yaitu
menambahkan bahan pangan bernilai gizi seperti raisin (buah kering) dan oatmilk
ke produk dipang. Seperti artikel yang dikemukakan dalam kompas.com menyatakan
bahwa, tren hidup masyarakat saat ini
beralih ke gaya hidup sehat dan menyukai produk yang mempunyai nilai
kesehatan, hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya nilai penjualan dari
produk bernilai kesehatan.
Dengan
menambahkan nilai gizi dalam olahan produk dipang yang disesuaikan dengan tren
konsumsi masyarakat saat ini dan perbaikan dalam tampilan serta pengemasan,
tentunya akan meningkatkan minat masyarakat terhadap produk dipang dan menyebabkan makanan tradisional dapat
tetap eksis di masyarakat. Oleh karenanya, penulis mengisiniasi sebuah program
usaha yang berjudul Dipang Bar : Makanan Tradisional Cita Rasa Kekinian
Bernilai Gizi
1.2
Peluang dan Persaingan Usaha
1.2.1
Peluang Usaha
Dari potensi yang telah disampaikan pada latar belakang,
maka peluang usaha dari produk Dipang Bar ini yaitu,
1.
Tren konsumsi makanan sehat saat ini mulai meningkat
menyebabkan kebutuhan akan produk bernilai kesehatan juga meningkat.
2.
Dipang merupakan makanan tradisional yang telah banyak
dikenal dan disukai masyarakat luas sehingga penetrasi inovasi produk ke
konsumen lebih mudah.
3.
Meningkatnya tren konsumsi makanan ringan praktis yang
membuka peluang produk siap santap.
4.
Konep mengombinasikan produk makanan tradisional dengan
tren modern menjadikan produk usaha menjadi produk yang memiliki keunikan dan
kebaruan di konsumen.
1.2.2
Persaingan Usaha
1.
Munculnya pesaing yang memasarkan produk serupa dengan
produk usaha.
2.
Terdapat produk
makanan lain yang dapat menjadi
produk substitusi dari produk usaha.
Tujuan
dari kegiatan usaha ini sebagai berikut,
1.
Membantu melestarikan makanan tradisional Lombok dan
meningkatkan nilai konsumsinya dengan memberikan inovasi pada produk makanan
tersebut sesuai dengan tren masyarakat saat ini.
2.
Menghasilkan produk makanan siap santap yang praktis dan
bernilai gizi yang dapat berperan sebagai pemenuhan kebutuhan gizi harian
masyarakat saat menjalankan aktivitas.
3.
Menumbuhkan kegiatan usaha mikro skala mahasiswa yang
dapat terus dikembangkan untuk menciptkan kolompok usaha skala masyarakat.
Motivasi dari kegiatan usaha ini yaitu,
1.
Menciptakan produk usaha yang mengedepankan kualitas bagi
konsumen.
2.
Menciptakan produk inovatif yang menggabungkan antara
cita rasa tradisional dengan tren saat ini sehingga produk dapat diterima
berbagai kalangan.
3.
Keinginan mengubah mindset masyarakt umum tentang produk
bernilai gizi harus mempunyai harga yang tinggi.
4.
Menumbuhkan jiwa wirausaha yang bertanggung jawab dalam
anggota dan mitra usaha.
1.5
Manfaat Langsung dan Tidak Langsung
1.5.1
Manfaat
Langsung
Manfaat
yang dapat dirasakan langsung oleh program kewirausahaan ini yaitu:
1.
Menjadikan produk usaha sebagai produk inovatif di tengah
konsumen saat ini.
2.
Memberikan produk yang mempunyai dampak baik terhadap
konsumen dalam segi rasa maupun kandungan gizi.
3.
Menghasilkan produk praktis tepat guna yang dapat
dikonsumsi oleh berbagai kalangan ekonomi masyarakat.
Manfaat
tidak langsung dari wirausaha ini adalah,
1.
Menumbuhkan jiwa wirausaha mahasiswa pengelola untuk
terus dikembangkan sesuai dengan potensi dan kebutuhan konsumen saat ini.
2.
Inspirasi bagi mahasiswa khususnya dan masyarakat umumnya
dalam menciptakan usaha skala mikro.
II.
GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
2.1.1
Kuantitas
Proses produksi dilakukan setiap minggu dengan estimasi
dua hari produksi per minggu sehingga selama 1 bulan kegiatan dilakukan 4 kali
produksi, setiap produksi minimal menghasilkan 115 pcs produk usaha sehingga
dalam satu bulan dapat menghasilka produksi minimal 450 pcs produk usaha.
Produksi diestimasikan dapat berjalan
secara konstan karena perkembangan dari pangsa pasar produk sejalan dengan
proses pemasaran produk. Perkembangan produk diestimasikan dapat mencapai 10% setiap bulannya yang meningkat
secara konstan
sehingga produksi yang dihasilkan terus bertambah dari bulan sebelumnya.
Pengemasan
produk usaha menggunakan dua kemasan, kemasan pertama menggunakan plastic
wrap atau plastik bening untuk membungkus satuan produk sekaligus dapat
menjaga produk dari kontaminan sehingga tahan lama dalam proses penyimpanan.
Kemasan kedua merupakan kemasan luar yang berfungsi sebagai pembungkus produk
satuan dan media identitas produk, kemasan kedua menggunakan standing pouch yang dapat berisi
beberapa potong produk usaha. Diestimasikan harga kemasan tidak melebihi 10%
dari harga total produk usaha. Berikut ilustrasi pengemasan produk usaha,
Gambar 1. Ilustrasi
produk usaha
Gambar 2. Pengemasan
pertama menggunakan plastik bening
Gambar 3. Kemasan
luar standing pouch
Merek dagang
produk usaha yang diajukan yaitu, Dipang Bar yang merupakan produk makanan
tradisional yang telah dimodifikasi dengan cita rasa modern dan ditambah
beberapa bahan inovatif untuk meningkatkan nilai gizinya. Dengan memanfaatkan
konsep usaha yang menggabungkan makanan tradisional yang dikombinasikan dengan
tren saat ini, maka dibuat tagline produk
usaha yaitu Dipang Bar : Makanan
Tradisional Cita Rasa Kekinian Bernilai Gizi. Penggunaan tagline diharapkan menjadi identitas produk usaha sehingga konsumen
mengetahui produk yang diusahakan.
Pelabelan
produk dilakukan pada kemasan luar sebagai identitas produk usaha dan media promosi produk. Pelabelan menggunakan
stiker warna tahan air sehingga tidak mudah rusak saat dipasarkan ke konsumen
namun tetap menarik. Pada label mengandung informasi mengenai merek dagang, tagline, berat bersih produk, komposisi
dan masa simpan produk. Berikut gambaran pelabelan yang akan digunakan,
3.1
Segmentasi Pasar
Produk usaha
merupakan produk makanan tradisional yang telah banyak di kenal khususnya di
Pulau Lombok sehingga tidak terlalu sulit melakukan penetrasi produk ke
konsumen. Selain itu, produk diolah menjadi bercita rasa kekinian dan
menggunakan bahan-bahan yang bernilai gizi sehingga sesuai dengan tren
masyarakat saat ini. Karena mengangkat
produk tradisional dengan konsep kekinian, maka pangsa pasar produk dapat
menjangkau berbagai kalangan usia. Berikut segmentasi pasar yang ditargetkan,
1.
Konsumen pelajar usia 12 – 17 tahun
Produk usaha Dipang Bar mempunyai harga yang tergolong
terjangkau dengan kondisi ekonomi konsumen kelas pelajar, ditambah dengan rasa
dan bentuk produk yang kekinian yang sesuai dengan psikologi konsumen di
rentang usia target.
2.
Kalangan mahasiswa
Mahasiswa mempunyai gaya hidup yang dinamis dan cenderung
berfikir praktis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga produk Dipang
Bar yang mudah untuk dikonsumsi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi harian sangat
cocok dijadikan produk makanan alternatif mahasiswa saat melakukan kegiatan.
3.
Konsumen dewasa usia 25 – 50 tahun
Produk Dipang Bar merupakan olahan makanan tradisional
yang mengalami inovasi bahan baku untuk mendiversifikasi pangan masyarakat
menjadi produk bernilai gizi, sehingga produk ini dapat diterima di usia
masyarakat dewasa yang menginginkan produk makanan tradisional namun mempunyai
kandungan nutrisi yang baik bagi konsumen.
Strategi pemasaran yang akan dilakukan untuk
meningkatkan pemasaran produk ini diantaranya :
1.
Menggunakan
Media Sosial
Strategi
pemasaran Dipang Bar
dilakukan dengan memanfaatan media sosial yang sedang banyak digunakan saat ini, hal ini
dilakukan karena
promosi melalui media sosial dapat menjangkau berbagai lapisan usia konsumen
dan membantu proses pemasaran yang lebih luas.
2.
Penjualan
langsung
Penjualan
dilakukan menggunakan promosi secara langsung kepada calon pembeli pada awal
proses pemasaran, hal ini ditujukan untuk menarik perhatian konsumen dan lebih
mengenalkan produk ke konsumen sehingga pangsa pasar akan semakin luas.
3.
Memberikan
potongan harga untuk jumlah pembelian tertentu
Pemberian
potongan harga bagi konsumen bertujuan menambah keinginan untuk membeli produk.
Konsumen akan mendapatkan potongan harga jika membeli produk dalam jumlah
tertentu yang telah disesuaikan dengan omset yang akan didapatkan. Kegiatan
pemberian potongan harga dilakukan hanya pada masa awal penjualan.
Untuk memperluas pangsa pasar, dilakukan beberapa
strategi diantaranya,
1.
Menambah Variasi Produk
Penambahan variasi produk dimaksudkan untuk menjaga
eksistensi produk di kalangan konsumen. Variasi produk disesuaikan dengan
perkembangan tren konsumen dan kebutuhan konsumen sehingga variasi yang dibuat
sesuai dengan kebutuhan pasar. Penambahan variasi produk dapat berupa rasa dan
komposisi bahan produk Dipang Bar.
2.
Membentuk Kemitraan
Kemitraan berfungsi untuk memperluas areal pemasaran
sehingga dapat menjangkau berbagai lapisan konsumen. Jika pada awal proses
pemasaran dilakukan di sekitar area universitas mataram, maka akan dibentuk
kemitraan diluar universitas mataram atau di daerah baru sehingga produk Dipang
Bar tersedia di berbagai daerah.
3.4
Target Harga dan Penjualan
3.4.1
Target
Harga
Nilai HPP produk usaha sebesar Rp. 6.660, diestimasikan
laba per produk sebesar 10% sehingga harga jual minimal produk usaha yaitu Rp.
7.332, untuk membuat harga produk menjadi praktis maka harga dasar produk
dibulatkan menjadi Rp. 7.500. Sejalan dengan proses usaha maka akan dilakukan
variasi produk dengan harga produk yang bervariasi pula.
3.4.2
Target
penjualan
Produk usaha Dipang Bar ditargetkan per bulan dapat
menjual 450 pcs produk, sehingga setiap hari minimal terjual 15 produk. Jika
penjualan berjalan konstan tanpa mengalami penurunan, maka diestimasikan modal
investasi awal dapat kembali setelah 1 bulan kegiatan usaha.
4.1
Target Penjualan dan Penerimaan
Produk usaha
Dipang Bar dalam satu bulan ditargetkan dapat menjual produk minimal 450 pcs,
sehingga setiap hari minimal menjual 15 produk ke konsumen. Dari HPP sebesar
Rp. 6.660 per produk, laba yang diharapkan minimal 10% dari HPP, sehinga modal
investasi yang dikeluarkan sebesar Rp. 3.000.000 dapat kembali setelah 1 bulan
kegiatan produksi dan menghasilkan omset penjualan sebesar Rp. 3.375.000, dari
kegiatan usaha didapatkan laba kotor sebesar Rp. 375.000 yang meningkat secara
linier per bulan minimal 10% sehingga pada 4 bulan kegiatan didapatkan laba
kotor total sebesar Rp. 2.350.000.
4.2
Biaya Produksi Dan Harga Per Unit
Total Biaya
Tetap + Total Biaya Operasional
Biaya Produksi
= ----------------------------------------------------------
Target Produksi
Harga per unit
= Biaya
Produksi per unit + Target Laba per unit
= 6.660 + laba 10% dari HPP
= 6.660 + 666
= 7.332
(dibulatkan menjadi 7.500)
= Jadi harga
bawah produk bernilai Rp. 7.500
4.3
Perhitungan Laba Rugi Kotor
1.
Omset penjualan per bulan x 4 bulan
= Produksi/bulan x
Harga x 4 bulan
= 450 x 7.500 x 4
= Rp. 13.500.000
2.
Omzet biaya operasional per bulan x 4 bulan
= Biaya/bulan x 4 bulan
= 3.000.000 x 4
= Rp. 12.000.000
3.
Saldo
= Omzet Penjualan
- Biaya Operasonal
= 13.500.000 -
12.000.000
= Rp. 1.500.000
1.
Analisis Titik Impas (BEP)
= 450
= Jadi, modal ditargetkan akan kembali setelah
penjualan mencapai 450 produk dengan waktu produksi selama 1 bulan kegiatan.
BEPRp = BEPq
x Harga per unit
=
450 x 7.500
= Rp.
3.375.000
= Dari
modal awal senilai Rp. 3.000.000 dalam penjualan produk ke-450 akan
didapatkan laba kotor sebesar Rp. 375.000
2.
Return on Invesment
RoI = Laba Kotor / Asset
= Modal
investasi yang dikeluarkan sebesar Rp. 3.000.000 setelah 4 bulan akan
menghasilkan labar sebesar 50% dari modal yaitu sebesar Rp. 1.500.000
3.
Provitabilitas
V =
Laba Bersih /Biaya Produksi
= Jadi, dengan
biaya tetap yang berjumlah Rp. 1.100.000 ditambah biaya variabel bahan sebesar
Rp. 1.900.000 dan biaya variabel lain seperti biaya listrik, air dan tenaga
kerja diestimasikan sebesar Rp. 300.000, maka nilai provitabilitas bernilai 45%
sehingga selama 4 bulan kegiatan usaha dapat menghasilkan laba sebesar 45%.
|
No |
Kegiatan |
Bulan ke- |
|||||||||||||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|||||||||||||||||
|
|
Minggu ke- |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
1 |
Pelatihan Kewirausahaan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Penyusunan Rencana Usaha |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pengusulan Rencana Usaha |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Pelaksanaan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Start Up |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Kegiatan Usaha |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pendampingan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Monev |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Monitoring |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Evaluasi |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
Pelaporan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No |
Uraian |
Vol |
Harga/unit |
Jumlah |
% |
|
A |
Biaya Investasi |
||||
|
|
1. Loyang
Aluminium |
4 |
20.000 |
80.000 |
2,6 |
|
2. Pisau
|
1 |
15.000 |
15.000 |
0,5 |
|
|
3. Wajan
|
1 |
75.000 |
75.000 |
2,5 |
|
|
4. Panci
|
2 |
65.000 |
130.000 |
4,3 |
|
|
5. Oven
Manual |
1 |
400.000 |
400.000 |
13,3 |
|
|
6.
Hand
Sealer |
1 |
200.000 |
200.000 |
6,6 |
|
|
7. Box
Penyimpanan |
1 |
200.000 |
200.000 |
6,6 |
|
|
Jumlah
A |
Rp.
1.100.000 |
36,6 |
|||
|
B |
Biaya Operasional |
||||
|
|
1. Beras
|
15
kg |
10.000/kg |
150.000 |
5,0 |
|
2. Ketan
|
10
kg |
15.000/kg |
150.000 |
5,0 |
|
|
3. Gula
Pasir |
5 kg |
12.000/kg |
60.000 |
2,0 |
|
|
4. Gula
Merah |
2 kg |
15.000/kg |
30.000 |
1,0 |
|
|
5. Madu
|
1 L |
200.000 |
200.000 |
6,6 |
|
|
6. Raisin
|
1 kg |
70.000 |
70.000 |
2,3 |
|
|
7. Sokade
|
5
pcs |
5.000 |
25.000 |
0,8 |
|
|
8. Susu
Bubuk |
3
pcs |
70.000 |
210.000 |
7,0 |
|
|
9. Granola
|
5 kg |
30.000/kg |
150.000 |
5,0 |
|
|
10. Kacang Tanah |
3 kg |
20.000 |
60.000 |
2,0 |
|
|
11. Kedelai Kering |
3 kg |
20.000 |
60.000 |
2,0 |
|
|
12. Plastic
Wrap |
3
rol |
30.000 |
90.000 |
3,0 |
|
|
13. Kemasan + Label |
1
paket |
200.000 |
300.000 |
10 |
|
|
14. Minyak Goreng |
10 L |
12.000 |
120.000 |
4,0 |
|
|
15. Aneka Buah Kering |
1
paket |
225.000 |
225.000 |
7,5 |
|
|
Jumlah
B |
Rp.
1.900.000 |
63,3 |
|||
|
Jumlah
A + B |
Rp.
3.000.000 |
100% |
|||
VII. SUMBER
MODAL
1.
Modal Sendiri (iuran anggota) = Rp 0
2.
Modal Pinjaman =
Rp 0
3.
Modal Stimulan dari PNBP BLU Unram = Rp 3.000.000
Jumlah
Modal = Rp 3.000.000
0 comments:
Post a Comment