TUGAS
MAKALAH TENTANG
KONSEP DASAR MEDIS PATOFISIOPLOGIS DAN ITERVENSI
ATAU PENATA LAKSANA DASAR PENYAKIT
SISTEM PENCERNAAN

DOSEN PENGAMPU
MUH. ARDIANSYAH S, S.Kep., M.MR.
Disusun Oleh
ISMI INDRIYANI
NIM: 712501S19017
AKADEMI KESEHATAN GIGI
KARYA ADI HUSADA MATARAM
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Dengan menyebut nama
allah yang maha pengasih lagi maha penyayang , Alhamdulillah segala puji syukur
kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan taufiq dan innayahnya sehingga
penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang berjudul “Konsep
Dasar Patofisiologis dan Intervensi atau Penata Laksana Dasar Penyakit Sistem
Pencernaan”
Dalam makalah ini
membahas tentang Konsep Dasar
Patofisiologis dan Intervensi atau Penata Laksana Dasar Penyakit Sistem
Pencernaan, dan makalah ini ditulis oleh penulis sebagai salah satu
syarat untuk memenuhi tugas-tugas yang diberikan oleh dosen yang bersangkutan
dengan mata kuliyah agar dapat menambah nilai dalam perkuliyahan.
Dalam upaya
penyelesaian makalah ini, penulis telah mengerjakannya dengan semaksimal
mungkin. Oleh karena itu penulis sangat bengharap agar tugas pembuatan makalah
ini dapat diterima dengan baik.
Dengan penuh kerendahan
hati, penulis menyadari bahwa isi maupun penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu penulis tidak menutup kepada pembaca untuk memberikan
segala bentuk kritikan atau saran yang bersifat membangun.
Akhir kata mudah-mudahan
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum wr.wb
Mataram, 23 Maret 2020
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL........................................................................................... i
KATA
PENGANTAR......................................................................................... ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang............................................................................. 1
B.
Identifikasi Masalah..................................................................... 2
C.
Tujuan........................................................................................... 2
D.
Manfaat Penulisan........................................................................ 2
BAB
II PATOFISIOLOGI
A.
Pembahasan Patofisiologi............................................................. 4
BAB
III INTERVENSI ATAU PENATALAKSANA
A.
Pengkajian.................................................................................... 6
B.
Diagnosa,
Intervensi, Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan 6
BAB IV PENUTUP
A.
Kesimpulan.................................................................................. 12
B.
Saran............................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Diare sampai saat ini masih merupakan
masalah kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju.
Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan
penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.
Di negara maju walaupun sudah terjadi
perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden diare infeksi tetap
tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita
diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek
umum menderita diare infeksi.
Diare yang onset gejalanya tiba-tiba
dan berlangsung kurang dari 14 hari, sedang diare kronik yaitu diare yang
berlangsung lebih dari 14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi maupun non
infeksi. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi
dapat disebabkan Virus, Bakteri, dan Parasit.
Di negara berkembang, diare infeksi
menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika orang
dewasa terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di negara
berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun.
Diare merupakan masalah umum
ditemukan diseluruh dunia. Di Amerika Serikat keluhan diare menempati peringkat
ketiga dari daftar keluhan pasien pada ruang praktek dokter, sementara di
beberapa rumah sakit di Indonesia data menunjukkan diare akut karena infeksi
terdapat peringkat pertama s/d ke empat pasien dewasa yang datang berobat ke
rumah sakit. Di negara maju diperkirakan insiden sekitar 0,5-2 episode/orang/tahun
sedangkan di negara berkembang lebih dari itu. Di USA dengan penduduk sekitar
200 juta diperkirakan 99 juta episode diare akut pada dewasa terjadi setiap
tahunnya. WHO memperkirakan ada sekitar 4 miliar kasus diare akut setiap tahun
dengan mortalitas 3-4 juta pertahun.
B.
Identifikasi Masalah
Melihat banyaknya penduduk di
Indonesia yang menderita penyakit diare, banyak angka kematian di Indonesia
akibat diare maka penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperarawatan dengan
judul “ Asuhan Keperawatan Pada Tn.S Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Diare Di
Bangsal Melati RSUD Sragen”.
C. Tujuan
1.
Tujuan Umum
Tujuan umum dari karya tulis ilmiah ini adalah
memberikan pengalaman yang nyata kepada penulis dalam penatalaksanaan dan
pendokumentasian asuhan keperawatan pada pasien diare.
2.
Tujuan Khusus
Laporan ini dibuat untuk :
a.
Melakukan
pengkajian pada pasien diare.
b.
Melakukan
analisia data pada pasien diare.
c.
Merumuskan
diagnosa keperawatan yang muncul.
d.
Merumuskan
intervensi keperawatan.
e.
Melakukan
tindakan keperawatan.
f.
Melakukan
evaluasi tindakan keperawatan
D. Manfaat Penulisan
1.
Manfaat bagi penulis.
Memberikan pengalaman yang nyata tentang
asuhan keperawatan pada gangguan system pencernaan diare.
2.
Manfaat bagi pasien dan keluarga
Pasien dan keluarga dapat mengetahui tentang
penyakit diare yang diderita dan mengetahui cara perawatan diare dengan benar.
3.
Manfaat bagi institusi
Dapat digunakan sebagai informasi bagi institusi
pendidikan dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan di masa yang
BAB II
PATOFISIOLOGI
A.
Pembahasan
Patofisiologi
Menurut
Suriadi (2001), patofisiologi dari Gastroenteritis adalah meningkatnya
motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan akibat dari
gangguan absorbsi dan ekskresi cairan dan elektrolit yang berlebihan, cairan
sodium, potasium dan bikarbonat berpindah dari rongga ekstraseluler kedalam
tinja, sehingga mengakibatkan dehidrasi kekurangan elektrolit dan dapat terjadi
asidosis metabolik.
Diare
yang terjadi merupakan proses dari transpor aktif akibat rangsangan toksin
bakteri terhadap elektrolit ke dalam usus halus, sel dalam mukosa intestinal
mengalami iritasi dan meningkatnya sekresi cairan dan elektrolit.
Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga
mengurangi fungsi permukaan intestinal. Perubahan kapasitas intestinal dan
terjadi gangguan absorbsi cairan dan elektrolit. Peradangan akan menurunkan
kemampuan intestinal untuk mengabsorbsi cairan dan elektrolit dan bahan-bahan
makanan ini terjadi pada sindrom malabsorbsi. Peningkatan motilitas intestinal
dapat mengakibatkan gangguan absorbsi intestinal.
Mekanisme dasar
yang menyebabkan timbulnya diare ada 3 macam yaitu:
1.
Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya
makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan dalam rongga
yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus.
Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya
sehingga timbul diare.
2.
Gangguan sekresi akibat
rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya
timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3.
Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan
mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga
timbul diare.
Sebaliknya
bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri kambuh berlebihan,
selanjutnya timbul diare pula.
Dari ketiga
mekanisme diatas menyebabkan :
1.
Kehilangan air dan
elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan keseimbangan asam
basa (asidosis metabolik hipokalemia)
2.
Gangguan gizi akibat
kelaparan (masukan kurang, pengeluaran bertambah)
3.
Hipoglikemia
4.
Gangguan sirkulasi darah
BAB III
INTERVENSI ATAU PENATA
LAKSANA
A. Pengkajian
Pada
tahapan ini penulis akan menguraikan tentang pembahasan asuhan keperawatan pada
Tn. R dengan gangguan system pencernaan : Diare diruang Melati RSUD Sragen.
Pengkajian ini dilakukan pada tanggal 2 Februari 2009 pukul 20.00 WIB.
Pemeriksaan
fisik dan pengkajian pola fungsi dengan menggunakan Handerson ditemukan data,
pasien mengatakan minum air putih habis + 4 gelas ( + 1000 cc )/hari, pasien
mengatakan BAB 4-5 x/hari dengan konsistensi cair, warna kekuningan, bau khas
feces, BAK 5-6 x/hari dengan bau urine seperti obat, pasien mengatakan makan
hanya habis 2-3 sendok dari porsi RS karena bila makan merasa mual dan nafsu
makan menurun.
B.
Diagnosa, Intervensi, Implementasi
Dan Evaluasi Keperawatan
1.
Gangguan
Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit Berhubungan Dengan Out Put Berlebihan.
Gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit yaitu keadaan dimana seorang individu yang
tidak menjalani puasa mengalami atau resiko mengalami dehidrasi
vaskuler, interstisial atau
intravaskuler (Carpenito, 2001).
Penulis mengangkat
diagnosa gangguan pemenuhan cairan dan elektrolit berhubungan dengan out put
yang berlebihan. Sesuai dengan sumber yang kami dapatkan batasan-batasan
karakteristik gangguan cairan dan elektrolit antara lain : kelemahan, haus,
penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, nadi meningkat, tekanan nadi
menurun, peningkatan suhu tubuh, kehilangan berat badan mandadak. (Nanda,2006).
Diagnosa ini penulis tegakkan karena didapatkan data-data pada
Tn. R pasien
mengatakan minum air putih habis + 4 gelas (+1000 cc/hari) pasien mengatakan
BAB 4-5 x/hari dengan konsistensi cair, warna kekuningan, bau khas feces,
torgor kulit jelek, kulit kering, mukosa bibir kering. Diagnosa ini muncul
karena adanya kondisi seperti diuraikan
diatas mengakibatkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Diagnosa ini
penulis tegakkan menjadi diagnosa pertama karena apabila gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit tidak diatasi resiko mengalami dehidrasi vaskuler,
cardiac dysrhytimias, syok hipovolemik.
Mengatasi masalah
tersebut penulis melakukan implementasi sesuai intervensi yaitu :
a.
Memantau
tanda dan gejala dehidrasi
Untuk mengetahui
sejauh mana pasien mengalami kehilangan cairan bila terus-menerus BAB (
Doenges, 2000 )
b.
Memantau
pemasukan dan pengeluaran cairan
Dalam hal ini
untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit ( Doenges, 2000)
c.
Mengobservasi tanda-tanda vital
Dengan memonitor
tanda-tanda vital penulis diharapkan dapat mengetahui keadaan umum pasien
secara rinci sehingga bisa mengobservasi proses perkembangan penyakit dan
tingkat keberhasilan perawatan. ( Carpenito, 1999 )
d.
Menjelaskan pentingnya
cairan untuk tubuh
Muntah dan diare
dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi (Carpenito, 1999)
e.
Melanjutkan terapi dari
dokter untuk obat antidiare dan antibiotik Untuk memperbaiki ketidakseimbangan
cairan / elektrolit. (Doenges,2000)
Evaluasi yang
didapatkan setelah melakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam didapatkan
data pasien mengatakan minum air putih habis + 8 gelas ( + 2000 cc/hari ), BAB
1-2 x/hari dengan konsistensi lembek, turgor kulit elastis, mukosa bibir
lembab, sehingga sesuai dengan hasil yang diharapkan dan intervevsi dihentikan.
Kekuatan dan
kelemahan pelaksanaan tindakan ini antara lain : kekuatan : Tn. R dan keluarga
sangat mendukung semua yang disarankan oleh perawat. Kelemahan : penulis tidak
mencantumkan balance cairan yang
seharusnya dihitung.
Balance cairan Tn. R tanggal 2 september 2008 balance cairan dalam sehari adalah
sebagai berikut :
Minum :
1.000 cc
Cairan
infus 0,9% sodium clurida 20 tpm : 1.500 cc
Makanan : 200 cc
Oksidasi
metabolic : 200 cc + Jumlah : 2.900 cc
Pengeluaran cairan
out put oksidasi metabolic :
Diare : 1.000 cc
Urine : 1.600 cc
Muntah : 400 cc
IWL : 550 cc
Keringat : 100 cc +
Jumlah : 3.650 cc
Jadi balance
cairan Tn. R adalah input-out put : 2.900-3.650 : -750 cc karena pada Tn. R
input dan out put lebih besar out put nya, maka Tn. R mengalami gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit.
2.
Gangguan Pemenuhan
Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Berhubungan Dengan Intake Tak Adekuat.
Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan dimana individu yang tidak
puasa mengalami atau yang beresiko mengalami penurunan berat badan yang
berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat ( Carpenito, 1999 ).
Batasan
karakteristik gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh antara lain : berat
badan dibawah ideal, intake kurang dari kebutuhan tubuh, membran mukosa kering,
enggan makan, tonus otot buruk, suara usus hiperaktif ( Nanda, 2006 ).
Diagnosa ini muncul
karena ditemukan adanya data-data setelah dilakukan pengkajian pada Tn. R
sebagai berikut yaitu pasien mengatakan mual, muntah. Pasien mengatakan hanya
habis 2-3 sendok dari porsi Rumah sakit, wajah tampak pucat, konjungtiva
anemis.
Penulis memprioritaskan
diagnosa pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sebagai diaognosa kedua
karena ini harus segera terpenuhi karena akan mengakibatkan metabolisme nutrien
tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik, ketidakmampuan tubuh untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme menyebabkan menurunnya kemampuan untuk tumbuh dan
memperbaiki sel-sel. Metabolisme perlu ditingkatkan bila terjadi trauma dan
infeksi ( Carpenito, 1999 ).
Untuk mengatasi
diagnosa kedua ini penulis merencanakan tindakan keperawatan tersebut berdasarkan
rasionalisasi. Adapun rencana tindakan kepearwatan tersebut adalah sebagai
berikut :
a.
Menganjurkan pasien untuk
makan sedikit tapi sering.
Dengan pemberian
makanan yang sedikit tapi sering dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan
pemasukan untuk mencegah distraksi gaster ( Doenges, 1999 )
b.
Menjelaskan pentingnya
nutrisi yang adekuat.
Memberikan
informasi tentang ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme
menyebabkan menurunnya berat badan, memburuknya kesehatan, menurunnya kemampuan
tubuh untuk memperbaiki sel-sel (
Carpenito, 2000 )
c.
Memberikan diet sesuai
dengan kondisi pasien.
Pemberian
diet sesuai dengan metode makanan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi
atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal ( Doenges, 2000 )
d.
Melanjutkan advice dokter
untuk obat antiemetik.
Antiemetik
mencegah muntah dengan menghambat rangsang terhadap pusat muntah ( Carpenito,
1999 )
3.
Gangguan Istirahat Tidur
B.D Hospitalisasi
Perubahan pada
pola tidur adalah suatu kebutuhan istirahat tidur yang berubah karena
keterbatasan waktu tidur ( secara alami, terus-menerus, dalam kesadaran relatif
) meliputi jumlah dan kualitasnya ( Nanda, 2005 ) Diagnosa ini penulis tegakkan
karena diperoleh data-data : pasien mengatakan tidur + 3-4 jam/hari,.wajah
tampak pucat, mata tampak menonjol, mata kemerahan.
Berdasarkan
pertimbangan diatas maka penulis merencanakan serangkaian tindakan keperawatan
yang bertujuan, kebutuhan istirahat tidur pasien terpenuhi. Untuk mencapai
tujuan diatas intervensi yang penulis tetapkan antara lain :
a.
Ciptakan lingkungan yang
tenang
Kurangi kebisingan
dan lampu untuk memberikan situasi yang kondusif ( Doenges, 2000 )
b.
Batasi jumlah pengunjung
Mengurangi
kebisingan untuk memberikan situasi yang kondusif agar pasien lebih tenang
dalam beristirahat ( Doenges, 2000 )
c.
Kaji kebiasaan pasien
sebelum tidur
Mengetahui pola
kebiasaan tidur dan perubahan yang terjadi, sehingga dapat untuk menentukan
intervensi selanjutnya ( Doenges, 2000 )
d.
Anjurkan pada pasien
untuk memilih posisi tidur senyaman mungkin Tinggikan kepala tempat tidur + 30
derajad atau gunakan penopang dengan bantal dibawah lengan untuk meningkatkan
relaksasi, memberi ruang yang lebih besar pada paru untuk pengem
bangan (Carpenito,1999).
e.
Anjurkan pasien bersikap rileks
Menurunkan
rangsang eksentrik HCL, menurunkan resiko pendarahan ulang ( Doengas, 1999 )
Sesuai dengan
perencanaan yang telah penulis rencanakan diatas maka penulis melaksanakan
serangkaian tindakan antara lain : menciptakan lingkungan yang tenang, mengkaji
kebiasaan pasien sebelum tidur, membatasi jumlah pengunjung, menganjurkan
pasien untuk memilih posisi tidur senyaman mungkin, menganjurkan pasien untuk
bersikap rileks.
Hasil evaluasi
tanggal 2 februari 2008. Pasien mengatakan tidur nyenyak, pasien tidur + 8
jam/hari, masalah teratasi sehingga intervensi dihentikan.
Kekuatan dan
kelemahan ditegakkan diagnosa ini antara lain : Kekuatan: pasien dapat tidur
lebih tenang, kebutuhan tidur pasien cukup, kurang lebih 8 jam / hari.
Kelemahan : kondisi lingkungan Rumah sakit yang kurang tenang (terlalu ramai)
sehingga lingkungan tenang sulit tercapai.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Diagnosa yang muncul pada kasus Diare pada
Tn.S adalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan out
put berlebihan. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake tak adekuat. Gangguan kebutuhan istirahat tidur b.d
hospitalisasi
1.
Tindakan
yang dapat terlaksana dengan baik dalam perawatan Tn.S adalah mengobsrvasi
keadaan umum pasien, Memantau tanda dan gejala dehidrasi, Memantau pemasukan
dan pengeluaran cairan, Mengobservasi tanda-tanda vital, Menjelaskan pentingnya
cairan untuk tubuh, Melanjutkan terapi dari dokter untuk obat antidiare dan
antibiotic, Menganjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering, Memberikan
diet sesuai dengan kondisi pasien, Anjurkan pasien bersikap rileks
2.
Tindakn
yang kurang dapat terlaksana dengan baik yaitu belum bisa memberikan lingkungan
yang tenang, mengkaji kekurangan cairan / dehidrasi hanya berdasarkan perkiraan
keluarga pasien.
B. Saran
1.
Jam
kunjung lebih ditertibkan lagi. karena dengan pembatasan jam kunjung pasien ada
waktu buat istirahat tidur, pasien merasa terganggu bila lingkungan sekitar
terlalu gaduh / ramai.
2.
Perawat
harus lebih memperhatikan pasien, dalam memberikan asuhan keperawatan hendaknya
harus sesuai standar yang berlaku dan meningkatkan kerja sama dengan pasien,
keluarga dan tim kesehatan lainnya .
3.
Fasilitas
rumah sakit sebaiknya lebih diperhatikan dan dilengkapi lagi. misalnya : pispot
dan ember kecil disetiap ruangan, sebaiknya ditambah lagi karena dapat
mengganggu proses keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Bidup John, 1999. Kesehatan
Anak Untuk Keperawatan Petugas Penyuluhan Kesehatan dan Bidas Desa. Gajah
Mada University Press : ogyakarta.
Anonym. 20307. Wikipedia, The Free
Encyclopedia. Available from E-mail: http://en.wikipedia.org
(accassed 15
Desember 2008).
Beherman E Richard, dkk, 1999. Ilmu
Kesehatan Penyakit Dalam. Vol 2. Edisi 15. EGC : Jakarta.
Carpenito. L. J, 2000. Hand Book of
Nursing Diagnosa. EGC : Jakarta.
Doengoes, Marilynm E. 2000. Rencana Asuhan
Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.
Edisi 3. EGC. Jakarta.
Anonym. 20307. Wikipedia, The Free
Encyclopedia. Available from E-mail: http://abuhamzah.multiply.com
(accassed 14
Desember 2008).
Suriadi, Rita Yuliani. 2001. Asuhan
Keperawatan Pada penyakit Dalam. Edisi 1. Agung Seto. Jakarta.
Anonym. 20307. Wikipedia, The Free Encyclopedia.
Available from E-mail: http: // tutorial
kuliah. Wordpress.com.(accassed 14 Desember 2008).
Ngastiyah, 2005. Asuhan Keperawatan
Pada penyakit Dalam. Edisi 1. EGC, Jakarta
Sundaru, Heru. 2001. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Edisi 3. Balai Penerbit FKUI. Jakarta
0 comments:
Post a Comment