Friday, September 30, 2022

KONSEP DASAR MEDIS PATOFISIOPLOGIS DAN ITERVENSI ATAU PENATA LAKSANA DASAR PENYAKIT SISTEM PENCERNAAN

 

TUGAS

MAKALAH TENTANG

KONSEP DASAR MEDIS PATOFISIOPLOGIS DAN ITERVENSI

ATAU PENATA LAKSANA DASAR PENYAKIT

SISTEM PENCERNAAN

 

 

 

 

 

 

DOSEN PENGAMPU

MUH. ARDIANSYAH S, S.Kep., M.MR.

 

 

 

 

 

Disusun Oleh

ISMI INDRIYANI

NIM: 712501S19017

 

 

 

 

 

 

 

AKADEMI KESEHATAN GIGI

KARYA ADI HUSADA MATARAM

TAHUN 2020


 


KATA PENGANTAR

 

 

 

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Dengan menyebut nama allah yang maha pengasih lagi maha penyayang , Alhamdulillah segala puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan taufiq dan innayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang berjudul  “Konsep Dasar Patofisiologis dan Intervensi atau Penata Laksana Dasar Penyakit Sistem Pencernaan”

Dalam makalah ini membahas tentang Konsep Dasar Patofisiologis dan Intervensi atau Penata Laksana Dasar Penyakit Sistem Pencernaan, dan makalah ini ditulis oleh penulis sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas-tugas yang diberikan oleh dosen yang bersangkutan dengan mata kuliyah agar dapat menambah nilai dalam perkuliyahan.

Dalam upaya penyelesaian makalah ini, penulis telah mengerjakannya dengan semaksimal mungkin. Oleh karena itu penulis sangat bengharap agar tugas pembuatan makalah ini dapat diterima dengan baik.

Dengan penuh kerendahan hati, penulis menyadari bahwa isi maupun penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis tidak menutup kepada pembaca untuk memberikan segala bentuk kritikan atau saran yang bersifat membangun.

Akhir kata mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Wassalamualaikum wr.wb

 

Mataram, 23 Maret 2020

 

Penulis


 

DAFTAR ISI

 

 

 

HALAMAN JUDUL........................................................................................... i

KATA PENGANTAR......................................................................................... ii

DAFTAR ISI....................................................................................................... iii

BAB I      PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang............................................................................. 1

B.       Identifikasi Masalah..................................................................... 2

C.       Tujuan........................................................................................... 2

D.       Manfaat Penulisan........................................................................ 2

BAB II    PATOFISIOLOGI

A.       Pembahasan Patofisiologi............................................................. 4

BAB III   INTERVENSI ATAU PENATALAKSANA

A.       Pengkajian.................................................................................... 6

B.       Diagnosa, Intervensi, Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan       6

BAB IV   PENUTUP

A.       Kesimpulan.................................................................................. 12

B.       Saran............................................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 13

           


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Diare sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.

Di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi.

Diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 14 hari, sedang diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi dapat disebabkan Virus, Bakteri, dan Parasit.

Di negara berkembang, diare infeksi menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika orang dewasa terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun.

Diare merupakan masalah umum ditemukan diseluruh dunia. Di Amerika Serikat keluhan diare menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan pasien pada ruang praktek dokter, sementara di beberapa rumah sakit di Indonesia data menunjukkan diare akut karena infeksi terdapat peringkat pertama s/d ke empat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah sakit. Di negara maju diperkirakan insiden sekitar 0,5-2 episode/orang/tahun sedangkan di negara berkembang lebih dari itu. Di USA dengan penduduk sekitar 200 juta diperkirakan 99 juta episode diare akut pada dewasa terjadi setiap tahunnya. WHO memperkirakan ada sekitar 4 miliar kasus diare akut setiap tahun dengan mortalitas 3-4 juta pertahun.

 

B.       Identifikasi Masalah

Melihat banyaknya penduduk di Indonesia yang menderita penyakit diare, banyak angka kematian di Indonesia akibat diare maka penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperarawatan dengan judul “ Asuhan Keperawatan Pada Tn.S Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Diare Di Bangsal Melati RSUD Sragen”.

 

C.      Tujuan

1.         Tujuan Umum

Tujuan umum dari karya tulis ilmiah ini adalah memberikan pengalaman yang nyata kepada penulis dalam penatalaksanaan dan pendokumentasian asuhan keperawatan pada pasien diare.

2.         Tujuan Khusus

Laporan ini dibuat untuk :

a.         Melakukan pengkajian pada pasien diare.

b.         Melakukan analisia data pada pasien diare.

c.         Merumuskan diagnosa keperawatan yang muncul.

d.         Merumuskan intervensi keperawatan.

e.         Melakukan tindakan keperawatan.

f.          Melakukan evaluasi tindakan keperawatan

 

D.      Manfaat Penulisan

1.         Manfaat bagi penulis.

Memberikan pengalaman yang nyata tentang asuhan keperawatan pada gangguan system pencernaan diare.

2.         Manfaat bagi pasien dan keluarga

Pasien dan keluarga dapat mengetahui tentang penyakit diare yang diderita dan mengetahui cara perawatan diare dengan benar.

3.         Manfaat bagi institusi

Dapat digunakan sebagai informasi bagi institusi pendidikan dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan di masa yang

 


 

BAB II

PATOFISIOLOGI

 

 

A.            Pembahasan Patofisiologi

 

Menurut Suriadi (2001), patofisiologi dari Gastroenteritis adalah meningkatnya motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan akibat dari gangguan absorbsi dan ekskresi cairan dan elektrolit yang berlebihan, cairan sodium, potasium dan bikarbonat berpindah dari rongga ekstraseluler kedalam tinja, sehingga mengakibatkan dehidrasi kekurangan elektrolit dan dapat terjadi asidosis metabolik.

Diare yang terjadi merupakan proses dari transpor aktif akibat rangsangan toksin bakteri terhadap elektrolit ke dalam usus halus, sel dalam mukosa intestinal mengalami iritasi dan meningkatnya sekresi cairan dan elektrolit. Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga mengurangi fungsi permukaan intestinal. Perubahan kapasitas intestinal dan terjadi gangguan absorbsi cairan dan elektrolit. Peradangan akan menurunkan kemampuan intestinal untuk mengabsorbsi cairan dan elektrolit dan bahan-bahan makanan ini terjadi pada sindrom malabsorbsi. Peningkatan motilitas intestinal dapat mengakibatkan gangguan absorbsi intestinal.

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ada 3 macam yaitu:

1.        Gangguan Osmotik

Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan dalam rongga yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

2.        Gangguan sekresi akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

3.        Gangguan motilitas usus

 

Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare.

Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri kambuh berlebihan, selanjutnya timbul diare pula.

Dari ketiga mekanisme diatas menyebabkan :

1.  Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik hipokalemia)

2.  Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran bertambah)

3.  Hipoglikemia

4.  Gangguan sirkulasi darah

 


 

BAB III

INTERVENSI ATAU PENATA LAKSANA

 

 

A.      Pengkajian

Pada tahapan ini penulis akan menguraikan tentang pembahasan asuhan keperawatan pada Tn. R dengan gangguan system pencernaan : Diare diruang Melati RSUD Sragen. Pengkajian ini dilakukan pada tanggal 2 Februari 2009 pukul 20.00 WIB.

Pemeriksaan fisik dan pengkajian pola fungsi dengan menggunakan Handerson ditemukan data, pasien mengatakan minum air putih habis + 4 gelas ( + 1000 cc )/hari, pasien mengatakan BAB 4-5 x/hari dengan konsistensi cair, warna kekuningan, bau khas feces, BAK 5-6 x/hari dengan bau urine seperti obat, pasien mengatakan makan hanya habis 2-3 sendok dari porsi RS karena bila makan merasa mual dan nafsu makan menurun.

 

B.       Diagnosa, Intervensi, Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan

1.      Gangguan Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit Berhubungan Dengan Out Put Berlebihan.

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yaitu keadaan dimana seorang individu yang tidak menjalani puasa mengalami atau resiko mengalami  dehidrasi  vaskuler,  interstisial  atau  intravaskuler  (Carpenito, 2001).

Penulis mengangkat diagnosa gangguan pemenuhan cairan dan elektrolit berhubungan dengan out put yang berlebihan. Sesuai dengan sumber yang kami dapatkan batasan-batasan karakteristik gangguan cairan dan elektrolit antara lain : kelemahan, haus, penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, nadi meningkat, tekanan nadi menurun, peningkatan suhu tubuh, kehilangan berat badan mandadak. (Nanda,2006). Diagnosa ini penulis tegakkan karena didapatkan data-data pada

Tn. R pasien mengatakan minum air putih habis + 4 gelas (+1000 cc/hari) pasien mengatakan BAB 4-5 x/hari dengan konsistensi cair, warna kekuningan, bau khas feces, torgor kulit jelek, kulit kering, mukosa bibir kering. Diagnosa ini muncul karena adanya kondisi seperti diuraikan  diatas mengakibatkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Diagnosa ini penulis tegakkan menjadi diagnosa pertama karena apabila gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tidak diatasi resiko mengalami dehidrasi vaskuler, cardiac dysrhytimias, syok hipovolemik.

Mengatasi masalah tersebut penulis melakukan implementasi sesuai intervensi yaitu :

a.           Memantau tanda dan gejala dehidrasi

Untuk mengetahui sejauh mana pasien mengalami kehilangan cairan bila terus-menerus BAB ( Doenges, 2000 )

b.          Memantau pemasukan dan pengeluaran cairan

Dalam hal ini untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit ( Doenges, 2000)

c.           Mengobservasi tanda-tanda vital

Dengan memonitor tanda-tanda vital penulis diharapkan dapat mengetahui keadaan umum pasien secara rinci sehingga bisa mengobservasi proses perkembangan penyakit dan tingkat keberhasilan perawatan. ( Carpenito, 1999 )

d.           Menjelaskan pentingnya cairan untuk tubuh

Muntah dan diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi (Carpenito, 1999)

e.           Melanjutkan terapi dari dokter untuk obat antidiare dan antibiotik Untuk memperbaiki ketidakseimbangan cairan / elektrolit. (Doenges,2000)

Evaluasi yang didapatkan setelah melakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam didapatkan data pasien mengatakan minum air putih habis + 8 gelas ( + 2000 cc/hari ), BAB 1-2 x/hari dengan konsistensi lembek, turgor kulit elastis, mukosa bibir lembab, sehingga sesuai dengan hasil yang diharapkan dan intervevsi dihentikan.

Kekuatan dan kelemahan pelaksanaan tindakan ini antara lain : kekuatan : Tn. R dan keluarga sangat mendukung semua yang disarankan oleh perawat. Kelemahan : penulis tidak mencantumkan balance cairan yang seharusnya dihitung.

Balance cairan Tn. R tanggal 2 september 2008 balance cairan dalam sehari adalah sebagai berikut :

Minum                                                        :    1.000 cc

Cairan infus 0,9% sodium clurida 20 tpm :    1.500 cc

Makanan                                                     :    200 cc

Oksidasi metabolic                                     :    200 cc + Jumlah         : 2.900 cc

Pengeluaran cairan out put oksidasi metabolic :

Diare                                   :    1.000 cc

Urine                                   :    1.600 cc

Muntah                               :    400 cc

IWL                                    :    550 cc

Keringat                              :    100 cc +

Jumlah                                 :    3.650 cc

Jadi balance cairan Tn. R adalah input-out put : 2.900-3.650 : -750 cc karena pada Tn. R input dan out put lebih besar out put nya, maka Tn. R mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

2.      Gangguan Pemenuhan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Berhubungan Dengan Intake Tak Adekuat.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan dimana individu yang tidak puasa mengalami atau yang beresiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat ( Carpenito, 1999 ).

Batasan karakteristik gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh antara lain : berat badan dibawah ideal, intake kurang dari kebutuhan tubuh, membran mukosa kering, enggan makan, tonus otot buruk, suara usus hiperaktif ( Nanda, 2006 ).

Diagnosa ini muncul karena ditemukan adanya data-data setelah dilakukan pengkajian pada Tn. R sebagai berikut yaitu pasien mengatakan mual, muntah. Pasien mengatakan hanya habis 2-3 sendok dari porsi Rumah sakit, wajah tampak pucat, konjungtiva anemis.

Penulis memprioritaskan diagnosa pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sebagai diaognosa kedua karena ini harus segera terpenuhi karena akan mengakibatkan metabolisme nutrien tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik, ketidakmampuan tubuh untuk memenuhi kebutuhan metabolisme menyebabkan menurunnya kemampuan untuk tumbuh dan memperbaiki sel-sel. Metabolisme perlu ditingkatkan bila terjadi trauma dan infeksi ( Carpenito, 1999 ).

Untuk mengatasi diagnosa kedua ini penulis merencanakan tindakan keperawatan tersebut berdasarkan rasionalisasi. Adapun rencana tindakan kepearwatan tersebut adalah sebagai berikut :

a.       Menganjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering.

Dengan pemberian makanan yang sedikit tapi sering dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan untuk mencegah distraksi gaster ( Doenges, 1999 )

b.      Menjelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat.

Memberikan informasi tentang ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme menyebabkan menurunnya berat badan, memburuknya kesehatan, menurunnya kemampuan tubuh untuk memperbaiki sel-sel ( Carpenito, 2000 )

c.       Memberikan diet sesuai dengan kondisi pasien.

Pemberian diet sesuai dengan metode makanan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal ( Doenges, 2000 )

d.      Melanjutkan advice dokter untuk obat antiemetik.

Antiemetik mencegah muntah dengan menghambat rangsang terhadap pusat muntah ( Carpenito, 1999 )

3.      Gangguan Istirahat Tidur B.D Hospitalisasi

Perubahan pada pola tidur adalah suatu kebutuhan istirahat tidur yang berubah karena keterbatasan waktu tidur ( secara alami, terus-menerus, dalam kesadaran relatif ) meliputi jumlah dan kualitasnya ( Nanda, 2005 ) Diagnosa ini penulis tegakkan karena diperoleh data-data : pasien mengatakan tidur + 3-4 jam/hari,.wajah tampak pucat, mata tampak menonjol, mata kemerahan.

Berdasarkan pertimbangan diatas maka penulis merencanakan serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan, kebutuhan istirahat tidur pasien terpenuhi. Untuk mencapai tujuan diatas intervensi yang penulis tetapkan antara lain :

a.       Ciptakan lingkungan yang tenang

Kurangi kebisingan dan lampu untuk memberikan situasi yang kondusif ( Doenges, 2000 )

b.      Batasi jumlah pengunjung

Mengurangi kebisingan untuk memberikan situasi yang kondusif agar pasien lebih tenang dalam beristirahat ( Doenges, 2000 )

c.       Kaji kebiasaan pasien sebelum tidur

Mengetahui pola kebiasaan tidur dan perubahan yang terjadi, sehingga dapat untuk menentukan intervensi selanjutnya ( Doenges, 2000 )

d.      Anjurkan pada pasien untuk memilih posisi tidur senyaman mungkin Tinggikan kepala tempat tidur + 30 derajad atau gunakan penopang dengan bantal dibawah lengan untuk meningkatkan relaksasi, memberi ruang yang        lebih    besar    pada    paru untuk pengem bangan (Carpenito,1999).

e.        Anjurkan pasien bersikap rileks

Menurunkan rangsang eksentrik HCL, menurunkan resiko pendarahan ulang ( Doengas, 1999 )

Sesuai dengan perencanaan yang telah penulis rencanakan diatas maka penulis melaksanakan serangkaian tindakan antara lain : menciptakan lingkungan yang tenang, mengkaji kebiasaan pasien sebelum tidur, membatasi jumlah pengunjung, menganjurkan pasien untuk memilih posisi tidur senyaman mungkin, menganjurkan pasien untuk bersikap rileks.

Hasil evaluasi tanggal 2 februari 2008. Pasien mengatakan tidur nyenyak, pasien tidur + 8 jam/hari, masalah teratasi sehingga intervensi dihentikan.

Kekuatan dan kelemahan ditegakkan diagnosa ini antara lain : Kekuatan: pasien dapat tidur lebih tenang, kebutuhan tidur pasien cukup, kurang lebih 8 jam / hari. Kelemahan : kondisi lingkungan Rumah sakit yang kurang tenang (terlalu ramai) sehingga lingkungan tenang sulit tercapai.


 

BAB IV

PENUTUP

 

A.       Kesimpulan

Diagnosa yang muncul pada kasus Diare pada Tn.S adalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan out put berlebihan. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tak adekuat. Gangguan kebutuhan istirahat tidur b.d hospitalisasi

1.   Tindakan yang dapat terlaksana dengan baik dalam perawatan Tn.S adalah mengobsrvasi keadaan umum pasien, Memantau tanda dan gejala dehidrasi, Memantau pemasukan dan pengeluaran cairan, Mengobservasi tanda-tanda vital, Menjelaskan pentingnya cairan untuk tubuh, Melanjutkan terapi dari dokter untuk obat antidiare dan antibiotic, Menganjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering, Memberikan diet sesuai dengan kondisi pasien, Anjurkan pasien bersikap rileks

2.   Tindakn yang kurang dapat terlaksana dengan baik yaitu belum bisa memberikan lingkungan yang tenang, mengkaji kekurangan cairan / dehidrasi hanya berdasarkan perkiraan keluarga pasien.

 

B.       Saran

1.   Jam kunjung lebih ditertibkan lagi. karena dengan pembatasan jam kunjung pasien ada waktu buat istirahat tidur, pasien merasa terganggu bila lingkungan sekitar terlalu gaduh / ramai.

2.   Perawat harus lebih memperhatikan pasien, dalam memberikan asuhan keperawatan hendaknya harus sesuai standar yang berlaku dan meningkatkan kerja sama dengan pasien, keluarga dan tim kesehatan lainnya .

3.   Fasilitas rumah sakit sebaiknya lebih diperhatikan dan dilengkapi lagi. misalnya : pispot dan ember kecil disetiap ruangan, sebaiknya ditambah lagi karena dapat mengganggu proses keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Bidup John, 1999. Kesehatan Anak Untuk Keperawatan Petugas Penyuluhan Kesehatan dan Bidas Desa. Gajah Mada University Press :  ogyakarta.

 

Anonym. 20307. Wikipedia, The Free Encyclopedia. Available from E-mail: http://en.wikipedia.org (accassed 15 Desember 2008).

 

Beherman E Richard, dkk, 1999. Ilmu Kesehatan Penyakit Dalam. Vol 2. Edisi 15. EGC : Jakarta.

 

Carpenito. L. J, 2000. Hand Book of Nursing Diagnosa. EGC : Jakarta.

 

Doengoes, Marilynm E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. EGC. Jakarta.

 

Anonym. 20307. Wikipedia, The Free Encyclopedia. Available from E-mail: http://abuhamzah.multiply.com (accassed 14 Desember 2008).

 

Suriadi, Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada penyakit Dalam. Edisi 1. Agung Seto. Jakarta.

 

Anonym. 20307. Wikipedia, The Free Encyclopedia. Available from  E-mail: http: // tutorial kuliah. Wordpress.com.(accassed 14 Desember 2008).

 

Ngastiyah, 2005. Asuhan Keperawatan Pada penyakit Dalam. Edisi 1. EGC, Jakarta

 

Sundaru, Heru. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Balai Penerbit FKUI. Jakarta

 

 silahkan download DISINI

0 comments:

Post a Comment